Bagaimana rasanya ketika kamu bercermin dan ternyata bukan wajahmu yang muncul pada pantulan cermin? Inilah yang dialami Vega Indriana di sekolah barunya.
Setiap kali bercermin, bukan wajahnya yang muncul, melainkan sosok asing yang tak dikenalnya.
Sejak kedatangannya di sekolah asrama, berbagai gangguan misterius kerap dialaminya. Bahkan mimpi yang sama selalu datang di malam hari.
Dibekuk oleh rasa penasaran, Vega pun mencari tahu tentang misteri yang tersimpan. Hingga akhirnya ia menemukan fakta tentang tragedi berdarah yang terjadi 17 tahun lalu, yang ternyata berkaitan erat dengan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kolom langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Kamu Pulang Saja
"Mbak … tolong jawab! Apa bayinya Icha juga menjadi korban kebakaran itu?"
Mbak Andin yang masih terisak-isak belum mampu menjawab pertanyaan Vega. Rentetan kejadian mengerikan di masa lalu begitu ingin ia lupakan.
Ia menyeka air mata yang meleleh di pipi. Menarik napas dalam demi menetralkan perasaannya. Kemudian menjawab, "Iya. Bayinya Icha juga menjadi korban dalam kebakaran itu."
"Dan Mbak Andin sendiri, bagaimana bisa selamat?"
"Saya bisa selamat sendirian karena malam itu, saya keluar dari asrama untuk membeli keperluan bayi," jawabnya masih dengan sisa isak tangis.
"Malam-malam?"
Mbak Andin menjawab dengan anggukan kepala.
Untuk beberapa saat Vega merasakan tubuhnya gemetar setelah mendengar jawaban Mbak Andin. Separuh hatinya menyakini wanita berusia 34 tahun itu sedang menyembunyikan sesuatu.
"Mbak, boleh saya tanya sesuatu?"
Mbak Andin melirik Vega sekilas, kemudian membungkukkan kepala sambil mengangguk. "Kamu mau tanya apa?"
"Di mana data semua siswi sekolah ini disimpan?"
"Untuk apa, Vega?" tanya Mbak Andin dengan kerutan tipis di kening.
"Saya mau tahu data siswi yang menjadi korban kebakaran di sekolah ini," jawabnya. "Saya selalu mendengar teriakan meminta tolong."
Vega pikir, dengan menemukan data diri siswi yang menjadi korban kebakaran bisa membantunya untuk mengungkap rahasia yang tersimpan. Terutama Icha, yang bayangannya selalu hadir setiap kali Vega bercermin.
"Sebenarnya … saya sudah beberapa kali bermimpi melihat Icha melahirkan di paviliun. Saya juga melihat Mbak Andin di mimpi saya dan seorang wanita berjubah yang merebut bayi Icha."
Sepasang manik Mbak Andin seketika melebar mendengar ucapan Vega. Wajahnya pun kini terlihat memucat. Pipinya yang sudah mulai mengering kembali basah oleh air mata.
"Kamu memimpikan Icha?"
Vega mengangguk. "Kalau kejadian Icha melahirkan bayi perempuan di mimpi saya itu kenyataan, lalu siapa perempuan berjubah yang merebut bayi Icha, Mbak?"
Bukannya menjawab, Mbak Andin malah bungkam. Tangannya terulur menangkup kedua sisi wajah Vega. Menatapnya dalam seperti sedang meneliti. Dalam hitungan detik, air mata mengalir semakin deras. Tubuh Vega ia peluk seerat-eratnya.
"Mbak Andin kenapa?"
Wanita itu terdiam beberapa saat tanpa melepas pelukan. Vega dapat merasakan lembutnya belaian Mbak Andin di puncak kepala dan punggung.
"Vega, kalau kamu mau terbebas dari semua gangguan itu ada satu cara," ucap Mbak Andin sesaat setelah melepas pelukan. Ia meraih selembar tissue dan menyeka ujung matanya.
"Bagaimana caranya, Mbak?"
Wanita itu kembali menatap Vega lekat-lekat. "Kamu pulang."
"Pulang?"
"Iya. Saya bisa bantu kamu untuk keluar dari sekolah ini." Ia membelai rambut gadis belia itu. "Lebih baik kamu pulang saja. Itu akan lebih baik untuk kamu."
"Tapi saya perlu dapat info tentang para siswi yang tewas dalam kebakaran 17 tahun lalu, Mbak. Di mana semua datanya disimpan?"
"Semua data diri pada saat itu ikut terbakar di Gudang penyimpanan."
Vega tak tahu harus senang atau sedih dengan tawaran Mbak Andin. Ia bingung dan merasa tidak puas dengan jawaban mbak andin yang terkesan menyembunyikan sesuatu.
Setelah Mbak Andin Mbak Andin mengganti perban di tangan, Vega kembali ke kamar untuk bersiap. Jam belajar akan segera dimulai. Bahkan Vega melewatkan waktu sarapan.
Vega merasakan lemas di tungkai kakinya saat melangkah. Jendela kaca dari setiap kelas yang ia lewati ditatapnya. Ada bayangan Icha dalam pantulan dirinya di cermin.
Begitu tiba di kelas, ia membeku di ambang pintu. Sorot matanya berkeliling ke setiap sudut, yang membuat seluruh tubuhnya terasa meremang. Betapa tidak, semua bangku terisi oleh bekas siswi-siswi sekolah asrama yang semalam mengeroyoknya di paviliun.
...........
lanjut dong kak Chicha 😊