NovelToon NovelToon
Jiwa Pembunuh Di Tubuh Gadis SMA

Jiwa Pembunuh Di Tubuh Gadis SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Perjodohan / Balas Dendam
Popularitas:17.8k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.

Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.

Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.

Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…

Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Seketika wajah Barok berubah pias.

"O-One?" suaranya bergetar, nyaris tak terdengar.

Aleta yang menyebut dirinya One memiringkan kepala, senyum tipis menghiasi bibirnya. Tatapan matanya berubah, tidak lagi sekadar dingin, melainkan penuh tekanan yang menyesakkan.

"Kau tahu juga rupanya," gumamnya pelan.

Barok mundur satu langkah lagi. Ingatannya berputar cepat, mengais sesuatu yang pernah dia dengar sesuatu yang seharusnya sudah tidak ada lagi.

Organisasi One.

Nama itu bukan sekadar kelompok biasa. Itu adalah organisasi bawah tanah terbesar di negara Varexion, sebuah kekuatan yang bahkan aparat pun enggan menyentuhnya secara langsung. Mereka bergerak dalam bayangan, mengendalikan banyak hal dari balik layar. Terorganisir, mematikan, dan... tak tersentuh.

Namun...

"Itu mustahil!" bentak Barok tiba-tiba, mencoba menutupi kegelisahannya sendiri. "Organisasi One sudah dibubarkan dua tahun lalu! Setelah..."

Dia terhenti. Pupil matanya bergetar. "...setelah kematian pemimpin lapangan mereka dalam misi terakhir."

Keheningan jatuh seketika. Aleta tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Barok dalam diam selama beberapa detik, seolah menimbang sesuatu yang tak terlihat.

Kemudian, dia tertawa pelan. Suara itu rendah, nyaris seperti bisikan, tapi cukup membuat bulu kuduk meremang.

"Jadi... itu yang kau tahu?" ujarnya.

Barok mengernyit. "Apa maksudmu?"

Aleta melangkah lebih dekat. Kini jarak mereka benar-benar tanpa ruang.

"Organisasi itu tidak pernah benar-benar bubar," bisiknya tepat di depan wajah Barok. "Kami hanya... menghilang."

Barok membeku.

"Kematian pemimpin lapangan itu," lanjut Aleta, "hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar."

Dia menegakkan tubuhnya, menatap Barok dari atas dengan aura yang jauh berbeda dari gadis SMA biasa.

"Dan sekarang, aku kembali. Orang yang akan mendirikan One lebih dari sebelumnya."

Napas Barok tercekat. "Tidak... tidak mungkin..." gumamnya.

Aleta menyipitkan mata. "Kau tampak sangat yakin dengan cerita yang kau dengar, desas-desus yang beredar cukup untuk membuat publik teralihkan rupanya."

Barok menggertakkan giginya. "Aku melihat sendiri beritanya. Semua orang tahu. Pemimpin lapangan One tewas dalam misi terakhir. Sejak itu, seluruh jaringan mereka runtuh. Tak ada pergerakan, tak ada jejak semuanya hilang! Pemerintah sudah menegaskan bahwa organisasi One sudah musnah."

"Benar," sahut Aleta singkat.

Barok tertegun.

Aleta menunduk sedikit, rambutnya menutupi sebagian wajahnya. Namun senyum itu masih terlihat. "Tapi ada satu hal yang tidak pernah kalian ketahui."

Perlahan, dia mengangkat wajahnya kembali.

Tatapannya kini tajam, dalam, dan berbahaya. "Pemimpin lapangan itu..."

Dia berhenti sejenak. Seolah menikmati detik di mana dunia Barok akan runtuh. "...tidak pernah benar-benar mati."

Deg.

Jantung Barok seakan berhenti berdetak. "A-apa...?"

Aleta melangkah melewatinya, bahunya menyenggol ringan tubuh pria itu.

"Anggap saja," ucapnya santai, "kematian itu hanyalah cara kami untuk membersihkan papan."

Barok menoleh cepat, matanya membelalak. "Lalu... siapa kau sebenarnya...?"

Langkah Aleta terhenti. Tanpa menoleh, dia menjawab pelan, "Aku adalah orang yang kau pikir sudah mati dua tahun lalu."

Keheningan kembali menelan ruangan itu. Dan kali ini ketakutan benar-benar menguasai Barok.

"K-kau Aurelia, si eksekutor?" tanya Barok.

Dia berharap jika tebakannya salah, dan gadis di hadapannya bukanlah orang yang dia pikirkan sejak tadi. Namun, jawaban dari Aleta benar-benar membuat niat dalam diri Barok runtuh seketika.

"Ya, aku Aurelia. Eksekutor lapangan milik organisasi One." Jawabnya santai.

"Apa?"

Aleta terkekeh, dia mengeluarkan pisau dari saku jaketnya. Kemudian mendekati Barok, dan menarik rambutnya hingga kepala pria itu mendongak menatap langit-langit gedung.

"Jangan terkejut, karena malam ini kau sudah mengetahui rahasiaku. Setidaknya kau harus bangga sebelum ajal menjemputmu."

Barok menelan salivanya kasar. "Sebentar, bagaimana jika ki–"

Jleb!

Aleta menusuk leher Barok sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya, cairan merah tua berceceran di lantai. Aleta mencabut pisau dari leher pria itu, dan menendang tubuh Barok ke lantai.

"Sial, bajuku jadi kotor." Aleta menunduk lalu membalik telapak tangan milik Barok.

Dia mengukir sebuah nama yang menjadi ciri khasnya selama ini, ukiran bertuliskan AO melekat di telapak tangan pria itu. Seringai terbit di bibir Aleta, sudah lama sekali dia tidak merasakan sensasi seperti ini dan sekarang dia telah kembali.

***

Suara bising di bandara menyambut kedatangan Ravian dan asistennya, Bimo. Mereka mengundur jadwal kepulangan karena sang ayah menyuruhnya segera kembali.

Awalnya Ravian enggan menurut, tapi mendengar jika perintah itu turun langsung dari kakeknya. Di mana kakeknya, Doclan merupakan direktur utama dari semua perusahaan yang di jalankan oleh Ravian dan keluarganya.

Dia tidak mungkin menolak perintah kakeknya, terlebih sepertinya ada masalah serius sampai dia di suruh kembali secepat ini.

"Berapa lama waktu penerbangan kita ke negara Varexion, Bim?" tanya Ravian saat melangkah menuju pesawat yang akan dia tumpangi.

Bimo yang berjalan setengah langkah di belakangnya langsung membuka tablet di tangannya, memeriksa jadwal yang sudah dia siapkan sejak tadi.

"Kurang lebih sebelas jam, Tuan. Jika tidak ada kendala cuaca, kita akan mendarat lebih cepat sekitar tiga puluh menit," jawabnya profesional.

Ravian mengangguk pelan.

Langkahnya tidak terhenti, namun sorot matanya tampak lebih tajam dari biasanya. Pikirannya jelas tidak sepenuhnya berada di bandara itu.

Sebelas jam. Cukup lama untuk memikirkan berbagai kemungkinan.

"Apa ada informasi tambahan dari Tuan besar?" tanyanya lagi.

Bimo terdiam sejenak, tampak ragu.

Ravian menghentikan langkahnya mendadak. "Bicara."

Nada suaranya rendah, tapi cukup membuat Bimo langsung menegakkan tubuh.

"Direktur Doclan tidak menjelaskan secara rinci, Tuan," ucap Bimo hati-hati. "Namun… ada satu hal yang sempat disebutkan."

Ravian menoleh, menatap asistennya lurus.

"Katanya… situasi di Varexion mulai tidak stabil."

Alis Ravian sedikit terangkat. "Tidak stabil bagaimana?"

Bimo menarik napas pelan sebelum melanjutkan. "Ada pergerakan dari kelompok lama yang… seharusnya sudah tidak ada lagi."

Ravian menyipitkan mata. "Kelompok lama?"

Bimo menatap layar tabletnya lagi, lalu berkata pelan. "Organisasi One."

Langkah Ravian benar-benar terhenti kali ini. Suara bising bandara seakan meredup di telinganya.

"Ulangi."

"Organisasi One, Tuan," ucap Bimo, kini lebih tegas. "Menurut informasi internal, ada beberapa insiden yang memiliki pola yang sama seperti dua tahun lalu… sebelum organisasi itu dinyatakan bubar."

Keheningan menyelimuti mereka sesaat. Ravian menatap lurus ke depan, rahangnya sedikit mengeras.

"Itu tidak masuk akal," gumamnya. "One sudah hancur dari dalam sejak kematian pemimpin lapangannya."

"Ya, itu juga yang dipikirkan semua orang, Tuan," sahut Bimo. "Namun…"

"Namun?" potong Ravian.

Bimo menelan ludah. "Ada saksi yang mengaku melihat seseorang dengan gaya bertarung yang identik. Dan meninggalkan inisial AO, Anda pasti mengenalnya."

Ravian perlahan menoleh. "Ah, jangan bilang dia kembali?"

Bimo ragu sepersekian detik. "Laporan itu menyebutkan satu nama."

"Siapa?" tanya Ravian, suaranya kini lebih rendah.

Bimo mengangkat wajahnya. "Aurelia, sang eksekutor lapangan. Hanya wanita itu yang memiliki pola sama persis seperti itu."

Deg.

Untuk pertama kalinya, ekspresi Ravian berubah tipis. Bukan takut. Tapi sesuatu yang lebih dalam ketertarikan… dan kewaspadaan.

"Menarik," gumamnya pelan. Dia kembali melangkah, menaiki tangga pesawat tanpa ragu. "Sepertinya aku pulang di waktu yang tepat."

1
Nur Hayati
seruuu... up yg banyak dong kak👍
Muft Smoker
lanjuut kak ,, lanjuut kak ,,
/Grin//Grin//Grin/
merry
Rick obesi dpt in let,, dia pikir gmpng
Ma Em
Semoga Aleta selalu selamat dari orang2 yg akan mencelakainya , untuk Clara kamu terima saja akibat dari perbuatannya yg selalu mengganggu Aleta .
Muft Smoker
dtggu kelanjutan ny kak ,,
Ma Em
Semangat Aleta tunjukan pada orang yg suka membuly mu dan balas perbuatan mereka , Aleta sekarang tdk bisa ditindas karena Aleta sekarang wanita pemberani , Ravian saja sekarang jadi penasaran sama Aleta
Pa Muhsid
sebentar lagi aroma bucin akan tercium, bukannya aleta tunangan yang dianggap pajangan Sama ravian itu 🤔🤔🤔
Muft Smoker
next kaaak ,,


aduuuh ad aj yg nyarii masalah sama aleta yx ,,
gx takut sama akibat ny tuuuh 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
next
Muft Smoker
next kak ,,


waaaah ravian mulai penasaran niiih🤭🤭🤭🤭😒😒😒😒😒
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut, dan semangat thor💪
Nur Hayati
up kak, ayooo..💪
azka aldric Pratama
ini masih di tahun yg sAma gk Ama si penghianat Thor 🤔🤔🤔
CaH KangKung,
👣👣
Muft Smoker
next kaaak ,,
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut thor, dan semangat
Muft Smoker
aleta udh sfrekuensi dg km ravian ,, kuat , dingiin , Dan cerdas ,,
yakiiin mau di lepasiin😒😒😒😒😁😁😁😁
Abdul Rosyid294
lanjut ya
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
thor lanjut, dan semangat 💪
azka aldric Pratama
hadir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!