Kehidupan Milly yang tenang di sebuah kota kecil, Glenmore, perlahan mulai berubah menjadi mencekam. Perburuan demi perburuan mengejarnya. Ia harus lari, sejauh mungkin dari rumah, menjauhkan dari nenek Dorothy. Nenek yang mengadopsinya dari panti asuhan.
Pelarian demi pelarian membawanya ke sebuah misteri hidup yang selama ini ia pertanyakan. Siapa dirinya? Darimana asalnya? Kenapa ia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang sekitarnya? Mengapa mereka mengejarnya?
Akankah takdir akan membawa Milly menemukan jawaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Hutan Bukan Tempat Yang Aman
Pulang sekolah, Milly sengaja menuntun sepedanya ke depan gerbang. Alletta sudah menunggu disana. Tapi kali ini Alletta tidak sendiri. Di dekatnya berdiri murid baru tadi. Siluet pemuda tinggi itu jelas milik Wayne. Mereka kelihatan sedang asyik mengobrol.
"Milly," panggil Alletta dari jauh. Ia melambaikan tangan ke Milly.
Milly bergegas menghampiri. Tapi, ia kurang suka dengan tatapan Wayne kepadanya. Tatapan itu seperti menyembunyikan lapisan tersembunyi di baliknya.
"Hallo," sapa Milly pada Wayne. Meski ekspresi wajahnya tak berbeda dari isi hatinya. Dongkol. Tapi Milly tetap mencoba bersikap ramah pada Wayne.
"Hallo," balas Wayne tersenyum.
Sekilas Milly sempat melihat Wayne mengedikkan bahu.
"Dia ikut," kata Alletta memberitahu.
Milly mendekatkan dirinya ke Alletta. "Dia orang kota Letta," ujar Milly cukup pelan. "Dia mungkin akan bosan," bisiknya lagi lirih. Tapi ternyata Wayne tetap mendengarnya.
"Tidak akan," sahut Wayne menyambung bisikan Milly.
"Kau dengar?" tanya Alletta tak percaya.
Milly apalagi. Hari ini ia sudah cukup memalukan di depan kelas. Sekarang bahkan bisikannya pun didengar. Ini ibarat dinding punya telinga. Apa yang dibicarakan sembunyi-sembunyi, terungkap juga. Haizzz..
Wayne hanya memberi anggukan.
Lagi-lagi Milly melihat Wayne menyeringai tipis. Tadi di kelas beberapa kali tatapan mereka bertemu, dan ia juga melihat hal sama. Seolah Wayne sengaja mengamatinya. Herannya Wayne yang cepat akrab dengan Alletta, tapi di sisi lain gelagatnya cukup menjengkelkan buat Milly. Padahal mereka baru pertama bertemu.
"Kau pernah ke hutan?" tanya Milly mengernyit.
Wayne mengangkat bahu. "Mungkin."
Mungkin??--jawaban apa itu--batin Milly jengah. Memang di Ibukota ada hutan--Milly menggeram pada diri sendiri.
Wayne sepertinya menangkap ekspresi geram Milly. Tapi ia sengaja membiarkannya.
"Udah-udah, biarkan aja dia ikut," kata Alletta menengahi.
Dengan berat hati, Milly mengalah dan mengiyakan.
Tak jauh dari sekolah ada hutan kecil, hutan itu tembus ke pintu belakang rumah Alletta. Namun, jalannya memang lebih terjal jika dibandingkan jalan utama.
Karena, hari itu hanya Milly yang membawa sepeda, maka Milly mengayuh sepedanya pelan-pelan di depan. Alletta dan Wayne mengikuti di belakangnya. Mereka berdua jalan kaki.
Di tengah jalan, beberapa kali Milly turun dari sepeda jika ada yang menarik perhatian atau jalannya cukup sulit.
Ia mengambil belalang daun dari batang pohon, warnanya yang seperti daun benar-benar kamuflase sempurna untuk menyembunyikan diri. Ia juga memperhatikan beberapa sarang lebah di atas pohon. Dari apa yang pernah ia baca, ia tahu jikalau sistem pertahanan dengan menyengat itu seperti harakiri. Karena lebah madu pekerja akan mati setelah menyengat. Menyengat adalah bentuk pertahanan terakhir untuk melindungi koloni.
Sambil mengayuh sepeda, ia menceritakan hal yang ia tahu kepada Alletta dan Wayne.
"Menarik," ujar Wayne terang-terangan menatap Milly.
"Apa yang menarik?" Jeda "Belalang atau lebahnya?" tanya Milly membaur.
"Kamu." Jawaban Wayne mengejutkan Alletta dan Milly. Tanpa sadar mereka kompak melihat Wayne dan bergumam "Haah."
"Aku tidak sedang membicarakan diriku," gumam Milly yang akhirnya bisa bereaksi dengan benar.
"Mungkin maksud Wayne, kamu menarik karena kamu tahu banyak hal," bela Alletta yang lagi-lagi jadi penengah diantara mereka.
Milly melirik ke arah Wayne. Wayne tampak tidak berniat menjelaskan apapun. Seolah ia membiarkan pernyataan itu menggantung begitu saja.
"Terserahlah," kata Milly sembari menghela nafas.
"Aku jalan duluan ke rumahmu, Letta," ujarnya menambahkan tanpa menoleh. Ia lalu mengayuh sepeda lebih cepat. Samar-samar dari jauh masih terdengar suara obrolan Wayne dan Alletta, sebelum akhirnya ia tidak mendengar lagi.
Di tengah jalan, lagi-lagi ia menghentikan kayuhannya dan turun dari sepeda. Ia melihat tupai yang bersembunyi dan ia mendekatinya. Tetapi siapa sangka, tiba-tiba ada tangan yang mencengkram bahunya dari belakang. Tangan yang sama itu juga yang menariknya masuk jauh ke dalam hutan.
Ia berusaha meloloskan diri. Tapi tangan itu terlalu kuat. Juga seolah detik itu ada kekuatan magis yang mengunci bibirnya. Ia tidak bisa membuka mulutnya, bahkan untuk minta tolong.
Kretek demi kretek ranting cukup keras di jalan yang ia lewati. Tangannya penuh luka karena gesekan onak duri dari semak pepohonan.
Sakit. Perih. Tapi ia harus berjuang, memutar otak buat melepaskan diri dari bayangan hitam itu. Makin lama ia makin diseret ke bagian hutan yang belum pernah dilihatnya.
Ia menarik ranting yang tajam dari celah pohon. Dengan sekuat tenaga, ia tusukkan ranting itu ke tangan bayangan hitam. Hingga mau tak mau bayangan hitam itu terpaksa melepaskan cengkeramannya.
Begitu lepas, ia langsung lari. Lari sekencang mungkin yang ia bisa. Di dekat tebing yang terjal, ia lihat cekungan di balik semak, yang ia gunakan buat bersembunyi. Ia memaksakan diri masuk ke dalam.
Dari tempatnya bersembunyi, beberapa kali ia harus menahan nafas ketika melihat bayangan hitam itu lewat.
Itu bukan satu. Tapi ada beberapa, mungkin lima. Mereka manusia bukan hantu. Mereka memakai jubah hitam dan topeng hitam. Perawakannya ada yang tinggi besar, ada yang pendek kecil, ada yang jangkung kurus, ada yang besar, ada yang berotot.
Samar-samar percakapan mereka terdengar oleh Milly.
"Kenapa bisa lolos?"
"Dia melukai tanganku."
"Aku tidak mau tahu. Dia harus ketemu." Jeda.
"Dia pasti masih ada di sekitar sini."
"Cari dia sampai dapat!"
"Baik."
Satu Jam. Dua Jam. Tiga Jam. Bayangan hitam itu masih berkeliaran disana. Milly tidak tahu sampai kapan harus sembunyi.
Dalam celah yang sempit itu, tubuhnya mulai kaku, tangannya mulai terasa perih. Tapi ia tetap tidak boleh bergeming sampai bayangan itu benar-benar pergi.
Hari sudah mulai gelap. Matahari sudah terbenam dan hutan mulai jadi tempat yang mencekam. Waktu yang berlalu membuatnya sadar--Alletta dan Wayne tidak sadar ia menghilang. Mereka tidak mencarinya.
Yeah, setidaknya ia tadi pagi sudah pamit ke Nenek Dorothy akan pulang terlambat--pikir Milly menghibur diri sendiri. Jadi nenek tidak perlu khawatir akan keberadaannya sekarang.
Andai waktu bisa diulang, ia akan menuruti permintaan nenek buat tidak pergi ke hutan hari ini. Luka ini, ia dapat dari kebodohannya.
Detik demi detik terasa lambat. Bayangan hitam itu sudah pergi. Mereka mungkin mencari ke tempat lain. Tapi keluar sekarang, belum tentu aman. Milly menunggu lagi dua jam, baru perlahan keluar dari ceruk yang ditemukannya itu.
'Bruk,' Baru berjalan beberapa langkah ia terjatuh. Buru-buru ia bangkit dan mengikuti tumbuhnya lumut. Karena lumut selalu tumbuh ke arah barat. Ia tidak kembali ke rumah Alletta. Ia pergi ke arah barat, ke rumahnya sendiri. Sepedanya yang tertinggal, besok siang saja ia ambil. Semoga masih ada.
Ia mengendap-endap dari pintu belakang, masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Untung jemuran ada di depan kamar mandi, jadi ia tidak perlu masuk ke rumah untuk sekedar mendapatkan baju ganti bersih.
Hampir jam 9 malam, ia masuk rumah. Ia mendapatkan Nenek Dorothy duduk di sofa keluarga. Menunggu
"Jam berapa ini?"
Milly menunduk, "Sembilan," jawabnya lirih.
"Kau tahu aturannya, Milly," pertanyaan retoris itu tak menyisakan ruang buat Milly memberi penjelasan.
Milly hanya diam menundukkan kepala. Ia memang harusnya pulang ke rumah jam 5, selambatnya jam 7 malam.
Hening.
"Lain kali tidak akan lagi," ujar Milly menyesal.
"Tidak ada lain kali," tegas Nenek Dorothy, lalu ia memanggil Milly untuk duduk di sampingnya.
"Bagaimana lenganmu bisa terluka?" Ternyata tak ada apapun yang bisa luput dari penglihatan neneknya.
"Tadi pergi ke rumah Letta lewat hutan. Tidak sengaja kena onak duri."
"Sebanyak ini?" komentar Nenek Dorothy mengernyit tidak percaya. Meskipun begitu, ia tetap memberikan ruang kepada Milly untuk memutuskan haruskah bercerita atau tidak.
Milly tetap tak bereaksi. Ia tidak ingin neneknya khawatir. Bagaimanapun bayangan hitam tadi juga belum jelas kenapa mau menangkapnya.
"Tidak boleh lewat hutan lagi," kata Nenek Dorothy sembari mengambil kotak P3K dan mengobati luka Milly.
Milly mengangguk setuju.
***