Danu merasa hidupnya benar-benar di kutuk oleh Lila gadis kecil yang dulu dia rawat, empat kali sudah dia gagal memiliki pasangan hidup hingga dia di juluki Perjaka Tua di kampus di mana dia mengajar.
"Siang Pak Dosen" Suara itu benar-benar Danu hafal, siapa lagi kalau bukan Lila si Pengutuk kecil.
"Ada apa?"
"Pak saya ada masalah, mohon bantuan"
"Bantuan apa? apa ada materi yang sulit di fahami?" Danu mencoba bersikap professional.
"Ada pak"
"Materi apa?"
"Materi tentang bagaimana cara menjadi istri Pak Danu Pramana"
'Uhuk uhuk'
Danu sampai tersedak mendengar Lila kembali berulah.
"Lila ....."
Lila langsung berlari keluar setelah menaruh buku tugasnya di meja kerja Danu.
Akankah Lila berhasil mendapatkan cinta sang Dosen? yuk kepoin cerita serunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
"Mas Danu Lila cantik kan?"
"Hmmm"
"Lila seksi kan?"
"Hmm" Kali ini dengan nada lebih tinggi.
"Kulit Lila mulus tidak?"
Astaga! Lila sedang ngapain itu?
Batin Danu saat Lila sedikit menaikkan rok nya.
"Turunkan Lila!" Teriak Danu.
Mereka sekarang berada di dalam mobil, setelah terus menerus merayu Danu, akhirnya Lila berhasil juga mendapatkan tumpangan di mobil Danu. Mereka tinggal di komplek yang sama, saling bersebelahan. Lila memang sengaja meminta pada Mamanya agar di Carikan tempat yang dekat dengan Mas Danu, agar Danu bisa menjaganya. Lisa langsung setuju dan Angga langsung membelikan rumah itu untuk Lila. Padahal Lila hanya berniat ngontrak saja di rumah itu selama kuliah, dia berencana menikah dengan Danu, dan tinggal berdua di rumah Danu, jadi tidak perlu lama-lama mengontrak, tapi Papa Angga sudah terlanjur membeli rumah itu untuk dirinya.
Lila justru menurunkan volume musik di mobil.
"Bukan itu!"
"Lalu apa?"
"Rok kamu"
Lila menatap ke arah pahanya yang sedikit terbuka, dia tersenyum karena Danu terpengaruh juga, bukannya menurunkan rok itu, Lila justru sengaja lebih menaikkan rok itu.
"Kenapa? Mas Danu nggak tahan lihat paha Lila? Lila rela kog mas Danu nyentuh paha Lila"
Danu makin mencengkeram erat stir mobilnya, dia bukan tidak suka,tapi dia kesal dengan sikap berani Lila, dari mana coba dia belajar menggoda lelaki seperti ini?
"Kamu tidak boleh seenaknya buka-bukaan begitu di depan lelaki dewasa Lila! Itu tidak baik"
"Lila hanya melakukan ini di depan mas Danu, bahkan jika mas Danu minta Lila buka semuanya, Lila mau"
Danu makin geram saja dengan anak satu ini, dari mana dia punya keberanian sebesar ini untuk mengatakan hal se mesum itu?
Danu segera melepas kemejanya, untung saja dia tadi membawa kaos berlengan. Danu melempar kemeja itu ke arah paha Lila. Lila jadi cekikikan sendiri, dia mengambil kemeja Danu dan menghirupnya dalam-dalam, aroma minyak dan keringat yang begitu Lila rindukan.
"Mas Danu mau Lihat?" Goda Lila lagi, Danu langsung menghentikan laju mobilnya, decitan ban mobil terdengar begitu nyaring, tubuh Lila terasa terpental,untung dia pakai sabuk pengaman. Dia juga bersyukur karena tidak ada mobil lain di belakang mereka. Bisa tabrakan jika tadi ada mobil dari belakang.
Danu menatap Lila, yang di tatap hanya cengengesan merasa tak bersalah. Danu mendekat, mengikis jarak di antara mereka berdua. Jujur jantung Lila seperti melompat-lompat.
Apa Danu akan mencium nya?
itu membuat Lila makin grogi.
"Kenapa? Tegang? Lain kali hati-hati saat bicara di depan lelaki dewasa, kamu sudah memancing sesuatu yang bisa membahayakan diri kamu"
Danu langsung menjauh lagi, dia tahu Lila hanya anak remaja yang belum bisa membedakan cinta dan kagum.
"Bagi Lila itu tidak membahayakan, tapi menyenangkan"
"Sudah bicaranya ! jangan mancing Mas Lila, kamu bisa menyesal nanti"
Tanpa di duga, Lila melepas sabuk pengaman nya dan mencium pipi Danu sekilas. Danu mendongak,dia memegangi pipinya sambil menggeleng pelan, ternyata selain kata-katanya yang berbahaya, sikap Lila kini juga harus di waspadai.
"Jangan lakukan ini lagi Lila"
"Nggak mau, Lila suka, Jadi Lila akan terus melakukan itu"
Jawab Lila sambil senyum-senyum sendiri, dia juga tidak tahu kenapa dia berani mencium Mas Danu nya, tapi jujur dia senang sekali sudah melakukan itu, apalagi Mas Danu nampak tidak marah, dia pastikan akan mengulanginya lagi dan lagi.
****
"Lila kamu cantik, mau jadi pacar aku tidak?" Farel
"Maaf Lila tidak mau pacaran"
"Lila kamu sangat energik, aku suka kamu, jadian yuk?" Jack
"Sorry kita temenan aja ya?"
"Lila kamu bagai matahari dalam hidupku, aku mau kamu jadi wanita ku satu-satunya"
"Maaf, Lila juga punya matahari dalam hidup Lila"
Sejak dia SMA sudah tidak terhitung berapa lelaki yang pernah mengatakan cinta padanya,Lila selalu menolak karena dia hanya ingin menjadi kekasih Mas Danu. Tapi dia seperti terkena karma, karena sering menolak lelaki, dia justru di tolak lelaki yang selama ini benar-benar dia cintai. Bahkan Mas Danu dengan terang-terangan mengatakan kalau mereka hanya kakak dan adik, tidak akan ada cinta di antara mereka.
Jujur Lila tak terima dengan itu, mereka tidak ada hubungan darah sama sekali, bagaimana bisa jadi kakak dan adik? Lila kini merasakan apa yang di rasakan para lelaki yang sudah dia tolak, ternyata di tolak itu sakit guys. Apalagi penolakan itu dengan alasan yang tidak masuk akal.
Memang dasar Mas Danu,sok nolak, tapi di kasih lihat paha mulus juga tergoda.
Pagi ini Lila sengaja bangun pagi, dia mengintip pergerakan Mas Danu dari jendela kamarnya. Rumah mereka bersebelahan, hanya ada pagar kayu setinggi satu meter sebagai pembatas, jadi Lila bisa memantau pergerakan Danu dengan leluasa.
Lila kesal karena Danu tidak juga nampak membuka jendela kamarnya, biasanya jam segini, Mas Danu nya sudah membuka jendela, dia akan berolah raga di bawah. Namun meski sudah hampir setengah jam menunggu, Danu tak terlihat sama sekali membuka jendela. Lila memutuskannya untuk turun, dia buka lebar-lebar gerbang sebatas dadanya, sambi pura-pura membuka kran. Dia ingin pura-pura menyiram bunga. Padahal dia sendang mencari Mas Danu nya. Lila terus menengok ke rumah sebelah, namun tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.
"Nyari apa neng cantik?" Sahut bapak-bapak yang bertugas membuang sampah di komplek ini.
"Nyari Pangeran Pak, bapak lihat?"
"Pengeran? Di sini tidak ada pangeran neng"
"Itu pak, pacar saya,Bapak tahu kan pria ganteng yang tinggal di sebelah? Bapak tahu dia tidak?"
"Yang mana neng? Cowok ganteng di komplek ini banyak"
"Yang rambutnya gondrong, yang batal nikah kemarin"
"Oo pak Dosen, tadi saya lihat dia joging di depan"
Joging? Dia joging? Biasanya juga cuma olah raga kecil di halaman depan, tumben sekali dia joging pagi ini.
Lila berniat menyusul Danu, tapi pucuk di cinta ulam pun tiba. Lelaki yang dia cari sudah datang dengan tubuh yang basah keringat.
"Gagahnya...." Batin Lila sambil mesem-mesem sendiri melihat Danu.
Tapi senyumnya lenyap kala matanya juga melihat sosok bahenol yang selalu jadi saingan nya. Siapa lagi kalau bukan Bu Lulu, janda gatel depan rumah yang selalu jadi saingannya.
"La itu apa pak Dosen nya, tapi kog sudah ada pacarnya ya?"
"Mas Danu cuma milik Lila"sahutnya.
Lila langsung cemberut,dia kalah Star dengan janda gatel depan rumah, harusnya dia bangun lebih pagi tadi.
Namun Lila tak habis akal, dia meletakkan selang nya dan buru-buru masuk ke dalam untuk mengambil kemeja yang kemarin di berikan Mas Danu padanya.Lila memakai lipstik tipisnya dan segera mencium kerah kemeja itu, Lila langsung keluar dan mendekati dua insan yang tengah asyik ngobrol itu.
"Mas Danu ini kemejanya, semalam kebawa sama Lila"
Lila sengaja memperlihatkan kerah kemeja itu pada Bu Lulu.
Wajah Bu Lulu langsung memerah, dari gelagat nya dia nampak sekali kalau sedang cemburu.
"Rasain! Panas nggak tu hati? pasti Panas lah,masak engga?" kekeh Lila dalam hati, Mas Danu hanya milik Lila, dia tidak akan membiarkan Mas Danu nya di miliki lelaki lain. Eh maksudnya wanita lain.