Benua Kasturia yang damai berubah menjadi medan pertempuran tiada henti. Sudah 200 tahun lamanya benua Kasturia terpecah menjadi tiga kekuatan besar. Masing-masing kekuatan saling bertempur. Pengkhianatan, agresi, politik, semuanya adalah hal penting bagi setiap negara untuk tetap bertahan di zaman peperangan ini.
Abyad, pemuda jenius yang tumbuh di pedesaan yang berbatasan langsung dengan negara berkonflik, bertekad untuk membawa perdamaian ke tanah Kasturia. Bersama dua teman setianya, Basril dan Sabina, Abyad terjun ke dalam dunia dengan kebusukan yang abadi, yang dipenuhi intrik yang membingungkan. Apakah perdamaian yang dicita-citakan Abyad akan terwujud? Ikuti terus petualangan Abyad mengarungi pertempuran tiada henti.
NB : Sumber cover dari Google
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mungka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 : Kastil Ajjar
Empat menara kastil Ajjar yang menjulang tinggi menyambut kedatangan pasukan ekspedisi lembah Bursa. Bendera Kesultanan Ammariz berkibar dengan gagahnya. Abyad, Basril, dan Sabina terlihat senang karena berhasil kembali dengan membawa kemenangan yang mengagumkan. Para Pasukan Kesultanan Ammariz yang ikut bertempur juga terlihat gembira. Mereka tidak sabar untuk beristirahat dan bertemu dengan keluarga.
"Akhirnya selesai juga. Aku benar-benar merasa lega." Abyad meregangkan badannya. Berkuda selama enam jam memang sangat melelahkan. Badan akan terasa kaku dan pegal.
Rombongan yang baru datang disambut oleh tepuk tangan meriah oleh seluruh penghuni kastil. Hasil pertempuran sudah menjadi cerita yang sangat terkenal di seluruh kastil Ajjar dan kota Qusra. Abyad, Basril, dan Sabina mendadak menjadi sangat populer.
"Hei, Abyad. Kita harus segera menemui Jenderal Akmar Pasha." Basril berkata. Tangannya menyandang beberapa tas dari kudanya.
Abyad menoleh. "Tentu saja. Ayo! Basril, Sabina. Kalian tolong urus para tawanan. Ingat! Perlakukan mereka dengan baik."
Mereka bertiga bergegas memasuki pintu kastil. Aroma kayu tua menyambut hidung mereka. Aromanya tidak asing dan sangat menenangkan. Warna suram yang menghiasi dinding kastil juga menjadi keindahan kastil Ajjar itu sendiri. Mereka menaiki anak tangga. Ruangan Jenderal Akmar Pasha berada di lantai tiga. Lantai satu adalah tempat berkumpulnya para pasukan untuk menyantap makanan. Lantai dua adalah tempat yang berisi peta-peta besar. Bisa dibilang seperti ruangan pertemuan.
Dalam beberapa langkah mereka telah sampai di lantai tiga. Lantai itu terdiri dari beberapa ruangan yang diisi oleh para petinggi kastil Ajjar. Ruang administrasi, ruang supplai, ruang komunikasi, ruang jenderal. Semuanya berada di lantai tiga. Masih terdapat tiga lantai lagi. Gedung utama kastil Ajjar terdiri dari tujuh lantai. Kastil Ajjar adalah kastil pertahanan terbesar di Kesultanan Ammariz.
Abyad mengetuk pintu kayu berukuran lebar di depannya. Ada kaligrafi kecil bertuliskan 'Ruang Jenderal' yang terukir cantik.
"Silahkan masuk." Suara berat Jenderal Akmar Pasha terdengar berwibawa.
Abyad mendorong pintu dan segera masuk. Jenderal Akmar Pasha tersenyum melihat kehadiran mereka bertiga. Wajahnya terlihat cerah. Walaupun sudah tua, kharisma Jenderal Akmar Pasha tidak pernah memudar.
"Silahkan duduk." Jenderal Akmar Pasha menunjukkan isyarat tangan. "Astaga, kalian benar-benar membuatku takjub. Maafkan orang tua ini yang sempat tidak percaya denganmu, Abyad."
"Tidak mengapa, Jenderal Akmar Pasha. Sebuah kehormatan bisa mendengar pujian darimu." Abyad memberi hormat. Diikuti Basril dan Sabina.
Jenderal Akmar Pasha tersenyum hangat. "Aku juga sudah membaca laporanmu. Keputusan yang tepat dengan memilih puncak lembah sebagai tempat pembangunan pos pertahanan. Aku yakin pembangunannya sekarang juga sudah hampir selesai."
"Terima kasih atas pujianmu, Jenderal Akmar Pasha. Itu semua berkat arahanmu selama ini." Abyad merendahkan dirinya. Dia sangat menghormati Jenderal Akmar Pasha yang baginya sangat berpengaruh di kalangan semua jenderal Kesultanan Ammaruz.
Jenderal Akmar Pasha melambaikan tangannya. "Aku minta maaf telah menyita waktu kalian sebentar. Aku tahu kalian cukup kelelahan, tapi ini adalah perintah langsung dari Sultan."
Abyad, Basril, dan Sabina saling tatap. Mereka terkejut mendengar kalimat Jenderal Akmar Pasha barusan. Jarang-jarang Sultan memberi perintah secara langsung, khususnya ke kastil Ajjar. Yang mereka tahu, Sultan Sulayman yang sedang berkuasa saat ini sangat mempercayai semua keputusan yang dipilih Jenderal Akmar Pasha. Oleh karenanya, Sultan memberikan kebebasan istimewa untuk Jenderal Akmar Pasha dalam memimpin dan menentukan keputusan pasukannya di kastil Ajjar.
Jenderal Akmar Pasha terkekeh kecil. "Tenang, tidak usah memasang raut wajah seperti itu. Perintah ini bukanlah masalah besar." Jenderal Akmar Pasha mengatupkan tangan di depan bibirnya. "Dengar, tiga hari lagi, pasukan Kesultanan akan bergerak menuju wilayah Kekaisaran Gastonia. Kota Isla de Court. Tentunya kalian telah mendengar desas-desus tentang pertempuran di laut Utara, bukan?"
Abyad, Basril, dan Sabina mengangguk. Abyad telah menceritakan informasi itu selama perjalanan pulang menuju kastil Ajjar.
"Sungguh sangat disayangkan armada besar Kekaisaran Gastonia berhasil dibuat hancur oleh pihak Kerajaan Havelar. Benar-benar pertempuran yang sangat dahsyat. Melalui kemenangan itu, aku yakin Kerajaan Havelar sekarang akan bergerak. Sebentar lagi pasukan daratnya akan menuju wilayah Kekaisaran Gastonia." Jenderal Akmar Pasha menghela napas. Benua ini, baginya hanya dipenuhi pertumpahan darah yang tidak pernah ada habisnya. Kedamaian telah lama menghilang. Lama sekali.
Abyad tanpa sadar mengepalkan tangannya. Senyum terlukis di wajah yang selalu terlihat malas itu. Tebakannya tepat. Sangat tepat malahan.
"Kenapa kau tersenyum, Abyad?" Jenderal Akmar Pasha bertanya.
Abyad yang ditanya secara mendadak menjadi sedikit canggung. "Maaf, Jenderal Akmar Pasha. Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya merasa ini merupakan kesempatan terbesar Kesultanan Ammariz untuk bergerak. Kita bisa membawa perdamaian untuk benua ini."
Basril yang duduk di sebelah Abyad hanya bisa menggeleng pelan. Temannya ini tidak tahu kapan harus menahan diri.
"Untuk ukuran pemuda seusiamu, kau cukup ambisius, Abyad." Jenderal Akmar Pasha menatap Abyad tajam. Abyad sedikit bergidik melihat tatapan Jenderal Akmar Pasha yang tajam bagaikan pedang kilij yang baru selesai diasah. "Tapi, itulah yang aku suka darimu. Ambisius. Ah, ini mengingatkanku pada Sultan Sulayman sewaktu muda. Yang Mulia juga sangat ambisius. Sewaktu masih menjadi putra mahkota, dia bahkan berirkrar untuk menyatukan benua ini dalam kurun waktu sepuluh tahun. Benar-benar naif."
Abyad menatap Jenderal Akmar Pasha yang sudah tertawa lebar. Dia sedikit bingung. Cerita ini baru baginya. Basril juga hanya bisa mengangkat bahunya. Dan Sabina, seperti biasa, larut dalam pikirannya.
Tidak banyak yang tahu dengan masa lalu Jenderal Akmar Pasha. Jenderal Akmar Pasha adalah putra dari mantan Wazir Agung Kesultanan Ammariz, tangan kanan Sultan. Dia besar dilingkungan militer yang ketat di ibukota Isdighar. Sedari kecil, bakat bertarung Jenderal Akmar Pasha sudah terlihat jelas. Dia juga sangat cerdas dalam bidang bahasa, budaya, geologi, ekonomi, serta seni. Sang ayah, Wazir Agung Bahammir Pasha waktu itu, memutuskan untuk menyekolahkan anaknya di Sekolah Sultan. Sekolah elit yang dipenuhi keluarga bangsawan. Di sanalah dia bertemu dengan Sulayman yang menjadi Sultan saat ini dan berteman baik dengannya. Mereka berdua terkenal sebagai anak jenius yang serba bisa. Jenderal Akmar Pasha dan Sultan Sulayman bahkan selalu bertempur di peperangan yang sama. Nama mereka terkenal sebagai pasangan emas Kesultanan Ammaruz.
Jenderal Akmar Pasha mendeham pelan. "Maafkan orang tua ini yang tiba-tiba bernostalgia. Baiklah, sepertinya langsung saja. Aku tahu kalian baru pulang dari ekspedisi yang melelahkan, tapi aku ingin besok kalian berangkat menuju kastil Zyad. Pasukan sebesar 30.000 orang yang dipimpin Jenderal Mustafa Pasha telah menunggu disana. Kalian tidak perlu membawa pasukan dari sini. Aku sudah menjelaskan kehebatan kalian ke Jenderal Mustafa Pasha. Dia akan sangat gembira menyambut kedatangan kalian bertiga."
Abyad mengangguk cepat. Dia merasakan gejolak hebat. Dia sungguh tidak menyangka akan bertempur bersama sosok jenderal lainnya. Dengan, astaga, 30.000 pasukan Kesultanan Ammariz. Mata Abyad berbinar-binar. Ini kesempatanku, pikir Abyad.
"Berhati-hatilah. Ini adalah pertempuran besar pertama kalian. Skalanya jauh lebih mematikan daripada pertempuran kecil di lembah Bursa." Jenderal Akmar Pasha mengingatkan.
"Baik, Jenderal Akmar Pasha." Abyad, Basril, dan Sabina menjawab serentak. Mereka memberi hormat khas Kesultanan Ammariz lalu pamit undur diri.
Mereka berjalan meninggalkan gedung utama kastil Ajjar. Para tentara sibuk berlalu-lalang.
"Kenapa kau terlihat bersemangat sekali? Biasanya kau akan mengeluh jika mendapat tugas baru." Basril bertanya. Basril dan Abyad sudah berada di dalam asramanya. Mereka tinggal di asrama dan kamar yang sama. Sedangkan Sabina memiliki kamar khusus.
Abyad yang sedang menyiapkan perlengkapan menengok ke arah Basril. "Tentu saja, Basril. Ini tugas yang berbeda. Skalanya lebih besar dan menantang. Inilah panggung yang telah disiapkan untuk kita."
Basril menggaruk kepalanya. "Iya-iya. Kau selalu berkata seperti itu. Jujur, aku juga merasa bersemangat sekali. Aku bisa bertempur bersama orang-orang kuat dari Kesultanan. Tenang saja, aku juga akan bertambah kuat."
"Kuat sih boleh, tapi kepalamu juga harus diasah biar cerdas." Abyad tertawa keras.
"Setidaknya mataku tidak seperti matamu yang terlihat seperti mata mayat ikan." Basril membalas tidak mau kalah. Mereka berdua kini tertawa bersama.
tetap semangat dong
tetap semangat thor