Seorang wanita cantik yang bernama Hellen Keller bercita-cita menjadi seorang dokter namun cita-citanya harus punah karena kejadian yang ia alami saat usianya berumur 13 tahun ...
Hellen menjadi saksi mata pembunuhan di salah satu gedung tua ..
apakah kehidupan Hellen akan tenang ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka manga toon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pasrah...
Suara gemuruh disertai sorakan banyak orang membuatku tersadar dalam tidurku dengan pelan aku pun membuka kedua mataku , saat mataku terbuka dengan sepenuhnya pandangan yang pertama kali ku lihat adalah kumpulan banyak orang yang menatap kearah ku , kulihat kearah sekeliling dengan tatapan bingung dan aku tersadar bahwa saat ini aku bukan berada di gereja .
Aku benar-benar merasa bingung bagaimana bisa aku berada di tempat ini jelas sekali aku ingat bahwa aku berada di dalam gereja saat itu pikirku .
Ku gerakan tubuhku dengan sekuat tenaga hingga rasa sakit kembali aku rasakan namun percuma karna saat ini tubuh ku tengah terikat di kursi dengan pakaian yang sudah berubah bahkan mulutku di plester hingga aku tak bisa bersuara sama sekali , Tubuhku kini hanya tertutupi dengan kemeja putih tipis tanpa bawahan hingga aku bisa merasakan dingin pada kulit kaki ku saat ini .
" Baiklah , kalian semua bisa lihat bukan bahwa dia sudah tersadar saat ini dan kita sudah bisa memulai tawaran nya . tawaran pertama di buka lima pratus ribu dollar " ucap seseorang di sebelahku hingga membuat aku menoleh kearah asal suara tersebut
Aku yang mendengarnya pun terkejut bukan main , aku bukan orang bodoh yang tidak tau aku berada dimana saat ini , jelas sekali bahwa aku berada di tempat pelelangan manusia pikirku .
" Satu juta dollar , aku ingin dia menjadi simpananku " ucap salah satu pria tua yang membuatku berdigig geli
" Satu koma dua juta dolar "
Aku terus saja ditawar oleh orang-orang yang ada di depanku saat ini hingga membuat aku ingin menangis rasanya , aku merasa seperti sebuah barang yang sedang ditawar tidak pernah aku merasa serendah ini pikirku .
Saat aku tengah merontakan tubuhku tiba-tiba plaster pada mulutku ditarik paksa oleh MC tersebut hingga membuat aku berteriak marah saat mereka terus menawar ku .
" Brengsek , lepaskan aku !! " teriaaku penuh amarah seraya merontakan tubuhku dengan keras
" Dua juta dollar , buat dia mendes*h saat ini , aku ingin mendengar suaranya saat mendes*h !! " Ucap seorang pria dengan lantang tanpa rasa malu
aku pun berteriak dengan sekuat tenaga seraya terus menggoyangkan tubuhku tanpa perduli dengan rasa sakit yang di timbulkan oleh ikatan tali tersebut karna saat ini hati ku lebih sakit dari pada perih yang ada di lengan dan kaki ku saat ini pikir ku .
" Kau yakin Tuan ingin mendengarnya mendes*h ? " Tanya MC itu hingga membuat suasana menjadi ricuh
Aku semakin meronta saat tangan MC tersebut berada pada kedua payudar*ku dengan dia yang berada di belakang ku saat itu . dengan sekuat tenaga aku menahan suaraku saat MC itu menekan-nekan kedua put*ng ku namun aku tak bisa menahan lebih lama lagi karna itu adalah area sensitif bagi ku hingga akhirnya suara laktat itu pun keluar dari mulutku .
" Akh "
" Oh sialan , Ini membuat ku gila . tiga juta dolar untuk mu honey " ucap pria lain lagi
Mereka pun terus menawar tanpa memperdulikan keadaanku yang berteriak marah dengan lelehan air mata yang entah sejak kapan sudah membasahi wajahku saat ini .
" Lima juta dollar , aku ingin kau menjadi pemuas nafsuku sayang " ucap lelaki tua itu membuat suasana menjadi semakin ricuh
" Sepuluh juta juta dollar " ucap seorang pria tua yang berkepala botak seraya berjalan mendekat kearah panggung tempatku berada
Kulihat dia menatap kearah ku sambil tersenyum menjijikkan menurutku . Aku meronta saat tangan kotornya menyentuh wajahku lalu menjalar menuju payudar* ku dan terakhir kearah selangkang*n ku .
" Wow " ucapnya kagum pada tubuh putihku
" Cuih "
Aku pun meludahi nya tepat didepan wajahnya hingga membuat orang itu terlihat marah dan memukul kepalaku dengan mic yang dia ambil dari MC yang berada di sebelahku hingga membuat dahiku sedikit tergores .
" Aku mencari orang yang seperti mu Nona " ucapnya sambil tersenyum miring dan hendak menyentuh wajahku kembali namun sebuah tangan tiba-tiba menahan nya
" Barang bisa di sentuh jika ku sudah membeli nya tuan " ucap MC yang ada di sebelahku sambil menahan tangan pria botak itu hingga membuat hatiku teriris saat mendengar ucapannya
Mereka semua menganggap ku benar-benar seperti barang saat ini . Hatiku terasa sakit entah sudah berapa banyak air mata yang aku keluarkan saat itu aku juga tak perduli dengan luka di tangan dan juga kaki ku karna terus merontakan tubuhku berharap tali-tali itu akan lepas dari tangan dan kakiku namun kenyataannya yang aku dapatkan sangat nihil . Saat ini aku hanya bisa pasrah akan takdir yang Tuhan berikan padaku saat ini pikirku .
" Baiklah , jika dalam hitungan ke lima tidak ada yang menawar diatas sepuluh juta dollar maka wanita cantik ini akan jatuh ketangan Mr.Gary " ucap MC tersebut dengan lantang
Aku yang mendengarnya pun terus meronta seraya menggelengkan kepalaku dengan air mata yang terus menetes membasahi pipiku saat ini .
" Lima puluh juta dollar " ucap salah seorang pria yang berada paling belakang hingga membuat semua mata menatap kearah orang tersebut
Sedangkan aku yang yang mendengar suara tersebut merasa sangat tidak asing dengan suara pria itu . Aku pun ikut menatap kearah pria itu dengan pandangan buram karna mataku tertutup dengan air mata .
" Tuan Thomas shine , bukankah anda yang memberikan nya pada kami , anda tidak bi~ " ucap MC tersebut namun di potong cepat oleh Thomas
" Aku hanya membeli kembali bocah ini , Aku merasa bermain-main dengan nya sudah cukup hari ini . saat ini dia sudah mendapatkan pelajaran nya dengan baik di sini dan aku ingin mengambilnya kembali " Potong Thomas seraya berjalan mendekat kearah ku
Thomas pun membungkukkan tubuhnya seraya menatap tajam kearah ku yang saat itu terlihat sangat kacau.
" Jika kau berani kabur sekali lagi dariku , aku akan membuatnya lebih kejam dari ini Nona Hellen Keller " ucapnya tenang namun penuh penekanan di setiap katanya dan di tambah lagi dengan tatapan matanya yang dingin dan menyeramkan
Aku yang mendengarnya hanya terdiam takut di tempat sambil terisak menahan tangis ku saat itu .
.
.
.