NovelToon NovelToon
Pelangi Di Ujung Rindu

Pelangi Di Ujung Rindu

Status: tamat
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Cinta Murni / Romansa / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:205.7k
Nilai: 5
Nama Author: Iin Nuryati

Season 2 dari Aku Bisa Tanpamu 😘

Kehidupan pernikahan kedua Shofi yang semula berjalan begitu bahagia dan harmonis tiba-tiba diguncang dengan kecelakaan yang menimpa Awan, sang suami. Awan dinyatakan hilang dan belum bisa diketemukan dimana keberadaannya.

Tetapi Shofi dan keluarganya tidak pernah putus harapan. Mereka yakin bahwa dengan kuasa Allah SWT, Awan pasti bisa kembali dengan selamat dan rindu mereka akhirnya terobati.

Akankah kekuatan do'a dan keyakinan mereka benar-benar bisa membawa Awan kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iin Nuryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Dikelilingi Orang-orang Baik

Setelah kecelakaan yang dialami oleh suamiku, Mas Awan, akhirnya aku memutuskan untuk resign dari tempat kerjaku dan memilih untuk meneruskan mengelola usaha kafe milik suamiku ini.

Beruntungnya semua karyawan di kafe Mas Awan ini bisa menerima kehadiranku dengan baik. Dari semenjak kami belum menikah dulu, aku dan Keinan memang sudah sering diajak Mas Awan kesini, jadi aku dan Keinan juga sudah lumayan dekat dengan semua karyawan disini.

Dan sebuah keberuntungan lain untukku karena semua karyawan di kafe Mas Awan sangat perhatian denganku dan Keinan. Mereka juga seringkali membantuku dalam segala hal. Mereka ingin memudahkan pekerjaanku karena mengingat kondisiku yang sedang hamil saat ini.

Aku benar-benar sangat beruntung karena dikelilingi oleh begitu banyak orang-orang yang baik, perhatian, dan menyayangiku dengan tulus.

Seperti siang ini, Keinan sudah pulang dari sekolah dengan dijemput oleh Adit.

"Assalamu'alaikum, Bunda," salam Keinan begitu memasuki ruangan kerja Mas Awan yang sekarang aku tempati.

Adit berjalan mengikuti Keinan di belakangnya. Mulai sekarang tugas untuk menjemput Keinan pulang dari sekolah setiap harinya diambil alih oleh Adit. Dan lagi-lagi, itu karena para karyawan tidak ingin aku kecapekan. Mereka berlima begitu perhatian kepadaku dan Keinan, juga calon bayi yang sedang aku kandung saat ini.

"Wa'alaikumsalam. Eh, kakak udah pulang," balasku setelah mendongak dari layar laptop yang sedang aku tekuni.

Keinan meminta untuk mulai dipanggil dengan sebutan 'kakak'. Itu kenapa sekarang aku dan semua orang pun memanggil Keinan dengan sebutan 'kakak' seperti keinginannya.

"Udah, Bun," ucap Keinan yang kemudian mencium punggung tangan kananku.

"Gimana tadi di sekolah? Kakak bisa ngerjain tugas dari Bu guru atau enggak?" tanyaku seraya mengusap lembut kepala Keinan.

"Bisa dong, Bun. Tadi pas latihan membaca juga kakak langsung lulus. Temen-temen kakak ada yang langsung lulus juga, tapi banyak yang harus diulangi juga. Terus tadi Fahri lupa nggak bawa bekal, Bun. Akhirnya kakak bagi bekal kakak sama Fahri deh," jawab Keinan, bercerita kepadaku.

"Fahri yang dulu suka gangguin kakak itu?" tanyaku dengan mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat.

"Iya, Bun. Yang dulu suka ngeledekin kakak itu. Tapi kan kata Papa sama Bunda, kakak nggak boleh bales jahatin. Makanya kakak baikin dia. Terus sekarang kita jadi temenan deh," jawab Keinan dengan gaya khas anak kecilnya.

"Pinter anaknya Bunda," ucapku memuji sikap putraku itu.

"Oh iya, makasih ya, Dit, udah jemput Keinan," akupun mengucapkan terima kasih kepada Adit yang masih berdiri di belakang Keinan tersebut.

"Sama-sama, Bu Bos," balas Adit. "Kalau gitu saya langsung balik ke depan ya, Bu Bos. Pengunjung lagi lumayan rame," lanjut Adit, berpamitan.

"Iya, Dit."

"Makasih, kak Adit," ucap Keinan juga dengan tersenyum.

"Sama-sama, kakak Bos," balas Adit ikut tersenyum juga.

"Jangan lupa pesanan Kei ya, kak Adit," lanjut Keinan lagi.

"Siap. Nanti kalau udah jadi, milkshake coklat sama kentang gorengnya pasti kak Adit anterin kesini," balas Adit yang sudah sangat hafal dengan kesukaan Keinan itu.

"Oke, siip," ucap Keinan dengan mengacungkan kedua jempol tangannya.

Adit ikut mengacungkan kedua jempol tangannya sama seperti Keinan. Setelah itu Adit pun kemudian meninggalkan ruangan ini dan kembali melanjutkan tugas dan pekerjaannya. Aku tersenyum, seperti itulah kedekatan Keinan dengan Adit, begitu juga karyawan yang lainnya disini.

🍁🍁🍁

Tiiin. Tiiin.

Terdengar suara klakson mobil dari arah luar kafe. Itu mobil Papa Surya yang memang sengaja menjemput aku dan Keinan.

"Mbak Maya, aku sama Keinan pulang dulu ya," pamitku pada Mbak Maya yang sedang duduk di belakang meja kasir.

"Iya, Bu Bos. Hati-hati, ya," pesan Mbak Maya padaku.

"Iya, Mbak. Nanti tutup kayak biasanya aja, ya," kataku berpesan pada Mbak Maya.

"Siap, Bu Bos," balas Mbak Maya.

"Oke. Adit, Danu, Dedi, kami duluan, ya. Tolong pamitin ke chef Yudha juga nanti," pamitku kemudian kepada Adit, Danu, dan Dedi.

"Siap, Bu Bos. Hati-hati," balas Adit, Danu, dan Dedi serempak.

"Assalamu'alaikum," salamku dan Keinan.

"Wa'alaikumsalam," jawab Mbak Maya, Adit, Danu, dan Dedi.

Aku dan Keinan kemudian berjalan keluar dari kafe. Benar saja, mobil Papa Surya sudah menunggu di parkiran kafe tersebut. Aku dan Keinan pun kemudian segera naik ke dalam mobil.

"Assalamu'alaikum, Pa, Pak Yanto," salamku begitu naik ke dalam mobil.

"Assalamu'alaikum Opa, Pak Yanto," salam Keinan juga.

"Wa'alaikumsalam," balas Papa Surya dan Pak Yanto, sopir yang sekarang dipekerjakan oleh Papa Surya tersebut.

Aku dan Keinan kemudian bergantian mencium punggung tangan kanan Papa Surya. Setelah itu Pak Yanto pun kemudian mulai menjalankan kembali mobilnya, meninggalkan parkiran kafe.

Papa Surya sengaja mempekerjakan seorang sopir sekarang untuk mengantar-jemput aku, Keinan, dan juga Papa Surya sendiri. Papa Surya dan Mama Wulan tidak ingin aku sampai kecapekan kalau harus membawa sepeda motor sendiri setiap harinya.

🍁🍁🍁

"Assalamu'alaikum," salamku, Keinan, dan Papa Surya begitu kami sampai di rumah.

"Wa'alaikumsalam," jawab Mama Wulan menyambut kedatangan kami bertiga.

Mama Wulan kemudian mencium punggung tangan kanan Papa Surya. Setelah itu gantian aku dan Keinan yang mencium punggung tangan kanan Mama Wulan.

"Udah jam setengah lima, kakak mandi sama Oma, yuk," kata Mama Wulan kepada Keinan.

"Kakak bisa mandi sendiri kok, Oma. Kan kakak udah besar," ucap Keinan.

Mama Wulan tertawa kecil mendengar perkataan Keinan. Aku dan Papa Surya pun juga ikut tersenyum.

"Iya deh, yang sekarang udah besar," goda Mama Wulan.

"Kan kakak udah mau punya adek, Oma. Jadi kakak harus bisa mandiri dong. Biar nanti bisa bantuin Bunda juga," kata Keinan lagi.

"Duh, pinternya cucu Oma ini. Gemes banget deh, Oma," puji Mama Wulan dengan mencubit gemas pipi Keinan.

"Ya udah, yuk kakak naik dulu sama Bunda. Kakak mandi, biar Bunda siapin pakaian ganti buat kakak," kataku.

"Oke, Bunda. Kakak mandi dulu ya, Oma, Opa," kata Keinan.

"Iya, kak," balas Mama Wulan dan Papa Surya.

"Kami naik dulu ya, Ma, Pa," pamitku juga.

Mama Wulan dan Papa Surya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Aku dan Keinan pun kemudian menaiki anak tangga dan menuju ke kamar kami yang berada di lantai dua rumah ini.

Aku sangat bersyukur, karena meski tanpa Mas Awan saat ini, semua keluarga begitu perhatian kepadaku dan Keinan. Baik Papa Surya, Mama Wulan, begitu juga Bang Langit, Kak Jani, dan juga semua keluarga yang lainnya.

Kasih sayang dan perhatian dari mereka semua membuat aku dan Keinan merasa nyaman tetap tinggal disini meski sekarang tidak ada Mas Awan bersama kami, untuk sementara waktu ini.

1
Surya Hermawan
Luar biasa
idha idhutt
good job kakak, tetep semangat selalu ya 😘😘😘
Suyatno Galih
ayesa ngeyel, hampir kena segel lue
Suyatno Galih
gak ada kerjaan laen apa lue Chika, ngintilin org pacaran mulu sakit ati kan lue, bukan ngindar kayak buntut wae
Suyatno Galih
yaahhh biasadwh kl cpt KTM ceritanya cepet habis dehh
tarry chantiq
loo katanya hamzah da kerja kok msh kuliah ya
༄ 👑💗 ııи ρтħš αямч💗👑 ࿐: Hamzah cuma kerja sambilan kak, di kafe milik dosennya, kalau malam hari 😊
total 1 replies
¢ᖱ'D⃤ ̐Sri Wahyuni
Alhamdulillah ikut bahagia.. jadi ikutan senyam-senyum sendiri 🤭🤭
Uthie
Senang nya ma Wulan gak mudah terprovokasi dengan mulut lemes ibu-ibu yg sok suci dan gak punya dosa itu 🤨😡😡
Uthie
Masih ada misteri dan belum bisa ketebak dari cerita ini.... lanjut terus 👍👍💞
Uthie
Coba mampir untuk cerita sebuah kehancuran sebuah keluarga.. dan gak bosen untuk ingin tau bagaimana kehidupan dari pasangan yg di sakiti tsb 👍🤗
Ainisha_Shanti
cerita yang menarik dan sesuai dibaca oleh semua golongan masyarakat.
Ainisha_Shanti
Astaghfirullahalazim... bukanya mencegah mahupun menasihati adiknya, malah memberi sokongan padu pula 😠😠😠
Ainisha_Shanti
Astaghfirullahalazim... abang dan adik sama je perangai. sama-sama suka ganggu kebahagiaan orang lain 😤😤😤
༄⃞⃟⚡PETIRᵃⁿᶦᵃʸᵃRini
Ya Allah, Berasa kayak nonton Sinetron Ini
༄⃞⃟⚡PETIRᵃⁿᶦᵃʸᵃRini
Bayu minta di jorokin ke Jurang nih kayak Awan. Penyesalan emang selalu dateng belakang Om. Kalo di depan, namanya Pendaftaran
༄⃞⃟⚡PETIRᵃⁿᶦᵃʸᵃRini
Jangan bilang bayu udah cerai dari Istri nya Alya. Nyesel kan lo makanya ngejer Shofi lagi
༄⃞⃟⚡PETIRᵃⁿᶦᵃʸᵃRini
Ngga Awan, Ngga Shofi bener2 Dermawan. Karyawan nya dianggap seperti Saudara semua
༄⃞⃟⚡PETIRᵃⁿᶦᵃʸᵃRini
Alhamdulillah Awan masih Hidup, Feeling Istri emang kuat yah☺
༄⃞⃟⚡PETIRᵃⁿᶦᵃʸᵃRini
Chika bukan nya Cinta itu mah, tapi Obsesi
༄⃞⃟⚡PETIRᵃⁿᶦᵃʸᵃRini
Bener kak Jani. Lawan dengan cara elegan🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!