NovelToon NovelToon
Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Vaelisse

Ketika kakaknya, Orla, kabur dari pernikahan dengan pria berbahaya bernama Lorcan, Pearl dipaksa menggantikannya demi menyelamatkan keluarga dari kehancuran.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria dingin yang seharusnya menikahi orang lain, Pearl harus hidup dalam kebohongan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja jika kebenaran terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2

Sosok berjubah itu berdiri di hadapan mereka dengan Alkitab terbuka di kedua tangannya.

Suaranya berat dan dalam, mengisi seluruh ruang gereja yang hampir kosong dengan kata-kata yang seharusnya terasa sakral.

"Di hadapan Tuhan dan para saksi yang hadir, kita berkumpul hari ini untuk menyaksikan dan memberkati ikatan pernikahan antara kedua insan ini..."

Pearl menatap lurus ke depan.

Matanya kering, ia sudah kehabisan air mata sejak tadi malam. Yang tersisa hanya rasa berat di dadanya, seperti ada sesuatu yang sangat besar ditaruh tepat di atas tulang rusuknya dan tidak ada yang peduli untuk mengangkatnya.

Di sampingnya, Lorcan berdiri seperti patung. Dingin. Sempurna. Tidak terganggu oleh satu pun kata yang diucapkan di depan mereka.

"Lorcan Darragh, apakah kamu bersedia menerima perempuan yang berdiri di sampingmu ini sebagai istrimu yang sah, untuk dicintai dan dijaga dalam suka maupun duka, hingga maut memisahkan?"

"Ya."

Satu kata. Tegas. Tapi Pearl bisa mendengar apa yang tidak diucapkan di baliknya, tidak ada kehangatan, tidak ada janji, tidak ada yang sungguh-sungguh.

Kemudian giliran Pearl.

"Orla Rowan, apakah kamu bersedia menerima pria yang berdiri di sampingmu ini sebagai suamimu yang sah, untuk dicintai dan dijaga dalam suka maupun duka, hingga maut memisahkan?"

Hening dua detik.

Dua detik yang terasa seperti seumur hidup.

"Ya."

Suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan yang tiba-tiba turun di luar jendela gereja, seolah langit pun enggan menjadi saksi atas apa yang baru saja terjadi.

Begitu kata itu keluar, tidak ada lega. Tidak ada rasa lepas. Yang ada hanya satu pintu yang menutup rapat di belakangnya.

Dan Pearl tahu, ia tidak akan bisa kembali.

"Dengan ini, saya menyatakan kalian sah sebagai suami dan istri. Semoga Tuhan memberkati perjalanan kalian."

Lorcan tidak mencium keningnya.

Tidak ada pelukan. Tidak ada tatapan. Ia berbalik dengan gerakan mekanis dan melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Pearl yang harus berjuang mengangkat gaun pengantinnya yang berat sendirian hanya untuk mengikutinya keluar.

Di mata Lorcan, Pearl tidak lebih dari sebuah kontrak berjalan.

**

Di dalam mobil yang melaju membelah malam, keheningan terasa seperti tangan yang mencekik leher.

Pearl duduk merapat ke pintu, menciptakan jarak sebisa mungkin. Aroma parfum Lorcan kayu yang hangat bercampur sesuatu yang asing dan dingin, memenuhi seluruh kabin. Bukan aroma yang tidak enak. Tapi justru itu yang membuatnya merasa semakin terancam.

Plak.

Sebuah map cokelat tebal mendarat di pangkuan Pearl tanpa peringatan.

"Baca. Sekarang."

Pearl membukanya dengan tangan gemetar.

Di bagian atas halaman pertama, tercetak rapi dengan huruf kapital:

PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK

*"Pasal pertama," Lorcan memulai, matanya tidak beralih dari layar di tangannya. "Kamu tidak punya hak atas ranjangku, namaku, atau satu sen pun dari harta pribadiku. Di depan publik, kamu adalah istriku. Di dalam rumah, kamu bukan siapa-siapa, bahkan lebih rendah dari pelayan."

Pearl membaca poin demi poin dengan mata yang semakin terasa panas.

"Pasal kedua..." ia menggumam tanpa sadar, "...pihak kedua dilarang menunjukkan perasaan atau jatuh cinta."

Lorcan terkekeh.

Bukan tawa yang hangat. Itu suara paling kering dan paling sinis yang pernah Pearl dengar dan entah mengapa, itu lebih menakutkan daripada amarah.

Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk ke dalam mobil ini, ia menoleh. Menatap Pearl langsung.

Mata gelap itu menembus.

"Jangan terlalu percaya diri," katanya pelan. "Aku tidak akan pernah jatuh cinta pada perempuan dari keluarga penipu. Pernikahan ini hanya berlangsung satu tahun, sampai urusan besarku selesai. Setelah itu, kita bercerai, dan kamu pergi tanpa membawa apa pun dari keluarga Darragh. Mengerti?"

Pearl menutup map itu perlahan.

Ia mengumpulkan sisa keberaniannya yang tinggal secuil, lalu menatap Lorcan tepat di matanya.

"Aku tidak menginginkan hartamu." Suaranya tidak gemetar, meski seluruh tubuhnya ingin. "Aku hanya butuh satu kepastian. Bahwa biaya pengobatan ibuku akan terus berjalan. Itu saja."

Sesuatu bergerak di wajah Lorcan.

Sebelum Pearl sempat membaca ekspresi itu, tangan besar itu sudah mencengkeram dagunya, tidak cukup keras untuk menyakiti, tapi cukup kuat untuk menahan. Lorcan mendekatkan wajahnya. Jarak di antara mereka hilang.

Pearl bisa melihat pantulan dirinya di mata hitamnya.

Kecil. Terjebak.

"Lancar atau tidaknya napas ibumu ada di sini," bisik Lorcan, matanya tidak berkedip. "Setiap detaknya bergantung pada seberapa baik kamu menjalankan peranmu. Jadi jadilah penurut. Kalau aku dengar kamu mengeluh, atau kamu mencoba kabur mengikuti jejak kakakmu..."

Jempolnya menekan perlahan di sudut bibir Pearl.

"Aku tidak akan segan menghentikan semua biaya itu. Dan akan mengubur ibumu di hari yang sama saat kau kabur."

Pearl tidak bergerak.

Paru-parunya terasa kosong.

Di hari yang seharusnya menjadi awal kehidupan baru seorang perempuan, ia baru saja menandatangani kontrak penyerahan nyawanya sendiri.

**

Mobil berhenti.

Di luar jendela, sebuah mansion besar berdiri di balik pagar besi hitam setinggi dua meter diterangi cahaya sorot yang membuat seluruh fasadnya tampak lebih dingin dari malam itu sendiri. Megah. Sunyi. Sempurna, seperti penjara yang dirancang oleh seseorang yang tahu betul cara membuat sangkar emas terlihat indah.

Lorcan keluar lebih dulu, merapikan jas tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

"Turun," katanya singkat. "Selamat datang di neraka."

Pearl menatap bangunan besar di depannya.

Angin malam menusuk kulitnya melalui gaun pengantinnya yang terbuka di bagian bahu. Namun Pearl tidak bergerak untuk melindungi dirinya dari dingin itu.

Ia sudah tidak merasakannya lagi.

1
Dede D
ceritanya sangat bagus
Dede D
lanjut kak
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿV⃗a͢n꙰a͢a⃗ꦿᵏⁱᵉˡяᷢ⃞🐰
Gegara Kk nya, adikny jdi korban😭
Dan demi ibunya, pearl rela melaksanakan pernikahan yg ia sendiri tidak mau sbnrnya🙏😓
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Vaelisse: makasii kak, jangan lupa like dan komen nya ya 😀
total 1 replies
Juli Queen
bagus
Juli Queen
kaa kapan update nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!