Medina Khaled, gadis cantik bermata Hazel dari Ghaza yang telah di adopsi oleh seorang dokter relawan bernama Yasmin Ameena, dan suaminya bernama Ardan Mahesa, memiliki putra tunggal Rendra Mahesa.
Dokter Yasmin menolong Medina di bawah reruntuhan bangunan. Gadis itu masih bisa di selamatkan.
Dokter Yasmin merasa iba pada Medina yang sebatang kara, ia membawa Medina pulang ke Indonesia dan menjadikan nya anak angkat.
Setelah dewasa, Medina menolak tawaran dokter Yasmin untuk melanjutkan studinya di Amerika menyusul Rendra yang sudah disana. Medina ingin bekerja, belajar mandiri. Dokter Yasmin tidak ingin kehilangan Medina. Akhirnya ia menyuruh Rendra untuk pulang, dan menikahi Medina. Mau tak mau, ke-duanya harus menuruti keinginan dokter Yasmin, walau Rendra sudah memiliki kekasih. Rendra menyayangi Medina, tapi ia punya selera di luar sana. Membuat Rendra bermain di belakang Medina.
Bagaimana kah kelanjutan Rumah Tangga nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosseroo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Delapan tahun berlalu. Medina tumbuh menjadi gadis dewasa yang lembut dan bijak. Setelah lulus SMA, ia menolak tawaran Yasmin untuk melanjutkan studi ke luar negeri.
“Aku sudah terlalu banyak menerima kebaikan, Bunda. Biarkan aku bekerja dan hidup mandiri di sini,” katanya pelan.
Namun, Yasmin yang semakin menua merasa khawatir. Ia ingin memastikan masa depan Medina aman sebelum dirinya tiada.
Suatu hari, Yasmin berbicara kepada Rendra yang sedang berada di Amerika.
Ddrrtt... ddrrtt...!
"Ahh siapa sih ganggu aja... " desah suara wanita yang tengah terlentang di atas ranjang.
"Bunda.. ini bunda ku. Aku angkat telefon dulu. " tegas Rendra meninggalkan wanita yang sedang di ujung hasrat itu.
"Hallo bund, ada apa?"
“Nak, pulanglah. Bunda ingin....... Kau menikahi Medina.”
Rendra terdiam. Sedikit lama ia berpikir. Permintaan itu bukan hal kecil. Tapi demi ibunya—dan demi gadis yang dulu selalu memandangnya dengan mata penuh rasa hormat—ia pun bersedia untuk pulang.
"Baik bund. Besok Rendra akan pulang. Apa Medina juga setuju dengan permintaan bunda? "
"Dia anak yang soleha Ren, tidak akan menolak keinginan bunda yang ini.. Pulanglah, Bunda menunggumu."
Rendra sedikit menghela nafas, pandangannya jauh menatap ke ujung jendela kaca. Ucapan bundanya baru dan, tak ayal membuat Rendra kembali melanjutkan ritualnya yang tertuda.
Rendra menoleh pada wanita yang sedang duduk dibatas ranjang, lalu mendekati nya kembali.
*****
Beberapa bulan kemudian, dalam upacara sederhana di halaman rumah, Rendra Mahesa dan Medina Khaled mengucap janji suci di bawah langit senja.
Takdir mempertemukan mereka dalam kenangan masa kecil Medina, dan kini, cinta yang belum mereka pahami sepenuhnya, akan mulai berakar perlahan.
“Saya terima nikahnya Medina Khaled binti almarhum Omar Nasser dengan mas kawin berupa emas Antam seberat 100 gram dan seperangkat alat salat, dibayar tunai!” satu tarikan nafas, Rendra mengucapkan ijab Qobul di depan penghulu.
Karena Medina anak yatim piatu, ia menggunakan wali hakim sebagai wali nikahnya.
“Saksi, sah?”
Dan para saksi akan menjawab:
“Sah.”
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Alḥamdu lillāhi rabbil ‘ālamīn, waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā asyrafil anbiyā’i wal mursaliin, sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Allāhumma bārik lahumā, wa bārik ‘alayhimā, wa ajma‘ baynahumā fī khayr.
“Semoga Allah menjadikan rumah tangga kalian sakinah, mawaddah, wa rahmah. Diberi keturunan yang saleh dan salehah, panjang umur dalam keberkahan, dan rezeki yang halal lagi melimpah. Āmīn.”
“Alhamdulillah, akad nikah antara saudara Rendra Mahesa bin Ardan Mahesa dan saudari Medina Khaled binti almarhum Omar Nasser telah sah. Selanjutnya, mohon kedua mempelai, wali, serta para saksi untuk menandatangani dokumen pernikahan.”
“Dengan ini, secara resmi saya serahkan buku nikah warna coklat untuk suami dan buku nikah warna hijau untuk istri, sebagai tanda sahnya pernikahan di mata agama dan negara.”
“Selamat menempuh hidup baru.”
"Silahkan, untuk istri mencium tangan suami. Dan suami mencium kening istri. " tuntun sang penghulu lagi.
Selesai acara ijab qobul yang khidmat, malamnya suasana berubah gemerlap.
Lampu-lampu kristal menggantung indah di langit-langit gedung hotel bintang lima tempat resepsi digelar. Musik lembut mengalun, memadukan nada klasik dengan aroma bunga segar yang memenuhi ruangan.
Ayah dan Bunda Rendra menyambut tamu-tamu terhormat dengan senyum bahagia.
Para rekan bisnis, kolega ayahnya, juga sahabat-sahabat Rendra datang memberi ucapan selamat. Flash kamera tak berhenti menyorot kedua mempelai yang tampak anggun dan gagah dalam balutan busana adat modern.
Namun di balik senyum manisnya, Medina mulai merasa lelah. Tubuhnya terasa ringan, pandangannya sempat berkunang. Rendra yang menyadari perubahan wajah istrinya segera menunduk khawatir.
“Kamu capek, ya?” bisiknya lembut di telinga Medina.
Medina hanya mengangguk pelan, "Aku juga ngantuk.." bibirnya berusaha tetap tersenyum pada tamu yang lewat.
“Ayo, kita istirahat dulu,” ujar Rendra, sambil menggenggam tangan istrinya penuh kasih.
Mereka berdua pun perlahan meninggalkan riuh pesta. Di balik pintu suite hotel yang mewah, suasana berubah tenang.
Medina duduk di tepi ranjang, melepas sepatu hak tinggi sambil menarik napas panjang. Rendra menatapnya dengan tatapan lembut — bukan lagi sebagai tamu kehormatan malam itu, tapi sebagai suami yang ingin melindungi istrinya dari lelah dunia.
“Istirahatlah sebentar. Malam ini milik kita, tak perlu terburu-buru menyenangkan semua orang,”
"Mau ku bantu lepaskan gaunnya?" tanya Rendra. Tanpa penolakan, Medina menurut saja.
Rendra membantu membukakan ret seleting panjang di bagian belakang.
ujarnya sambil menyelimuti Medina. Lalu Medina pun berjalan cepat menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Usai dengan ritual mandinya, Medina hanya mengenakan bathrobe yang tersedia di kamar hotel. Sesungguhnya ia sangat malu, namun ia tahu suaminya bukan lah seperti binatang biasanya akan siap menerkam kapan saja. Rendra menepuk ranjang sebelahnya agar Medina duduk.
" Sudah mengantuk?"
Medina mengangguk. "Iya kak, aku capek sekali." jawanya manja.
"Tidurlah, besok pagi kita akan take off ke Maldives." ungkapnya sambil menyelimuti Medina. Medina menutup semburat malu di wajahnya di balik selimut.
Medina memang sayang pada Rendra, namun rasa sayangnya masih seperti adik kepada kakak. Entahlah, pernikahan ini begitu tiba-tiba, dan ia tak mampu menolak. Karena ia pun tahu, Rendra sosok lelaki yang baik selama ia mengenalnya.
Medina menatapnya, tersenyum lemah, lalu memejamkan mata. Di luar, pesta masih berlanjut dengan gemerlap cahaya. Tapi bagi keduanya, malam itu telah menjadi awal dari kehidupan baru — tenang, sederhana, dan penuh janji yang belum terucap.
"Aku tak akan terburu-buru. Aku akan menunggumu sampai kau siap." lirih Rendra, menatap Medina yang tengah terlelap. Rendra dengan telaten mengusap lembut kepala Medina. Dia memang dari dulu sayang pada Medina, namun hanya sayang sebagai adik. Tapi pernikahan ini, akan menjadi awal bari bagi kehidupannya. Dan akan mencintai Medina.
...----------------...