NovelToon NovelToon
Reingkarnasi Jia Menjadi Istri Suami Yang Cacat Tahun 60 An

Reingkarnasi Jia Menjadi Istri Suami Yang Cacat Tahun 60 An

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa pedesaan / Terpaksa Menikahi Suami Cacat
Popularitas:21.2k
Nilai: 5
Nama Author: Smi 2008

Hehehe… jadi istri penurut, cengeng, penakut? Tidak buruk sama sekali. Setidaknya Jia bisa makan gratis tanpa kerja, cukup menumpahkan air mata, pasang wajah sedih dan imut… sambil tetap menggerakkan suami buasnya sesuka hati.

“Aku harus ke bengkel sebentar, sedikit lagi pekerjaan selesai,” Su Hao lalu berdiri, namun terduduk kembali. Ia menatap istrinya dengan serius, nada suaranya tegas.

“Jangan coba-coba kabur lagi, kalau berani…!”

Su Hao kemudian mencondongkan tubuhnya, mendekatkan mulut ke telinga Lu Jia dan berbisik:

“Kedua tungkaimu… akan ku jadikan bahan bakar besiku.” Ia pun berbalik lalu melangkah keluar rumah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smi 2008, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

“permainan ibu tiri"

Pipi dan hidung Jia perlahan memerah. Ujung bibirnya terasa bergetar tanpa izin, sementara matanya tiba-tiba terasa panas dan perih.

Tidak. Jangan menangis. Tidak ada yang menyakitimu.

Namun naluri yang sudah tertanam di tubuh ini bertindak lebih cepat dari logikanya. Sebelum sempat mengerahkan tenaga untuk menahan, suara isakan itu sudah meledak:

"Hiik... huwe...!"

Tangisnya meledak nyaring, menggema di ruangan sempit berdinding kayu. Air mata mengalir deras, membasahi pipi dan membuat pandangannya langsung kabur. Jia mengatupkan rahang sekuat tenaga, berusaha menahan getaran di bahu, tapi otot-otot tubuh ini seolah punya kehendak sendiri.

Sialan. Berhenti. Berhenti menangis!

Harga dirinya serasa diinjak-injak berkali-kali. Ia yang dulu hidup dari pertarungan ilegal, yang pernah meretakkan tulang lawan tanpa berkedip, sekarang bahkan tidak mampu mengendalikan tubuhnya sendiri. Lebih memalukan lagi ketika melihat alis Su Hao berkerut - dari sorot mata lelaki itu, Jia merasa dirinya tidak lebih berani dari bayi monyet yang baru belajar memanjat pohon.

"Hu... hu... kau suka marah... selalu marah... pemarah seperti beruang..." isaknya tersendat, suaranya terdengar merengek padahal di dalam hati ia ingin membentak balik. "Harusnya aku mati saja tadi... kenapa diselamatkan kalau tetap dimarahi?"

Jia mencoba memfokuskan pandangan yang kabur. Melalui air mata, ia melihat sudut bibir Su Hao sedikit bergerak - bukan marah, melainkan seolah sedang menahan tawa.

Dadanya langsung memanas. Dia mengejekku? Mengejekku he...?

"Anjing! Jangan tertawa!"

Kalimat itu meluncur keras lebih cepat dari pikirannya. Begitu keluar, Jia langsung membeku.

Mati aku.

Tatapan Su Hao berubah seketika. Dingin menjalar di sepanjang punggungnya, dan sebelum sempat mengutuk tubuh ini, bahunya sudah lebih dulu menegang lalu perlahan merosot ke bawah. Tangis yang tadi meluap deras mendadak tercekat di tenggorokan.

Su Hao membungkuk perlahan, tidak tergesa-gesa - justru gerakan santun itulah yang membuat suasana makin mencekam. Wajahnya turun hingga hanya berjarak sehela napas, dan Jia bisa mencium bau asap kayu serta besi panas yang melekat di bajunya.

"Kau bilang apa tadi?"

Jia ingin menatap balik dengan pandangan tajam, ingin berkata "apa urusanmu?" - tapi kelopak matanya terasa berat, pandangannya terlempar ke lantai, dan tangannya refleks menarik selimut hingga menutupi separuh wajah. Tubuhnya terus mundur sampai punggungnya bersentuhan dengan dinding kayu.

"A-aku..." keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Ia menekan bibir rapat-rapat, menggeleng kuat mencoba menahan reaksi, tapi isakan kecil tetap lolos. "Kau... hiks... kau tadi tertawa... aku sedih... kepalaku sakit... kau jahat..."

Kepalanya makin menunduk, bahunya mengecil seolah ingin menghilang. "Jangan melotot... aku takut..."

Dasar tubuh pengecut! Siapa yang takut? AKU tidak takut! makinya dalam hati, sementara lututnya justru gemetar samar.

Beberapa detik terasa lama sekali. Lalu sebuah telapak tangan besar menyentuh puncak kepalanya - gerakannya canggung, kaku, tapi tidak kasar. Jia langsung meringkuk makin rapat, napasnya makin terengah.

"Kemarilah. Jangan takut," suara Su Hao terdengar lebih lembut dari sebelumnya. "Aku ini suamimu."

Bagi Jia, kalimat itu tidak terdengar menenangkan sama sekali. Lebih mirip singa yang sedang berusaha meyakinkan mangsanya agar tidak kabur. Saat Su Hao mengulurkan tangan kembali, tubuh ini otomatis merapat ke sudut ranjang.

"Lu Jia."

Belum sempat bergerak lebih jauh, pinggangnya sudah ditarik masuk ke dalam pelukan yang kuat. Jia langsung kaku, punggungnya menegang lalu perlahan bergetar hebat - reaksi yang bertentangan dengan keinginannya sendiri.

"N-jangan pukul... sakit..." bisiknya nyaris tak terdengar, padahal pikirannya berteriak agar segera melepaskan diri.

Su Hao terdiam sebentar, lalu telapak tangannya mulai menepuk punggung Jia dengan irama lambat dan teratur. Sekali, dua kali, tiga kali.

"Tidak akan. Dari awal juga tidak pernah."

Jia tidak menjawab. Ia ingin mendorong lelaki itu menjauh, namun jemarinya justru tanpa sadar mencengkeram kain baju Su Hao.

Su Hao membuka sedikit selimut yang menutupi kepalanya agar ia bisa bernapas. Udara dingin segera menyentuh wajah dan leher Jia, membuat tubuh mungil itu refleks semakin membungkuk. Kelopak matanya mengatup rapat, ia bahkan tidak berani bergerak sedikit pun.

Melihat reaksi itu, Su Hao menghela napas pelan lalu menyandarkan kepala Jia ke dadanya. Telapak tangannya bergerak canggung di rambut gadis itu, mengusap perlahan berulang kali seperti seseorang yang sama sekali tidak pandai menghibur orang lain.

Anehnya, cara yang kikuk itu justru mulai berhasil. Getaran di bahu Jia berangsur melemah. Napasnya yang semula tersendat-sendat perlahan kembali teratur. Keringat dingin di dahinya ikut mengering, menyisakan rasa lelah yang berat.

Su Hao mengangkat tangannya dan menyeka sisa kelembapan di pelipis istrinya.

Oke. Makhluk cengeng. Sekarang berhentilah. Suamimu memang menyeramkan, tapi dia bukan tukang pukul. Kumohon, ini sangat memalukan. Pergilah dengan tenang.

Jia mencoba bernegosiasi dengan sisa emosi yang bukan miliknya. Rasanya seperti menenangkan bagian dari dirinya yang bukan dirinya sendiri. Aneh sekali - kali ini berhasil.

Rasa takut yang sejak tadi menguasai tubuhnya perlahan surut seperti air pasang yang ditarik kembali oleh laut. Tidak ada lagi sesak di dada. Tidak ada lagi dorongan untuk menangis. Detak jantungnya melambat, dan ketegangan di bahunya ikut mengendur.

Senyum lega baru mulai muncul ketika Jia berniat menarik diri dari pelukan itu dan kembali memasang wajah datarnya.

Tepat saat itulah suara ketukan terdengar dari luar, diikuti sapaan yang membuat kulitnya kembali meremang:

"Assalamu'alaikum."

Gerakan itu terhenti.

Su Hao menarik napas dalam-dalam. Ia berdiri tanpa berkata apa-apa dan melangkah ke arah pintu depan.

"Wa'alaikumussalam," balasnya singkat.

Di depan pintu, berdiri sosok yang membuat darah Jia seketika terasa dingin.

Wei Lanhua.

Ibu tirinya.

Wanita yang dikenal di desa berbicara lembut, tampak alim, seolah tak pernah menyakiti lalat. Namun setiap kali melihat senyum itu, Jia selalu teringat pada pisau yang disembunyikan dalam balutan sutra.

Pernikahan yang dipaksakan. Mahar yang ditentukan orang lain. Tangisan di malam pertama. Lalu jurang.

Semua itu dilakukan atas nama "penyucian".

Ingatan itu hanya sebentar, cukup untuk membuat perut Jia terasa mual, lalu kembali menghilang. Tidak perlu diingat sampai ke rincian terkecil sekarang.

Wajah ibu tirinya tampak anggun, namun terselip senyum yang terasa licik. Di tangannya membawa sekeranjang buah pir-barang murah yang biasa ada di halaman rumah warga, tidak akan membuatnya merasa rugi sedikit pun.

Jia mendengus dalam hati. Tumben sekali wanita ini datang? Sejak dulu, mereka sudah membuangku begitu pernikahan selesai. Pasti ada maksud jahat di balik kedatangan ini.

"Bagaimana keadaan putriku? Katanya dia baru saja terjatuh di jurang... hiks... pasti dia ketakutan. Aku... aku sangat khawatir," kata Wei Lanhua dengan suara bergetar, disertai isak tangis yang Jia tahu pasti hanyalah sandiwara murahan.

Su Hao tampak ragu sejenak, namun tetap berusaha bersikap sopan.

"Masuklah, Bu. Dia ada di kamar. Saya harap Ibu tidak mengaduk-aduk perasaannya. Lu Jia sedang sangat sensitif," ujar Su Hao tegas, sambil menyingkir memberi jalan.

Wei Lanhua melangkah masuk perlahan, matanya yang tajam dan penuh perhitungan langsung menyapu seluruh ruangan, hingga akhirnya berhenti tepat pada Jia yang duduk di atas pembaringan. Senyumnya mengembang lebar, namun tidak sampai ke matanya.

Jia hanya membalas dengan senyum miring yang samar.

Permainan apa lagi yang mau kau mainkan kali ini?

1
Yuni Anto
😍😍aku slalu setia menunggu nopel² KKA author 💪💪💪y kka
Latifa Ainum
ditunggu ya Thor😭🥳
Latifa Ainum
authorrrr, ini cerita nya g lanjut kah😭
Latifa Ainum: oke gpp Thor yg penting cerita nya lanjuttt,, aku tunggu ya Thor, semangat revisi sma ngetik nya Thor❤‍🔥🥳
total 2 replies
Pa Muhsid
ati ati coy kau memelihara jagal untuk tubuh mu dan cuan mu belum lagi si pandai besi kebayang kan tukang jagal dan tukang besi bersatu auto tamat disitu yicheng end sudah 😛😛😛
Yani
ayok crita nya d lanjut kan Thor 🥰🥰🥰
Yuni Anto
🙄sayang. di lewat kan🤩🤩cuan2ny🥰🥰🥰
Fahreziy
nexk
Smi
oh. Itu ucapan muslim Hui menyebut Assalamualaikum.
🌹🌼🍁embun nirmaladewi🍀🌻🌺
??????????!!!!!!!!!!
Elwana Muhamad
bagus
Yuni Anto
/Curse/hehehe/Curse/ada² aja kelakuan Jia 🥳🥳🥳 semangat 💪💪💪 ya Thor makasih update ny tiada henti selalu menanti update KKA../Pray//Pray//Pray//Kiss//Kiss//Kiss//Heart/
Fauziah Daud
hahaha... trusemangattt
Smi
👻 terimakasih 💝💝💝
Yuni Anto
😍hmn 🥰 makasih banyak KKA 🥳🥳🥳hati ku GE happy 🥳🥳🥳KKA author tersayang lagi sering banget kasih update terus 🥳/Kiss/🥳💪💪 semangat terus ya Thor 💪💪💪n sehat selalu Bwt kka 🤩🤩🤩/Determined//Angry//Determined//Angry//Determined//Determined/
Smi
hihiji, orang yg barunsaja kena apes
Fauziah Daud
lanjuttt
Smi
aku ...👋
Smi
sudah ku dagu😁
Yuni Anto
🙄saha atuh🤔tamu yg tak di undang ini bikin kita yg baca kena penyakit kepo pisan/Frown//Determined//Angry//Determined//Angry/
Lina Hibanika
siapakah tamu tak terduga itu 🤔
Lina Hibanika: kayak nya yg jari tangan nya bengkak 🤔
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!