NovelToon NovelToon
The Legend Has A Risen

The Legend Has A Risen

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi / Light Novel
Popularitas:121.5k
Nilai: 5
Nama Author: felix ehe

Seorang siswa SMA kelas 1 bernama Felix Fortune atau dikenal sebagai Shadow di dunia maya yang dijuluki Bug sekker.
Dia meninggal karena tersetrum aliran listrik dan jiwa dia dipindahkan ke alam baka oleh sang suara misterius,Felix diberi kesempatan untuk hidup lagi tapi bukan di dunia nya melainkan didunia lain yang dipenuhi sihir dan pedang.
Felix menyetujui hal itu dan berkeinginan untuk bersantai tanpa terlibat masalah besar apapun di dunia itu,namun saat jiwa Felix sudah dipindahkan tanpa dia sadari kalau dunia yang dimaksud adalah dunia game OPEN RPG sebagai karakter nya sendiri yaitu Shadow knight yang melegenda, mau tidak mau Felix harus membuat para Sloven hidup damai juga tanpa gangguan manusia.
Perjalanan panjang sang legenda yang ditakuti oleh seluruh ras telah dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon felix ehe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa sangka?

"Hidup kembali.." mata ku bersinar keunguan, menatap lurus kearah langit.

Bersih, langit itu sungguh bersih tanpa adanya awan, rasanya sinar matahari yang menerpa kulit ku jauh lebih hangat dari yang ku ingat.

Jantungku.. setiap kali memompa, aku bisa merasakannya, ini cukup besar. Aku bisa menghirup banyak sekali udara dalam sekali tarikan, rambut ku bersandar nyaman pada rerumputan.

Rerumputan panjang, melewati alis mata ku sendiri, badan ku berbaring, aku sempat sesak, kesulitan untuk beradaptasi "Apa.. Ini tubuh baru?"

Aku bertanya dalam diam, pelan-pelan mulai berdiri. Aku kesulitan, tubuh ku sangat berat dan cukup untuk membuat ku terengah-engah, rambut berantakan menghalangi  pandangan ku, aku terhuyung dan pikiran ku bingung, rasanya tubuh ini menolak keberadaan ku sendiri

Setelah akhirnya aku berhasil berdiri tegak dengan benar, kepala ku menatap kebawah, melihat jarak antara pandangan ku dengan permukaan tanah sangatlah jauh

"Sial.. Besar sekali tubuh ini.."

Pandangan sempat kabur selama beberapa saat, aku memaksakan diriku untuk berjalan pelan-pelan kedepan, melihat Padang rumput yang luas.. Sangat luas. "kupikir aku akan mendapatkan kembali tubuh ku.. Tapi sepertinya aku dipindahkan ke tubuh seseorang.. "

"Atau monster?"

Lengan ku terbuka, aku memperhatikan pakaian ku sendiri, seperti gaun atau seragam berlengan panjang, gelap keunguan, tebal dan sangat panas. Sulit rasanya untuk bergerak dengan berat seperti ini "Sungguh.... Orang yang sangat..  modis.."

Aku berdiri diam, mengedipkan mata ku berkali-kali sembari merapikan rambut ku "Jadi aku tidak mendapatkan ingatan apapun dari wadah ini?"

"Mungkin.. Aku bisa mencari sesuatu yang berguna.." tangan ku menjelajahi tubuh ku sendiri, hingga berakhir tangan ku menyentuh belakang pinggul ku sendiri, sebuah katana.

Atau semacamnya?

Aku merogoh belakang pinggul, melepaskan katana tersebut dari ikatannya.

Katana itu.. Cukup unik?   Sarung ungu gelap dengan kaca penyimpanan yang memanjang dari atas hingga bawah, terdapat banyak sekali tangan gelap yang mengunci gagang bersama dengan sarung

Perlahan aku membuka sarung katana tersebut, sempat ada penolakan dari segel tapi akhirnya segel itu lepas.

Bahkan tanpa perlu membuka sarung sepenuhnya, aku bisa melihat, bilahnya tajam dan putih bersih, jari ku mengusap bilah tersebut dengan hati-hati

"Material yang tertanam, terasa familiar..."

Aku mengamati, hanya untuk menyadari penglihatan ku mulai berwarna ungu, rasa sakit yang luar biasa meracuni mata dan otak. Aku menjerit kesakitan, mencakar kedua mata ku sendiri.

Aku melihat yang seharusnya tidak pernah ku lihat..

Ini menyakitkan, tubuh ini tidak terlatih untuk menahan hal itu tapi ini tidak pernah mau berhenti.

Rasa sakit itu menjalar, aku terhuyung dan berakhir tersungkur di tanah "Ukh.. A.. Apa-apaan ini.. Rasanya aku ingin mencabut kedua mata ku sekarang.."

Katana terbuang, aku menahan erangan saat aku terus mencakar wajah ku sendiri, mencoba untuk menarik bola mataku.

Tangan ku yang lain mencari batu, kerikil, dan apapun itu hanya untuk aku kumpulkan secara tergesa-gesa dan langsung menghantamkan semuanya tepat pada mata ku.

Kepala ku berdengung setiap kali hantaman dan serpihan menghancurkan mata ku sendiri

"Sial!! Lepaskan itu dari penglihatan ku!" Aku menjerit kencang, mata yang harusnya menjadi bagian paling sensitif, sekarang menjadi sulit untuk dihancurkan

Rasanya begitu panas, membakar wajah ku sendiri. Keinginan ku untuk melihat benar-benar hilang, rasa sakit menjadi semakin parah, aku menggeliat kesakitan dan akhirnya melepaskan jeritan kencang.

Suara keras memancing makhluk hidup mendekat, aku tidak tahu apa itu. Tapi aku tahu.. Aku bisa mendengar mereka mengintai dari dalam rerumputan.

Wajah ku menatap entah kemana, aku berhenti mengerang dan menggigit bibir ku begitu kencang, tawa ku keluar, merangkak dan menangkap apa yang ada di dalam rumput.

"Kalian memilih makan siang yang salah." Itu cair.. Cair dan lembut, tapi tangan ku bisa mencapainya, aku mencengkeram erat dan langsung memakannya, perasaanku penuh keinginan liar dan rasa lapar.

Gigi menghancurkan dan memecah setiap cairan, semuanya menjadi gelap, benar-benar gelap.

Sesuatu yang dingin dan kental, menyelimuti sekitar mulut. Badan ku berbaring, semuanya terasa lebih baik, atau setidaknya seperti itu, nafas ku terengah-engah dan pelan-pelan aku menelan semua yang ada di sekitar mulut ku.

Rasa sakit melekat, menghilang secara bertahap, sesuatu menggeliat. Tidak jelas seperti apa rasanya, itu menggeliat dari dalam mata, dingin menyakitkan kemudian panas dan hangat.

Aku lupa, kapan terakhir kali aku menjadi buta, sekarang aku bisa melihat kembali, dedaunan berterbangan, udara kembali berlayar diatas kepalaku.

Tanganku mengusap pelan pipiku sendiri, sudah tidak ada apapun lagi disana "Tadi aku memakan apa ya.." perlahan tubuh ku bangkit, rasa lelah sudah sepenuhnya menghilang dan setiap otot rasanya diperbarui lebih baik.

Rasa pusing, panas, dan rasa sakit sudah tidak ada. Itu nampaknya tidak pernah terjadi atau aku istirahat terlalu lamban. Mungkin melewati satu sampai dua hari

"Konsep seperti apa yang harusnya ku pelajari.."

"Tidak ada panduan? Atau sistem?" Tanganku terbuka sejenak, kemudian tertutup kembali. Mencoba untuk memanggil sesuatu, tidak ada, tidak ada apapun disana.

"Uh.. Jendela sistem?"

Tidak ada reaksi.

"Tampilkan aku sebuah statistik?"

Tidak ada reaksi.

"Kurasa aku terlalu berharap banyak, setidaknya aku masih memiliki ini." Mata ku berkedip pelan, aku tersenyum tipis melihat apa yang kulihat, setidaknya sekarang sudah tidak menyakiti diriku sendiri.

"Baiklah kalau ingin aku belajar sendiri. Kurasa itu adil, kalau konsepnya seperti ini. Aku bukan pemeran utama ya?" Tangan ku kembali meraih katana, berjalan menuntun diriku sendiri dengan katana tersebut sebagai tongkat.

"Darimana aku memulainya?"

Kalimat yang menemani pikiran ku dalam berjalan, masuk kedalam hutan.

Satu hal yang bisa ku pahami sepanjang perjalanan, memaksimalkan apa yang ku punya, itu tidak terlalu jelas. Aku hanya melihat bagaimana sesuatu keluar begitu melimpah, itu keluar dari pergelangan tangan, leher, dan beberapa area tubuh. Warnanya gelap, tipis dan hilang bersama udara seperti asap.

"Apa aku melakukannya dengan benar?" Bola gelap menggumpal di kedua telapak tangan ku, mengangkat rendah bola tersebut dan melirik ke belakang.

Sosok yang harusnya tidak pernah kulihat. Harusnya dunia ini tidak pernah menyimpan keberadaannya "Benar begitu.. Kau melakukannya dengan baik.." bisikan pelan, tangan ramping mengusap bahuku.

Dia berbaring nyaman, menggunakan kedua bahuku, wanita itu, dingin dan ia tidak lagi bernafas. Dia yang menjadi alasan kenapa aku tidak tersesat karena menjelajahi hutan ini.

Tidak hanya satu yang menempel, banyak tangan mereka yang mencengkeram kaki ku, mencoba menahan pergerakan ku sendiri

"Bagus, kurasa aku mulai mengerti." Aku mengangguk pelan, melenyapkan sepenuhnya bola tersebut.

Wanita tersebut mencengkeram erat bahu ku, ia pelan-pelan menjilat ujung telinga ku sendiri, terkikik pelan "Kalau begitu mengenai hadiahnya.."

Wanita itu tidak sempat menyelesaikan apa yang ia katakan, perhatian ku teralih, jeritan kencang. Timur, dari timur, bau darah, semuanya bisa ku cium dan ku dengar dengan baik.

Aku melesat mengikuti arah suara, tapi juga mengabaikan wanita itu jatuh begitu saja dari bahu ku, aku meninggalkan mereka "Terlepas dari seberapa berguna mereka di awal, mereka tetap jiwa yang meresahkan."

Bayangan gelap dari pepohonan, tertarik. Mengikuti hingga menempel pada anggota tubuh ku, menyelimuti seluruhnya, berakhir menyatu bersama gelapnya bayangan hutan.

Langkah ku terhenti, segerombolan orang dengan topeng dan zirah kulit, pedang, tombak hingga busur silang mereka bawa, sekelompok bandit. Menyergap dan menabrak sekelompok prajurit, satu kereta kuda tergeletak dan rusak.

Beberapa mayat prajurit, dengan dua prajurit tersisa dari mereka, perempuan dengan gaun modis bersama satu pelayan wanita bersembunyi dibalik kereta kuda. Jumlah bandit terlalu banyak dan tiap tebasan hingga ayunan mereka terlalu sempurna untuk bandit.

"Berikan perempuan tersebut, kami tidak ingin berurusan dengan kalian, " satu diantara bandit terkikik, membersihkan bilah pedangnya. Tanpa ragu berjalan mendekat

Satu prajurit akhirnya tumbang karena panah yang melesat, satu prajurit menatap kebelakang, zirahnya gemetar, pedang yang ia genggam semakin erat "Sarah! Bawa tuan putri dari sini! Aku akan menahan mereka!" Prajurit itu berteriak kencang, langsung menerjang ke para bandit bersama pedang, hanya untuk berakhir dipenggal.

Perempuan dan pelayan itu hendak berlari, terlalu lamban, sekelompok bandit muncul diantara pepohonan "Kau yang membuatnya menjadi lebih rumit," ucap bandit, mereka berjalan tanpa ragu dengan senyuman.

Perempuan itu ketakutan, tubuhnya dibalik pelayan, seperti mencoba merapal sesuatu dengan mulut yang terbata-bata, saat kedua tangannya tertutup rapat

Pelayan itu gugup, yang ia bisa lakukan hanyalah mencengkeram belati rapuh ditangannya.

Cukup bagiku untuk mengamat. Aku sudah paham situasinya.

"Sesuai dengan yang mereka katakan," perkataan ku memecah ketegangan. Aku lepas dari bayangan, sudah ada dibelakang perempuan dan mencengkeram tangan dia, para jiwa berbisik untuk menghentikan ritual yang ia lakukan.

Mata dia terbelalak, perempuan itu mendongak dan wajahnya semakin ketakutan, seperti menatap hal yang lebih buruk dari bandit.

Tapi itu efektif, ia berhenti merapal karena terlalu takut, aku melepas tangannya dan berjalan kedepan melewati mereka berdua.

Tubuh ku menjulang tinggi, menghalangi sinar saat sisa-sisa bayangan masih menempel. Koin emas ku lempar ke langit, menangkapnya kembali dengan senyuman lebar "Maaf semuanya. Putri Axtrasia, sudah terlebih dahulu ku pesan."

Suara ku lantang, para bandit menatap satu sama lain, hingga akhirnya satu bandit muncul dari sisi kereta kuda "Siapa kamu, berani memerintah kami. "

Wajah kami bertemu, alisku terangkat, mencibir "Pedagang, atau lebih tepatnya. Informan?"

Bisikan-bisikan para jiwa terus memenuhi telinga, mereka membisik tidak jelas, tapi dari bisikan itu juga aku mengerti apa yang tersangkut "Lagipula, tidak peduli darimana asal kalian, ada satu hal yang perlu kalian tahu. Kalian hanyalah berlindung dibalik nama cahaya." Tatapan ku menghina, aku tersenyum licik saat melihat para bandit mencengkeram erat senjata mereka dan. Tersinggung.

"Nampaknya peran mu sebagai informan sangatlah baik, sayangnya bakat mu berhenti disini." Tatapan para bandit tajam, satu dari mereka mengangkat senjata mereka "Aku tidak bisa membiarkan mu hidup."

Para bandit tanpa ragu langsung berlarian, mereka mencoba untuk menangkap ku saat aku hanya tertawa, menepuk tangan ku sebanyak tiga kali.

Tiga meter atau lebih? Aku sudah melihat mereka, berada di langit, senjata-senjata mereka berjatuhan ke tanah, mereka bergelantung disanaa. Menikmati pemandangan langit yang cerah.

"Kuharap kalian menikmati waktu kalian diatas sana!" Aku tersenyum tipis, setiap tombak gelap rasanya menusuk begitu pas dan sempurna pada rahang hingga leher mereka, tidak ada yang kabur dari penerbangan ini. Semuanya terbang secara sempurna.

Pelayan dan perempuan tersebut menatap ngeri, mereka tidak bisa berkata-kata. Tubuh mereka semakin tegang saat aku berbalik, aku mengulurkan tangan ku "Keberatan kalau aku menjadi kesatria bayaran mu? Setidaknya sampai kalian sampai di tempat tujuan."

Aku membutuhkan mata uang di dunia ini!

Bersambung

1
Pembenci MC naif dan lemah
gelap
Pur Wani: bg inpokan cerita yg MC nya ga naif dan lemah
total 1 replies
Pembenci MC naif dan lemah
mantap
Ardi Provision
suruh rahasiakan sama perempuan ya gini deh, jangan bilang2 ya, sekampung pada tahu 😂😂😂😂🤣🤣🤣
Ardi Provision
di cangkul sekalian 😂😂😂😂
saran thoor pakai bahasa baku, dirampok kek
kakek sholeh
hhhhh
kakek sholeh
kek nama pejabat dpr
Muhamad Abdul Ghofur
karya luar biasa untuk aku yang gak buat novel
mmahsun.az
kapan up thor?
Djinn Samaora
noo my religion
farel Ramadhan
bjir lauhul Mahfud 😅
Askipシ︎
semangat thor, ntahlah mau komen apa gatau juga wkwk.. /Sweat/
pembacasetia
eehh jangan2 iblis yg mindahin jiwa tuh
ji ruxue
babi haram, membunuh gk dosa/Smile/
Mayang Sari
terpukaauuuu
๑ ̊ ·٭ᜊ яσυυ ̊ • ࿐
sugoii..
Nurul
Haya Bus
Nurul
preman exp ngak tuh😅
Buana Lukman
bagus
Nino Ndut
cape bacanya..kok kayak bocah alay begini mc nya yak
felix ehe: santai masi eipsode awal....mungkin?
total 1 replies
Felix Fortune
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!