NovelToon NovelToon
The Cure Was You

The Cure Was You

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta Terlarang
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

02 | Pasien bernama Orion

"Hai, calon pengantinku. How's ur day, huh?"

Luna menggigit bibir bawahnya pelan, berusaha menyembunyikan senyum yang semakin sulit dikendalikan.

"Harusnya aku yang nanya gitu," balasnya pelan. "Gimana penerbanganmu hari ini? Lancar, kan?"

Terdengar tawa pelan Julian dari speaker ponselnya.

"Lancar sayangg. Semuanya aman terkendali. Kalo kamu? Gimana tadi fitting gaunnya?"

Gadis itu terdiam sejenak. Dirinya masih syok karena berhasil membawa pulang gaun seharga mobil itu. "Lancar-lancar aja sih..."

"Kok gitu doang responnya? Kamu belum nemu gaun yang kamu suka??" Suara Julian terdengar sedikit berbeda. Nada bicaranya berubah menjadi serius.

Yang ditanya lagi-lagi hanya diam. Dirinya bingung harus cerita apa pada tunangannya karena tadi siang ia baru saja menghabiskan tujuh belas ribu dolar miliknya. Luna sedikit penasaran reaksi Julian ketika mendengarnya.

"Ng... Itu... Emm..."

"Kenapa sayang? Ceritaa dong sama akuu."

Luna menarik napas dalam-dalam. "Aku nemu gaun yang aku suka. Tapi..."

"Bagus dong kalo kamu udah nemu yang kamu suka. Tapinya kenapa ituu??"

Terdengar helaan napas pelan dari si gadis. Pikiran dan hatinya tidak sejalan. Di satu sisi pikirannya menyuruh Luna agar mengatakan yang sebenarnya pada tunangannya. Sedangkan di sisi lain, hatinya memohon supaya tidak mengatakannya. Toh juga cepat atau lambat Julian akan sadar sendiri uang di kartunya sudah berkurang sebanyak apa.

"Itu... Aku mau minta maaf, Yan..." ucap Luna lirih. Ia masih belum berani mengatakan yang sebenarnya.

"Maaf buat apa??"

Dengan hitungan ketiga, Luna menghirup oksigen banyak-banyak lalu menghembuskannya dengan sekuat tenaga. "MAAF KARENA AKU BELI GAUN SEHARGA TUJUH BELAS RIBU DOLARRR!!"

Brukk!

Ponsel yang tergenggam di tangan gadis itu kini terjun dengan keras menghantam lantai. Seketika layarnya langsung menghitam. Luna tidak sengaja menjatuhkan ponselnya saat seseorang tiba-tiba menekan bel rumahnya.

"Astaga!!"

Luna buru-buru membungkuk untuk mengambil ponselnya. Ia segera menekan tombol power. Tidak ada respons. Telunjuknya menekan tombol power sekali lagi. Masih tidak ada respons.

"Please jangan mati, please jangan mati, please jangan mati..." Sekali lagi ia menekan tombol power bersamaan dengan tombol pengecil volume. Layar yang semula gelap akhirnya menampilkan logo ponsel. Secuil harapan kembali muncul di benak Luna.

Ting Tong!

Bel kedua berbunyi. Mau tak mau Luna harus meninggalkan ponselnya dan ke lantai satu untuk menemui orang yang menekan bel rumah. Sesampainya di depan pintu, ia mengecek siapa yang datang lewat layar yang terpasang di balik pintu. Ternyata seorang kurir.

"Aneh... Perasaan aku ngga ada pesen paket apapun deh..." Sekali lagi ia mengecek sosok tamunya dari layar. Tidak ada yang aneh dari cara dia berpakaian, hanya selayaknya kurir paket biasa. Akhirnya, Luna membuka pintu.

"Ada paket atas nama Rellunae Keller. Apakah benar anda ibu Rellunae?" tanya sang kurir memastikan.

"Iya, saya sendiri. Maaf tapi perasaan saya ngga ada pesen paket apapun, mas. Kalo boleh tau, ini paket dari siapa?" Mata Rellunae melirik kotak berukuran sedang ditangan kurir itu. Ia berusaha membaca nama sang pengirim tapi gagal karena jaraknya cukup jauh.

"Di resi tertulis pengirimnya Lumiere Printing, Bu."

Luna terdiam sejenak. Ia berusaha mengingat nama percetakan tersebut. Perasaan aku ngga pernah ke Lumiere Printing deh... batinnya sambil terus memutar ingatan. Seketika matanya membulat.

"Oh! Undangan pernikahan saya!"

Tangannya dengan senang hati menerima kotak berukuran sedang yang terulur dari kurir. Lalu sang kurir bilang bahwa paketnya sudah dibayar alias bukan cod. Luna mengangguk dan berterimakasih sebelum masuk ke dalam rumah.

Setelah memastikan pintu sudah terkunci, Luna memeluk kotak itu erat-erat. Tanpa sadar bibirnya mulai bersenandung pelan, sebuah nada acak yang bahkan ia sendiri tidak menyadari lagu apa. Yang jelas, suasana hatinya jauh lebih baik dibanding beberapa menit yang lalu.

"Yeayy!"

Sudut bibirnya tak henti-hentinya terangkat. Akhirnya, undangan pernikahannya sudah selesai dicetak. Tanpa lama-lama, Luna langsung unboxing paket dihadapannya. Lapisan bubble wrap dan kertas pelindung disingkirkannya satu per satu dengan hati-hati.

Tak lama kemudian, setumpuk undangan berwarna putih gading mulai terlihat. Luna mengambil satu diantaranya. Jemarinya mengusap pelan permukaan kertas yang terasa tebal dengan sentuhan akhir doff. Di bagian depan, inisial namanya dan Julian tercetak menggunakan huruf timbul berwarna emas. Sederhana tetapi elegan.

Perlahan ia membuka undangan itu. Setiap detailnya persis seperti desain yang mereka sepakati beberapa minggu lalu. Mulai dari ilustrasi bunga di setiap sudut, susunan kata-kata yang rapi, hingga pita satin tipis yang melingkari bagian tengahnya.

"Cantik..."

Senyumnya semakin mengembang. Saat hendak mengitung jumlah undangan, tiba-tiba sesuatu diantara undangan-undangan jatuh ke karpet bulunya. Sebuah amplop. Perhatian Luna seketika teralihkan ke amplop misterius itu. Ia membolak-balik amplop, berusaha mencari nama sang pengirim tapi nihil. Di amplop hanya tertulis "For: Rellunae Keller".

Jauh di lubuk hatinya ia sangat penasaran dengan isinya. Tapi entah mengapa firasatnya mulai tidak enak. "Aku buka ngga yahh..." ujarnya sambil menebak-nebak kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi setelah dirinya melihat isinya.

"Buka aja dehh. Daripada nanti kebawa mimpi gara-gara penasaran."

Srett...

Cutter kecil bergagang biru berbentuk kelinci itu mengiris rapi bagian bawah amplop. Perlahan, Luna memasukkan jemarinya ke dalam. Alisnya bertaut. "Hah?"

Jemarinya merasakan beberapa lembar kertas tebal dengan permukaan licin. Ia menariknya keluar sedikit semi sedikit. Suasana menjadi hening begitu matanya melihat benda di tangannya. Napas Luna mendadak tercekat. Matanya membulat. Senyum yang sedari tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang.

"Ng-ngga mungkin..."

Tiba-tiba suara ringtone ponsel memecahkan keheningan. Nama Julian terpampang jelas di layar.

"Halo sayang??"

"H-hai, Yan..." Terdengar embusan napas lega dari seberang sana.

"Ya Tuhan... akhirnya kamu angkat juga."

Luna mengernyit. "Memangnya kenapa, Yan?"

"Kamu ngga apa-apa, kan? Kok dari tadi aku telepon ngga diangkat-angkat?" Suara laki-laki itu terdengar khawatir.

Luna tertawa getir. "Anu... tadi HP-ku mati karena ngga sengaja jatuh..."

"Jatuh?!" nada suara Julian langsung meninggi. "Kamu ikut jatuh juga??"

Luna terkekeh kecil. "Engga, aku baik-baik aja."

"Benerann ngga papaa??"

"Iyaa Juliankuu."

Julian menghela napas panjang. "Syukurlahh... Terus HP-nya gimanaa? Layarnya pecah?"

Yang ditanya melirik ponsel di tangannya. Untungnya tidak ada retakan maupun garis-garis aneh di layarnya. "Masih amann."

"Syukurr dehh kalo gitu. Yang penting kamu ngga kenapa-kenapa."

Luna hanya mengangguk sebagai jawaban meskipun ia tau Julian tidak bisa melihatnya. Pikirannya masih terbayang-bayang dengan isi amplop yang dikirim misterius.

"Oh iya, sayangg..."

"Hm? Kenapa?"

"Kita ganti video call yukk, aku kangen berat sama kamu."

Beberapa detik kemudian, Luna menerima permintaan video call dari Julian. Di layar ponsel Luna terpampang wajah Julian yang letih tapi masih terlihat cakep maksimal. Darah blasteran yang mengalir dari kedua orang tuanya seolah menyempurnakan setiap lekuk wajahnya. Tak heran jika Luna betah menatapnya lama-lama.

Julian yang menyadari tatapan itu langsung menyeringai jahil. "Gimana? Makin ganteng, ya?" godanya sambil sedikit memiringkan wajah ke kanan dan kiri, seolah sedang memamerkan penampilan barunya.

Luna terkekeh pelan. "Kamu potong rambut?"

"Enggaa, aku cuma ganti style rambut aja." Julian kembali menyugar rambutnya ke belakang.

"Gimana? Tambah ganteng ngga??" imbuh Julian dengan senyum sejuta dolar.

"Kamu selalu ganteng, pilotkuu," puji Luna sambil memutar bola matanya.

Sekarang gantian Julian yang terkekeh. "Oh iyaa, tadi bunda ngirim foto kamu waktu pake gaun 17.000 dolar," celetuknya dari seberang sana. "Cantikk."

Luna hanya terdiam.

"Aku suka," lanjut Julian dengan senyum menawannya.

Deg.

Jantung Luna seolah melewatkan satu detak. Tiga kata itu berhasil membuat Luna membeku. Pipinya perlahan memanas, sementara rasa malu dan bersalah bercampur menjadi satu.

"J-jangan ngomong gitu..." gumamnya lirih sambil menundukkan kepala. Matanya kemudian menatap layar dan langsung berhadapan dengan mata Julian. Sang tunangan tertawa kecil karena dirinya merasa sukses membuat ceweknya salah tingkah.

"Kamu takut aku marah karena 17.000 dolar melayang dari kartuku??" tanya Julian lembut. Luna mengangguk lalu menatap wajah pria itu di layar ponselnya. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda kemarahan. Sudut bibir Julian justru masih terangkat membentuk senyum tipis, seolah angka fantastis itu bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

"Padahal..."

Luna menunggu kelanjutan ucapannya dengan jantung berdebar. Tunangannya memang suka menggantung ucapannya. Untungnya hubungan mereka tidak ikutan menggantung.

"Aku berharapnya kamu bisa habisin lebih dari itu."

"Hah?!"

Yap. Kata itu meluncur begitu saja dari mulut Luna. Sejak pulang dari butik, pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan. Ia bahkan sudah menyiapkan diri jika Julian marah, kecewa, atau setidaknya mengomel karena tujuh belas ribu dolar telah melayang dari kartunya.

Namun, semua bayangan itu runtuh dalam sekejap. Alih-alih marah, pria itu justru berharap Luna menghabiskan uang lebih banyak lagi. Pria ini waras, kan...?

"Rellunae," panggil Julian lembut. Yang dipanggil langsung menatap layar ponsel dengan sedikit berbinar.

"Aku kerja keras bukan buat numpuk angka di rekening." Mata mereka beradu pandang lewat layar. Seketika keadaan menjadi hening. Baik Luna maupun Julian tidak ada yang berbicara, atau mungkin pria itu sengaja memberi Luna waktu untuk mencerna ucapannya.

"Aku kerja keras supaya wanita yang nanti jadi istriku ngga perlu mikir dua kali kalau dia menemukan sesuatu yang benar-benar dia suka," lanjut Julian masih dengan nada bicara yang sama, lembut.

☆☆☆

Suasana pagi hari di Rumah Sakit Jiwa Silver Oak berjalan seperti biasa. Lorong-lorong rumah sakit tampak bersih dengan aroma disinfektan yang samar bercampur wangi kopi dari kafe di lantai dasar. Para tenaga medis berlalu lalang membawa berkas pasien, sementara beberapa pasien rawat jalan duduk tenang menunggu giliran konsultasi. Dari luar, tempat itu terlihat damai, nyaris seperti rumah sakit pada umumnya. Tak ada yang menyangka bahwa di balik setiap pintunya, tersimpan kisah-kisah yang rumit.

Diantara hiruk pikuk, seorang wanita berambut hitam panjang melangkah memasuki lobi dengan jas dokter putih yang tersampir rapi di tubuhnya. Name tag bertuliskan "dr. Rellunae Keller, Sp.KJ" tersemat di dada kirinya. Beberapa perawat yang berpapasan langsung menyapanya dengan ramah.

"Selamat pagi, Dokter Rellunae."

"Pagi," jawab Luna seraya mengangguk. Langkah kakinya ia percepat agar sampai di ruang rapat tepat waktu.

Pukul delapan tepat, ruang rapat lantai lima Rumah Sakit Jiwa Silver Oak mulai dipenuhi para psikiater, psikolog klinis, serta beberapa kepala perawat. Di layar proyektor terpampang satu berkas pasien yang bertuliskan "TRANSFER PASIEN PRIORITAS". Direktur rumah sakit berdiri di depan meja rapat.

"Baik saya mulai. Pertama-tama saya ingin mengucapkan terimakasih karena kalian sudah meluangkan waktu untuk hadir di rapat mingguan. Topik yang akan kita bahas hari ini adalah mengenai seorang pasien yang akan dipindahkan ke Silver Oak."

Direktur yang bernama Pak Noah itu menekan remote yang mengarah ke layar proyektor. Kemudian muncullah sebuah nama "Orion Grimm". Ruangan mendadak sunyi. Rellunae mengernyit pelan saat membaca nama yang terasa asing di telinganya.

"Pasien laki-laki berusia dua puluh enam tahun. Riwayat..." Pak Noah berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "...dipindahkan dari enam rumah sakit jiwa dalam kurun waktu tiga tahun."

Beberapa orang disana langsung saling bertukar pandang. Ruangan pun mulai dipenuhi gumaman dan bisik-bisik.

"Enam?"

"Sebanyak itu?"

"Kenapa bisa?"

Sang direktur menghela napas. "Setiap rumah sakit menyerah pada pasien ini dengan alasan yang berbeda. Ada yang menyatakan pasien terlalu agresif, ada yang mengaku terapi tidak menunjukkan perkembangan, dan ada pula yang meminta pemindahan karena keselamatan tenaga medis."

Ruangan kembali hening. Semua orang disana saling melempar pandangan dengan pikiran yang berbeda-beda, tak terkecuali Luna. Ia sibuk membaca data pasien bernama Orion Grimm itu sambil memikirkan sesuatu.

"Kalau begitu... siapa yang bersedia mengambil alih kasus Orion?" tanya sang direktur sembari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

Tidak ada yang menjawab. Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Entah mereka sedang memikirkan pasien yang tengah mereka rawat atau malah kemungkinannya dalam hati mereka berharap tidak terpilih untuk menangani kasus pasien transfer itu. Beberapa dokter bahkan sengaja mengalihkan pandangan.

Pak Noah kemudian mengembuskan napas pelan. "Jadi... tidak ada yang bersedia menangani Orion?"

Hening. Sampai tiba-tiba suara nan khas itu memecahkan keheningan.

"Biar saya saja."

1
Rian Moontero
mampiiirr👍😄
Sia Rivera: thankss sudah mampirr🙌🏻
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut thor
yaya
when ya dapet mertua yang royal...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!