Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.
Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.
Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—
Fero.
Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.
Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang pria yang mencintainya dengan kesabaran yang menyakitkan.
Sementara Andra harus menerima satu kenyataan pahit: Cinta yang pernah mereka bangun mungkin tidak akan pernah kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Damai Bersamamu
Apartemen itu terlalu kecil untuk dua orang yang punya terlalu banyak mimpi. Setidaknya begitu kata Meisyah saat pertama kali melihatnya dua minggu lalu.
Andra masih ingat jelas wajahnya hari itu—bagaimana cahaya matahari sore masuk dari jendela besar menempel di pipinya, membuat bayangan halus di bawah tulang menonjol. Dia berdiri di tengah ruang tamu yang sebenarnya tidak benar-benar bisa disebut ruang tamu, sedikit lebih luas dari kamar tidur, dengan satu jendela menghadap ke jalan sempit di belakang gedung.
Dindingnya putih pucat. Catnya mengelupas di setiap sudut, memperlihatkan lapisan warna krem yang lebih tua di bawahnya. Di lantai hanya ada satu karpet tipis berwarna terrakota yang Andra beli dari pasar loak dua hari sebelumnya. Bau kapuk dan deterjen masih menempel di serat-seratnya.
Mei memutar badan perlahan sepatu hak tingginya yang berdebu—sisa dari kehidupan lamanya—berbunyi tiktak di lantai keramik sedikit tidak rata.
Lalu dia menatap suaminya
"Ini?"
Andra mengangguk jantungnya berdegup di tenggorokan bermain. "I- ya."
"Ini apartemen kita?"
"Eh..."
Perempuan itu mengerjapkan matanya dua kali, Bulu matanya yang panjang bergerak naik turun, seperti sayap kupu-kupu mencoba memahami sesuatu yang terlalu besar untuk dipahami.
"Serius Mas?"
Andra menahan napas, ada jeda kecil membuatnya tiba-tiba sadar betapa gugupnya dia. Dia tahu tempat ini jauh dari kata ideal. Tiga hari yang lalu, Mei masih tidur di ranjang dengan sprei berthread count tinggi, dikelilingi dinding lukisan minyak seniman terkenal.
Sekarang dia berdiri di sini, di apartemen kecil dengan lampu redup mau putus, di mana suara tetangga dari lantai atas terdengar jelas setiap kali mereka berjalan dan berantam.
"Kalau Mei tidak suka—" Andra tergagap
Perempuan itu tiba-tiba tersenyum manis penuh ketulusan, bukan senyum diplomat yang dia pelajari selama bertahun dalam keluarga yang menghargai penampilan dari pada kejujuran.
Senyuman yang benar-benar muncul dari matanya sedikit turun—monolit yang sering dia keluhkan saat remaja—berkerut halus. Kilatan di pupilnya yang gelap, selalu membuat Andra terpana sejak pertama kali mereka bertemu di Rumah Yatim tiga tahun lalu, menjadi lebih terang."lucu, Mas," ucapnya riang
Andra mengerutkan keningnya "Lucu apanya dik ?"
Ia berjalan menuju jendela membuka tirai tipis agak pudar warnanya—dulu mungkin biru tua, sekarang abu-abu muda yang membosankan. Cahaya sore masuk ke dalam ruangan, membuat partikel debu kecil berkilau di udara seperti serpihan emas terlupa.
Dari jendela mereka bisa melihat jalan kecil di belakang gedung. Ada tukang bakso di sudut jalan, uap mengepul dari panci besarnya. Dua anak kecil bermain sepeda dengan roda tambahan, tertawa ketika salah satu dari mereka hampir jatuh. Seorang ibu paruh baya sedang menyiram tanaman di pot plastik bekas minuman bersoda, daun-daun basilnya hijau segar menentang dinding bata kusam.
Meisyah bersandar di kusen jendela. Jari-jarinya yang ramping—jari yang biasanya memegang gelas anggur di acara gallery opening atau menyentuh kunci piano Steinway di rumah orang tuanya—mengusap permukaan kayu yang kasar.
"Mei suka," ucapnya pelan seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.
Andra benar-benar tidak menyangka jawabannya itu. " Beneran Mei, kamu suka?"
Cahaya matahari membuat bayangan panjang di lantai, memisahkan mereka berdua—Meisyah di dalam cahaya, sementara Andra di dalam bayangan."Mei serius, ini kecil."
"Ya."
"Tidak ada balkon."
"Tidak apa-apa."
"Dapur cuma segini." Andra menunjuk sudut ruangan yang dibatasi oleh konter beton setinggi pinggang.
"Bagus."
"Apanya yang bagus?"
"Kalau dapurnya kecil," Ia berjalan mendekat, "bau masakan bisa sampai ke kamar tidur membangunkan Mas yang males bangun pagi."
" Terus ?"
" Mas gak bisa membeli alat dapur yang aneh-aneh dan mengklaim itu 'investasi' keluarga "
"Mas tidak pernah beli alat masak aneh lho"
Ia mengangkat alisnya, ekspresi superior yang biasanya dia pakai saat memenangkan argumen—membuat Andra ingin menciumnya di tempat.
"Rice cooker tiga fungsi?"
"Itu berguna."
"Air fryer mini?"
"Itu investasi."
" Kulkas segede gaban?"
" Untuk sembunyi kalau kamu naik darah."
Mei tertawa terkekeh membuat ruangan kecil terasa lebih hidup, bukan tawa tertahan yang dia pakai mendengar lelucon ayahnya garing, bukan pula tawa sopan yang dilatih sekolah etiket, tapi ini naik dari perutnya, membuat bahunya bergerak naik turun, matanya berair berkaca-kaca.
Andra menghela napas, beban di dadanya sedikit menghilang,"Jadi…?"
"Mas, aku kawin dengan mu bukan dengan rumah" Ia berjalan kembali ke tengah ruangan. berputar dengan lengan terentang lebar mencoba membayangkan masa depan di ruang yang terbatas.
"Cukup lah," katanya pelan menunjuk satu sudut di dekat jendela, cahaya sore paling terang. "Di situ kita taruh sofa bisa dilipat jadi tempat tidur, kalau ada tamu."
"Belum ada sofa."
"Ya makanya beli."
"Uang kita cukup?"
Ia berpikir sebentar jemarinya menyentuh cincin perak di jari manis kirinya—"Kalau kita beli bekas?"
Andra langsung menggeleng. "Tidak."
"Kenapa?"
"Karena sofa bekas biasanya punya sejarah yang aneh."
"Sejarah yang aneh?"Ia tertawa kecil
"Ya." Andra berusaha tampak serius. "Kita tidak tahu siapa yang duduk di situ sebelumnya, bisa saja pasangan yang putus, pemuda yang kehilangan pekerjaan, ibu yang menangis uang belanjanya dicuri lakinya main judol. Energinya masih ada, May, di serat kainnya, di pegasnya."
Perempuan itu menahan tawa, pipinya memerah. "Mas terlalu banyak nonton film horor Korea."
"Film horor Thailand, sebenarnya, Mei Lebih psikologis, ada adegan ciumnya.
Meisyah tertawa ngakak mencubit pipinya," Dasar suamiku tukang 'ngeres'"
Andra ikut ikutan tertawa lepas," Mas canda Mei, mending cium Mei ya."
" Ihh ...mentel"
'Terus gimana dengan Sofanya ?"
"Kita beli sofa baru."
Andra menghela napas lega. "Tapi—"
"Tapi apa?"
"Kita makan mie instan satu minggu, dengan sayur kangkung kolam Wak Jupri."
Mereka berdua tertawa, memantul di dinding apartemen kecil menciptakan harmoni yang tidak sempurna tapi indah—lagu fals walaupun sumbang tapi sepenuh hati.
Dunia terasa sangat sederhana tanpa tantangan keluarga di balik tirai kayu jendela. Tidak ada perbedaan status yang menganga atau masa depan terasa menakutkan karena belum terjadi.
--+
Mei berjalan menuju dapur kecil di sudut ruangan membuka lemari kayu pintunya sedikit miring engselnya.
Kosong, hanya bau kayu tua dan lem yang pernah digunakan untuk memperbaiki rak yang patah.
"Hebat," katanya, suaranya terdengar dari dalam lemari.
"Kenapa?"
Ia menutup lemari ' Bunyi bluk pelan menggema di ruangan yang sepi. "Kita bahkan belum punya piring."
Andra menggaruk tengkuknya. "Mas pikir bisa beli nanti setelah gajian pertama, mungkin."
Ia menoleh dengan senyum miring. "Kalau kita tidak punya piring… kita makan pakai apa Mas ganteng ?"
"Langsung dari panci?"
"Mas serius?"
"Efisien, hemat air, sabun cuci piring."
"Ini bukan survival show, Mas Andra."
"Tapi kita survive. Itu yang penting."
Mei tersenyum berjalan mendekat, melangkah perlahan seperti sedang meniti seutas tali yang hanya dia yang bisa lihat. Lalu berhenti tepat di depan melingkar kan tangan di lehernya," Mei mau berjuang dengan mas, apapun itu."
" Cium ?"
" Laki satu ini belum apa apa udah minta cium" Ia mencubit pipinya
Untuk beberapa detik mereka hanya saling menatap perasaan sayang dan rindu yang tak terungkap
Sebuah kecupan lembut di kening Mei, jari-jari mereka saling bertaut, mencari celah satu sama lain seperti potongan puzzle yang akhirnya menemukan tempatnya.
"Mas tahu, Mei tidak pernah membayangkan hidup akan seperti ini."
"Seperti apa?"
Ia melepaskan pelukannya melihat sekeliling ruangan kecil dengan sorot berkaca-kaca, tapi senyuman yang tidak luntur. "Apartemen kecil ini tanpa pembantu, tidak ada AC di ruang tamu, hanya kipas angin yang berisik. Tidak ada lemari es besar yang selalu penuh dengan makanan siap saji."
Andra hanya diam mendengarnya," Mei..."
"Mei tahu." ia tersenyum, air mata yang tidak jatuh berkilau di sudut matanya. "Tapi Mei merasakan …"
" Apa mei?"
" Merasakan kebahagiaan dan kedamaian." ia akhirnya menangis