NovelToon NovelToon
SECOND LOVE

SECOND LOVE

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Patahhati / Duda / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Tamat
Popularitas:363.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: poppy susan

Gibran Tanuwijaya Gilbert, duda anak satu yang harus merelakan kepergian istrinya disaat lagi sayang-sayangnya, cinta Gibran sangat besar terhadap almarhum istrinya sehingga membuat Gibran menutup hatinya rapat-rapat untuk wanita manapun.

Kehadiran Livia yang merupakan guru sang anak mampu memporak-porandakan hatinya. Livia yang merupakan seorang janda tanpa anak itu sangat menyayangi anak Gibran begitu pun sebaliknya.

Akankah Gibran tetap menutup rapat hatinya atau akan menuruti keinginan anaknya yang sangat menginginkan seorang Ibu?

Supaya nyambung dan kalian tahu siapa Gibran, kalian baca dulu CINTA DOSEN GENIUS...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

💔

💔

💔

💔

💔

Gibran dan Livia terlihat sangat canggung satu sama lain.

"Bu Livia mau kan jadi Maminya Gilsya?"

"Apa?"

Lagi-lagi Livia terkejut dengan permintaannya Gilsya. Livia bingung harus menjawab apa, sementara itu Gibran pun hanya diam saja tidak membantunya menjawab.

"Bagaimana Bu? Ibu Livia mau kan menjadi Maminya Gilsya?"

"Ehmm...sayang lihat deh, itu ada permainan mandi bola apa kamu mau kesana?" seru Livia mengalihkan pembicaraannya.

"Mau Bu."

Livia pun segera membawa Gilsya ke arena mandi bola, untung Gilsya bisa dialihkan dan benar saja sampai pulang pun Gilsya tidak menanyakan lagi hal itu.

Gilsya tidur dipangkuan Livia membuat Livia.

"Dimana rumahmu? biar aku antar kamu pulang?" seru Gibran dingin.

"Tidak usah Tuan, aku turun didepan saja biar aku naik bus," sahut Livia.

"Jangan banyak menolak, aku tidak mau Gilsya marah lagi karena tidak mengantarkanmu pulang. Beri tahu saja dimana alamat rumahmu?"

Livia mencebikan bibirnya, sekarang dia tahu darimana sifat Gilsya berasal. "Gilsya pasti menurun kepada Maminya, soalnya kalau menurun kepada Papinya sangat dingin dan judes," batin Livia.

"Ditanya kok malah melamun, apa kamu mau pulang ke rumahku?" ketus Gibran.

"Ah Maaf Tuan."

Livia pun memberitahukan alamat kontrakannya kepada Gibran. Tidak lama kemudian, mobil Gibran pun sampai didepan rumah kontrakan Livia.

Gibran mengambil Gilsya dari pangkuan Livia dan menidurkannya di kursi belakang.

"Terima kasih Tuan, sudah mengantarkanku pulang."

"Hemmm..."

Gibran pun kemudian masuk ke dalam mobilnya dan tanpa bicara sedikit pun, Gibran pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan kontrakan Livia.

"Ya ampun, Papinya Gilsya menyebalkan sekali kok bisa ya Maminya Gilsya menikah dengan pria judes seperti itu," gumam Livia.

Livia pun segera masuk ke dalam kontrakannya. Sementara itu di kantor Damar, Demir sedang makan disuapi oleh pengasuhnya. Sepulang sekolah Demir merengek ingin ke kantor Papanya.

"Pa, Papa mau tidak menikah dengan Guru Demir?"

Damar yang sedang fokus kepada kerjaannya kemudian menatap Demir dan mengerutkan keningnya.

"Demir jangan ngada-ngada, Papa tidak mau menikah dengan siapa pun."

"Tapi Pa, Guru Demir itu cantik mana baik banget sama Demir. Demir yakin Bu Guru akan menyayangi Demir, tidak seperti Mama yang sudah meninggalkan Demir," lirih Demir dengan menundukan kepalanya.

Damar menghela napasnya, kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiri puteranya itu. Damar mengusap kepala Demir dengan penuh kasih sayang.

"Papa sedang berusaha mencari seseorang Demir."

Mata bulat itu menatap mata tajam Papanya. "Papa sedang mencari siapa? apa Papa sedang mencari Mama?"

Damar menggelengkan kepalanya. "Mama kamu tidak pantas untuk dicari, lupakan saja dia. Papa sedang mencari seseorang yang sangat Papa cintai."

"Apa orang itu nantinya akan menjadi Mama Demir?"

Damar tersenyum dan mengangguk. "Papa yakin dia akan memaafkan Papa dan mauenjadi Mama kamu."

"Apa dia orangnya baik seperti Guru Demir?"

"Iya, sangat baik malah dan juga cantik pasti Demir akan menyukainya."

"Kalau begitu cepat cari Pa, Demir ingin punya Mama seperti teman-teman Demir."

Damar menarik tubuh mungil itu kedalam dekapannya. "Papa akan terus mencarinya Demir, karena Papa sangat mencintainya semoga Papa bisa menemukannya supaya Papa bisa meminta maaf kepadanya," gumam Damar.

***

Keesokan harinya....

"Sayang, pagi ini Papi harus pergi ke Semarang selama 2 hari kamu mau nginap dimana? di rumah Oma Tasya atau di rumah Oma Rubby?"

"Di rumah Oma Tasya saja, soalnya kalau dirumah Oma Tasya ada Ma----"

Gilsya menghentikan ucapannya dan menatap Gibran kemudian menundukan kepalanya. "Ada Tante Nasya, jadi bisa menemani Gilsya main," sahut Gilsya dengan suara pelan.

Gibran tersenyum dan mengusap kepala Gilsya. "Papi tidak akan lama cuma 2 hari, jadi kamu jangan nakal ya."

Gilsya pun menganggukan kepalanya, Gibran pun mengantarkan Gilsya ke sekolah baru setelah itu Gibran pergi ke Bandara menuju Semarang.

Mobil Gibran yang dikendarai sopirnya itu pun sampai dihalaman sekolah bersamaan dengan taksi yang juga berhenti dihalaman sekolah.

Gibran dan Gilsya menoleh bersamaan, dari dalam taksi keluar Livia. Pagi ini Livia terlihat sangat cantik sehingga membuat Gibran sedikit bengong.

"Bu Livia!" teriak Gilsya.

Livia pun menoleh dan Gibran langsung tersadar dari lamunannya.

"Hallo sayang, selamat pagi Tuan!" sapa Livia.

Gibran hanya menganggukan kepalanya tanpa melihat kearah Livia.

"Ayo sayang kita masuk," ajak Livia.

Gilsya pun langsung menggandeng tangan Livia dengan senangnya.

"Tunggu!"

Livia dan Gilsya menghentikan langkahnya kemudian membalikan tubuhnya menghadap Gibran.

"Tolong jaga puteriku, 2 hari ini aku harus keluar kota jadi nanti Gilsya akan dijemput oleh Omanya. Ehmm...mana ponselmu?" seru Gibran dengan mengulurkan tangannya.

Livia mengerutkan keningnya. "Ponsel? buat apa?"

"Sudah jangan banyak tanya, mana ponselmu?" seru Gibran dingin.

Livia pun kemudian mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada Gibran, Gibran dengan cepat mengetikan sesuatu disana.

"Ini nomor ponselku, jika ada apa-apa dengan Gilsya segera hubungi aku. Tapi ingat, aku hanya menerima pesan mengenai kabar puteriku saja tidak menerima pesan diluar itu," seru Gibran dingin.

Livia terlihat kesal dengan ucapan Gibran, dengan cepat Livia mengambil ponselnya dari tangan Gibran. "Memangnya aku mau mengirim pesan apa padanya?" batin Livia kesal.

"Gilsya sayang, Papi pergi dulu ya jangan nakal nanti Oma Tasya akan jemput kamu."

"Iya Pi."

Gibran pun mencium seluruh wajah Gilsya, Gilsya mendekat kepada Papinya dan membisikan sesuatu. "Papi jangan lupa bawa oleh-oleh, buat Bu Livia juga," bisik Gilsya.

"Iya, sudah sana masuk."

"Ayo Bu, kita masuk!"

"Ayo."

Gilsya pun dengan senangnya kembali menggandeng tangan Bu Livia dan masuk ke dalam sekolah. Gibran terlihat tersenyum dan kemudian segera masuk kedalam mobilnya menuju Bandara.

Sesampainya di Bandara, Gibran duduk sebentar menunggu jam keberangkatan yang masih lima belas menit lagi.

"Selamat pagi Pak Gibran!"

Gibran yang saat ini sedang fokus dengan ponselnya langsung mendongakan kepalanya saat mendengar ada yang menyapanya.

"Pagi!"

Gibran kembali fokus kepada ponselnya, Monica pun duduk disamping Gibran hatinya sangat bahagia karena Papanya tahu apa yang sedang ada dipikirannya. Proyek ini Monica yang tangani dan setelah tahu kalau dia akan berangkat bersama Gibran, dia sangat bersemangat.

"Apa Pak Gibran sudah sarapan? kebetulan masih ada waktu, bagaimana kalau kita sarapan dulu?" seru Monica.

Gibran seakan tuli, dia sama sekali tidak menghiraukan Monica membuat Monica sedikit kesal. Kemudian Monica mengeluarkan kopi cup dan menyerahkannya kepada Gibran.

"Ini Pak aku bawa kopi cup, aku yakin Pak Gibran belum sempat ngopi jadi aku sengaja tadi beli dua," seru Monica tidak mau menyerah.

Tidak lama kemudian terdengar suara pemberitahuan, Gibran bangkit dari duduknya dan langsung pergi meninggalkan Monica tanpa menoleh sedikit pun kepada Monica.

"Sial, sombong banget sih. Lihat saja 2 hari ini aku akan manfaatkan untuk mendekati dia dan aku yakin Pak Gibran akan jatuh kepelukanku," gumam Monica dengan senyumannya.

Monica pun membuang kopi cup yang dia bawa dan dia pun segera berlari menyusul Gibran.

💔

💔

💔

💔

💔

Jangan lupa

like

gift

vote n

komen

TERIMA KASIH

LOVE YOU

1
Milk banana
wahai damar Dajjal. mending Lo Ama Monica aja, soalnya sama ( sama-sama Dajjal!!! )
Patrick Khan
.monica buang kelaut aja
Milk banana: ya setuju, jika anda bosan dengan kelakuan Monica, lemparkan saja ke laut~
total 1 replies
Patrick Khan
.monica gk berubah blas ya😠
Patrick Khan
.anak kecil selalu jujur😁
Patrick Khan
wah gk bener ini damar nie😡😡
Lila Susanti: apakah yg namanya sugiona suka selingkuh ??/Silent/
total 1 replies
Patrick Khan
.pindah siniiii😊
we
alur cerita menarik seru semangat kakak
we
jailnya gilsya
Maria Magdalena Indarti
tengkyuu thor.
𝙿𝙾𝙿𝙿𝚈 𝚂𝚄𝚂𝙰𝙽: Cerita Gilsya di judul "THE BEST COUPLE"
total 1 replies
Maria Magdalena Indarti
conggrat Livia & Gibran. rukun, setia, bahagia
Maria Magdalena Indarti
Gibran was was nih saingan sm anaknya
Lila Susanti: suka ma karakter bee , ceria bw energi postif
total 1 replies
Maria Magdalena Indarti
syukurlah Livia ktm ortu yg kaya raya
Maria Magdalena Indarti
jadi deh Livia n Gibran.
Monica emang ga waras mau membunuh bapak angkat nya.
ga waras, Gila
Lila Susanti: pantes neneknya demir benci bgt sama demir. anknya di bunuh monica, ud dr awal abis lahiran di tinggal , jd makin tambah benci ke monica. pelampiasannya ke demir
total 1 replies
Maria Magdalena Indarti
Monica sdh gila
Maria Magdalena Indarti
kenapa ada orang jahat spt Monica. apa ga punya hati
Maria Magdalena Indarti
Livia sgt tulus
Maria Magdalena Indarti
semoga Livia n Gibran jodoh
Maria Magdalena Indarti
nasib Livia malang
Maria Magdalena Indarti
Livia termakan omongan monica. bodoh
Maria Magdalena Indarti
gilsya jail
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!