NovelToon NovelToon
Pangeran Bertopeng

Pangeran Bertopeng

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyelamat / Perperangan
Popularitas:277
Nilai: 5
Nama Author: Anand Mehra

Sudah genap dua puluh tahun pangeran Syah Hang diungsikan. Kini saatnya dia harus kembali ke Kerjaan untuk mengambil hak tahtanya yang sedang diperbutkan oleh dua saudara tirinya. Yaitu Pangeran Hang Djie dan Hang Tsu anak dari selir ayahnya. Karena keserakahan dari selir Tsu En, pangeran asli pewaris tahta harus terasingkan. Tapi takdir kebaikan akan selalu mencari jalannya. Hingga sampailah di hari pangeran Syah Hang pewaris tahta asli kembali dan mendapatkan tahtanya dan memimpin Kerjaan dengan kebijaksanaan.

Tapi kedua saudara tirinya tidak mau tinggal diam. Keduanya bersekutu untuk menjatuhkan pangeran Syah Hang dari tahtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anand Mehra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perintah Pertama untuk Sang Pangeran

Pangeran Syah Hang dan pelayanan Fank berjalan memasuki ruang utama paviliun kediaman ketua Putih.

"Salam hormat untuk ketua" Pangeran Muda Syah Hang memberikan hormat untuk ketua Putih dan menteri Tan.

"Bangunlah pangeran" ketua membantu pangeran Syah bangun.

"Hormat pada pangeran Syah Hang" menteri Tan memberi hormat.

Pangeran Syah Hang mundur merasa tidak enak mendapat penghormatan dari orang yang lebih tua darinya.

"Pangeran dia menteri Tan Rakha, menteri kepercayaan Baginda ayah pangeran" ketua Putih memperkenalkan menteri Tan.

"Salam hormat untuk menteri Tan" pangeran Syah Hang pun langsung memberi salam hormat untuk menteri Tan.

"Bangun Tuan Pangeran, aku yang seharusnya hormat pada pangeran"

Menteri Tan membangunkan pangeran Syah Hang. Diikuti ketua Putih.

"Ayo mari duduk pangeran"

Mereka bertiga pun duduk bersama di ruang utama paviliun ketua Putih. Pelayan Fank pun ikut disana. Karena pelayan Fank memang pelayan terdekat dengan pangeran Syah Hang.

"Mohon maaf ketua, apakah hari ini kita akan berkunjung ke makam ibu ketua?" pangeran Syah bertanya untuk mengetahui maksud dirinya dipanggil oleh ketua Putih.

"Bukan pangeran, bukan. Ini jauh lebih penting dari hal itu" ketua Putih berdiri dari duduknya dan berjalan mengambil sebuah kalung dari dalam bejana perak di lemari miliknya.

Pangeran Syah Hang dan menteri Tan pun menatap ke arah ketua Putih dengan tatapan yang penuh penasaran.

"Ini adalah kalung milik keluarga kerajaan yang hanya boleh dimiliki oleh pewaris tahta" ketua Putih meletakkan kalung itu di meja.

Semua yang ada disana saling diam dengan mengamati kalung dari sang ketua Putih. Tanpa terkecuali pelayan Fank.

"Itu kalung yang pernah dipakai oleh pangeran Syah Hang" ujar pelayan Fank mengingat kejadian dua puluh tahun yang lalu.

Dimana ketua Putih membawa seorang anak kecil berusia empat tahunan ke perguruan lembah putih. Dan dialah pangeran Syah Hang. Di saat konspirasi kudeta selir Tsu En pada permaisuri Hyung Pathan. Membuat pangeran Syah Hang kecil harus diasingkan dari kerajaan. Dan dibesarkan oleh ketua Putih di perguruan lembah Putih.

"Pangeran Syah, kalung ini milikmu. Ambilah" ketua Putih menyerahkan kalung itu pada pangeran Syah Hang.

"Apakah aku harus memakainya ketua?"

"Sekarang lah saatnya pangeran kembali ke istana. Karena jika terlambat, kerjaan akan dalam penguasaan orang yang salah"

"Tapi....." pangeran Syah ragu untuk kembali ke Kerajaan.

"Menteri Tan memohon Pangeran Muda untuk kembali ke istana" menteri Tan pun berlutut permohonan pada pangeran Syah Hang untuk kembali ke istana.

"Bangunlah menteri. Aku merasa belum pantas untuk kembali ke istana" pangeran Syah membangunkan menteri Tan.

"Tapi keadaan memaksa harus sekarang pangeran"

Tuing.....

Pangeran Syah pun merasa pusing karena di pikirannya sudah dipenuhi dengan segala hal yang menjenuhkan jika dia harus kembali di istana. Bahkan dia sendiri lebih senang dan bahagia tinggal di sini. Tidak ada keributan, persaingan, iri dengki. Yang ada hanyalah kedamaian dan ketenangan.

Dan tiba-tiba tubuh pangeran Syah Hang limbung. Dan hampir saja roboh.

"Pangeran Muda!!"

Pelayan Fank dan menteri Tan menahan tubuh pangeran Syah Hang.

"Bawa ke kamar, panggil tabib Rakh Than" ketua Putih memberikan bantal untuk pangeran Syah.

Sementara menteri Tan membaringkan tubuh pangeran Syah.

"Berat sekali ternyata pangeran muda"

"Bukan pangeran muda yang berat, tapi Mentri Tan yang sudah berumur" ujar ketua Putih dengen kekehan khasnya.

"Bisa jadi begitu ketua" Mentri Tan pun ikut terkekeh.

Pelayan Fank pun sudah kembali bersama tabib Rakh Than.

"Hormat pada ketua Putih dan menteri Tan" tabib Rakh dan pelayan Fank memberi hormat.

"Hormat untuk tabib Rakh, kemarilah cepat tolong pangeran muda"

Tabib Rakh Than memeriksa pangeran Muda Syah Hang. Dengan teliti tabib Rakh memeriksa pangeran muda. Ketua Putih, menteri Tan dan pelayan Fank memperhatikan dengan seksama. Mereka sama khawatir dengan keadaan pangeran muda Syah Hang. Terlebih menteri Tan Rakha yang sangat berharap sang pangeran pewaris tahta itu bisa kembali ke istana.

"Bagaimana dengan keadaan pangeran muda tabib Rakh?"

"Pangeran baik-baik saja. Sepertinya dia hanya kaget" tabib Rakh pun meracik ramuan untuk membantu pangeran muda segara pulih.

"Pastikan pangeran muda meminum ramuan ini nanti" tabib Rakh memberikan racikan ramuanya pada pelayan Fank.

"Baik tabib Rakh"

"Tabib Rakh terima kasih"

"Sama-sama ketua Putih. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan keadaan pangeran muda Syah Hang"

Menteri Tan pun menghela nafas lega.

"Menteri Tan berterima kasih kepada tabib Rakh yang telah membantu menyelematkan pangeran Syah Hang" menteri Tan berlutut pada tabib Rakh tanda berterima kasih.

"Bangunlah yang mulia menteri, jangan begitu. Sudah kewajiban hamba untuk ikut menjaga keselamatan pangeran muda" tabib Rakh balik memberi hormat pada menteri Tan.

"Terima kasih tabib Rakh Than. Kerjaan akan mencatat budi baik tabib di buku harian istana"

"Dimana aku?" pangeran Syah Hang pun siuman dari pingsannya.

"Pangeran Muda, akhirnya anda sadarkan diri juga" menteri Tan sangat senang dengan kesadaran sang Pangeran Muda.

"Iya, syukurlah pangeran baik-baik saja" pelayan Fank juga terlihat sangat excited melihat pangeran muda Syah Hang yang telah sadarkan diri.

"Kalian kenapa? Aku baik-baik saja" ujarnya sambil turun dari ranjang.

"Tunggu pangeran, anda harus minum ramuan ini dulu" tabib Rakh memberikan segelas minuman yang berisi ramuan buatannya tadi.

"Ini baunya tidak enak" pangeran Syah menutup hidungnya sambil memicingkan matanya.

"Aku paling tidak suka minum obat" katanya dengan kekesalan.

"Tapi anda harus meminumnya tuan pangeran" giliran pelayan Fank yang hendak memaksa pangeran muda Syah Hang untuk meneguk ramuannya.

"Cukup, aku tidak mau" disingkirkannya gelas berisi ramuan itu dari hadapannya.

Lalu pangeran Syah Hang pun keluar dari bilik dengan wajah yang masam.

"Pangeran" ketua Putih dan menteri Tan langsung mengejar pangeran Syah Hang.

"Ayo ikuti mereka" tabib Rakh juga menyusul keluar dari bilik.

Begitu juga dengan pelayan Fank yang mengekori sang tabib Rakh Than.

"Pangeran Muda, maafkan kami" ketua Putih mencegat dan berlutut di depan pangeran.

"Ketua, bangunlah"

"Aku hanya akan bangun jika pangeran muda memaafkan atas kesalahan kami"

"Baik, soal ramuan tadi lupakanlah" ujar pangeran Syah Hang.

Sorot mata Syah Hang muda, sang pangeran pewaris tahta menyapu sosok pria tua yang sudah seperti orang tuanya sendiri itu. Dihelanya nafas untuk beberapa detik. Pangeran Muda Syah hanya mencoba untuk mendapatkan kelegaan yang baru saja menghimpit rongga dada dan pikirannya.

"Bangun ketua, aku yang harusnya meminta maaf pada ketua" pangeran Syah bersimpuh dengan wajah tertunduk di hadapan ketua Putih.

"Pangeran....tidak tidak, pangeran tidak bersalah" ketua Putih memeluk pangeran muda Syah yang sudah seperti anaknya sendiri itu.

"Sejujurnya aku pun tak mau pangeran pergi dari sini. Tapi garis takdir lah yang mengharuskan pangeran kembali ke tempat yang lebih pantas untuk pangeran" akhirnya lelehan air mata ketua Putih pun tak mampu dibendungnya lagi.

"Tapi aku tidak mau pergi dari sini ayah ketua" dengan sesunggukan pangeran Syah memeluk erat ketua Putih.

"Aku mengerti anakku, jika aku benar kau anggap sebagai ayahmu. Maka aku perintahkan pada anakku untuk kembali ke istana"

Ketua Putih memberikan perintah pertamanya untuk sang pangeran muda Syah Hang. Mata pangeran muda pun membulat karena terkejut. Rasanya tidak akan mungkin sebagai seorang anak menolak perintah dari ayah dan juga gurunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!