cinta? bagi ku, cinta itu adalah suatu rasa yang memang tidak pandang kepada siapapun rasa itu akan berlabuh, rasa itu akan bersemayam, dan bahkan rasa itu kepada siapa akan menetap. yang aku tahu, aku mencintai mu, aku mencintai dia dengan tulus dan penuh ikhlas. walau aku tahu kemungkinan aku dan dia akan bersatu dan akan hidup bersama sebagai pasangan suami istri sangatlah tipis. aku berusaha melupakannya, tapi sulit. dia masih saja ada dalam hati dan pikiran ku. aku mencintai mu, dia yang ada di hati ku sampai detik ini. rasa cinta yang sebenarnya dari awal sudah jelas sangatlah SALAH.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02
"Pak Riyan saya mohon maaf, Pak. Saya mau izin ingin pulang lebih awal. Soalnya anak saya hari ini ulang tahun dan anak saya minta ditemani saya, Pak,"
"Anak pertama atau kedua?" tanya Riyan, dia duduk dikursi kebesarannya dia menatap wajah karyawannya yang berdiri dengan pandangan menunduk.
"Anak pertama saya, Pak."
"Baiklah, saya mengizinkan. Dan apakah boleh saya meminta nomor rekeningmu?" Riyan merogoh ponsel disaku jaz yang dia kenakan.
"Hah? Maaf, Pak. Emmm... kalau boleh tahu itu untuk apa Pak?"
Riyan tersenyum melihat wajah terkejut sekaligus takut karyawannya itu. "Saya ada sedikit rezeki, nanti bisa kau belikan mainan atau apa untuk anakmu itu,"
"Wah, Pak. Terimakasih sebelumnya, tapi Bapak tidak perlu repot-repot, Pak. Saya diizinkan untuk pulang lebih awal saja saya juga sudah sangat berterima kasih sekali."
"Haisss, cepat mana nomor rekeningmu. Atau saya urung memberimu izin, hah?!" Riyan terpaksa mengancam karyawannya itu, sesungguhnya Riyan paling tidak suka jika niat baiknya ditolak, lagi pula Riyan sejak dulu memang menyukai anak kecil.
Jika ada waktu ingin rasanya Riyan datang ke pesta ulang tahun anak karyawannya itu, tapi sayangnya Riyan tidak ada waktu karena masih ada banyak pekerjaan.
"I-iya, Pak. I-ini, Pak."
"Nah, jika begini kan enak. Tidak perlu lama." Riyan menerima ponsel milik karyawannya itu yang disodorkan padanya, lalu Riyan dengan cepat men-sceen kode QR.
Klunting!
"Nih, sudah masuk. Maaf ya hanya sedikit." kata Riyan, dia mengembalikan ponsel milik karyawan itu setelah notif dari m-banking masuk.
"Terimakasih banyak, Pak. Kalau begitu saya permisi,"
"Hm,"
Karyawan itu pun keluar dari ruangan Riyan. Begitu pintu tertutup dia dibuat kaget oleh teman sefrekuensinya yang tetiba muncul didepannya.
"Mengagetkan saja kau ini, Tora. Untung saja aku ini tidak jantungan," karyawan itu memegang dada yang berdebar karena kaget itu.
"Hehehe... ya maaf Pri, Apri. Bagaimana? Apa bos Riyan mengizinkanmu untuk pulang lebih awal?" tanya Tora dia teman sesama karyawan sekaligus tetangga dekatnya Apri.
"Alhamdulilah diizinkan, Tora. Bos Riyan memanglah bos yang baik,"
"Oh, sukur lah kalau begitu."
...----------------...
"Bertanya hal apa, Gung?" Niya tidak jadi masuk kedalam rumah, Niya memilih mendudukan pantat dikursi yang berseberangan dengan Agung.
"Mas Riyan tidak jahat pada mbak Niya, kan?"
"Hah? Ma-maksudnya?" Niya terkejut mendengar pertanyaan dari adik suaminya itu yang tiba-tiba.
Melihat respon terkejut dari kakak iparnya, Agung menggaruk dagunya yang tidak gatal. Agung merasa kikuk dan takut jika kakak iparnya itu tersinggung dan malah berpikir yang aneh-aneh tentangnya.
"Yaaa, maksud aku mas Riyan tidak suka melakukan hal yang aneh-aneh kan. Soalnya aku takut saja jika mas Riyan diam-diam galak atau jahat sama mbak Niya, maksud aku begitu lho, mbak,"
Niya tersenyum lucu sekaligus lega. "Ya ampun, Gung. Mbak pikir apa, ternyata kau memikirkan rumah tangganya mbak juga ya? Oalaaah, makasih jika kau selama ini juga memperhatikan. Tapi tenang saja, Gung. Mas Riyan selalu baik kok sama mbakmu ini. Pokoknya tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Ya sukur lah jika seperti itu. Aku juga senang mendengarnya, mbak."
"Ooommm...! Ini PR.nya!"
Niya dan Agung menoleh ketika mendengar suara khas anak lima tahun yang lucu dan menggemaskan itu dari dalam rumah, terdengar si anak lima tahun itu bicara sambil berlari. Dan iya, tak lama Zona muncul dari dalam rumah dengan tas kecil warna pink bergambar kuda poni.
Zona berlari kearah Agung. "Om, ini PR.nya! Lihat Om ini banyak sekali. PR.nya juga susah Om," Zona menarik lengan Agung yang mengenakan jaket warna army untuk duduk lesehan dilantai.
"Iya, oke. Kita kerjakan bersama ya, Zona keponakan Om yang sangat cantik." Agung menjawil pipi gembulnya Zona dengan sangat gemas. Agung pun menurut dan duduk lesehan dilantai berhadapan dengan Zona yang sekarang mulai sibuk membuka tas kecil miliknya.
"Gung, Arfi kok tidak ada. Kemana dia?" tanya Niya, dia beranjak dari kursi dan bergabung dengan Zona dan adik iparnya. Niya duduk disebelah Zona. Niya memperhatikan anak keduanya yang terlihat sangat antusias mengerjakan PR.
"Arfi izin main, mbak. Tadi disamperin temannya." Agung mejawab tanpa menoleh karena dia fokus pada tugas PR nya Zona.
Niya mengangguk, dia memperhatikan Zona yang mulai menulis, lalu memperhatikan Agung yang terlihat serius mengajari Zona mengerjakan PR.
Niya tersenyum, Niya beranjak meninggalkan Zona dan Agung berdua diteras depan. Niya masuk kedalam rumah dan menuju dapur. Niya belum memasak jadi dia akan mulai memasak untuk pagi ini.
Niya mulai mengambil sayuran di kulkas, mencuci dan memotongnya sesuai selera. Setelahnya Niya mengambil bawang merah, bawah putih, cabai dan bumbu lainnya untuk di haluskan memakai cobek.
Setelah semua bumbu sudah jadi, Niya menyalakan kompor, menaruh wajan di atas kompor dan mulai menumis bumbu setelah Niya menuang minyak goreng di atas wajan.
Bau harum bumbu di goreng mulai tercium, Niya pun tersenyum. Menu pagi ini masakan yang cukup sederhana, hanya oseng sawi plus tahu kuning saja, nanti akan menyusul tempe goreng serta sambalnya. Tidak ketinggalan kerupuk udang kesukaan suami dan anak-anak.
Teras depan.
Agung memejamkan mata ketika indra penciumannya tidak sengaja menghirup aroma gurih nan lezat dari dalam rumah kakaknya. Agung sudah menduga jika sang kakak ipar pasti tengah memasak di dapur.
"Emmm... Bunda pasti sedang memasak. Baunya harum sekali," Zona yang memang banyak bicara membuat Agung sedikit tersentak.
"Bundanya Zona yang cantik tengah memasak ya?" Agung mencubit gemas kedua pipi gembul Zona. Entahlah sejak Zona lahir entah mengapa Agung memang begitu menyukai Zona. Entah karena Zona keponakan perempuan yang pertama ataukah karena Zona begitu gendut. Lihatlah kedua pipinya seperti bakpao.
"Iya, Om. Zona sangat menyukai masakan, Bunda. Karena menurut Zona masakan Bundanya Zona itu begitu enak. Om belum pernah mencobanya ya?" Zona menunjuk Om nya itu dengan telunjuknya yang mungil.
Agung menggeleng.
Zona mendengus, dia memasukan buku serta alat tulis lainnya ke dalam tas kecilnya karena tugas sudah selesai. Lalu menyampirkan tasnya di bahu. "Ayo ikut Zona, Om." Zona menarik jari telunjuk Agung untuk mengikutinya.
"Kemana?"
"Ya ke Bunda lah Om, masa ke taman bermain sih,"
Agung terkekeh, dia pun beranjak dan mengikuti Zona yang terlihat effort sekali agar dirinya mengikutinya. Dan entah apa yang akan bocah kecil itu lakukan nantinya.
"Bundaaa...!"
"Bundaaa...!"
"Om Agung katanya mau minta masakannya Bunda!"
"Hah?" Agung melongo mendengar perkataan Zona.
pesan dari siapa?