NovelToon NovelToon
My Beloved Bastard

My Beloved Bastard

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Perjodohan / Tamat
Popularitas:216.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: Freya Kara Alaika

Melati, seorang gadis berumur 15 tahun yang menjalani hari-harinya sebagai anak homeschooling dan murid Starlight Bimbel. Hidup berdua bersama sang ayah tak membuatnya merasa kekurangan kasih sayang. Dia juga memiliki sahabat bernama Tita.

Suatu malam, Melati terpaksa harus mendatangi tempat terkutuk yang sering disebut club untuk menghadiri acara ulang tahun sahabatnya. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Melati bertemu seorang pria dewasa yang membuat hidupnya berubah drastis.

Rupanya, malam itu menjadi awal mula dari kejutan-kejutan yang menghampirinya di kemudian hari. Puncaknya adalah, saat Melati terpaksa bersedia menjadi calon istri dari seseorang yang ia beri julukan 'Om-om Bastard'.

Problema hidup yang dialami seorang Putri Ayla Melati tidak cukup sampai di sana. Begitu banyak rintangan yang terus-menerus mendatanginya.

Bagaimana kelanjutan cerita Melati? Siapa 'Om-om Bastard' ini sebenarnya? Cari tahu kisah lengkapnya di novel "My Beloved Bastard".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Freya Kara Alaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

"ANGKAT TANGAN!"

Seruan itu membuat kelopak mataku spontan terbuka. Pemandangan berikutnya membuatku mengulas senyum senang. Pak Glenn datang bersama tiga orang polisi, dengan Tita yang segera berlari ke arahku begitu pria psikopat serta dua kacungnya mengangkat tangan.

"Mel, lo nggak apa-apa, kan?" tanya Tita seraya melepas ikatan tangan dan kakiku. Aku hanya menatapnya sembari mengulas senyum simpul. Badanku terasa sakit semua. Sangat sakit.

Tita memapahku untuk berdiri. Dari tempatku, aku dapat melihat Pak Glenn yang melangkah mendekat. Namun, sebelum Pak Glenn berhasil meraihku, seseorang melingkarkan lengannya di leherku.

"Jangan mendekat!" teriak pria sycho itu seraya mengacungkan belati kecil ke arah depan. "Jangan mendekat! Atau anak ini mati!"

Aku sudah tidak bisa bereaksi apa-apa. Tenagaku habis tak bersisa. Tinggal menunggu detik-detik hingga tubuhku benar-benar tumbang. Serangan hebat menghujam kepala dan perutku secara bersamaan, membuatku meringis ngilu. Suara-suara di sekitarku pun tertahan, tak mampu menembus gendang telingaku. Susah payah aku menerka rasa sakit, lalu ....

'DOR!'

Pria sycho yang semula menahan tubuhku tiba-tiba jatuh tersungkur. Pandanganku kabur. Sekuat tenaga kucoba untuk tetap berdiri. Kemudian, yang aku sadari sebelum semuanya menggelap adalah, aku menangkap suara derap langkah kaki dan mendapati diriku jatuh ke pelukan Pak Glenn.

***

Aku membuka mata perlahan. Namun, dentuman hebat di kepala membuatku kembali memejamkan mata rapat-rapat satu detik kemudian. Setelah pening di kepalaku mereda, aku kembali membuka mata untuk melihat sekitar. Ruangan serba putih dengan lampu yang sangat terang, membuatku harus menyipit beberapa saat untuk menyesuaikan cahaya yang menembus retina mata. Satu hal yang aku sadari, diriku sedang terbaring saat ini, di rumah sakit. Bau khas obat-obatan yang membuatku yakin akan hal itu.

Tatapanku terpaku pada jam dinding tepat di depanku. Pukul 01.24. Dini hari?

Keinginan untuk bergerak, merangsang otakku untuk segera menggerakkan tangan. Punggung tangan kananku terbalut selang infus, sedangkan tangan kiriku ... ah! Aku tidak bisa menggerakkannya, seperti ada beban yang menindih. Kualihkan pandangan pada punggung tangan kiriku. Ternyata, seseorang tengah menggenggamnya erat. Orang itu beringsut. Sepertinya, dia tertidur. Dari postur tubuhnya, aku tahu siapa dia.

Aku menggerakkan jari-jariku untuk membangunkannya. Dan aku berhasil. Begitu manik mata kami saling bertemu, dia terpaku sesaat. Seolah belum yakin bahwa aku sudah membuka mata. Entah mengapa, aku merasa batinku tersenyum saat tebakanku tentang siapa orang ini memang tepat. Sangat tepat.

"Melati? Kamu sudah sadar?"

Entah mengapa, bola mata hitam milik Pak Glenn menarik manik mataku untuk menyelaminya lebih dalam. Sungguh berbeda dari yang terakhir kali kulihat. Kini, lingkaran hitam tampak menghiasi kelopak matanya, pancaran akan sarat cemas, gelisah, bahagia, semuanya campur aduk. Wajahnya pun tampak kusut. Entah sudah berapa jam mata itu tidak terpejam. Jujur, hatiku merasa teriris melihatnya seperti ini. Dia seperti bukan Pak Glenn si om-om bastard yang suka menggodaku seperti biasa. Untuk pertama kalinya, aku melihat sisi lain dari Pak Glenn, yang sayangnya tidak sedap dipandang.

"Mel?"

Aku berusaha membuka mulut. Namun, tenggorokanku terasa tercekat. Sakit. Tidak ada satu kata pun yang lolos dari bibirku.

"Kenapa? Kamu butuh apa?" tanya Pak Glenn. Aku butuh minum. Sayangnya, otakku terlalu lelah untuk mencari cara agar Pak Glenn menyadarinya. "Mau saya panggilkan dokter?"

Aku menggeleng sebagai jawaban. "Minum." Yes! Akhirnya, satu kata itu berhasil kulisankan.

Mendengar kata itu, Pak Glenn lantas meraih air mineral botol di atas nakas, memasukkan sedotan putih, lalu memberinya padaku. Cukup dua tegukan, tenggorokanku yang semula bak hamparan tandus lantas terguyur air hujan.

Usai meletakkan kembali botol air mineral ke atas nakas, Pak Glenn mendaratkan tangannya di pipi kiriku. Langsung saja aku meringis sakit. Bagaimanapun, luka sayatan itu masih basah.

"Sakit, ya?" tanyanya. Elah! Pakai nanya! "Kamu yakin tidak ingin diperiksa dulu?"

Kembali kugelengkan kepala. "Saya baik-baik saja." Ah! Syukurlah. Tenggorokanku membaik. Sekarang, aku bisa bersuara meskipun sedikit demi sedikit, dan serak, tentunya.

Pak Glenn tersenyum. Senyum yang baru kusadari terdapat ketulusan di dalamnya. Sebelumnya, senyum yang Pak Glenn tunjukkan adalah senyum miring, tengil, meremehkan, dan bastard. Ah! Kata itu. Entah mengapa aku merindukannya.

Tangan Pak Glenn beralih menangkup tangan kiriku. Dia menggenggamnya erat, memberi sensasi hangat nan nyaman yang perlahan menjalar ke seluruh tubuh. Manik matanya menatapku lekat-lekat. "Kamu tahu, Melati? Saya nyaris gila saat sadar bahwa kamu menghilang. Kamu ke mana malam itu? Kenapa kamu tidak mendengar kata-kata saya?! Hah?!"

Lah, dia marah?

"Untung saya tidak datang terlambat. Untung kamu masih bernyawa. Kamu tahu? Saya bisa mati kalau kamu ditemukan tidak bernyawa!" Napasnya memburu. Pak Glenn benar-benar marah. Aku jadi merasa bersalah. Seharusnya, malam itu aku tidak nekat pergi sendirian.

"Maaf," ucapku lirih.

Pak Glenn mengusap wajah dengan satu tangannya yang tidak sedang menggenggam tanganku. Dia tampak frustasi. "Jangan ulangi lagi. Jangan bikin saya khawatir."

Raut cemas yang begitu kentara di wajahnya, membuatku tidak tahu harus merespon bagaimana. "Maaf." Hanya kata itu yang terlintas dalam benakku.

Pak Glenn menghela napas. "Boleh saya peluk kamu?" Ragaku menegang seketika. Tidak tahu harus berbuat apa, aku hanya mengangguk. Melihat hal itu, dia lantas beranjak dari posisinya dan merengkuh tubuhku pelan. Entah mengapa, pelukannya mampu membuat otot-otot tubuhku yang semula tegang menjadi rileks. Lalu, suara dengan nada rendah yang kudengar berikutnya, nyaris membuat jantungku melompat keluar. "Saya tidak ingin kehilangan kamu."

***

Saya tidak ingin kehilangan kamu. Kata-kata dan suaranya terasa menghipnotis, membuatku terus terngiang. Terlebih lagi dari caranya mengucapkan, terdengar penuh ... cinta. Pak Glenn benar-benar mencintaiku? Bagaimana mungkin? Tapi ... hati ini tidak mungkin salah menangkap arti dari sinyal yang terpancar, bukan? Jujur saja, batinku bergetar kala mengingatnya.

"Mel!"

Aku tersentak kaget. Tita sudah ada di hadapanku. Pipinya tampak basah. "Gue udah nangis-nangis, lo malah ngelamun!"

"Tita?" Seperti orang bodoh, aku malah menatap Tita sambil melongo.

Tanpa aba-aba, Tita merengkuh tubuhku yang tengah duduk bersandar. "Maafin gue, Mel ... gara-gara gue lo jadi kayak gini," ucapnya sambil terisak.

Aku menepuk-nepuk bahu Tita yang masih memelukku dengan erat. Terlalu erat, hingga aku merasa sesak napas. "Tit ... Tita ... gue ... sakit."

Tita lantas melerai pelukannya. Dia mengusap cairan bening yang semula membanjiri pipinya, lalu mengusap ingus dan mengelapnya dengan kaos ungu yang Tita kenakan.

"Ih! Jorok banget, sih, Tit!" ucapku jijik. Tita hanya menunjukkan cengiran kuda sebagai balasan.

"Gimana ceritanya, Mel?" tanya Tita yang sudah duduk di kursi samping ranjangku.

Pertanyaan Tita, membuatku teringat kembali pada malam saat aku diculik. "Handphone lo hilang?" tanyaku.

Tita mengangguk. "Hilang waktu gue di club Minggu malam lalu." Kening Tita mengernyit heran, seakan sedang berusaha menerka sesuatu. "Kok, lo tahu?"

Aku menghela napas sejenak. "Malam itu, gue pergi ke gudang belakang SMP Maju Jaya."

"Ngapain?!" sahut Tita dengan suara meninggi dan mata melotot.

"Dengerin dulu!" tukasku, membuat ekspresi Tita lantas kembali normal. Raut wajahnya serius, siap mendengar keseluruhan cerita dariku. "Sebelum itu, lo nge-chat gue. Katanya mau ketemuan di sana. Berdua doang."

"Terus, lo percaya?"

Aku tersenyum nyengir, membuat Tita berdecak sebal.

"Harusnya orang itu dihukum mati dari awal!" sungut Tita. Aku tahu bagaimana perasaannya. Sekeras apapun mencoba, kita hanyalah manusia biasa yang sangat mudah dirasuki dendam dan amarah.

Oh! Aku belum cerita, ya, siapa pria psikopat itu?

Dulunya, pria itu adalah guru di sekolah Tita: SMP Maju Jaya. Kuakui, Tita memang cantik dan pemberani, tapi dia juga misterius. Suatu sore, Tita baru selesai mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan akan pulang, namun guru itu mengadangnya. Diajaklah Tita ke gudang teater sekolah itu. Demi dicap sebagai murid yang menjunjung tinggi kesopanan, Tita mengikutinya. Usut punya usut, ternyata guru itu malah membawa Tita ke kamar mandi, satu-satunya tempat yang tidak dipasang CCTV. Dan di sanalah semuanya terjadi. Kesucian yang Tita jaga direnggut paksa. Tita sudah teriak sekeras mungkin. Tapi, saat itu memang area sekolah sudah sangat sepi.

Yang membuat Tita semakin marah, guru itu tidak mengakui kesalahannya begitu Tita melapor. Malahan, Tita dituduh balik telah menggoda seorang guru. Biadab memang!

Hingga pada akhirnya, kondisi mental Tita terganggu. Orang tuanya memutuskan Tita harus homeschooling. Dan di sanalah kami bertemu. Tita menceritakan semuanya padaku, lalu aku meminta papa untuk membantunya menuntut keadilan. Satu bulan kemudian, guru yang tidak kuketahui namanya itu divonis hukuman beberapa tahun penjara. Aku juga tidak tahu, mengapa pria sycho itu bebas kemarin.

"Tapi syukurlah, dia udah beneran mati."

Ucapan Tita membuatku terbelalak. "Serius lo?!"

Tita mengangguk yakin. "Lo nggak ingat, ya, kejadian kemarin?"

Refleks, aku menggeleng. Rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuh saat itu membuatku tidak mengingat apa-apa.

"Mau gue ceritain?" tanya Tita yang segera kujawab dengan anggukan.

"Setelah Pak Glenn tahu lo diculik, dia nyamperin gue ke Smart Bimbel. Ada papa lo juga yang bantuin. Pak Glenn minta bantuan polisi dan detektif. Saat penculik nelepon, kita langsung tahu di mana titik keberadaannya. Bodohnya si penculik ada di sana."

"Terus?"

"Terus, kita nyusun rencana. Gue, Pak Glenn, dan tiga orang polisi bakal masuk duluan. Kalau ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, baru Om Leo dan detektif masuk. Lo sempat dengar suara tembakan?"

Aku mengangguk.

"Itu tembak yang dibawa Om Leo. Dia nggak punya pilihan lain, Mel." Tita menepuk-nepuk bahu kiriku. "Lo beruntung, ada Om Leo dan Pak Glenn yang rela ngelakuin apapun untuk melindungi lo."

Aku diam. Bingung harus merespon bagaimana. Semua ini terlalu mendadak untukku. Jadi, pria sycho itu ... udah ... mati?

"Ngomong-ngomong, Pak Glenn ke mana?" tanya Tita, memecah lamunanku.

Bukannya menjawab, aku malah kembali bertanya. "Lo kenapa nggak ke Starlight?"

Tita berdecak pelan. "Gue pengin ketemu lo!" Aku hanya manggut-manggut.

"Jadi, Pak Glenn ke mana?" tanya Tita lagi.

"Kantor."

"Kantor?"

Setelah memastikan aku memakan makanan rumah sakit yang hambar tadi pagi, Pak Glenn memang pamit untuk pergi ke kantor. Selama aku diculik, dia mengaku ada beberapa kerjaan yang keteter. Hm. Memangnya, aku seberarti itu untuknya?

"Bokap lo?"

"Tadi, sih, mampir bentar, terus langsung berangkat ke kantor."

"Udah makan?"

Aku mengangguk.

'Ceklek!'

Suara pintu yang terbuka membuat aku dan Tita sama-sama menoleh ke sumber suara.

Loh, ngapain dia ke sini?

*

*

*

*

*

Hi, guys!

Cuma mau bilang, makasih untuk yang udah baca dan support aku.

Terus baca MY BELOVED BASTARD, ya!

Jangan lupa like, komen, dan vote! :)

Follow Instagram: @fi.reya_act @freya_karalaika

Oh, ya! Kalian semua, dapat salam dari Om-om Bastard tapi Ganteng 🤭

1
Jaenah Susanti
mdh²n Mawar yg jadi pendonor nya..
Syamsimar Burhan
Assalamualaikum,...
Kpn lanjutannya..???
Di tunggu lho....😊😊
💋🅲🅷🆈💋
jadi senyum2 sendiri😊😊😊
💋🅲🅷🆈💋: semangat othor💪
total 2 replies
💋🅲🅷🆈💋
visualnya uwwu banget😍😍😍
💋🅲🅷🆈💋
sempat degdegan🙄🙄🙄
Yanti Yulianti
cigogoy
Yanti Yulianti
bubigo
Akifah Naila
lanjuttttt
Susi Lanita
lanjut..
Susi Lanita
antara O'on dan berhati tulus sepertinya beda tipis, kan ada keamanan bandara, atau dilaporkan ke informasi, gmn klu dituduh penculikan anak adeh.. melati melati..
Shanum Azkadina
lanjut donk seru loe
Susi Lanita
pipi melati yg disayat, tdk berbekas kah?
ngilu bayang kan nya..
Woro Aji W
pas bgt visualnya tor
Rahmi Miraie
bolehlah
Way-naviza
lanjut... 👍
pecinta time travel
boleh s2 nya
Alifia C.T: Ditunggu ya. :b
total 1 replies
Rahmi Miraie
happy ending dong ?
pecinta time travel
isssh author masa sad ending
Hissiz
Thor jngan dibikin sad ending😭 Up thor semangat💪
Alickha Senja
nex thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!