Mocca Yola, suatu malam yang tragis telah merenggut kesuciannya. Pulang ke rumah dalam keadaan hancur malah dikejutkan dengan sebuah peti mati dengan foto sang ayah tercinta di dekatnya.
Tidak hanya itu, ternyata semua sudah direncanakan oleh dua orang wanita bermuka dua yang berpura menangis tersedu di samping peti jenazah. Semua mereka lakukan tak lain demi mendapatkan harta keluarga Yola.
Setelah itu mereka mengusir Mocca dari rumah, mengirimnya ke tempat yang sangat jauh. 7 tahun kemudian dia kembali dengan si kembar Genius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YWulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
"Tuan muda.. Domino itu?"
Pantas saja Mocca tidak mengenalnya, cucu satu satunya keluarga Domino itu baru terkenal beberapa tahun terakhir ini dikarenakan di usia mudanya akan menjadi penerus selanjutnya keluarga Domino dengan menghiraukan para sanak keluarga tertuanya.
Bukan hanya itu, sebuah rumor pernah menggemparkan dunia sosial media terkait sebuah unggahan dari pemilik akun yang tidak diketahui identitasnya, dalam unggahannya dia menyebutkan bahwa pengusaha muda itu menderita impoten.
Tidak berlangsung lama pemilik akun langsung di ciduk dan berita pun dihapus dari semua laman.
Niki memegangi kepalanya, kebingungan "Pokoknya jangan sampai menyinggung mereka."
"Tapi Niki, siapa yang akan pergi~"
"Kami!" si kembar mengajukan diri.
Jean dan Candy saling menatap penuh makna sembari tersenyum "Kita bisa sambil mencari ayah, Dik/Kak."
"K-kalian? Tidak boleh! Jangan bermain main dengan pekerjaan orang dewasa! Lagian perkotaan itu sangat rumit, Mama tidak kasih ijin!"
Dengan memasang wajah menggemaskan dan super imut yang mana Mocca pasti tidak akan bisa menolak permintaan mereka, mereka menaruh kedua tangan mereka di pangkuan Mocca.
"Mama, aku ingin jalan jalan. Lebih banyak mengetahui tentang tempat ini. Boleh ya." permohonan Candy. Matanya bercahaya seperti bintang yang berkedip-kedip.
"Jangan khawatir, aku bisa menjaga Candy dan diriku. Mama tolong ijinkan, ya." Jean pun sama.
Seperti sebuah panah yang menghantam hati Mocca, melihat kedua anaknya seperti seekor kucing bermanja pada tuannya. Dipikir kembali mungkin baik untuk Candy, dia bisa bermain dan melupakan Max. Tapi tetap saja Mocca khawatir.
Di kota yang luas itu membiarkan si kembar pergi, bagaimana jika mereka tersesat? Bagaimana jika mereka diculik dan sebagainya benar benar mengganggu relung hati Mocca.
"Mocca, percaya saja pada mereka. Bukankah kau bilang mereka anak genius? Beri mereka kesempatan, tidak baik terlalu mengekang anak." Niki memberi dukungan pada si kembar.
Mocca menghela nafas panjang dengan mata terpejam "Apa boleh buat."
"Horeee.."
"Baiklah, beritahu bibi Uren untuk segera menyiapkannya."
"Tidak Niki." Mocca menyela "Karna untuk pelanggan terhormat, aku akan membuatnya sendiri. Serahkan padaku." Niki membalas dengan senyuman.
...* *...
Setengah jam kemudian,
Niki memberitahukan alamat kemana mereka harus mengantar pesanan itu, dia juga meminjamkan ponselnya dibawa oleh si kembar, jika terjadi sesuatu atau mereka dalam kesulitan, bisa langsung menghubungi ponsel Niki yang lainnya.
Tidak hanya itu, Niki memberikan mereka dua seragam karyawan toko untuk si kembar kenakan. Meski kebesaran tapi itu mampu membuat mereka mudah dikenali jikalau tersesat di kerumunan.
"Mama, kami berangkat dulu."
Mereka pergi dengan masing masing menenteng dua keranjang kue untuk di antarkan "Niki, besok besok tambah karyawan untuk delivery ya."
"Baiklah baiklah."
...--...
Untuk sampai di gedung Domino's group mereka harus naik bus dengan waktu tempuh kurang lebih 20 menit. "Ini kesempatan untuk kita mencari ayah." Jean sangat bersemangat.
"Tapi cari kemana? Foto ayah saja tidak punya."
"Kau benar, tapi jangan putus asa, setelah mengantar kue ini kita cari ayah bersama sama ya. Jangan khawatir, asalkan Mama tidak tahu dia tidak akan marah."
Candy mengangguk.
Tak lama sampailah di depan gedung Domino's group, keluarga terkaya di kota tersebut, gedung yang paling tinggi diantara gedung lainnya. Si kembar turun di halte kemudian mulai berjalan menuju pintu masuk.
"Kita akan bertemu dengan banyak orang, adik, jangan takut." mereka masuk.
Kedatangan mereka cukup mengejutkan para karyawan kantor tersebut, mereka terus memandangi si kembar sembari berbisik satu sama lain. Tak banyak dari mereka juga memuji ke-imutan mereka berdua.
"Hei lihat, anak laki laki itu sangat mirip dengan Presdir kita."
"Benar, seperti pinang yang di belah dua."
"Apa dia anak haram Presdir? Bagaimana kemiripan bisa sampai 100%?"
"Tapi dia sangat tampan, mm, apa gadis kecil itu adiknya?"
"Dia membawa keranjang kue, ah imut sekali."
"Menggemaskan."
Dan sebagainya.
Terdengar jelas di telinga mereka namun mereka mengabaikannya. Dengan Candy yang bersembunyi di belakangnya, Jean berjalan menghampiri meja resepsionis untuk menanyakan si penerima kue itu.
"Bibi, kami mengirim kue untuk Tuan Domino, apa bisa mengantar kami padanya?"
Jean bertanya dengan suara kecilnya malah membuat pegawai itu jatuh cinta padanya, dia terpesona sampai mencubit gemas pipi pipi chuby mereka "Baiklah adik sayang, kakak akan mengantar kalian."
Sementara itu,
Asisten Leon mendatangi ruangannya dengan sangat tergesa hendak melaporkan apa yang baru saja dia saksikan di lantai bawah.
"Tuan muda, ada yang ingin aku sampaikan. Pokonya kau pasti akan sangat terkejut, kau tidak akan pernah membayangkan bahkan memimpikannya pun tidak akan pernah..
.. Tuan muda harap siap siap mendengar informasi dariku ini, aku tidak ingin anda terkejut sampai terkena serangan jantung lalu meninggal, aku tidak mau masuk penjara, aku masih memiliki anak istri dan juga orang tua."
Brak!
Sebuah buku tebal mendarat di dinding tak jauh dari Asisten itu berdiri "Bertele-tele sekali! Apa kau sedang mendoakan ku agar mati karna serangan jantung? Berani sekali!"
"Bu-bukan itu Tuan, maksudku~"
Belum dia mengatakan apa yang ingin di katakan, tiba tiba pintu diketuk, mengatakan kalau seorang pengirim kue datang mengantarkan pesanan. Leon langsung mengijinkannya masuk.
Alangkah terkejutnya mereka ketika bertemu dan saling bertahap muka, Leon dan Jean sampai membelakkan mata, melihat di depannya seperti sedang bercermin.
"Tuh kan, belum aku beritahu dia sudah datang." asisten menepuk jidatnya.
"S-siapa anak ini? Kenapa sangat mirip seperti aku saat kecil dulu?" batin Leon bergejolak hebat, seperti ada ikatan satu sama lain.
"A-apa dia.. Ayah? Dia ayah kita?"
Dengan masih membeku tanpa suara, Lein beranjak dan perlahan menghampiri mereka. Ikatan itu terasa semakin erat, perasaan seperti semakin tak karuan. Ada apa sebenarnya? Siapa mereka? Kenapa bisa memberikan perasaan yang begitu akrab?
"Kakak." Candy tampak ketakutan ketika pria bertubuh lebih besar dari mereka perlahan menghampiri dengan tatapan yang sangat tajam. Membuat ketegangan terjadi di antara mereka.
"Paman, kami datang untuk mengantar kue pesanan anda." Jean membuka suara, membuat Leon tersadar.
"P-pesanan?" ia tampak linglung.
"K-kami mengantar pesanan kue yang Tuan Domino pesan. A-apa anda Tuan Domino?"
"B-benar. Hyun, ambil kuenya dan bayar." perintahnya pada sang asisten.
Terdiam..
Lalu perhatian mulai teralihkan pada gadis kecil Candy, membuat Candy takut dan bersembunyi di belakang Jean. Lagi lagi perasaan yang sangat akrab itu muncul. Seperti pernah menjumpai gadis sepertinya tapi kapan, dan dimana?
Leon mengajak mereka duduk, ingin berbincang sekedar melepas rasa penasaran yang membuat ganjalan besar di hatinya.
"Siapa nama kalian?" ia bersikap tenang agar tidak menakuti mereka.
"J-Jean.. Dia adikku Candy." Jean menyentuh tangan Candy yang memeluk tangannya erat "Adik jangan takut." bisiknya.
"Begitu kah? Kalian saudara kembar. Itu, kalau boleh tahu, apa nama marga kalian?" Leon menulak kepalanya menggunakan tangan, menghadap si kembar.
"Kenapa dia menanyakan hal itu? Apa kami satu pemikiran?" batin Jean.
"Yo~" baru saja Jean membuka mulutnya, tiba tiba..
Brak!
Asisten Hyun kembali dengan wajah panik, menyela pembicaraan mereka dan membuat si kembar ketakutan "Jangan mengagetkan mereka!" omel Leon.
"Maaf. Tuan, pengurus rumah besar menelepon, mengatakan kalau Nyonya besar masuk rumah sakit."
Leon langsung berdiri dan pergi ketika mendengar berita itu, ketika sampai di pintu dia sempat terhenti, menatap kearah si kembar terlebih dahulu sampai akhirnya pergi.
...**...
Si kembar pulang,
"Kakak, paman itu sangat mirip denganmu."
"Benar. Adik, apa dia ayah kita?"
...** * **...