Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...
Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...
Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 "IBU, JANGAN PANGGIL AKU GENDIS LAGI YA..."
"Bu..." panggil anakku.
"Emm? Kenapa sayang?"
"Jangan panggil aku Gendis lagi ya Bu, panggil aku pakai nama yang Ibu kasih buat aku aja..." ucapnya sambil menatap wajahku dengan dua matanya yang putih itu.
Aku pun tersenyum mendengar permintaannya itu.
"Hehehe... Iya-iya... Maafin Ibu ya kalo masih suka panggil kamu Gendis Nak." kataku.
Sejenak, kembali ku tatap wajah manis anak angkatku ini. Dan selalu terasa darinya ketulusan dan kasih sayang padaku. Meskipun aku bukan Ibu kandung yang telah melahirkannya.
"Ya udah, sana masuk. Makan dulu. Inget, sebentar lagi kamu harus berangkat ngaji." tambahku.
"Hehe... Iya Bu." jawabnya.
Dan dia pun berjalan bersama tongkat lipatnya. Menuju ke rumah.
.....
.....
Aku memandanginya sejenak dari halaman. Terasa setiap langkahnya saat hendak masuk ke dalam rumah seperti dirinya benar-benar kembali pulang.
Benar-benar seperti dirinya merasakan rumah sesungguhnya. Bukan lagi rumah milik almarhum kedua orang tua kandungnya di Cirebon dahulu.
Dan selama dua tahun ke belakang ini, Gendis (Harum) hidup bersamaku. Aku memutuskan untuk mengadopsinya, sekembalinya dari Kediri itu.
Entah...
Jiwaku merasa sangat menerima dirinya...
Dan aku sadar penuh, sebuah tanggung jawab besar dalam hidupku untuk merawatnya...
Dan sepertinya, Gendis pun merasakan apa yang aku rasakan...
.....
.....
GUBRAK!!
"ADUH!!" teriak Harum.
Aku terkejut dari lamunanku, saat menyadari Harum tersandung karena ember-ember cucian yang tadi kutaruh di depan pintu.
"Eh?! Astaghfirulloh!!" ucapku spontan.
Aku segera berlari mendekat.
"Aduuuh... Ibuuu... Ini ada apa sih di depan pintuuu?"
"Aduh, maaf Nak, maaf. Ibu kelupaan tadi taruh ember cucian di depan pintu. Belom Ibu masukin ke dalam." jawabku, sambil membantu Harum untuk bangun.
"Aaahhh... Ibuuu... Usil banget siiih. Mentang-mentang aku gak bisa liaaat..." gerutu Harum dengan ekspresi sedikit kesal.
"Eh, bukan gitu. Ibu gak sengaja. Beneran..." jawabku.
"Aaahhh... Ibuuu... Sebeeel..." respon Harum, sambil memukul lenganku pelan.
"Pppfffttt... Hihihi..." aku malah tertawa kecil, melihat gemasnya wajah Harum saat merasa kesal seperti itu.
"Iiihhh, Ibu malah ketawaaa... Sebel aaahhh..." kembali Harum memukul pelan lenganku beberapa kali.
"Hihihi... Kamu lucu banget sih Naaak..." responku, kali ini aku mencubit ke dua pipinya itu.
Harum masih saja terlihat manyun dengan bibir tipisnya.
"Udah-udah... Ayo masuk, terus makan." kataku, sambil membawa ember cucian yang barusan membuat Harum tersandung di depan pintu.
"Awaaas, embernyaaa..." ucap Harum, masih dengan bibirnya yang manyun itu.
"Iya-iyaaa... Ini udah Ibu pegang embernya Nak. Hihihi..."
Dan Harum pun segera berjalan menuju ke dapur, dan aku menuju ke kamar mandi yang berada tepat di sebelah dapur.
Sebentar kubilas ember-ember cucian itu, agar hilang bekas sabun cuciannya. Setelah itu, aku menyalakan kran air bak mandi. Karena sudah kosong airnya.
"Harum... Dimakan juga sayur sopnya ya." kataku sambil kembali ke dapur, untuk membuatkan minum Harum.
"Iya Bu... Nyam nyam..." jawabnya sambil mulai mengunyah.
Setelah kubuatkan segelas teh manis hangat, aku duduk di sampingnya.
.....
.....
Kembali ku tatap wajah Harum yang sedang lahap makan masakanku...
Wajahnya yang terkena sinar matahari yang menembus jendela dapur siang ini, terlihat sangat teduh, terlihat sangat nyaman, terlihat sangat bersyukur...
Dan...
Kembali teringat jelas memori dua tahun lalu di kepalaku, saat dirinya pertama kali bertemu denganku di pondok pesantren Kediri itu...
Dan...
Kembali teringat jelas semua kejadian mengerikan yang ku alami bersamanya...
Terngiang-ngiang selalu teriakannya yang meminta tolong padaku, agar sukma jiwanya diselamatkan dari sosok makhluk ghoib pesugihan milik almarhum kedua orang tua kandungnya...
Dan jujur, sangat jujur...
Setiap kali semua ingatan itu kembali hadir dalam kepalaku...
Setiap kali itu juga, perasaan sayangku padanya semakin besar...
.....
.....
"Bu?! Ibu?! Iiihhh... Malah diem ajaaa..."
Kembali suara Harum menyadarkan lamunanku.
"Ayo makan bareng akuuu..." tambahnya.
"E-eh, anuuu... Emm..." aku malah jadi bingung ingin menjawab apa.
"Ibu kenapa sih? Akhir-akhir ini suka ngelamun pas berdua sama aku?" tanya Harum.
"E-eh, enggak... Enggak kok, perasaan kamu aja kali ah..." jawabku.
"Buuu... Aku tau loh, Ibu jangan bohong sama aku." katanya.
"E-eh, enggak, Ibu gak bohong kok Harum..." jawabku lagi, sambil berlagak seperti tidak sedang berbohong.
"Eeemmm... Yakin gak bohooong? Hayooo... Ngakuuu..." ucap Harum sambil memajukan wajahnya, menatapku dengan mata putihnya itu.
"Hayooo... Ngakuuu..." kembali Harum memojokkanku.
"Iya deeeh... Ibu ngaku." jawabku.
"Heeemmm... Jangan suka ngelamun dong Bu, gak bagus tau!" nasihat anakku itu.
"Hehehe... Iya-iyaaa. Ya udah, kamu habisin dulu makanannya, habis itu mandi ya. Ibu mau siapin baju ngaji kamu dulu."
Harum pun mengangguk sambil kembali mengunyah. Dan aku beranjak, menuju ke kamarku.
Karena kamarku kini menjadi kamar Harum juga. Sudah dua tahun ke belakang, tidurku ditemani olehnya.
Saat kubuka pintu lemari, sejenak aku melihat ke arah sebuah kotak kayu di sudut dalam lemari.
Kotak itu sudah dua tahun ini, selalu kuisi dengan sebagian penghasilanku.
Dan...
Aku sudah berniat dengan tulus...
Aku ingin menggunakan uang-uang itu untuk memberikan sebuah hadiah spesial, yaitu...
Operasi mata untuk Harum...
☺️☺️☺️