NovelToon NovelToon
8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana

Status: tamat
Genre:Action / Petualangan / Contest / Fantasi Timur / Pemain Terhebat / Raja Tentara/Dewa Perang / Harem / Barat / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 5
Nama Author: Rudi Hendrik

Pendekar Joko Tenang kini menjadi Raja Kerajaan Sanggana Kecil. Bersama dengan delapan istri saktinya ia membangun sebuah kerajaan dari awal dan nol.

Ia masih memiliki tugas utama, yaitu mewujudkan ilmu Delapan Dewi Bunga yang juga akan mengembalikan kesaktian utamanya yang tersegel sementara.

Apa jadinya jika salah satu istrinya adalah tokoh sakti aliran hitam yang legendaris? Selain itu, Joko harus menggagalkan rencana besar Malaikat Dewa Raja Iblis yang ingin menjadi raja dunia persilatan dengan cara jahat. Padahal Kerajaan Siluman yang menjadi musuhnya memiliki pasukan siluman yang sakti-sakti.

Mampukah Joko Tenang dan kedelapan istrinya menjayakan Kerajaan Sanggana Kecil dan memberantas rencana jahat Kerajaan Siluman? Yuk, baca sampai habis novel 8 Dewi Bunga Sanggana ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cihua 2: Teluh Jahat Tidak Terobati

*Cinta di Hutan Angker (Cihua)* 

Di kamar itu, hanya ada Adipati Yono Sumoto, Rumih Riya, Ningsih Dirama, Surina Asih, dan Ki Uyeng Dewo. Para abdi yang dimiliki oleh keluarga Adipati tidak diizinkan berada di sekitar kamar.

Ningsih Dirama berbaring dalam kondisi hanya berpinjung kain batik, yang menutupi badan atas hingga dada dan badan bawah hingga lutut. Terlihat kulit yang awalnya putih indah lagi mulus, kini justru membuat merinding jika melihatnya, karena banyaknya bentolan-bentolan berair pada kulit wajah dan tubuh.

Kini, Ningsih Dirama hanya sesegukan menerima nasibnya.

Di lantai kamar, Ki Uyeng Dewo sedang duduk bersila dengan mata tertutup. Di depannya ada sebaskom air putih penuh taburan bunga berbagai jenis, termasuk wadah yang berisi arang membara yang ditaburi banyak kemenyan.

Kedua tangan Ki Uyeng Dewo diulurkan di atas baskom dan bergetar hebat. Tangan tua itu bersih dari perhiasan cincin. Sementara sepasang mata Ki Uyeng terpejam kusyuk dan mulutnya komat-kamit membaca mantera bahasa alam jin. Yang lainnya tidak mengerti apa pun yang diucapkan oleh Ki Uyeng Dewo.

Blep!

Dalam proses itu, tiba-tiba wadah arang mengeluarkan api sendiri dan menyala berkobar agak besar.

“Puh!” tiup Ki Uyeng ke arah baskom.

Cprak!

Setelah itu, tiba-tiba air di dalam baskom melompat naik ke udara. Sebelum air itu turun, Ki Uyeng mengibaskan tangan kanannya, membuat air terciprat banyak menyiram tubuh Ningsih Dirama di atas ranjang.

“Aaa…!” jerit Ningsih Dirama ketika air mengenai kulitnya.

Air di baskom itu memang bukan sekedar air, air itu sudah diberi garam yang banyak dan beberapa bahan milik Ki Uyeng yang tidak jelas namanya.

Rupanya jeritan Ningsih tidak berhenti, tetapi berkepanjangan. Ia merasakan perih yang terus menggigit. Hal itu membuat Adipati dan istrinya semakin cemas. Sementara Surina Asih hanya mengerenyit jijik melihat apa yang terjadi.

Tiba-tiba benjolan-benjolan kecil pada kulit Ningsih Dirama pada mengencang agak membesar. Lalu tidak lama kemudian, benjolan-benjolan itu pecah dengan sendirinya susul-menyusul, mengeluarkan cairan hijau yang berbau busuk.

“Apa?!” pekik Ki Uyeng Dewo terkejut dengan mata yang awalnya terpejam, jadi mendelik.

Ia terdiam sejenak seraya menatap tajam perubahan buruk yang terjadi pada tubuh Ningsih Dirama.

“Bopooo! Simboook! Sakiiit!” jerit Ningsih Dirama. Ia merasakan sakit pada setiap pecahnya satu benjolan.

Adipati Yono Simoto hanya bisa mengerenyit bingung harus berbuat apa. Meski ia orang yang berkesaktian, tetapi ia tidak tahu cara mengatasi perkara penyakit seperti itu. Rumih Riya sebagai seorang ibu pun bingung seraya menangis di tempatnya.

Brak!

Tiba-tiba kebingungan dan pemandangan yang menjijikkan pada tubuh Ningsih dikejutkan oleh gebrakan Ki Uyeng. Ia menggebrakkan kedua tangannya ke lantai dengan keras. Kedua tangannya lalu digerakkan sedemikian rupa, sehingga akhirnya kedua telapak tangan itu bersinar putih redup.

Dengan bergetar hebat, kedua tangan Ki Uyeng Dewo didorong ke arah tubuh Ningsih Dirama.

Wutt! Bdukk!

“Hukrr!”

Tiba-tiba, tubuh Ki Uyeng Dewo terlempar sendiri ke belakang dan menabrak dinding papan kamar. Ia jatuh dengan memuntahkan darah.

“Mohon ampun, Gusti! Aku tidak sanggup melawan kekuatan teluh jahat ini!” teriak Ki Uyeng Dewo sambil merendahkan dirinya ke lantai menghormat kepada Adipati Yono Sumoto. “Aku takut justru membahayakan nyawa putri Gusti.”

Adipati Yono Sumoto tidak langsung menanggapi Ki Uyeng Dewo. Ia menarik napas panjang dalam kebingungannya.

“Tapi, apakah kau tidak memiliki petunjuk jalan keluar tentang teluh ini?” tanya Adipati akhirnya.

“Maafkan aku, Gusti. Aku sungguh tidak tahu, terbukti kondisi putri Gusti justru semakin buruk,” jawab Ki Uyeng sambil tetap merunduk dalam mendekati lantai.

“Baiklah, Ki Uyeng. Aku hargai usahamu!” ucap Adipati Yono Sumoto.

“Aku pamit, Gusti,” ucap Ki Uyeng. Ia lalu bangkit sambil memegangi dadanya karena ia terluka dalam. Tidak lupa ia membawa keranjang bambunya.

“Hoekh!” Surina Asih menjadi mual karena bau busuk dari penyakit Ningsi sudah merebak tajam memenuhi ruangan kamar itu.

Adipati Yono Sumoto dan istrinya juga terpaksa menekan cuping hidungnya untuk menyumbat pernapasannya.

“Hoekh!” Ningsih Dirama muntah karena tidak tahan mencium bau busuk dari tubuhnya yang sudah penuh dilapisi cairan hijau. Demikian pulah wajahnya.

Ningsih Dirama yang cantik jelita kini benar-benar terlihat menyeramkan dan menjijikkan.

Ketika Ki Uyeng membuka pintu kamar, maka bau busuk itu seketika merebak keluar kamar. Surina Asih cepat mengikuti Ki Uyeng keluar dari kamar. Ia tidak sanggup jika harus bertahan di dalam.

“Bagaimana ini, Kang Mas? Huuu…!” tanya Rumih Riya sambil menangis tersedu-sedu. Ia menyenderkan kepalanya pada dada kekar suaminya.

“Lebih baik kita keluar dulu untuk memikirkan jalan keluarnya,” saran Adipati Yono Sumoto.

“Bopooo! Simboook!” sebut Ningsih meratap.

“Nduk, bersabarlah. Bopo dan ibumu keluar dulu untuk memikirkan cara menolongmu,” kata Adipati Yono Sumoto sambil menahan pernapasannya.

“Nduk, maafkan Simbok. Simbok mau menemanimu, tapi… hoekh!”

Rumih Riya akhirnya tidak bisa menahan bau busuk yang terhirup olehnya. Ia pun muntah tanpa ada yang keluar dari dalam mulutnya. Ia buru-buru berlari ke luar kamar.

“Mboook!” teriak Ningsih histeris, merasa sangat sedih karena ditinggalkan oleh ibunya, orang yang sangat dekat dengannya. Ia pun menangis terseduh-seduh.

Adipati Yono Sutomo menatap putrinya dengan tatapan sedih. Dalam dadanya bergolak menahan emosi. Tak terasa air matanya kemudian menetes.

“Maafkan Bopo, Nduk. Bopo akan segera menemukan orang yang bisa mengobatimu!” ucap Adipati Yono Sutomo.

“Bopooo, jangan tinggalkan Ningsih sendiri!” ratap Ningsih dengan suara yang melemah.

Dengan berat hati dan tega, akhirnya Adipati Yono Sumoto pergi ke luar kamar. Ia tutup pintu kamar dari luar.

Maka tinggallah Ningsih Dirama seorang diri meratapi nasibnya.

Di luar sana, Rumih Riya menangis berkepanjangan. Di sisinya duduk Surina Asih mencoba menenangkan.

Sementara itu, gosip beredar cepat di kalangan abdi, lalu merebak cepat ke warga Kadipaten Mendiko.

Tok tok tok!

Tiba-tiba Ningsih mendengar suara ketukan palu di balik pintu kamarnya. Hal itu membuat Ningsi menatap penuh tanda tanya ke arah pintu. Dalam kondisi menahan perih dan bau busuk pada tubuhnya, Ningsi bergerak bangun lalu segera berjalan sempoyongan menuju pintu kamar.

Tok tok tok!

Suara ketukan itu terus terdengar kencang.

Namun, ketika Ningsih hendak membuka pintu kamarnya, ternyata tidak bisa, ternyata pintu itu telah dikunci dari luar oleh abdi suruhan Adipati Yono Sumoto.

Bak bak bak!

“Bopooo!” teriak Ningsih panik sambil memukul-mukul pintu kamarnya.

“Hoekh!”

Tidak ada jawaban dari panggilan Ningsih, kecuali suara lelaki yang mual hendak muntah karena mencium bau busuk.

“Bopooo! Jangan kurung aku, Bopooo! Simboook, tolong akuuu!” teriak Ningsih histeris sambil menangis. Bahkan ia pun memanggil nama pelayannya, “Mbok Martiii!”

Bau busuk yang begitu tajam dari penyakit aneh yang diderita Ningsih Dirama, membuat Adipati mengambil keputusan tega, yaitu mengurung Ningsih untuk sementara, di saat ia belum menemukan cara. Ia tidak ingin Ningsih nekat keluar dan menciptakan kekacauan besar.

Saat itu saja, bau busuk dari tubuh Ningsih sudah tercium ke semua sudut rumah Adipati. Hal itu sangat mengganggu aktivitas di rumah besar tersebut. Para abdi pun tidak ada yang kuat untuk bekerja di dalam rumah.

Akhirnya, Adipati Yono Sumoto menggunakan rumah yang lain, yang ada beberapa tombak dari rumah utama, sebagai tempat berkumpul.

Hari itu juga, Adipati Yono Sumoto mengumpulkan keluarga besarnya yang tinggal di kediaman Adipati atau yang masih tinggal di kadipaten itu. Adipati meminta masukan-masukan dari keluarga besarnya.

Sementara besok lusa, Prabu Raga Sata akan datang untuk menjemput Ningsih Dirama. (RH)

******************

Novel "8 Dewi Bunga Sanggana" adalah kelanjutan dari novel "Pendekar Sanggana". Bantu dengan like dan komenmu di setiap chapter, agar novel ini cepat sukses.

1
❤️⃟Wᵃf Mikey🇮🇩
lalu apa yang terjadi?/CoolGuy/ pada Joko itu menangis terus
❤️⃟Wᵃf Mikey🇮🇩
semangat buat om untuk update novel lainnya
Anugrah Sanjaya
Luar biasa
Om Rudi: semoga suka Bang Anugrah,
total 1 replies
Anugrah Sanjaya
novel ini cocok tuk di jadikan film anime macam donghua China...
M. Syafri
Luar biasa
Om Rudi: semoga suka Bang
total 1 replies
then_must_nanang
sangat... sangat... luar biasa cerita....
TOP....
Om Rudi: sehat selalu Mas
total 1 replies
then_must_nanang
atur aja bang Rudy...
yg penting ceritanya lanjut...
Om Rudi: hehehehe suap
total 1 replies
then_must_nanang
uhui..... mantap pisan...
lanjut thor....
Om Rudi: lanjut Mas
total 1 replies
then_must_nanang
istirahat dulu bang Rudy....
Om Rudi: terima kasih atas kerjasamanya Mas Nanang. semoga sehat selalu
total 1 replies
then_must_nanang
bang Rudy, semoga sehat selalu
Om Rudi: aamiin
total 1 replies
then_must_nanang
maju.... sikat.... hancurkan.....
Om Rudi: hahaha
total 1 replies
then_must_nanang
jos tenan... Gurudi
Om Rudi: lanjut Mas Nanang. semoga betah
total 1 replies
then_must_nanang
kakak yg cemen.... busuk.. .
Sigit cahaya perkasa
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Ilham Tanjung
Kecewa
Mitra Sepakat
awalnya menarik
tiba2 menjadi 23 tahun kemudian. cerita jadu terpotong dan nggk nyambung lgi
Bimo
Gusti prabu Joko seng ada lawan.. 😂
💜⃞⃟𝓛 𝓐𝓡 -𝓡𝓾𝓶𝓲 🏡s⃝ᴿ
belakang punggung nya bolong gak om, kalo bolong takutnya yg suka bikin bokir lari terkencing kencing kalo ketemu 😂😂🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
💜⃞⃟𝓛 𝓐𝓡 -𝓡𝓾𝓶𝓲 🏡s⃝ᴿ
kalo menutup semua dada sampe atas bukan Pinjung namanya om tapi Daster, 100 ribu dapet tiga 🤣🤣
💜⃞⃟𝓛 𝓐𝓡 -𝓡𝓾𝓶𝓲 🏡s⃝ᴿ
waah.. si mbok nya Joko Tenang, waktu masih gadis suka manjat manjat juga toh 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!