Celine, seorang mahasiswi cantik yang kabur dari rumah karena ingin menghindari perjodohan yang telah direncanakan oleh Ayahnya. Selama pelariannya, ia bertemu dengan seorang laki-laki dengan tingkah laku yang nakal, bernama Raymond. Dan ternyata Ray adalah Dosennya dikampus.
"Kak Ray lo jangan berani macam-macam ya sama gue." Celine.
"Bibir lo itu selalu menggoda gue, tau nggak?" Raymond
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RizkiTa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panas
Celine menghentikan aktifitasnya, meremaas tisu yang berada ditangannya. Kembali duduk di tempatnya, dan matanya masih tertuju pada baju Ray yang basah karena ulahnya.
"Kenapa masih diliatin?" Ray melihat kemana arah mata gadis itu. "Nanti lo nafsu kalo ngeliatin dada gue sampe segitunya." Ucapnya asal, Celine langsung buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain. Celine rasanya ingin muntah mendengar kalimat Ray barusan. Ia merasa terjebak dengan lelaki mesum dihadapannya.
Ray memanggil pelayan yang lewat, memesan segelas jus jeruk untuk gadis itu. "Nggak usah repot-repot, saya bisa ambil minum sendiri." Celine bangkit dari kursinya. Segera ia ubah gaya bicaranya pada Ray setelah emosinya agak mereda, Celine menyadari bahwa ia sudah melewati batas, bagaimanapun juga Ray adalah Dosennya.
"Emang siapa yang ngizinin lo pergi dari sini?" Celine berhenti, mengepal kedua tangannya. "Asal lo tau, gue udah bayar Erick malam ini supaya lo bisa nemenin gue." Lanjut lelaki itu.
Celine kembali duduk, menunduk tanpa mau melihat ke wajah Ray sama sekali. "Nama lengkap lo siapa?" Tanya Ray.
"Celine Kartika, emang kenapa? mau ngasih nilai jelek untuk mata kuliah pemasaran global ? silahkan enggak masalah." Jawab Celine jutek.
"Pikiran lo tuh buruk terus ya ama gue? justru sebaliknya, gue mau ngasih nilai lebih buat lo."
"Nggak perlu, Pak Dosen. saya mau nilai dengan hasil kerja saya sendiri." jawab Celine tegas.
"Oke, gue pegang kata-kata lo, gue harap lo nggak nyesal nantinya." Ray kembali meneguk minumannya.
Celine menyatukan kedua tangannya dibawah sana, sesekali mengusap pahanya sendiri. Kenapa ia harus mengalami hal ini? terjebak dengan Dosen yang penuh pesona dan sangat berwibawa di kampus, tapi ternyata kelakuannya diluar begitu menjijikkan.
"Ceritain tentang diri lo!" titah Ray.
Celine mengernyitkan dahinya. "Untuk apa?"
"Gue pingin tau,"
"Nggak,"
"Ceritain kenapa cewek sepolos elo harus sampai memilih bekerja di tempat ini?" Ray sangat penasaran, apa yang membawa gadis itu sampai kesini. Dari wajah dan tingkah lakunya selama satu minggu mengenalnya, tak pernah sekalipun Ray melihatnya tersenyum. Ray mengambil kesimpulan bahwa Celine berada disini karena keterpaksaan.
"Maaf itu privasi, dan saya nggak punya alasan yang kuat sampai harus menceritakan itu ke orang lain." Celine tetap bersikeras untuk tidak menceritakan apapun, untuk apa? pikirnya. Toh lelaki ini juga bukan siapa-siapanya.
Sementara didapur bar, salah seorang rekan Eva sesama pelayan mengatakan bahwa ada pesanan minuman berupa jus jeruk ke meja sembilan.
"Va, ini pelanggan tetap nambah pesanan, jus jeruk. Tapi gue nggak yakin itu buat dia, paling buat Celine."
"Oke, gue bikin." jawab Eva, ia langsung berpikir ini adalah kesempatan untuk memberi pelajaran kepada Celine yang ia anggap anak baru yang tak tahu diri. Saingannya untuk menaklukkan Ray.
Setelah menyiapkan segelas jus jeruk diatas nampan, Eva pergi sebentar keruang belakang menuju lokernya untuk mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dan benda itu selalu ia bawa, siapa tahu butuh.
Kembali kedapur, menuangkan sedikit serbuk itu kedalam minuman yang ia yakini akan diminum Celine.
Dikit aja deh, nggak usah banyak-banyak. Mudah-mudahan Ray ngantarin lo pulang lagi malam ini ya, bakal ngeliat lo kayak cacing kepanasan. Gue yakin Ray bakal khilaf dan nggak pake pengaman, biar lo hamil sekalian hancur hidup lo Cel.
Tersenyum puas setelah melakukan niat jahatnya, ia kembali memanggil rekannya untuk mengantarkan jus itu ke meja sembilan.
-------------------
Setengah jam kemudian, jus jeruk itu sudah habis setengah. Celine merasa ada yang aneh pada dirinya, ia begitu gelisah, lama kelamaan jantungnya berpacu dengan sangat cepat. Bolak balik ia melirik ke jam tangannya namun ternyata masih jam satu, belum waktunya untuk pulang.
"Lo kenapa gelisah banget?" Ray yang melihatnya berubah pun merasa ada yang aneh. Celine hanya menggeleng pelan, tiba-tiba kepalanya terasa berat, sekujur tubuhnya panas dan gerah, kedua tangannya basah karena keringat dingin.
"Sebentar," tutur Celine lalu beranjak keluar bar, untuk mencari angin segar. Ia bersandar pada dinding, kemudian mengatur napasnya. Bulir-bulir keringat mulai tampak didahinya.
Merasa ada yang tak beres dengan gadis itu, Ray menyusulnya keluar, melihat Celine yang sedang duduk di lantai, bersandar. Dua kancing kemejanya sudah terbuka. Celine menutup kedua matanya karena pandangannya mulai kabur.
Eva yang melihat Celine keluar dari bar tersenyum menang, merasa misinya hampir berhasil.
Rasain emang enak kepanasan?
"Lo sakit?" Ray berjongkok dihadapan Celine, lagi-lagi gadis itu tak memberi jawaban, hanya mengoceh tak jelas.
Ray mengambil tindakan, merogoh saku celananya untuk mengambil kunci mobilnya membuka pintu sisi kiri, kemudian menggendong Celine untuk masuk kedalam mobilnya.
Didalam mobil, Ray belum menginjak gas, ia masih melihat Celine yang semakin aneh. Ia tahu ini reaksi dari obat perangsang, tapi siapa yang melakukan ini pada Celine?
Celine membuka sendiri semua kancing kemeja yang ia kenakan, hingga memperlihatkan tanktop hitamnya.
Astaga Ray, godaan.
"Ehm panas... "
"Air... "
Gumam Celine dengan mata yang masih tertutup, Ray langsung mengambil sebotol air miliknya, dan memberikannya pada gadis itu.
"Cel, sadar!" hentak Ray dengan suara keras. Sambil menepuk-nepuk pipi Celine.
Setelah menerima botol berisi air itu, Celine langsung menumpahkan ke wajah dan lehernya sendiri.
"Oh ya ampun, gue harus ngambil tindakan. Tapi nggak mungkin disini."
Ray langsung menginjak pedal gas mobilnya melaju dengan cepat untuk menuju ke apartemen miliknya.
---------------------------
Oh Celine malang nian nasibmu 😥