Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.
.
.
Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.
"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.
.
.
"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.
.
.
"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam
Malam berikutnya Adri kembali mengajakku makai barang itu. Katanya kali ini permen neraka yang di dapatkannya adalah kualitas terbaik. Tapi kutolak dengan alasan sibuk menyiapkan diri untuk kuiz hari Rabu dan menjanjikan ke Rabu malam selanjutnya.
Seperti yang kujanjikan, malam itu kami nongkrong dulu di Starbucks, Rehan dan John juga ada. Tapi kali John membawa seorang gadis, namanya Erin. Tadinya Rehan ingin juga mengajak ceweknya, tapi di batalkan karna bingung bagaimana membawa pulang nanti, sementara di rumah masih ada temannya yang menumpang tinggal.
"Kalau Adam mau juga main sama Liza sekali gak apa-apa sih. Gue asyik asyik aja. Tapi masalahnya itu gak akan mungkin. Yang ada gue yang di usir dari rumah itu nanti." Ucapan Rehan membuat kami semua tertawa ketika dengan santainya dia menyatakan keinginan untuk threesome bersama teman satu kamarnya--Adam.
"Btw, berapa lama lagi dia tinggal di tempat kita?" John bertanya. Sementara tangan Adri yang memelukku mulai memainkan ibu jarinya di perut.
"Paling lama akhir Minggu ini," jawab Rehan sambil menyeruput minuman di depannya.
"Akhir Minggu ini?" Adri tiba-tiba menyala tepat di sebelah telingaku membuat aku bergelinjak. Dia pun berbisik 'sorry' padaku dan mencium telingaku sebagai tanda maaf, lalu kembali memandang Rehan.
"Paling lama, bro. Kalau rumah dia udah kelar, dia cabut lah," jawab Rehan sambil menyandar, seolah menjauhkan diri dari emosi Adri yang tiba-tiba datang.
"Oke, tapi gue gak mau melihat dia. Terserah Lo mau bawa dia kemana, kurung dia di kamar kek, asal jangan sampai gue melihat dia lagi." Adri mendengus.
"Santay, bro. Dia itu sibuk. Ada hal yang mau dia selesaikan. Dia cuma menumpang tidur aja di rumah kita, jadi gue pastikan Lo gak akan ketemu dia." Rehan coba memberi pengertian pada Adri.
"Eh, siapa yang kalian maksud?" Erin tiba-tiba menyela.
"Noh, teman si Rei. Katanya mau numpang tinggal di rumah kami. Tapi lansung musuhan sama si Ad karna sok alim. Dia juga ngelarang Winda masuk ke kamar Adri. Kocak emang." John menceritakan.
"Oh...orangnya ganteng gak?" tanya Erin lagi sambil melirik manja John.
"Kalau itu, tanya Winda aja. Kalau the boys yang jawab, nanti di kira gay lagi. Haha." John tertawa, di ikuti Rehan. Adri hanya tersenyum tipis.
Erin beralih memandangku. Dari raut wajahnya jelas terlihat menanti jawabanku.
"Hm...." Aku sendiri tidak tahu harus memberi jawaban apa. Perlahan aku menoleh pada Adri dan riak wajahnya seolah tidak peduli akan jawabanku. Dia malah mengisap vape di tangannya.
"Winda! Ganteng gak?" Erin mendesakku dan aku hanya cengar-cengir mencari jawaban yang tepat. Wajah Adam yang sudah kulupakan kini kembali muncul, membuat jantung kembali berdenyut lebih cepat.
"Hmm...sorry, gue gak begitu ingat." Hanya itu jawaban yang keluar dari bibirku. Rehan, Jhon, Erin tertawa besar. Aku menoleh ke arah Adri, dia hanya tersenyum sinis.
"Mikirnya lama banget, tapi jawabannya gak ingat. Ceh! Alibi yang nyata." John seolah sengaja memojokkanku.
Sejujurnya aku hanya tidak mau membicarakan lelaki itu lagi.
Erin mengambil vape di tangan John dan mengisapnya. "Kalau gitu, malam ini aku kerumah kalian ya? Aku mau melihat sendiri gimana sih orangnya."
"Kalo Lo mau di ceramahi dia. Where not? Atau kalau gak, kita gangbang aja malam ini di rumah. Biar mulut si gayboy itu makin berkicau ceramahi kita. Haha," balas John dan tertawa sendiri, lalu mengambil kembali vapenya dari tangan Erin.
***
Pukul 11 malam, kami berlima pulang kerumah kontrakan Adri. Hatiku sedikit berdebar membayangkan jika nanti bertemu kembali dengan lelaki itu. Sebelaliknya, Erin tampak begitu semangat ingin bertemu lelaki itu. Belum tau saja dia bagaiman jaim-nya lelaki itu.
Satu persatu masuk kedalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu. Rehan tiba-tiba berlari ke kamar mandi setelah mengadu skit perut.
"Sakit perut atau sakit hati karna gak ada partner buat indehoi?" John sengaja menggoda.
"Alah, Adam the gayboy kan ada. Adu pedang lah mereka nanti." Adri ikut menyela sambil menarikku ke dalam pelukannya.
Melihat keintimanku dengan Adri, Erin pun menarik John ke dalam pelukannya dan mereka mulai berciuman. Aku dan Adri pun melakukan hal yang sama. Tapi John dan Erin makin bersemangat, hingga terdengar desahan halusnya.
"Guys! Adam udah di bawah, dia lagi on the way keatas!" Rehan tiba-tiba berteriak seperti orang kepanikan setelah membaca pesan yang masuk ke ponselnya.
Erin lansung menjauhkan wajah dari John seolah tidak sabar menantikan lelaki itu. Tapi Adri malah coba ingin melanjutkan kembali ciuman tadi, tapi aku tolak.
"Heh, ini rumah kita. Apa masalahnya dengan Dia? Emangnya dia bawa Pol PP buat grebek kira." Adri mendengus, lalu berdiri masuk ke kamarnya, meninggalkan aku sendiri di sofa.
Aku dan Erin saling berpandangan mendengar komen Adri tadi, tentu kami cemas.
"Kalau dia benar-benar bawa Satpol PP gimana? John kan bukan muslim, aku harus kawin dengan Rehan dong?" Sempat-sempatnya di situasi panik ini Erin melontarkan kata-kata itu.
Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu, membuat Erin melompat karna kaget.
Rehan memberi isyarat agar kami semua diam, lalu berjalan kearah pintu.
"Siapa?" Rehan sedikit teriak di depan pintu.
"Adam." Suara di luar jelas terdengar.
"Lo bawa siapa?" Rehan kembali bertanya.
"Bawa siapa apanya?"
Rehan menolah kebelakang sebelum membuka pintu.
Kukihat kening Adam berkerut melihat gelagat Rehan yang mencurigakan.
"Ada apa?" tanya lelaki itu pada Rehan. Mungkin belum menyadari kehadiran aku dan Erin di dalam rumah ini.
"Hah, gayboy udah datang?" Adri kembali muncul di pintu kamarnya.
Adam menoleh kearah Adri dan di sanalah dia baru sadar kehadiranku dan Erin di dalam rumah. Matanya seolah menikam mataku dan keningnya lansung berkerut.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Suaranya menunjukkan ketidak sukaan. Erin berdiri dan dengan manjanya mendekati Adam.
"Jadi, kamu yang namanya Adam?" tanya Erin dengan nada manjanya. Adam melarikan pandangan ke wajah Erin dan mengangguk pelan.
"Ternyata kamu jauh lebih ganteng dari yang kubayangkan. Mau gak jadi pacar aku?" ujar Erin secara gamblang dan dengan manjanya menyentuh lengan baju lelaki itu dengan ujung jari. Tapi lelaki itu mengalihkan tangannya. Gerakannya sangat halus, jika tidak di perhatikan baik-baik tidak akan ada yang tau.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Adam. Wajahnya jelas menunjukkan ketidak sukaan.
"Ya, ingin ketemu kamu lah. Tadi mereka banyak cerita tentang kamu," jawab Erin.
Rehan sengaja menjauhkan diri seolah ingin melihat aksi Erin menggoda Adam. Sementara John sejak tadi hanya memperhatikan saja sambil menghisap vapenya.
"Ini tempat tinggal lelaki. Tidak baik kamu berada di sini." Adam mulai menunjukkan sisinya yang sok alim. Hatiku tiba-tiba geram mendengarnya. Tapi Erin malah seperti tertantang, semakin mendekati Adam yang belum juga beranjak dari pintu.
"Aku hanya ingin bertemu kamu. Emang itu salah?" Erin membuat muka sayu seolah merajuk.
"Kalau ingin bertamu di luar. Bukan disini." Adam menjawab tenang.
"Oke. Tapi kamu harus berikan nomor ponselmu dulu. Baru aku pergi," balas Erin sambil mengulurkan hpnya pada Adam. Beberapa saat Adam memandang gejet itu seolah sedang membuat pertimbangan. Dan tidak kusangka dia malah menoleh padaku sebelum mengambil hp dari tangan Erin.
Aku yakin Adri pasti menyadari pandangan Adam sesaat tadi, karna Adri lansung duduk di sampingku dan memelukku.
"Yei! Makasih ya ganteng." Erin bersorak riang. "John, tolong antarkan aku pulang?" sambungnya tanpa mengalihkan pandangan dari Adam.
Jahn melepaskan keluhan halus, tapi dia tetap berdiri dan menarik tangan Erin keluar.
"Bye, ganteng! Nanti aku telpon ya, jangan sampai gak di jawab?" Masih sempat Erin melambai manja sebelum hilang di balik pintu.
"Gue pikir bakal immune. Tapi sekali melihat cewek seksi luluh juga."
Suasana berubah tegang kala Adri melontarkan ejekan.
Kulihat wajah Adam biasa saja, malah dia seperti menajamkan pandangannya padaku.
"Winda, saya tahu, kamu adalah perempuan baik-baik."
Kata-katanya yang singkat itu cukup membakar hatiku, lalu aku berdiri. "Lo itu munafik! Apa masalah Lo kalau pun gue menghabiskan malam bersama kekasih gue? Siapa Lo, hah? Gak usah sok sibuk mengurus urusan yang bukan jadi masalah Lo!" bidasku penuh emosi.
"That's my girls!" Adri bertepuk tangan seolah mendukung apa yang kulakukan. Lalu dia berdiri dan mencium pipiku.
"Kalau sudah selesai, aku tunggu di kamar, baby," bisik Ad tepat di sebelah telingaku, lalu dia beranjak kekamarnya.
"Ya, saya bukan siapa-siapa. Tapi sungguh, saya tidak sanggup melihat kamu di perlakukan seperti ini." Adam kembali bersuara.
"Shut up! You just Gabe your number to Erin, for what? Jangan pikir gue ini bodoh. Dari cara Lo, gue tau Lo ngarap dia menghubungi Lo kan?"
Adam nyaris tertawa mendengar kata-kataku barusan. Apa dia pikir aku sedang melawak?
"Mengharap dia menghubungi? Sayangnya saya tidak mengharapkan itu sama sekali. Maaf sebelumnya, bukan ingin membanggakan diri. Tapi memang di luar sana banyak wanita yang mati-matian mengejar saya, tapi saya tolak karna saya menghargai mereka."
Jawabannya membuat hatiku bertambah panas. Mau unjuk gigi rupanya. Oke. Kulihat kedua tangan dengan pandangan sinis padanya. "Oh, jadi Lo mau bilang kalau Lo ini orang paling alim lah ya? Manusia suci yang gak ada dosa sama sekali?"
Adam malah tertawa dan entah kenapa marahku tadi lenyap seketika melihat tawanya itu.
"Maksud saya bukan begitu Winda," katanya masih tertawa kecil. "Saya berikan nomor pada Erin bukan mengharap dia menelpon saya, tapi saya ingin dia segera pergi. Itu saja," terangnya sambil melangkah kearah kamar Rehan.
"Winda, kalau kamu masih menghargai dirimu sendiri. Sebaiknya pulanglah." Dia kembali bicara dengan suara pelan sebelum melanjutkan langkah masuk kedalam kamar Rehan.
Baru aku sadar ternyata hanya aku dan dia saja yang ada di ruang tamu ini.
Aku menghela nafas lega karna tidak perlu lagi berdebat dengannya. Namun, marahku tadi belum sepenuhnya hilang. Aku masih sakit hati dengan sikapnya yang sok alim. Perlahan aku menoleh kearah pintu kamar Adri yang tertutup. Karna masih geram dengan Adam, aku melangkah juga masuk kekamar itu.
Tapi tak kusangka Adri malah sudah tidur. Mungkin efek permen neraka yang di konsumsinya tadi.
Kutinggalkan nota untuk Adri sebelum keluar dari kamarnya. Hati masih menyimpan dendam
dengan gaya Adam tadi yang masih sok alim.
Dia pikir dia bisa merendah dan tetap terlihat paling suci? Oke. Kita lihat siapa yang akan tunduk nanti?