NovelToon NovelToon
SINFUL HEARTS SOCIETY

SINFUL HEARTS SOCIETY

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Teen
Popularitas:616
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Seraphine merupakan anak adopsi dari keluarga besar Vane. Sera mendapatkan perlindungan total dan kemewahan, tetapi ia mungkin kehilangan kebebasannya. Sang kakak, Alaric Vane telah merencanakan segalanya agar Sera tidak pernah lepas darinya, protective yang mengubahnya menjadi obsesi. Perasaanya bukan hanya sebatas kakak pada ‘adik’ namun lebih dari itu. Demi keluar dari sangkar emas keluarga Vane, Sera memilih bersekolah di imperial royal, Veridion Academy. Tidak main-main, ia enggan merepotkan keluarga Vane. Sera membuktikan mampu mengambil jalur beasiswa penuhnya. Tanpa disadari ini menjadi hal pembullyan disekolahnya. Demi dapat sekolah dengan nyaman hingga kelulusan, Seraphine bertemu dengan Yunkai Shenzar. Bangsawan berdarah biru murni, seorang Pangeran yang sedang bertaruh akan tahtanya setelah kelulusan sekolah. Dari musuh menjadi kekasih. Mereka menjalin aliansi, kerja sama saling memanfaatkan. Seraphine enggan bernaung pada keluarga Vane memilih memanfaatkan kekuatan mutlak sang Pangeran. Yunkai sendiri tahu siapa jati diri Sera sebelum diadopsi, dan memanfaat Sera untuk membuat tuan besar Vane menyokong dirinya menaiki tahta kerajaan. Sera tidak tahu siasat itu justru membawanya terjerumus terlalu dalam membentuk hubungan yang lebih serius dan kekacauan besar antara Tuan besar Vane dengan anaknya, Alaric Vane. Kini, Sera terjebak di antara dua kekuatan besar: obsesi Alaric yang menyesakkan atau cinta sang pangeran yang menawarkan kebebasan namun penuh risiko politik. Di antara bayang-bayang masa lalu keluarga Vane dan kemilau mahkota kerajaan, siapakah yang akhirnya akan dipilih oleh Sera?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hierarki dibalik Bros emas

Ruang kelas Akselerasi itu terasa sunyi, hanya menampung maksimal 12 kursi berbahan kayu ek gelap—sangat kontras dengan kelas reguler yang bising dengan 20 siswa. Di sini, udara terasa lebih berat, namun sistem ajar yang eksklusif ini menjanjikan ketajaman ilmu bagi mereka yang mampu bertahan.

“Selamat pagi. Aku Seraphine, dari Sanguine Ruby.”

Sera mengucapkannya dengan nada datar. Ia sengaja menelan nama keluarga Kane yang seharusnya tersemat di belakang namanya. Baginya, nama itu adalah rantai yang ingin ia putus.

“Jadi, kau pindahan dari Atherian Institute, Sera?” tanya Tuan Crimson, sang guru, sambil menatapnya dari balik kacamata.

“Ya, profesor.”

“Tidak heran kau melibas ujian masuk itu dengan nilai sempurna,” gumam Tuan Crimson sebelum kembali ke papan tulis. “Silakan duduk. Kita langsung mulai.”

Sera melangkah ke bangku di sudut. Alih-alih memperhatikan pelajaran, matanya tertuju pada jendela besar yang memperlihatkan lanskap Veridion yang megah. Lapangan hijau luas itu berlatar perbukitan yang diselimuti kabut tipis, menciptakan aura noir yang dingin. Meski matanya terlihat melamun, telinganya tetap tajam menangkap setiap kata yang diucapkan Tuan Crimson.

“Hai, aku Gilly. Dan ini Ethan,” bisik seorang gadis yang menghampiri mejanya saat jeda kelas.

Sera melirik bros yang tersemat di jas mereka. Gilly mengenakan lambang rubah dari rumah asrama Vulpecula Astutia, sementara Ethan mengenakan lambang batu ruby merah bersayap malaikat—asrama yang sama dengannya, Sanguine Ruby.

“Mau ke kantin bersama?” ajak Gilly. Sera menjawab dengan anggukan hangat yang jarang ia tunjukkan. “Tentu.”

Saat berjalan menyusuri lorong berlantai marmer, kasta sekolah itu terlihat jelas melalui bros yang berkilau di dada para siswa. Sera segera menyadari hierarki yang ada: naga hitam berada di puncak kasta, diikuti oleh kilauan emas phoenix.

“Tempat apa itu?” Sera berhenti sejenak, menatap sebuah menara hitam yang menjulang tinggi, seolah mencoba menusuk langit.

“Menara Noctis. Di bawahnya adalah asrama Noctis Draconis,” jelas Ethan. “Konon, bahkan anak-anak Noctis sendiri tidak ada yang pernah diizinkan mencapai puncaknya.”

“Lambang naga hitam itu?” tanya Sera memastikan.

“Ya. Mereka adalah urutan pertama, darah bangsawan murni. Eksklusif dan jarang berbaur dengan kasta bawah seperti kita,” tambah Gilly.

Gilly kemudian menjelaskan peta kekuatan Veridion dengan semangat. “Ingat urutannya, Sera: Noctis Draconis adalah raja, lalu Phoenix Ignis, disusul Pegasus Caelum. Asrama mu, Sanguine Ruby, ada di posisi keempat. Dan terakhir—tentu saja kami, si pencinta pesta Vulpecula Astutia.” Gilly tertawa tanpa beban. “Rumah kami selalu terbuka jika kau bosan dengan kesunyian.”

“Aku tidak terlalu suka keramaian, Gill. Mungkin kau akan jarang melihatku di sana,” balas Sera dengan senyum tipis.

“Dia anak Atherian, Gill. Bukunya adalah pestanya,” bisik Ethan menggoda.

“Ck! Kalau ada asrama khusus kutu buku, kau pasti ketuanya,” gerutu Gilly sambil menarik lengan Sera. “Sudahlah, ayo cepat, aku lapar!”

Di kantin, aturan tidak tertulis telah membagi meja-meja makan berdasarkan kasta asrama. Hanya anak-anak Vulpecula Astutia yang berani melintasi batas, membaur dengan Sanguine Ruby dan beberapa anak Pegasus Caelum.

“SERA! ETHAN! DI SINI!” suara ceria Luna memanggil dari meja asrama mereka.

Sera mengikuti langkah kedua teman barunya. Namun, di tengah langkah, sorot matanya secara tak sengaja terkunci pada sosok pria yang duduk dengan aura dominan di meja Noctis Draconis. Dingin dan mengintimidasi. Entah sejak kapan pria itu juga sudah menatap Sera terlebih dahulu.

“Kelas ekstra apa yang akan kau ambil untuk poin bela diri?” tanya Ethan memecah lamunan Sera.

“Apa harus?”

“Wajib, Sera. Ini demi poin asrama kita,” sahut Luna serius.

“Ambil panahan bersamaku saja. Secara fisik, kau lebih cocok dengan senjata jarak jauh,” saran Gilly.

“Aku akan mempertimbangkannya,” jawab Sera. “Tapi, apa gunanya poin-poin itu?”

“Akses,” bisik Gilly dramatis. “Peringkat pertama memiliki akses 24 jam ke fasilitas terbaik dan kewenangan penuh mengatur acara sekolah. Bros itu adalah kunci untuk melakukan apa saja di sini.”

“Kapan peringkatnya berubah?”

“Setiap enam bulan sekali,” jawab Ethan. “Apa di Atherian tidak ada sistem kasta seperti ini?”

“Tidak. Kami satu kesatuan. Hanya nilai individu yang menjadi pembeda.”

Gilly mencibir pelan. “Ngomong-ngomong, bagaimana bisa kau menyelesaikan soal ujian sesulit itu dalam waktu kurang dari satu jam? Itu gila, Sera.”

“Sulit?” Sera mengerutkan kening sambil menyesap jusnya. “Menurutku itu justru soal untuk tingkat di bawah kita.”

Seketika, meja itu menjadi sunyi. Teman-temannya menatap Sera dengan tatapan tak percaya.

Gilly menunjukkan ponselnya. “Sera, ini soal terbaru untuk angkatan kita. Tidak ada yang bilang ini mudah.”

Menyadari ia terlalu jujur, Sera langsung menunduk. “Maksudku... aku sudah pernah mempelajari materi serupa sebelumnya.” Ia mulai menyantap sandwich-nya dengan cepat untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut.

Tiba-tiba, seorang gadis dengan bros Phoenix Ignis berdiri di depan meja mereka. Wajahnya angkuh.

“Kau Seraphine? Ikuti aku,” perintahnya tanpa basa-basi.

“Kenapa dia harus mengikutimu?” Luna membalas dengan nada ketus.

“Heh! Tidak tahu sopan santun. Jangan ikut campur, kasta rendah!” Gadis itu mencengkeram jas Luna dengan kasar.

“Lepaskan dia,” suara Sera terdengar dingin. Ia menahan lengan gadis Phoenix itu, matanya berkilat tajam namun bibirnya menyunggingkan senyum tipis. “Kau ingin aku mengikutimu, kan?”

Gadis itu mendengus marah dan berbalik pergi. Kini, seluruh mata di kantin tertuju pada satu sosok: Seraphine Kane, murid baru yang baru saja mengusik ketenangan para Phoenix.

...****************...

Sera berjalan tenang di belakang gadis Phoenix itu, melewati koridor yang semakin megah dengan dinding berhiaskan ukiran berlapis emas. Langkah kaki mereka bergema di atas lantai marmer, menciptakan irama yang menekan. Gilly dan Ethan hanya bisa menatap dari kejauhan dengan cemas; mereka tahu bahwa melangkah ke wilayah Phoenix Ignis bagi asrama kasta bawah adalah bentuk penyerahan diri secara sukarela.

Mereka tiba di sebuah aula luas dengan langit-langit tinggi yang dilukis dengan gambaran burung phoenix yang bangkit dari api. Di tengah ruangan, duduk seorang pria dengan seragam yang sangat rapi, bros emasnya berkilau tertimpa cahaya matahari.

"Duduklah, Seraphine Kane," ucap pria itu tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya.

Sera tidak duduk. Ia tetap berdiri, membiarkan keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik. "Aku lebih suka berdiri. Dan cukup panggil aku Sera."

Pria itu akhirnya mendongak. Matanya tajam, mencerminkan otoritas asrama peringkat kedua. "Aku Julian, ketua asrama Phoenix Ignis. Aku tidak memanggilmu ke sini untuk basa-basi. Nilai ujianmu menjadi pembicaraan di kalangan dewan instruktur. Tidak ada yang bisa menyelesaikan soal logika tingkat lanjut dalam 40 menit, kecuali mereka sudah melihat soalnya sebelumnya."

"Atau jika soal itu terlalu mudah," balas Sera tenang, nada bicaranya mengingatkan pada bagaimana ia mendeskripsikan soal tersebut di kantin tadi.

Julian menyipitkan mata. "Kau sombong untuk ukuran seseorang yang berasal dari asrama peringkat keempat. Veridion bukan Atherian. Di sini, kecerdasan tanpa kekuatan politik hanyalah beban."

"Dan kekuatan politik tanpa kecerdasan hanyalah sirkus," Sera tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak hangat namun menyimpan belati di baliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!