AL harus pergi dari rumahnya karena di usir oleh orangtuanya, mereka lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya.
Meskipun begitu, ia tatap bangkit untuk bertahan hidup. Takdir berkata lain, ia mendapatkan sebuah sistem yang mengubah hidupnya dan membuat orang tuanya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Langkah kaki Al terasa kian berat. Hujan deras yang mengguyur tanpa ampun membuat pakaian di tubuhnya makin basah kuyup dan menempel dingin di kulit. Tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena dinginnya angin malam, melainkan juga karena rasa lapar yang mulai menyiksa perutnya.
Ia terus berjalan menelusuri jalanan kota yang makin sepi, meninggalkan kompleks perumahan mewah yang baru saja merenggut seluruh kehidupannya.
"Tuhan... kalau memang aku harus mati malam ini, bisakah Bu Ria dan Ari melihatnya?" gumam Al lirik. Bibirnya yang pucat membiru terkunci rapat saat rasa sesak kembali menghantam dadanya.
Langkahnya membawanya makin jauh ke pinggiran kota, area industri tua yang sudah lama ditinggalkan. Di sana, di antara semak belakangan yang meninggi dan tiang-tiang listrik yang tak lagi menyala, berdiri sebuah bangunan besar dengan atap seng yang sudah berkarat.
Sebuah gudang tua bekas penyimpanan kayu.
"Mungkin... di sana aku bisa berteduh sebentar," bisik Al pada dirinya sendiri.
Dengan sisa pengerahan tenaga yang ada, Al mendekati gudang tersebut. Pintu besi berkaratnya sedikit terbuka, menyisakan celah yang cukup lebar untuk tubuhnya masuk. Ia mendorong pintu itu pelan, menimbulkan suara decitan nyaring yang membelah keheningan malam.
*Kreeek...*
Bau debu, kayu lapuk, dan kelembapan langsung menyengat indra penciumannya. Di dalam gudang sangat gelap, hanya ada sedikit sinar bulan yang menerobos masuk melalui celah-celah atap yang bocor.
Al berjalan ke sudut ruangan yang agak kering, jauh dari tetesan air hujan. Ia merosotkan tubuhnya di dinding semen yang dingin, lalu memeluk kedua lututnya erat-erat. Tas kain berisi pakaian wet-nya ia diletakkan di sampingnya.
"Akhirnya... ada tempat berteduh," kata Al dengan suara bergetar, mencoba menghibur dirinya sendiri di tengah kegelapan gudang tua itu.
Ia memejamkan mata, membiarkan rasa lelah dan dingin perlahan menyeretnya ke dalam kegelapan, tanpa tahu apa yang akan terjadi padanya esok hari.
Malam kian larut, tetapi rasa dingin yang menusuk tulang tak biarkan Al tertidur lelap. Perutnya berbunyi nyaring, menyuarakan rasa lapar yang makin melilit.
Tubuhnya menggigil hebat karena kedinginan.
Di atas lembaran kardus tipis berdebu yang menjadi alas tidurnya, tubuh Al bergetar hebat.
"Aku lebih baik tidur saja," ucapnya.
Perlahan-lahan ia menutup matanya, perutnya terasa lapar, dengan ia tidur, mungkin bisa melupakan rasa lapar tersebut.
Sreeek...
Suara gesekan tiupan angin malam yang menggeser atap seng karatan menarik Al kembali dari ketidaksadarannya.
Al meloncat bangun secara mendadak. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Ia mengusap matanya yang terasa berat, lalu memandang sekeliling dengan mata liar.
Yang ada hanya kegelapan gudang tua yang bau kayu lapuk, debu yang beterbangan disorot sinar rembulan, dan kardus tipis yang menjadi alas tidurnya. Pakaian basah kuyup yang melekat di tubuhnya terasa makin lengket dan dingin.
"Hah... hah..." Al menyandarkan punggungnya ke dinding semen, memegang kepalanya yang mendadak pening.
Ia menatap kedua telapak tangannya yang kasar dan kotor oleh lumpur jalanan. Rasa sakit akibat pengkhianatan keluarganya kembali menembus dada, meremukkan harapan singkat yang baru saja ia rasakan.
"Ck! Rupanya cuma mimpi..." gerutu Al pada dirinya sendiri. Suaranya terdengar sangat getir dan sarat akan keputusasaan. "Konyol sekali. Mana mungkin orang terbuang seperti aku bisa jadi seperti itu? Untuk makan besok saja aku tak punya uang sepeser pun."
Al tertawa hampa, meratapi nasibnya yang begitu malang. Namun, tepat ketika ia hendak membaringkan tubuhnya kembali...
Ting!
Suara nada denting jernih, mirip suara piringan kaca murni yang berdenting, menggelegar di dalam kepala Al. Suara itu begitu nyaring hingga membuat telinganya berdengung.
Tiba-tiba, di udara kosong tepat di depan matanya, muncul sebuah papan panel semi-transparan berwarna biru menyala yang berkilat-kilat futuristik. Cahaya biru itu menerangi wajah Al yang pucat pasi.
[SELAMAT DATANG DI SISTEM SUPER CANGGIH]
"W-wajah apa ini?!" Al terperanjat hebat. Ia melompat mundur hingga punggungnya membentur keras dinding semen di belakangnya. "Siapa itu?! Siapa yang bicara?!"
Jantung Al berdegup kencang seperti mau meledak. Ia mengucek matanya berulang kali, berpikir bahwa dirinya sudah gila atau terkena ilusi karena kelaparan.
Namun, layar biru tembus pandang itu tetap melayang stabil di udara, mengikut ke mana pun arah pandang matanya bergerak.
"Siapa itu!" teriak Al panik, suaranya bergetar hebat membelah keheningan gudang tua. "Jangan bercanda! Keluar Sekarang! Ini teknologi apa?!"
Tidak ada jawaban dari kegelapan. Hanya layar sistem itu yang kembali berdenting pelan, menampilkan tulisan baru di hadapannya:
[Inisialisasi Pengguna: Al. ]
[Status: Terbuang & Tanpa Aset.]
[Apakah Anda siap mengklaim takdir Anda dan membuat mereka yang membuang Anda berlutut? ]
[YA] / [TIDAK]
Al membeku di tempatnya. Napasnya tertahan saat menatap dua tombol bercahaya yang melayang tepat di depan dadanya.