𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2: Benang Merah di Bawah Hujan
Mereka menutup hari itu seperti biasa tidak ada yang spesial. di hari berikutnya aktifitas berjalan juga seperti biasa namun entah sejak pagi langit sudah gelap. lalu Hujan turun lebih deras sore itu.
Langit kota yang sejak Pagi kelabu akhirnya benar-benar runtuh, menumpahkan air tanpa ragu ke jalanan, trotoar, dan atap bangunan. Pulang sekolah selalu terasa berbeda saat hujan turun—lebih lambat, lebih sunyi, dan entah mengapa, lebih penuh perasaan.
Di pusat kota, bel sekolah terakhir telah lama berbunyi. Rizuki melangkah keluar dari gerbang sekolah dengan tas disampirkan di satu bahu. Seragamnya tetap rapi meski hari telah melelahkan. Kemejanya kering, seolah hujan tidak pernah benar-benar menyentuh dunia kecil yang ia ciptakan di sekeliling dirinya.
Ia berjalan sendirian, Selalu sendirian. Beberapa siswa lain bergerombol di bawah atap, tertawa, mengeluh soal tugas, atau sibuk dengan ponsel mereka. Ada yang melirik Rizuki sekilas—bukan karena ia terkenal, melainkan karena caranya berjalan selalu berbeda. Tenang. Mantap, terlalu elegan untuk ukuran anak sekolah, Seolah ia tidak sekadar pulang sekolah, melainkan sedang menuju sesuatu yang lebih besar.
Rizuki membuka payung hitamnya dan melangkah ke trotoar. Hujan memantul di kain payung, menciptakan irama yang teratur. Matanya yang biru menatap lurus ke depan, namun pikirannya jauh melampaui sore itu.
Sekolah hanyalah satu lapisan hidupnya. Ia menghela napas pelan. "Hari yang panjang," gumamnya. Lalu sejenak ia melihat ke langit. Bukan karena pelajaran sulit. Bukan karena ujian. Melainkan karena harus terus-menerus menjadi seseorang yang bukan sepenuhnya dirinya.
Di sisi lain kota, di timur yang lebih ramai dan penuh warna, Vhiena baru saja keluar dari sekolah bersama Ayu dan Lala. "Akhirnya hujan juga," kata Vhiena sambil membuka payung bermotif kecil.
"Kamu ngomongnya kayak nunggu," sahut Ayu.
Vhiena tersenyum, menatap langit. Tetes hujan mengenai ujung rambutnya. "Aku memang nunggu," katanya ringan.
"Kenapa sih kamu selalu senang hujan?" tanya Lala heran.
Vhiena berpikir sejenak. "Karena hujan bikin semua orang jalan lebih pelan."
Lala mendengus kecil. "Alasan aneh."
"Justru itu," jawab Vhiena sambil terkekeh. "Kalau semua orang pelan, kita bisa lihat sekitar lebih jelas."
Mereka bertiga berjalan berdampingan menyusuri trotoar. Seragam mereka sedikit basah di bagian bawah, sepatu menghindari genangan air.
Suasana sore itu hangat meski hujan turun deras. Ada tawa kecil, obrolan tentang guru, tentang tugas, tentang rencana akhir pekan.
"Vhin, kamu jadi ikut lomba cerdas cermat itu kan?" tanya Ayu.
"Masih mikir," jawab Vhiena jujur. "Takut nggak cukup bagus."
"Kamu selalu bilang begitu," sela Lala. "Padahal nilaimu paling stabil."
Vhiena tersenyum tipis. "Stabil bukan berarti hebat."
Mereka terus berjalan. Tanpa mereka sadari, langkah mereka perlahan mendekati wilayah pusat kota—daerah peralihan yang sering dilalui siswa dari berbagai sekolah.
Trotoar itu tidak terlalu ramai. Hanya suara hujan, deru kendaraan yang melintas perlahan, dan lampu jalan yang mulai menyala satu per satu.
Rizuki berjalan dari arah berlawanan. Langkahnya teratur. Posturnya tegap. Payung hitamnya menutupi sebagian wajah, namun aura yang ia bawa sulit untuk diabaikan. cara nya yang Elegan Bukan karena pakaian.
Melainkan karena caranya hadir.
Vhiena adalah orang pertama yang menyadari keberadaannya. Awalnya hanya sekilas. Sosok tinggi dengan payung hitam di kejauhan. Namun entah mengapa, pandangannya tertahan. "Eh," gumamnya pelan. Namun tatapan mata vhiena tadi sejenak bertemu dengan tatapan mata rizuki.
"Kenapa?" tanya Ayu.
"Nggak," jawab Vhiena cepat. "Nggak apa-apa."
Mereka terus melangkah.
Jarak semakin dekat. Rizuki menaikkan sedikit payungnya untuk melihat jalan dengan lebih jelas. Dan saat itulah—Tatapan mereka bertemu. Lebih dekat, Tidak lama, Tidak dramatis. Namun cukup untuk membuat waktu terasa melambat.
Mata biru bertemu mata coklat. Tenang bertemu hangat. Rizuki tidak menghentikan langkahnya dan Vhiena juga tidak, Namun ada sesuatu yang tertinggal di antara tatapan singkat itu.
"Kamu kenal dia?" bisik Lala, menyadari perubahan kecil di ekspresi Vhiena.
"Nggak," jawab Vhiena tenang dan jujur.
Ayu dan lala menoleh ke belakang sejenak, refleks.
Rizuki sudah melewati mereka. Langkahnya tetap sama.
Tidak menoleh, Tidak memperlambat, Namun di balik ketenangan wajahnya Rizuki merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan.
Gangguan kecil di dalam sudut hati dan pikiran. Bukan ancaman, Bukan bahaya. Melainkan rasa asing yang lembut. Ia mengerutkan alis tipis. "Aneh," gumamnya.
Lampu lalu lintas berubah hijau, Rizuki melanjutkan langkahnya. Di belakangnya, Vhiena kembali berjalan bersama Ayu dan Lala. Sesekali vhiena masih berjalan dengan sedikit melamun. benang merah telah terikat Tipis Hampir tak terasa. Dan hujan menjadi saksi bisu dari awal yang belum mereka sadari.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/