Bosan dengan kehidupan bagaikan seorang putri membuat Kimora Candy Anastasya harus membuat perjanjian dengan sang ayah agar bisa terbebas dari semua peraturan Keluarga Besar Park.
Ayah Kimora, Baek Hyeon sangat protektif terhadap putrinya itu hingga semuanya harus sesuai dengan peraturan keluarganya. Semenjak istrinya meninggal Baek Hyun sangat over protektif hingga membuat Kimora tidak betah.
Hingga ia memilih menjadi artis dan bertemu dengan Abigail seorang vampire yang juga bekerja di dunia entertainment sebagai artis figuran. Tertarik dengan kehidupan Abigail membuatnya banyak berubah dari seorang gadis manja menjadi mandiri. Hanya saja Abigail sangat anti terhadap wanita.
Lalu bagaimanakah cara Kimora menaklukan hati Abigail? Akankah keluarga besar mereka memberikan restu dan berakhir bahagia? Atau penuh dengan rintangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 11. HUTANG BUDI
Hari itu juga Abigail benar-benar keluar dari Rumah Sakit. Ia lebih memilih untuk pergi dari tempat yang tidak bisa menerima kehadirannya. Lagi pula tidak ada hal yang lebih indah daripada rumah kontrakan miliknya.
Sementara itu hati Kimora terasa sesak ketika ayah dan kakaknya menentang hubungannya dengan Abigail.
"Maafkan Ayah Kimora, jika kamu mencintai manusia maka Ayah akan menerima kehadirannya dan juga merestui. Akan tetapi jika dia bukan berasal dari klan manusia, maaf Ayah tidak bisa!"
"Memangnya kenapa kalau dia berbeda? Bukankah hal itu tidak akan mengganggu kalian? Lagi pula ia juga tidak menyakiti, kenapa harus dilarang!"
"Kimora, dengarkan perkataan dari Ayah."
"No, aku nggak mau. Aku tetap akan mencintai Abigail!"
"Nak, dengarkan Ayah! Masih ada banyak hal yang harus dipertimbangkan ketika kamu mulai menjalin sebuah hubungan?"
"Kalau kalian menentang hubungan kami, maka aku akan pergi dari rumah!" ucap Kimora final.
Bibir Kimora bergetar, menahan rasa bergemuruh di dalam dada. Tidak ingin berlama-lama berada di ruang makan, kini Kimora lebih memilih untuk kembali masuk ke dalam kamarnya.
Tuan Park dan juga Audrey hanya bisa menatap punggung Kimora yang semakin lama semakin hilang tertelan dinding kamar. Terdengar deru nafas lelah yang dihembuskan oleh Tuan Park. Audrey bisa merasakan beban yang ditanggung oleh ayahnya.
"Maaf, jika aku harus berterus terang saat ini. Apalagi semua ini demi kebaikan Kimora. Maafkan aku, Ayah!"
"Kenapa harus meminta maaf, karena semua ini bukan kesalahanmu. Lagi pula ini karena sikap Ayah yang terlalu memanjakan dirinya. Sehingga tidak ada banyak waktu untuk mengubahnya menjadi wanita dewasa."
Tuan Park merutuki sikapnya yang terlalu memanjakan Kimora. Akan tetapi itu ia lakukan untuk menebus rasa kesalahan kepada mendiang istrinya yang sudah meninggal. Sebagai janjinya kepada sang istri ia memang akan menjaga Kimora selayaknya berlian.
Sementara itu di lantai atas. Suara dentuman daun pintu terdengar keras. Kimora memang membanting pintu kamarnya.
Tubuh Kimora luruh ke bawah, menyatu dengan lantai dan buliran air mata mengucur deras dari sepasang matanya. Kedua tangan Kimora memeluk lututnya yang bergetar. Dengan posisi ia menelungkupkan wajahnya di antara kakinya tangisnya semakin menjadi.
Terluka, hati Kimora benar-benar terluka karena penolakan yang diberikan oleh keluarga besarnya. Selama ini semua yang diterima olehnya adalah karena rasa sayang dari Tuan Park yang terlalu berlebihan. Namun, bukan itu yang diinginkan oleh Kimora.
"Sekalinya jatuh cinta pada sosok yang aku anggap sempurna, ternyata kami berbeda alam!"
Kimora mengurai rambutnya sambil sesekali memukul kepalanya, agar bebannya berkurang. Tangisnya semakin menjadi, manakala ia teringat jika Audrey dan Tuan Park mengancam akan memindahkan kewarganegaraan Kimora jika ia tetap melanjutkan hubungan dengan Abigail.
"Jika itu yang kalian mau, maka lakukanlah. Bukankah hal itu akan memudahkan kalian untuk mencoreng dari daftar keluarga Ayah?" ucapnya sambil tergugu.
...👑 Kediaman Abigail...
Abigail merasa tidak mendapatkan asupan makanan bergizi selama sakit. Terpaksa ia harus membuka almari pendingin miliknya untuk memuaskan rasa laparnya.
Tanpa harus melakukan transfusi darah, Abigail lebih suka menghabiskan stok darah beku miliknya untuk mengisi dan mengganti semua darahnya yang telah hilang. Lagi pula tidak ada cara lain lagi yang bisa dilakukan selain hal itu.
"Tidak ada makanan yang lebih lezat dibandingkan makanan ini!" ucapnya dengan berbinar, dan sangat lahap dalam menikmati makanannya.
Beberapa potong puding darah buatannya menjadi santapan pencuci mulut untuk Abigail. Suara renyah dari potongan puding terdengar indah berpadu dengan gerakan naik turunnya jakun milik Abigail.
"Makanan terlezat adalah daging dan darah segar dari toko Nyonya Anne," gumamnya sambil menjilati tangannya yang masih berlumuran darah.
Gigi taring yang tajam dan sorot mata merahnya mampu membuat beberapa hewan malam berlari menjauh karena takut akan menjadi santapan Abigail malam itu. Sebenarnya Abigail tidak suka meminum darah manusia, melainkan darah binatang.
Sama-sama berwarna merah pekat dan sangat gurih adalah salah satu alternatif makanan yang bisa dikonsumsi oleh Abigail selama tinggal di Seoul. Hal itu pula yang selalu diajarkan oleh kedua orang tuanya selama ia tinggal.
Tentu saja itu karena larangan besar dari Keluarga Besar Abigail di Rusia. Ayah dan ibunya sangat melarang jika salah satu anggota keluarganya sampai membuat ulah pada manusia lainnya.
"Kita memang hidup berdampingan, tetapi tidak boleh saling bertarung sama lain. Pertahankan hari yang bersih agar kita tetap baik pada sesama."
Merasa kesepian, Abigail lebih memilih untuk segera pergi. Benar saja, beberapa saat setelah ia menyelesaikan makan malamnya. Abigail melompat keluar dari rumah dan bertengger di atas dahan pohon. Mengamati indahnya kota Seoul di malam hari.
Semilir angin malam nyatanya tidak membuat tubuh Abigail kedinginan. Tubuhnya masih terasa hangat, karena ia memang sudah kenyang.
Namun, pikirannya kembali berkecamuk ketika melihat sosok gadis yang mirip dengan Kimora lewat di bawahnya.
"Gadis itu, kenapa mirip sekali dengan Kimora?"
Perjanjian dengan Audrey membuat Abigail benar-benar harus menjauhi Kimora.
"Sedang apa gadis itu sekarang?"
"Aih, sebaiknya aku melupakan keberadaannya dan lebih meningkatkan skill-ku dalam bermain peran."
Meskipun Abigail merasa berhutang budi kepada Audrey yang telah menyelamatkan hidupnya, tetapi Audrey juga berjanji akan menjaga rahasia di antara mereka berdua.
"Setidaknya sikapku dengan dua wanita itu sudah impas."
......................
Beberapa hari tidak menemukan Kimora, rasanya hidup Abigail ada yang kurang. Entah mengapa sejak Kimora cuti, hidupnya terasa hampa.
"Kenapa? Kangen sama Kimora?"
Abigail tampak menggeleng.
"Aku nggak kangen, hanya saja tubuhku belum pulih jadi sangat tidak nyaman ketika berada di luar rumah terlalu lama."
"Jangan bilang, rasa alergimu sedang kambuh?"
"Iya."
"Hadeh, Abigail seharusnya kamu mengetahui hal apa yang dilarang oleh dokter!"
"Baik, Pak terima kasih untuk sarannya. Lain kali aku akan berhati-hati."
Abigail tersenyum ketika teman satu krunya menyadari jika Abigail mempunyai alergi sinar matahari. Padahal kenyataannya ia tidak bisa terkena udara panas karena sangat berbahaya untuknya sebagai salah satu anggota klan vampire.
"Apa emang benar jika aku sudah menaruh hati kepada Kimora?"
"Bukanlah dia gadis yang aku benci dan dihindari."
Sebuah kenyataan itu ternyata membuat Abigail tersiksa. Baru pertama kali ia merasakan jatuh cinta terhadap manusia, akan tetapi ia harus membuang dan menelan pil kekecewaan akibat cinta terlarang miliknya.
"Sialan, gadis ingusan itu justru menjeratku?"
Tampak kuku-kuku di jari tangan Abigail terlihat memanjang. Sorot matanya menatap tajam ke sembarang arah.
"Kimora Candy Anastasya ...."
Abigail sangat tahu jika keinginannya itu pasti akan ditentang oleh keluarga besarnya. Maka dari itu Abigail lebih memilih untuk membaca masa depannya sendiri.