NovelToon NovelToon
Layu Sebelum Mewangi

Layu Sebelum Mewangi

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Single Mom / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: miss tiii

" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.

Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sangkar yg Sesak

Kontrakan itu kini terasa lebih sempit. Bukan karena barang, tapi karena kehadiran manusia di dalamnya. Atas desakan Ayah Arumi yang masih memegang teguh adat bahwa "istri harus ikut suami setelah melahirkan", Arumi terpaksa kembali ke bangunan lembap itu.

Di sudut ruangan, Ibu Baskara—Ibu Maryam—sedang menimang Kinan yang baru berusia dua bulan. Beliau sengaja menginap untuk membantu, karena tahu anaknya, Baskara, tidak bisa diandalkan.

"Bas, itu Arumi baru selesai mencuci baju seember besar. Masak kamu cuma duduk lihat HP? Ambilkan jemurannya, bantu istrimu," tegur Ibu Maryam dengan nada tertahan.

Baskara yang sedang bersandar di tembok kusam hanya menoleh sekilas. "Nanti, Bu. Tanggung, lagi baca berita."

Arumi masuk ke dalam dengan peluh bercucuran, wajahnya pucat karena kurang tidur. Ia menggendong keranjang baju yang berat dengan tangan gemetar. Ia tidak menatap Baskara. Baginya, suaminya sudah menjadi bagian dari perabotan rumah: ada, tapi tidak bernyawa.

"Biar Tante saja, Rum," suara ceria tiba-tiba muncul dari pintu depan. Itu Tante Sari, adik Ibu Arumi yang paling vokal dan sering datang membawa bantuan.

Tante Sari merebut keranjang itu dari tangan Arumi. Ia melirik Baskara dengan tatapan menghina yang terang-terangan.

"Duh, ada patung bernapas ya di sini? Kok nggak gerak?" sindir Tante Sari sambil membanting keranjang itu di depan kaki Baskara.

Baskara hanya bergeming. Ia bahkan tidak tersinggung. Ia malah bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur. "Aku mau buat kopi. Gula habis ya?"

"Gula habis, beras habis, martabatmu juga habis, Bas!" Tante Sari tidak tahan lagi. Ia mengeluarkan beberapa kantong belanjaan dari tasnya—susu, popok, dan sembako. "Ini, Rum. Tante bawa sedikit. Jangan sampai kamu kering ASI-nya gara-gara kurang makan sementara suamimu cuma mikirin kopi."

"Terima kasih, Tante," bisik Arumi, air matanya hampir jatuh. Ia merasa sangat hina harus terus dibantu oleh tantenya sementara suaminya tetap tidak mau usaha apa-apa.

Ibu Maryam mendekati Arumi, memegang tangannya yang kasar. "Maafkan anak Ibu ya, Rum. Ibu malu sekali. Ibu sudah bilang ke dia, kalau tidak mau kerja, biar Ibu yang cari kerja di pasar. Tapi dia cuma diam saja."

"Jangan, Bu. Ibu sudah sepuh," jawab Arumi lirih.

Malamnya, saat Tante Sari sudah pulang dan Ibu Maryam sudah tidur di kamar depan, Arumi mencoba bicara lagi pada Baskara yang sedang merokok di teras belakang.

"Mas... Tante Sari tadi bilang, ada lowongan jadi kurir di kantor temannya. Mas mau coba? Syaratnya cuma motor dan SIM," tanya Arumi penuh harap.

Baskara mengembuskan asap rokoknya pelan. "Kurir? Capek, Rum. Panas-panasan. Gajinya juga cuma cukup buat bensin. Lebih baik aku tunggu panggilan dari kantor yang kemarin."

"Kantor yang mana, Mas?! Mas sudah bilang begitu sejak Kinan masih di perut!" suara Arumi meninggi, meski ia mencoba menahannya agar tidak membangunkan mertuanya. "Mas tega lihat Ibu Mas yang sudah tua ikut susah di sini? Tega lihat Tante Sari yang terus-terusan mengasihani kita?"

Baskara mematikan rokoknya di lantai, lalu menatap Arumi dengan mata dingin yang berusia tiga puluh sembilan tahun. "Aku tidak minta mereka bantu. Mereka sendiri yang mau. Kalau kamu tidak suka, ya sudah."

"Ya sudah?" Arumi mengulang kata sakti itu dengan rasa benci yang meluap. "Mas benar-benar tidak punya rasa malu sedikit pun?"

"Berisik, Arumi. Aku mau tidur."

Baskara masuk ke dalam, melewati Arumi seolah istrinya hanyalah angin lalu. Arumi berdiri sendirian di teras yang gelap, menatap langit yang tak berbintang. Kehadiran Ibu Maryam dan Tante Sari memang membantunya secara fisik, tapi secara mental, itu justru menambah beban batinnya. Ia merasa seperti pengemis di rumahnya sendiri, sementara suaminya adalah raja yang mati rasa di atas tahta kemalasannya.

"Layu," gumam Arumi, kali ini dengan suara yang lebih mantap. "Kalau aku tetap di sini, bukan cuma aku yang layu. Kinan juga akan ikut mati jiwanya."

1
Diana Bellusi
bagus ceritanya q suka💪
miss tiii: halooo kakk, jangan lupa vote yaaa , salam kenalll🙏🤭
total 1 replies
Emily
dah baskara gak usah harap Arumi lagi pigi kerja jadi kuli buat ngisi perutmu
Emily
kerja baskara jangan ngintipin arumi aja
Emily
lha baskara itu pernah berjuang apa
Emily
nah gitu dong Rumi
Emily
ah ngomong aja kau Rumi..makin banyak kau ngomong makin mentiko lakikmu
Emily
si Arumi kan udah pernah ngomong begitu jgn sampe berkali kali ngomong begitu tapi tetap masih mengharap laki mokondo
Emily
lha Arumi di tinggal saja laki begitu..malah balik lagi
Emily
baskara kerja apa kok modelnya begitu.. bpak nya Arumi juga salah kenapa menjodohkan anaknya dgn leleki gak jelas
Emily
semangat
Yuli Yanti
sbetulnya nama anaknya Bayu apa Kinan. bingung aku
miss tiii: Kinan Buu , episode berapa yg masih nama Bayu biar saya ganti , makasihh atas komentarnya 🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!