Li Yunru tiba-tiba bertransmigrasi ke zaman kuno setelah memakai cincin naga perak berisi ruang spiritual misterius. Bukan itu saja, dia juga menjadi koki spiritual yang mampu menyembuhkan segala jenis penyakit dan keracunan.
Berkat cincin naga perak juga, Li Yunru ditakdirkan menjadi pasangan sang raja naga putih penguasa wilayah utara—Bai Muzhi. Pria berwajah dingin yang jiwanya terluka akibat pedang antar benua ratusan tahun lalu itu, akhirnya menemukan satu-satunya penyembuh yang mampu mengobatinya. Perlahan, perasaan cinta tanpa sadar tumbuh di antara keduanya.
Rupanya kemunculan Li Yunru bukan hanya mengungkap banyak rahasia masa lalu, tapi juga membuat musuh di kegelapan mulai mengincar kekuatan tersembunyi dalam dirinya. Menghadapi misteri ribuan tahun lalu yang mulai tersingkap, mampukah Li Yunru melewati cobaan tersebut sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Tampan Narsistik
"Sudah kubilang, aku tidak sengaja!"
Li Yunru benar-benar ingin menggali lubang lalu mengubur dirinya sendiri. Ia menatap kelinci putih gemuk itu penuh tuduhan, seolah berkata—Ini semua gara-gara kamu!
Namun, si kelinci sama sekali tidak terlihat bersalah. Ia balas menatap Li Yunru dengan ekspresi datar. "Aku hanya jatuh. Tidak tahu kamu ada di depan sebelumnya."
"Bagaimana mungkin kamu tidak—tunggu!" Li Yunru membelalakkan mata. "Kamu bisa bicara?!" Ia bahkan mencubit pipinya sendiri untuk memastikan bahwa semua ini bukan mimpi.
Si kelinci mendengus pelan. Jika bukan karena energi spiritualnya ditekan di dunia manusia, pria tua berjanggut itu sudah dihajarnya berkali-kali.
Tiba-tiba, suara bariton yang dingin menyela percakapan mereka. "Minggir."
"... Apa?"
Pria berambut putih itu menatapnya tanpa ekspresi. "Mau sampai kapan kamu berada di atas tubuhku?"
Li Yunru terperanjat. Barulah ia sadar bahwa dirinya masih duduk di atas pria tampan bermata merah itu. Jantungnya seolah melonjak hingga ke tenggorokan. Dengan wajah semerah tomat, ia buru-buru bangkit lalu mundur beberapa langkah.
"Ma-maaf! Aku benar-benar tidak sengaja!" katanya untuk kesekian kalinya.
Si kelinci segera melompat ke pelukannya, lalu menyundul lengannya dengan manja. "Tuan, apakah kamu sudah tidak menyukaiku lagi?"
"Hah? Apa?" Li Yunru menatap kelinci yang kini meringkuk di pangkuannya dengan bingung. Ia bergumam, "Kelinci benar-benar bisa bicara?"
"Jadi sekarang kamu punya tuan baru?" Suara dingin pria berambut putih itu kembali terdengar. "Sejak kapan raja ini mengizinkanmu pergi dan meninggalkan raja ini?"
Ia telah duduk dengan tenang. Tatapannya tetap datar, tetapi sepasang mata merahnya memancarkan wibawa yang membuat siapa pun sulit menatapnya terlalu lama.
Pandangannya tertuju pada kelinci gemuk berpita merah itu tanpa sedikit pun perubahan ekspresi. Kelinci spiritual yang dibesarkannya sejak masih sebesar anak kucing—kini justru bermanja-manja pada seorang gadis manusia.
Pria berambut putih itu—Bai Muzhi merupakan raja naga putih berdarah murni yang memimpin Istana Shing di wilayah Baiyun.
"Seorang pedagang tua menculikku dan membawaku berkeliling ke berbagai dunia!" Ruu mengomel kesal. "Pria tua tak tahu malu itu bilang, aku baru bisa kembali jika seseorang dapat melihat wujud asliku! Dan kamu sendiri bahkan tidak datang mencariku!"
"Apakah kamu marah?" tanya Bai Muzhi datar. Benar-benar tidak memahami perasaan seekor kelinci spiritual.
"Dasar naga tidak peka!" Ruu langsung merajuk. Ia menyembunyikan kepalanya di sela lengan Li Yunru, seolah mencari perlindungan.
Li Yunru menatap keduanya tanpa tahu harus berkata apa. Seekor kelinci yang bisa bicara. Seorang pria tampan berambut putih sepinggang dengan sepasang mata merah yang dingin. Bahkan lingkungan di sekelilingnya pun terasa sangat asing.
Ia bahkan tidak tahu sedang berada di mana. Beberapa saat yang lalu ia masih berada di apartemennya, tetapi kini tiba-tiba muncul di tempat kuno ini?
"Manusia ..." Bai Muzhi meliriknya. Tatapannya sama sekali tidak ramah. "Serahkan kembali kelinci itu pada raja ini. Kamu tidak bisa menjadi tuannya. Selama raja ini masih hidup, hal itu tidak akan pernah terjadi."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada tetap datar. "Itu pun jika kamu masih hidup sampai hari kematianmu tiba."
Nada suaranya tenang, tetapi setiap katanya mengandung ancaman yang tak perlu dijelaskan lagi. Tatapan mata merahnya saja sudah cukup menjadi peringatan.
Awalnya Li Yunru sempat mengagumi pria itu. Namun, setelah melihat sikapnya yang arogan, dingin dan seolah mengabaikan kenyataan bahwa dialah yang membawa pulang kelinci itu dari toko hewan—rasa kagumnya seketika lenyap. Yang tersisa hanyalah rasa kesal.
Tanpa sadar, Li Yunru mengepalkan kedua tinjunya. Bertahun-tahun berlatih bela diri membuatnya harus mati-matian menahan diri agar tidak menghantam wajah pria itu. Ia memelototi Bai Muzhi, mendengus kesal, lalu meraih kelinci gemuk itu dan menyodorkannya kembali.
"Siapa yang mau kelincimu?! Dasar tidak tahu terima kasih!"
"Heh! Manusia, jika wanita lain melakukan hal seperti itu pada raja ini, mereka pasti sudah mati." Bai Muzhi menatapnya dengan pandangan meremehkan. "Kamu hanya kebetulan masih hidup."
"Aku sudah bilang itu tidak sengaja! Kelincimu sendiri yang menabrakku!" bentak Li Yunru.
Bai Muzhi terkekeh pelan. Entah mengapa, wajah Li Yunru yang memerah karena marah justru terasa menghibur baginya. Sudah sangat lama sejak ada seseorang yang berani membentaknya secara langsung. Tanpa sadar, sudut bibirnya sedikit terangkat. Tatapan mata merahnya masih tertuju pada Li Yunru.
"Tahukah kamu apa yang biasanya dilakukan wanita manusia dan wanita manusia binatang untuk merayu raja ini? Alasan mereka selalu sama." Ia berhenti sejenak, lalu mengucapkan kalimat terakhir dengan datar. "Bilang saja, tidak sengaja."
Kesabaran Li Yunru akhirnya habis. Pria ini bukan hanya tidak tahu berterima kasih, tetapi juga narsis tingkat dewa! Tanpa pikir panjang, ia langsung menjejalkan kelinci gemuk itu ke pelukan Bai Muzhi.
"Terserah apa yang kamu pikirkan! Aku bersumpah demi Dewa Langit, aku benar-benar tidak sengaja! Aku mau pulang saja!" Ia bangkit dan melangkah pergi dengan langkah lebar, ingin menjauh sejauh mungkin dari pria menyebalkan itu.
Ruu tertegun. Kedua telinganya langsung terkulai. Apakah gadis itu benar-benar pergi? Dibanding Bai Muzhi yang selalu menganggapnya sebagai alat penyembuhan, ia jauh lebih menyukai Li Yunru.
"Tuan, jangan pergi! Aku ingin ikut denganmu!"
Ruu hendak melompat mengejar Li Yunru, tetapi Bai Muzhi menahannya dengan satu tangan.
"Lepaskan aku! Dasar naga tidak peka! Aku membencimu!" teriak kelinci itu.
"Sebenci apa pun kamu padaku, raja ini tetap tuanmu," ucap Bai Muzhi sekenanya, tanpa menyisakan sedikit pun ruang untuk berdebat. "Bagaimana mungkin seorang manusia bisa membesarkanmu lebih baik daripada raja ini? Lagi pula, kamu juga harus memperbaiki jiwa raja ini. Bukankah itu tugasmu?"
Ruu semakin marah hingga ingin mencakar wajah Bai Muzhi. Bagaimana mungkin naga itu tidak menyadari bahwa cincin naganya kini dikenakan Li Yunru?
Dengan sekuat tenaga, Ruu memberontak hingga berhasil melepaskan diri dari genggaman Bai Muzhi. Ia langsung berlari mengejar Li Yunru yang sudah menjauh dari taman belakang istana.
"Tuan, tunggu—!"
Namun sebelum sempat mendekat, embusan angin kencang menerpa. Sesosok bayangan raksasa melintas di langit. Ruu seketika waspada.
Di sisi lain, langkah Li Yunru ikut terhenti saat bayangan gelap itu melintas di atas kepalanya. Kawanan burung kecil yang bertengger di pepohonan langsung beterbangan ke segala arah.
Sesaat kemudian, pekikan seekor elang menggema dari langit. Suaranya semakin dekat. Dalam sekejap mata, seekor elang hitam raksasa menyambar Li Yunru dan membawanya terbang tinggi dengan kecepatan yang tak bisa dibayangkan.
"AHHHH! Tolong ...!!" teriak Li Yunru panik, tubuhnya tergantung di bawah cakar elang raksasa itu.
"TUAAANNN!!!" Ruu menjerit histeris sambil melompat-lompat, tetapi tidak mampu berbuat apa-apa.
Pada akhirnya, kelinci putih itu hanya bisa berdiri dengan kedua kaki belakangnya, memandangi sosok Li Yunru yang semakin mengecil di kejauhan. Kedua telinga panjangnya terkulai lesu.
Entah sejak kapan, Bai Muzhi sudah berdiri di samping Ruu. Tatapan mata merahnya mengikuti elang hitam yang semakin menjauh di langit. Tentu saja ia mengenali siapa pemilik elang hitam yang berani melintas di wilayahnya. Meski begitu, wajahnya tetap datar, seolah tidak mengkhawatirkan apa pun.
"Apakah kamu sangat menyukai gadis manusia itu?"
Ruu tidak langsung menjawab. Ia hanya terdiam sejenak, lalu tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya dan berguling ke kiri dan ke kanan di atas rumput. Dari sudut mana pun, tingkahnya tetap terlihat lucu.
"Dasar naga tidak peka! Tidak berperasaan! Apa kamu tidak sadar kalau gadis itu memakai cincin nagamu?!"
Setelah tertegun sejenak, ekspresi Bai Muzhi akhirnya sedikit berubah. "Bagaimana mungkin cincin nagaku berada pada gadis manusia itu?"
Ruu hanyalah seekor kelinci roh yang mengetahui sedikit tentang cincin naga perak Bai Muzhi. Ia tidak tahu bagaimana cincin itu bisa hilang dari tangan tuannya. Namun, ada satu hal yang sangat diyakininya. Ia mengenali cincin itu.
"Pria tua tak tahu malu itu memberikan cincinmu kepada gadis itu. Aku melihatnya memakainya," jawab Ruu. "Makanya aku senang. Dengan begitu, kamu tidak perlu lagi bergantung padaku untuk menyembuhkan jiwamu."
Bai Muzhi membungkuk, lalu mengangkat Ruu yang masih berguling-guling di atas rumput. Ia menahan tubuh kelinci gemuk itu di kedua lengannya, kemudian menatapnya lebih serius daripada sebelumnya.
"Apakah kamu benar-benar yakin itu cincin milikku?"
Ruu akhirnya berhenti meronta. Kedua telinganya bergerak pelan. "Aku yakin. Gadis manusia itu benar-benar memakainya. Aku juga menyukai auranya. Dia memiliki aura hijau muda yang mampu menyembuhkan apa pun."
Mata merah Bai Muzhi sedikit menyipit. Tanpa sadar, jemarinya mengusap lembut bulu putih kelinci di pelukannya.
"Kalau begitu ... Raja ini harus membawanya kembali." Ia terdiam sesaat sebelum kembali menatap Ruu. "Gendut, apakah kamu masih marah padaku?"
mungkin kita juga bisa mencoba resepnyaa 😂