NovelToon NovelToon
Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Membalas dendam / Balas Dendam / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 002: Terlahir Kembali

Suara televisi terdengar terlalu keras untuk orang yang baru bangun dari kematian.

"...sebuah pulau tak berpenghuni di perairan selatan dilaporkan meledak dini hari tadi. Beberapa sumber internasional menduga lokasi itu terkait jaringan kriminal Shadow. Hingga pagi ini, belum ada korban selamat yang ditemukan."

Blood Shadow membuka mata.

Langit-langit putih. Bau antiseptik. Selimut tipis rumah sakit. Infus di punggung tangan. Tubuh yang berat, lemah, dan asing.

Ia menatap jarinya sendiri cukup lama.

Pendek. Gemuk. Tidak ada bekas kapalan senjata di posisi yang tepat. Tidak ada luka lama di ruas telunjuk. Tidak ada kekuatan yang bisa langsung dipakai untuk mematahkan leher orang.

Ini bukan tubuhnya.

Di layar televisi kecil yang digantung di sudut kamar, gambar laut gelap muncul sebentar. Asap masih naik dari permukaan air. Pulau Shadow sudah tidak ada.

Blood Shadow mengangkat tangan ke kepala.

Tidak ada chip yang berdenyut.

Tidak ada rasa sakit yang menunggu perintah.

Namun sebelum ia sempat menarik napas, potongan ingatan asing menyerbu seperti air keruh. Nama. Wajah. Rumah kecil. Sekolah. Tawa mengejek. Tubuh yang sering dijadikan bahan candaan. Ibu tiri yang menghitung setiap suap nasi. Ayah yang selalu menunduk. Seorang anak laki-laki pincang yang diam-diam menyelipkan makanan ke tangannya.

Keira Wulandari.

Delapan belas tahun.

Anak yang dibesarkan di rumah keluarga Prasetyo, tetapi tidak pernah benar-benar dianggap anak.

Blood Shadow memejamkan mata.

Lucu sekali.

Ia menekan tombol yang menenggelamkan pulau, lalu membuka mata sebagai gadis gemuk dari Kota Megawan.

Pintu kamar didorong terbuka sebelum ia selesai memahami napas barunya.

Seorang perempuan berseragam batik sekolah masuk bersama perawat. Wajahnya lelah, tetapi suaranya tetap dibuat ramah.

"Keira, kamu sudah sadar? Ibu Ratna tadi dari sekolah. Kamu pingsan dua hari, semua orang khawatir."

Khawatir.

Ingatan Keira asli memberi jawaban lain. Di sekolah, mereka tidak khawatir. Mereka sibuk bertanya apakah gadis gendut itu akhirnya terlalu banyak makan sampai jatuh.

Perawat memeriksa infus. "Tekanan darahnya sudah stabil. Kalau keluarga mau mengurus administrasi, sore ini bisa pulang."

Kata keluarga membuat pintu kembali terbuka.

Bu Sri masuk dengan tas selempang kecil dan wajah yang langsung penuh perhitungan. Di belakangnya, Pak Prasetyo berdiri canggung, menggenggam helm motor tua.

"Ya ampun, akhirnya bangun juga." Bu Sri menatap Keira dari kepala sampai kaki. "Kamu tahu biaya rumah sakit itu mahal? Untung masih bisa pakai BPJS. Kalau nggak, habis uang kita."

Pak Prasetyo membuka mulut. "Sri, anaknya baru sadar."

"Memangnya aku salah? Kalau dia jaga badan, nggak mungkin sampai begini."

Keira menatap perempuan itu.

Hanya menatap.

Bu Sri yang masih ingin bicara tiba-tiba berhenti. Ada sesuatu dalam mata gadis di ranjang itu yang tidak ia kenal. Biasanya Keira akan menunduk, menggigit bibir, lalu minta maaf meski tidak tahu salahnya apa.

Sekarang, gadis itu melihatnya seperti melihat suara berisik yang bisa dimatikan kapan saja.

"Bu," panggil Bu Ratna cepat, mencoba mencairkan udara. "Keira perlu istirahat. Untuk sekolah, saya buat surat izin sampai Senin."

"Iya, iya." Bu Sri mengibaskan tangan. "Tapi jangan lama-lama. Laras juga banyak urusan, masa semua perhatian ke dia."

Nama Laras muncul bersama ingatan seorang gadis berambut panjang, cantik, pandai tersenyum di depan guru, dan suka memanggil Keira dengan nada kasihan saat ada orang lain.

Keira tidak menjawab.

Sore itu, ia pulang dengan motor tua Pak Prasetyo. Tubuhnya yang baru membuat setiap guncangan terasa berat. Jalanan Kota Megawan basah setelah hujan. Angkot berhenti sembarangan. Pedagang gorengan menutup gerobak dengan plastik bening. Perumahan subsidi di pinggiran kota berbaris rapat, cat temboknya pudar, pagar besi pendek saling berhadapan begitu dekat sampai suara televisi tetangga terdengar dari jalan.

Rumah Prasetyo berada di gang ketiga.

Rumah tipe 36. Ruang tamu kecil. Dua kamar sempit. Dapur menempel pada area cuci. Bau minyak goreng lama dan sabun colek bercampur di udara.

Begitu Keira melepas sandal, suara perempuan muda terdengar dari sofa.

"Wah, Mbak sudah pulang? Kukira masih harus rawat inap."

Laras duduk dengan ponsel baru di tangan. Casing-nya berkilau, jelas bukan barang murah. Ia tersenyum manis, tetapi matanya berhenti terlalu lama pada tubuh Keira.

"Mbak jangan sedih, ya. Aku sudah bilang ke teman-teman kalau Mbak cuma kecapekan. Bukan karena... ya, tahu sendiri."

Bu Sri langsung menyahut dari dapur. "Laras, jangan begitu. Kakakmu baru pulang."

Nada itu terdengar seperti teguran, tetapi wajah Bu Sri tersenyum kecil.

Keira meletakkan tas plastik obat di meja.

"Kamar saya di mana?"

Tiga orang di ruangan itu diam.

Pak Prasetyo menatapnya bingung. Laras mengerjap. Bu Sri mengernyit.

Keira menyadari kesalahannya. Ingatan tubuh ini belum sepenuhnya menyatu. Kamar Keira bukan kamar. Ia tidur di ruang belakang yang disekat lemari, dekat tempat Bayu belajar.

"Maksudku, aku mau istirahat."

Sebelum Bu Sri sempat menyindir, seorang anak laki-laki muncul dari balik sekat. Tubuhnya kurus. Kaki kirinya bertumpu lebih hati-hati saat berjalan. Di tangannya ada kantong kertas kecil yang sudah berminyak.

"Mbak Keira."

Suaranya pelan, seperti takut salah bernapas.

Bayu.

Ingatan tentang anak itu terasa lebih hangat daripada yang lain. Bayu yang diam-diam membagi uang jajan. Bayu yang menunggu Keira di depan puskesmas. Bayu yang selalu berkata tidak apa-apa saat diejek.

Ia menyodorkan kantong itu. "Tadi aku beli bakwan sama tempe goreng. Masih hangat. Mbak belum makan, kan?"

Bu Sri mendecak. "Bayu, uang dari mana? Kamu itu kalau punya uang sedikit jangan langsung dibelikan makanan. Kaki kamu saja belum benar, masih sok-sokan traktir orang."

Tangan Bayu langsung turun.

Keira menangkap kantong gorengan itu sebelum jatuh.

Hangatnya menempel di telapak tangan. Minyaknya meresap ke kertas murah. Tidak berharga bagi dunia, tetapi anehnya lebih nyata daripada semua medali berdarah yang pernah ia dapatkan.

"Terima kasih," kata Keira.

Bayu mendongak. Matanya membesar sedikit.

Mungkin Keira lama tidak pernah mengucapkan itu.

"Sama-sama, Mbak."

Di Jakarta, pada saat yang sama, seorang pria berdiri di depan meja kayu tua dalam rumah keluarga Tan. Di hadapannya, layar menampilkan foto Blood Shadow, arsip operasi terakhir, dan laporan kehancuran pulau.

Seorang asisten menunduk. "Semua jalur konfirmasi menyebut tidak ada yang selamat. Kalau benar dia tewas, peluang kita untuk menemukan dokter setingkat itu hampir nol."

Pria itu tidak langsung menjawab.

Cahaya sore jatuh di sisi wajahnya yang dingin. Di layar, nama Blood Shadow berkedip bersama status merah.

Deceased.

Ia menatap kata itu lama.

"Sayang sekali," katanya pelan.

Asisten itu ragu. "Untuk kondisi Engkong, apakah pencarian tetap dilanjutkan?"

"Lanjutkan." Suaranya rendah, tidak memberi ruang bantahan. "Orang seperti dia tidak mungkin hanya punya satu nama."

Kembali di rumah Prasetyo, Keira duduk di ruang belakang sambil menggigit tempe goreng yang sudah mulai dingin. Bu Sri masih mengomel di depan, Laras menonton video pendek dengan volume sengaja dikeraskan, dan Pak Prasetyo berpura-pura sibuk memeriksa helm.

Keira menatap dinding tipis di hadapannya.

Pulau Shadow sudah tenggelam. Nama Blood Shadow sudah mati. Tubuh ini lemah, miskin, diremehkan, dan dikelilingi orang yang menganggapnya beban.

Tapi paru-parunya masih bergerak.

Jantungnya masih berdetak.

Tapi setidaknya kali ini, ia hidup.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bayu sama kakak nya ini seumuran apa gmna dia anak kandung bu Sri apa anak angkat
falea sezi
bagus
falea sezi
ini novel al kah
Erna Fkpg
makin misterius dan menegangkan
Erna Fkpg
ceritanya menarik dan menegakkan
Erna Fkpg
wah makin mantap ceritanya 💪💪💪
Erna Fkpg
pada akhirnya tetap ditakdirkan pd jalan yg selalu dihindari untuk mencari kenyamanan
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
ni sebenarnya Bu Sri orang kaya bukan sih kok selalu memerintah dengan uang
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
nah Lo malu sendiri GK tu Bu Sri ngomongnya ngurusin keyra padahal dijadikan babu
Erna Fkpg
harusnya Laras dapat nilai dibawah Bayu biar kalah telak dan mati kutu dengan kesombongannya 💪💪💪
Cty Badria
👍👍👍
Erna Fkpg
secangkir kopi untuk semangat up💪💪💪
Cty Badria
ayo semangat up lg ni hadiah /Rose/
Cty Badria
jgn lm2 up nya thor ni hadiah biar semangat /Rose/
Erna Fkpg
GK sabar nunggu hasilnya 💪💪💪🙏🙏🙏
Anne Soraya
lanjut 👍
Erna Fkpg
lanjut thor tetap semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!