Kemuning seorang gadis kecil murid sekolah dasar di desa yang cukup makmur. Dia diasuh oleh kakek dan neneknya.
sehari-hari dia sering dibully oleh teman-temannya di sekolah karena lahir tanpa ayah dan ibunya adalah bekerja sebagai TKW di Korea Selatan.
Ibunya pulang dalam keadaan hamil tanpa suami. Setelah melahirkan beberapa bulan kemudian ibunya kembali bekerja di Korea dan sejak saat itu Kemuning tumbuh besar dalam pengasuhan kakek dan neneknya.
Bagaimana Kemuning menghadapi bullian dari teman-temannya? Bagaimana nasib Kemuning di masa depan dengan labelnya sebagai anak Haram?
ikuti keseruan kisahnya hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Soehardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Santi mendaftar menjadi TKW di Korea Selatan setelah lulus SMA. Dia sengaja tidak memilih Hongkong, Taiwan karena hobinya nonton drakor dia jadi ingin melihat kita K-Pop idolanya serta bisa jalan-jalan ke situs bersejarah di Korea.
Handi sebagai anak orang kaya tentunya memilih kuliah di kota besar. Tentu saja Ningsih tidak mau kalah. Dia juga kuliah di kampus yang sama dengan Handi.
Selama ini Handi hanya menanggapi biasa saja segala tingkah laku Ningsih. Hanya untuk sopan santun saja dia bersedia pulang kampung bersama-sama tapi tidak ada niatan untuk punya hubungan yang lebih dari itu.
Santi bekerja di pabrik elektronik di Korea Selatan. Hari pertama bekerja dia harus berpacu dengan waktu “pali…pali.” Kadang disertai dengan geplakan tangan pengawas di kepala. Dia belum menyesuaikan diri dengan pekerja Korea yang semua harus serba cepat.
Saat istirahat kadang kepalanya pening karena geplakan pengawas dia makan sambil diam-diam menangis dan tidak lupa meminum obat sakit kepala.
Suatu ketika dia tertidur di halte bus. Dia merasakan pipinya ditepuk pelan “bangun, apa kau ingin ketinggalan bus. Ini bus terakhir.” Katanya.
Santi membuka matanya dia melihat park beom jeon anak magang dari universitas Sungkyunkwan.
“Terimakasih sudah membangunkanku” katanya sambil berdiri dan setengah terhuyung dia naik ke atas bus lalu duduk di belakang. Dibelakang dia memejamkan matanya dia tidak mengetahui kalau si anak magang itu duduk di sebelahnya.
Kembali dia merasakan bahunya diguncang-guncang. Santi terbangun dan saat hendak turun dia kaget ternyata dia berada ditengah kota Seoul.
“Ya ampun aku terlewat jauh” katanya.
“Memangnya kamu mau turun dimana?
“Aku harusnya turun di Hongdai.”
“Hmm ya memang terlewat jauh tapi karena ini malam Minggu kenapa tidak bersenang-senang di Gangnam saja. Kau sudah makan?”
“Belum tapi kalau bisa aku pulang saja, Gangnam pasti harga makanannya mahal-mahal lagipula aku tidak mau kemalaman.”
“Apartemen ku tidak terlalu jauh dari sini nanti kau kuantar pulang naik mobilku. Sekarang ayo kita makan, kau mau ramen?”
“Mau sekali, kita makan ramen dimana”
“Ikuti aku. Tempatnya tidak jauh dari sini.”
Mereka berdua berjalan menuju kedai ramen di belokan jalan tempat bus mereka berhenti. Rumah kecil agak sempit tapi memiliki rasa ramen yang ringan tapi porsinya mengenyangkan.
Beom mengajaknya berjalan agak jauh tapi akhirnya sampai juga di apartemennya. Beom menepati janjinya mengantarkan Santi ke tempat kontrakannya.
Santi membalas kebaikan Beom dengan mengundangnya makan di kamar kontrakannya. Santi memasak nasi campur dengan lauk daging rendang. Masakan Indonesia yang kaya rempah membuat Beom jatuh cinta dan akhirnya sering meminta Santi memasakkan untuknya.
Begitulah awal pertemuan ayah dan ibu Kemuning. Mereka sering bertemu di setiap akhir pekan. Santi diantar mengunjungi situs sejarah istana-istana yang biasanya dibuat syuting film drama kerajaan. Dia ke tempat syuting winter Sonata dan berlibur di sky resort pada musim dingin.
Park Beom Jeon adalah anak orang kaya, dia tinggal di apartemen miliknya sendiri. Santi sering memasak makanan Indonesia di apartemen Beom karena dia telah jatuh cinta dengan makanan Indonesia yang kaya rempah. Saat musim dingin yang extrim Santi pernah menginap di apartemen Beom karena badai salju dua hari dan jalanan baru bisa dibersihkan di hari ketiga. Selama badai salju itu mereka berdua hidup bagaikan pasangan pengantin baru. Santi baru menyadari dirinya hamil saat bulan kedua kehamilannya.
Orang tua Beom marah besar saat Beom berniat menikahi Santi. Mama Beom mendatangi kontrakan Santi dan memberinya tiket pulang ke Indonesia beserta check untuk kehidupan anak Santi dan Beom karena Beom telah dijodohkan dengan anak teman bisnis papanya Beom.
Santi pulang dalam keadaan hamil. Ibu dan ayahnya walaupun marah dan kecewa tapi Santi tetap anak mereka.
Santi merenovasi rumah orang tuanya, membeli sawah untuk ayahnya supaya ayahnya tidak perlu lagi bekerja untuk orang lain. Juga membeli motor baru untuk adiknya.
Berbagai hujatan tidak dia hiraukan yang penting keluarga mereka bisa hidup mandiri dan mereka bisa memenuhi kebutuhan mereka sendiri.