Tujuh belas tahun lalu, Ethan Royce Adler, ketua geng motor DOMINION, menghabiskan satu malam penuh gairah dengan seorang gadis cantik yang bahkan tak ia ketahui namanya.
Kini, di usia 35 tahun, Ethan adalah CEO AdlerTech Industries—dingin, berkuasa, dan masih terikat pada wajah gadis yang dulu memabukkannya.
Sampai takdir mempertemukannya kembali...
Namun sayang... Wanita itu tak mengingatnya.
Keira Althea.
Cerewet, keras kepala, bar-bar.
Dan tanpa sadar, masih memiliki kekuatan yang sama untuk menghancurkan pertahanan Ethan.
“Jangan goda batas sabarku, Keira. Sekali aku ingin, tak ada yang bisa menyelamatkanmu dariku.”_ Ethan.
“Coba saja, Pak Ethan. Lihat siapa yang terbakar lebih dulu.”_ Keira.
Dua karakter keras kepala.
Satu rahasia yang mengikat masa lalu dan masa kini.
Dan cinta yang terlalu liar untuk jinak—bahkan ol
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desakan Menikah
Suasana ruang makan Adler Mansion malam itu terasa terlalu mewah untuk percakapan yang akan berakhir dengan teriakan.
Lampu kristal menggantung anggun di atas meja panjang berlapis taplak putih, di tengahnya berjejer lilin aromaterapi dan bunga mawar putih.
Namun ketenangan itu hanya bertahan sampai Helena Grace membuka mulutnya. “Ethan, umurmu tiga puluh lima tahun, dan mama belum juga punya cucu!”
Nada suaranya naik seiring dentingan garpu yang berhenti di udara.
Pelayan di sudut ruangan refleks menatap satu sama lain dengan panik.
Ethan, yang duduk tegak di ujung meja dengan jas hitamnya masih rapi, hanya mengangkat alis. “Ma, aku tidak menikah hanya karena alasan cucu.”
Helena mendengus, meletakkan sendoknya agak keras di atas piring. “Lalu karena apa? Karena kamu sibuk menikahi pekerjaanmu? Kamu pikir perusahaan itu bisa memberi mama cucu?”
Ethan tetap tenang, meneguk anggur merah di gelasnya. “Setidaknya perusahaan tidak berisik setiap malam, Ma.”
“ETHAN!”
Helena menatap suaminya di seberang meja. “Edmund, katakan sesuatu pada anak kita sebelum dia berubah jadi patung es seperti kamu!”
Edmund Kael Adler menurunkan koran yang sejak tadi ia baca, bahkan di meja makan pun ia tak pernah lepas dari kebiasaan itu. Tatapannya tenang, suaranya datar. “Kalau dia belum mau menikah, biarkan saja. Dia tahu apa yang dia lakukan.”
Helena menatapnya seperti hendak melempar piring salad. “Tentu saja dia mirip kamu! Dingin, kaku, dan selalu merasa hidupnya baik-baik saja padahal membosankan!”
Edmund mengangkat bahu ringan. “Aku tidak bosan. Aku punya kamu.”
Helena langsung mengerling sinis. “Jangan gombal. Aku sedang serius!”
Ethan menaruh garpu dan pisau dengan rapi, lalu menatap ibunya datar. “Ma, aku sedang tidak tertarik menjalin hubungan.”
Helena berdiri dan menatap anaknya dari seberang meja dengan dramatis. “Tertarik atau tidak, kamu harus menikah! Mama bahkan sudah siapkan profil calon istri untukmu.”
Ia menjentikkan jari ke arah pelayan, yang langsung menyerahkan map berwarna merah muda berisi foto-foto wanita muda dari keluarga terpandang.
Ethan melirik map itu sekilas, lalu berkata dingin, “Aku tidak sedang membuka lowongan posisi ‘istri’, Ma.”
Helena menatap tak percaya. “Apa sulitnya jatuh cinta, hah? Kamu tampan, kaya, cerdas! Tapi kalau tidak ada usaha—”
Ethan memotongnya pelan. “Aku hanya akan menikah dengan wanita yang tepat.”
Helena bersedekap. “Dan siapa itu? Siapa wanita yang sanggup menembus dinding es anakku?”
Ethan menatap ibunya sebentar, lalu tersenyum samar. “Kalau takdir mau, dia akan datang sendiri.”
Helena mendengus, frustrasi. “Yang datang sendiri itu cuma tagihan listrik, Ethan!”
Edmund menahan tawa kecil di balik napasnya. “Atau masalah.”
Helena mendelik ke arah suaminya. “Jangan sok lucu, Edmund.”
Ethan berdiri, merapikan jasnya. “Terima kasih atas makan malamnya, Ma. Tapi aku ada pekerjaan yang belum selesai.”
Helena menatapnya putus asa. “Ethan, setidaknya pikirkan keluarga. Mama ingin melihatmu bahagia sebelum rambut mama benar-benar memutih.”
Ethan menatap ibunya sebentar, nada suaranya melembut. “Aku bahagia, Ma. Hanya saja, mungkin caraku berbeda.”
Ia berjalan keluar dari ruang makan, meninggalkan Helena yang masih mengeluh dan Edmund yang sudah kembali membaca koran seolah tidak terjadi apa-apa.
Helena menatap punggung anaknya yang menghilang di ujung koridor. Ia berbisik kesal, “Aku yakin dia bahkan tidak punya pacar!”
Edmund menurunkan korannya pelan, tersenyum tipis. “Kamu akan terkejut.”
...----------------...
Di sebuah rumah sederhana, sinar matahari pagi menembus tirai jendela, menampar wajah seorang wanita cantik berusia 33 tahun yang masih terlelap di atas ranjang.
Keira Althea.
Rambutnya acak-acakan, eyeliner masih sedikit belepotan — bukti nyata dari malam clubbing hebohnya semalam.
Jam di meja sudah menunjukkan pukul 07:25.
Alarm ponsel berbunyi—untuk kesekian kalinya.
“Ugh… lima menit lagi…” gumam Keira, menutup wajah dengan bantal.
Namun, dari dapur terdengar suara piring dan aroma roti panggang.
Seorang pria tampan dengan wajah datar khasnya, sudah duduk di meja makan. Ia sedang menyeruput kopi—ya, kopi, bukan susu, sambil membaca artikel otomotif di tablet-nya — kebiasaan pagi yang tak pernah berubah.
Aiden Rhys.
Remaja 17 tahun itu menatap arlojinya sekilas, lalu mendengus. “Tujuh dua puluh lima. Tiga… dua… satu…”
“AAAAH! AKU TELAT!!”
Teriakan Keira menggema dari kamar.
Aiden hanya mengangkat alis tipis, tidak terkejut sama sekali. “Pagi yang biasa,” gumamnya datar.
Beberapa detik kemudian, Keira keluar dari kamar sambil berlari-lari kecil, rambut berantakan, kemeja setengah masuk ke rok.
Tangannya sibuk memegang eyeliner dan tas kerja bersamaan. “Aiden! Kenapa kamu nggak bangunin Mama, hah?!” serangnya.
Aiden tidak mengangkat pandangan dari piringnya. “Aku udah bangunin. Tiga kali. Mama cuma jawab ‘lima menit lagi’ terus tidur lagi.”
Keira melotot. “Kamu tuh—”
“Efisien?” potong Aiden, datar.
Keira mendengus, lalu buru-buru ke dapur. Ia berhenti sejenak, menatap meja makan yang sudah tertata rapi: dua piring, roti panggang, telur mata sapi, dan segelas jus jeruk. “…Kamu yang masak?”
Aiden tidak mengangkat kepala. “Kalo bukan aku, siapa? Setan dapur?”
Keira meringis malu. “Kamu tuh anak SMA tapi gaya udah kayak suami ngurus istri mabuk.”
“Ya, karena istrinya yang mabuk itu kebetulan mamaku,” jawab Aiden tanpa ekspresi.
“Kurang ajar!” Keira melempar tisu ke arah anaknya, tapi Aiden hanya menunduk menghindar dengan refleks cepat.
Mereka makan dalam diam beberapa menit sebelum Keira bersuara lagi, suaranya lembut tapi jengkel. “Kamu tuh, Aiden, jangan sering berantem di sekolah. Mama capek denger wali kelas telepon mulu.”
Aiden mengunyah perlahan. “Mereka yang mulai dulu.”
“ALASAN!” seru Keira, menunjuknya dengan garpu.
“Fakta,” jawab Aiden tenang, lalu meneguk jusnya.
Keira menghela napas berat, lalu memandangi anaknya yang wajahnya semakin mirip seseorang dari masa lalunya. Ada tatapan dingin yang sama… juga cara bicara yang terlalu kalem tapi tajam. “Mama sumpah, kamu makin gede makin kayak… ya, entahlah. Kayak orang yang bikin Mama stres waktu muda.”
Aiden menatapnya sebentar. “Berarti trauma Mama diturunkan genetik.”
“APA?!” Keira hampir tersedak roti.
Aiden berdiri, mengambil tas ranselnya. “Udah jam tujuh lewat. Aku nganterin Mama sekalian. Kantor Mama satu arah sama sekolah.”
Keira memandangnya curiga. “Kamu yakin bukan karena mau nebeng bensin Mama?”
“Sebagian,” jawab Aiden jujur.
Keira mendecak. “Tuh kan!”
Namun ia tersenyum kecil tanpa sadar.
Halaman Depan Rumah...
Aiden memeriksa motornya — motor custom hitam dengan emblem Reign kecil di tangkinya.
Keira melangkah ke mobilnya sambil menatap motor itu dengan curiga. “Kamu jangan kebut-kebutan di jalan lagi, Aiden. Kalau sampe ketahuan, Mama jual tuh motor!”
Aiden memasang helm, suaranya tenang. “Mama udah ngomong itu dua belas kali minggu ini.”
“Dan bakal Mama ulang sampai kamu nurut!”
“Udah kebal.”
Keira menatapnya kesal, tapi wajahnya melunak melihat anaknya memeriksa rem dan lampu motor dengan teliti. “…Ya udah, hati-hati, ya.”
Aiden berhenti sebentar. Itu jarang sekali. Ia menatap Keira, lalu tersenyum tipis. “Siap, Ma.”
Keira masuk ke mobil dan menyalakan mesin.
Namun begitu mobil mulai melaju pelan di belakang motor Aiden, ia membuka kaca jendela dan berteriak. “KALO SAMPE KEBUT, MAMA PASANG GPS DI MOTOR KAMU, NGERTI?!”
Aiden yang di depan hanya melambaikan tangan tanpa menoleh. “Kalau Mama pasang, aku yang matiin sinyalnya duluan!”
Keira menggerutu sambil tertawa kecil. “Dasar bocah ngeselin.”
Mobil dan motor itu pun melaju bersisian menuju pusat kota.
Bagi orang lain, itu mungkin cuma pemandangan ibu dan anak yang ribut setiap pagi.
Tapi bagi Keira, di tengah segala kekacauan hidupnya, Aiden adalah satu-satunya alasan ia terus berjuang.
...****************...
tutur bahasanya rapi halus tegas jarang tipo atau mungkin belum ada
semangat tor 💪💪💪