NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Membawa Adira

Ketika Takdir Membawa Adira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecelakaan

“Brak!”

Suara tabrakan terdengar begitu nyaring, menggetarkan suasana di jalan tersebut.

Sebuah truk yang oleng tiba-tiba kehilangan kendali dan menabrak sebuah mobil yang sedang terparkir di pinggir jalan.

Di dalam mobil itu, seorang wanita yang sedang hamil tua masih berada di kursi penumpang.

Mendengar suara benturan keras tersebut, seorang laki-laki yang berada tidak jauh dari sana sontak menoleh ke belakang.

Sebelumnya, ia tengah membeli jajanan untuk istrinya yang sedang hamil tua.

Aruna, istrinya, sejak tadi menginginkan makanan yang dijual di pinggir jalan. Karena tidak ingin istrinya kelelahan, Areksa memilih turun dari mobil seorang diri untuk membelikan makanan tersebut.

Ia sama sekali tidak menyangka bahwa beberapa menit setelah meninggalkan mobil, sebuah kejadian mengerikan akan mengubah seluruh hidupnya.

Matanya membelalak. Jantungnya berdegup begitu keras. Tubuhnya mendadak terasa lemas ketika menyadari bahwa mobil yang baru saja dihantam truk itu adalah mobil miliknya. Dan di dalamnya ada Aruna.

“Aruna!”

Teriakan Areksa Dirgantara menggema.

Jajanan yang baru saja dibelinya terlepas dari tangan. Tanpa memedulikan apa pun lagi, Areksa berlari sekuat tenaga menuju mobil tersebut.

“Aruna!”

Ia mencoba membuka pintu mobil yang sudah ringsek. Tangannya gemetar, tetapi ia tidak menyerah.

Dengan bantuan beberapa warga, akhirnya pintu mobil berhasil dibuka.

Pemandangan di dalamnya membuat darah Areksa seakan berhenti mengalir.

Aruna sudah berlumuran darah. Wajahnya pucat. Matanya terpejam, sementara napasnya terdengar berat dan tidak beraturan.

“Aruna!”

Areksa segera menghampirinya.

“Aruna, sadar!” Ia menepuk pipi istrinya dengan lembut. “Aku akan segera mengeluarkan kamu dari sini.”

Perlahan, Aruna membuka matanya. “Mas...”

“Iya, aku di sini.” Suara Areksa bergetar. “Sabar, Aruna. Aku mohon, bertahan sebentar lagi.”

Aruna menggeleng lemah. “Mas... aku nggak kuat lagi.”

“Jangan bicara begitu.”

“Tolong selamatkan anak kita, Mas.”

Areksa menatap perut istrinya yang sudah begitu besar. Air matanya mulai menggenang.

“Nggak.” Ia menggeleng cepat. “Aku nggak akan membiarkan pilihan itu terjadi. Kalian akan selamat.”

Areksa ingin segera mengeluarkan istrinya, tetapi beberapa warga menahannya agar ia tidak melakukan gerakan yang justru memperparah kondisi Aruna.

“Pak, tunggu ambulans! Jangan digerakkan dulu!”

Tak lama kemudian, petugas medis tiba dan segera melakukan evakuasi. Dengan hati-hati, mereka memindahkan Aruna ke atas brankar.

Areksa terus menggenggam tangan Aruna. “Bertahan, Sayang. Tolong bertahan.”

Aruna hanya mampu mengangguk lemah.

Tak lama kemudian, suara sirene ambulans terdengar mendekat. Petugas medis segera memberikan pertolongan dan membawa Aruna ke dalam ambulans. Areksa ikut naik.

Sepanjang perjalanan, ia tidak pernah melepaskan tangan istrinya.

“Tolong bertahan, Aruna.”

Aruna membuka matanya perlahan. “Mas...”

“Iya?”

“Tolong... selamatkan anak kita.”

Areksa menggenggam tangannya semakin erat. “Itu pasti. Tapi kamu juga harus selamat. Aku nggak mau kehilangan kalian berdua.”

Aruna mencoba menarik napas panjang, tetapi rasa sakit membuat wajahnya kembali meringis.

“Mas... kalau anak kita lahir...”

“Jangan banyak bicara dulu.”

“Uhuk!" Aruna tiba-tiba terbatuk keras. Darah keluar dari mulutnya.

“Aruna!” Areksa panik.

Ia segera mengusap darah di bibir istrinya dengan tangan gemetar.

“Jangan banyak bicara, Sayang. Simpan tenagamu.”

Namun Aruna masih berusaha berbicara.

“Mas... kalau nanti anak kita butuh ASI...”

“Aruna, jangan bicara seperti itu.”

“Aku punya sahabat...” Napas Aruna semakin berat. “Namanya Adira.”

Areksa menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Dia... baru saja kehilangan anaknya, Mas. Aku belum sempat melihat mereka lagi."

“Aruna...”

“Kalau nanti aku nggak bisa menyusui anak kita...” Aruna berhenti sejenak untuk mengambil napas. “Tolong minta bantuan Adira.”

Areksa menggeleng kuat. “Nggak. Kamu sendiri yang akan menyusui anak kita. Kamu akan selamat, Aruna. Kita akan pulang bersama.”

“Mas...”

“Tolong bertahan.” Suara Areksa mulai pecah. “Aku mohon, Aruna. Bertahan untukku. Bertahan untuk anak kita.”

Aruna menatap suaminya dengan mata yang semakin sayu.

Sementara itu, Areksa hanya bisa berdoa dalam hati agar Tuhan tidak mengambil dua orang yang paling dicintainya sekaligus.

Beberapa menit kemudian, ambulans tiba di rumah sakit.

Begitu pintu ambulans terbuka, beberapa tenaga medis langsung mendorong brankar Aruna menuju ruang IGD.

“Pasien mengalami kecelakaan! Kondisinya kritis!”

Areksa berlari mengikuti mereka. “Aruna!”

Namun seorang perawat segera menghentikannya di depan pintu ruang tindakan. “Tolong, Pak. Bapak tunggu di luar.”

Areksa menatap pintu yang sebentar lagi tertutup. Wajahnya dipenuhi kepanikan.

“Saya mohon...” Suaranya bergetar. “Tolong selamatkan istri saya.”

Pintu ruang tindakan akhirnya tertutup.

Areksa berdiri terpaku di depannya. Kedua tangannya mengepal erat. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh.

Ia menengadahkan wajahnya. “Ya Allah...” bisiknya lirih. “Tolong selamatkan mereka. Jangan ambil istri dan anakku.”

Areksa merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. Tangannya masih gemetar ketika mencari nomor kedua orang tuanya.

Ia segera menekan tombol panggil. Tak lama kemudian, suara sang ibu terdengar dari seberang.

“Ma...”

“Kenapa, Nak?” tanya sang ibu, yang langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres dari suara putranya.

“Aruna kecelakaan, Ma.”

Hening sesaat.

“Apa?!” Suara sang ibu terdengar panik.

“Kamu sekarang di mana? Rumah sakit mana? Mama dan Papa segera ke sana!”

Areksa menyebutkan nama rumah sakit tempat Aruna sedang menjalani tindakan.

“Baik, Nak. Tunggu Mama dan Papa di sana. Kami segera berangkat.”

“Iya, Ma.”

Panggilan itu berakhir.

Areksa menurunkan ponselnya, kemudian kembali menatap pintu ruang tindakan. Tatapannya kosong. Ia hanya bisa berharap dokter berhasil menyelamatkan Aruna dan bayi mereka.

Namun, tanpa sepengetahuan Areksa, tidak jauh dari rumah sakit, seseorang tengah memperhatikan keadaan tersebut.

Seseorang berdiri di balik kaca mobil yang terparkir di seberang jalan. Tatapannya tertuju pada gedung rumah sakit.

Sudut bibirnya perlahan terangkat. Senyuman tipis, penuh kepuasan, muncul di wajahnya.

"Rencanaku berhasil." Gumamnya.

Ia tersenyum miring. Seolah-olah kecelakaan yang menimpa Aruna bukanlah sebuah kebetulan.

Seolah-olah sejak awal, ia memang sedang menunggu momen itu.

Dan kini, rencananya telah dimulai.

***

Menunggu dari menit ke menit terasa begitu lama bagi Areksa.

Ia masih berdiri di depan ruang tindakan dengan tatapan kosong. Sesekali ia berjalan mondar-mandir, lalu kembali berhenti di depan pintu. Kedua tangannya terus mengepal, sementara pikirannya dipenuhi bayangan Aruna.

Hingga akhirnya, pintu ruang tindakan terbuka.

Seorang dokter keluar dengan wajah serius.

“Apakah Anda yang bernama Areksa?”

Areksa langsung menghampiri. “Betul, Dok." Napasnya tertahan. “Bagaimana keadaan istri saya?”

Dokter itu terdiam sejenak. “Bayinya selamat, Pak.”

Areksa mengembuskan napas lega. “Alhamdulillah...”

“Bayi Anda perempuan.”

Untuk sesaat, senyum tipis muncul di wajah Areksa.

“Anak saya perempuan?”

Dokter mengangguk.

Namun ekspresi dokter kembali berubah serius. “Tapi...”

Senyum Areksa seketika menghilang. “Tapi kenapa, Dok?”

Dokter menarik napas panjang sebelum akhirnya mengatakan kalimat yang akan mengubah hidup Areksa untuk selamanya.

“Pak, kami sudah melakukan segala upaya untuk menyelamatkan Ibu Aruna. Namun, luka yang dialaminya terlalu berat. Kami sangat menyesal...”

Dokter terdiam sejenak. “Ibu Aruna tidak berhasil kami selamatkan.”

Areksa membeku. Seolah-olah dunia di sekelilingnya mendadak berhenti berputar.

“Apa...?”

“Ibu Aruna meninggal setelah kondisi—”

“Tidak mungkin!” Suara Areksa menggema di lorong rumah sakit. “Tidak mungkin!”

Ia menggeleng berkali-kali. “Kenapa, Dok? Kenapa Anda nggak menyelamatkan istri saya?!”

“Pak, kami sudah melakukan semaksimal mungkin—”

“Tidak!”

Areksa langsung menerobos masuk ke ruang tindakan.

“Aruna!”

Tubuh istrinya kini terbaring diam di atas ranjang. Wajah yang biasanya selalu memberikan senyum kepadanya kini terlihat begitu pucat.

Areksa menghampiri dan menggenggam tangan Aruna. Dingin.

“Aruna...” suaranya bergetar.

Ia mengusap pipi istrinya, berharap wanita itu membuka mata seperti sebelumnya. Namun Aruna tetap diam.

“Bangun, Aruna.”

Air mata mulai mengalir deras dari kedua matanya.

“Kenapa kamu tinggalin aku?”

Tidak ada jawaban.

“Bangun, Aruna!”

Areksa mengguncang tubuh istrinya dengan lembut. “Jangan tinggalin aku...”

Tangisnya pecah. “Aruna, kita baru punya anak. Kamu janji akan menemani aku membesarkan dia.”

Areksa menundukkan kepalanya di atas tangan istrinya. “Jangan pergi, Sayang... aku mohon.”

Dokter dan beberapa perawat hanya mampu terdiam melihat kesedihan laki-laki tersebut.

Hingga salah seorang perawat mendekat. “Maaf, Pak.”

Areksa mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. “Ada sesuatu yang ingin saya berikan kepada Bapak.”

“Apa?”

“Tadi, saat kami berhasil mengeluarkan bayi Anda, Bu Aruna meminta saya merekam sesuatu.”

Areksa mengerutkan kening. “Merekam?”

Perawat itu mengangguk, lalu menyerahkan sebuah ponsel. “Iya, Pak. Ini.”

Areksa menatap benda tersebut beberapa detik sebelum akhirnya menerimanya.

Tangannya gemetar ketika membuka rekaman yang dimaksud.

Layar ponsel menampilkan wajah Aruna. Wajahnya terlihat pucat dan lemah, tetapi matanya masih menyimpan ketenangan.

Suara Aruna terdengar lirih dari rekaman tersebut. “Mas Areksa...”

Areksa langsung terdiam. Air matanya kembali jatuh.

“Maaf aku nggak bisa bersama kamu lagi. Maaf... janji yang kita buat nggak bisa kita tepati bersama.”

Di dalam rekaman, Aruna menarik napas pelan. “Mas, jaga anak kita selalu ya. Aku beri nama dia Aretha Maharani Dirgantara. Mas... selain kamu dan keluarga kamu, aku cuma percaya Adira yang bisa merawat anak kita.”

Areksa terdiam mendengar nama tersebut.

“Dia sahabat aku, Mas.”

Aruna tersenyum tipis di dalam rekaman. Suaranya bergetar. "Maaf, Mas. Aku pergi. Terima kasih sudah menjadi suami yang sangat baik untuk aku.”

Rekaman itu berakhir. Layar ponsel menjadi gelap.

Areksa hanya terdiam. Ia kembali menatap tubuh istrinya yang terbaring di hadapannya.

“Aretha...” bisiknya.

Air matanya jatuh tanpa henti.

“Nama yang kamu pilih untuk anak kita... akan selalu aku jaga.”

Areksa menggenggam tangan Aruna untuk terakhir kalinya. “Aku janji.”

Ia menundukkan kepala. “Aku akan menjaga Aretha seumur hidupku.”

Namun di balik janji itu, Areksa belum mengetahui bahwa pesan terakhir Aruna tentang Adira kelak akan menjadi awal dari sebuah kisah yang jauh lebih besar.

***

Rasanya Areksa sudah tidak mampu lagi berpijak.

Kepergian Aruna terasa seperti merenggut sebagian dari dunianya, bahkan sebagian dari dirinya sendiri.

Baru satu tahun pernikahan mereka berjalan.

Baru satu tahun ia merasakan kehidupan bersama wanita yang dicintainya. Baru satu tahun mereka membangun rumah tangga, menyusun mimpi, dan menantikan kelahiran anak pertama mereka.

Namun, kebahagiaan itu lenyap begitu saja.

Dalam satu hari.

Dalam satu kecelakaan.

Areksa masih berdiri di dalam ruang tindakan dengan tatapan kosong. Tangannya menggenggam ponsel yang berisi pesan terakhir dari Aruna.

Ia bahkan belum sanggup menerima kenyataan bahwa wanita yang beberapa jam lalu masih berbicara dengannya kini telah pergi untuk selamanya.

Pintu ruang tindakan kembali terbuka. Soraya dan Bayu yang baru saja tiba di rumah sakit langsung bergegas menghampiri putra mereka.

“Reksa!”

Areksa menoleh perlahan.

Wajahnya yang penuh air mata membuat Soraya langsung merasa tidak enak. “Apa yang terjadi, Reksa?” tanya Bayu dengan suara panik. “Bagaimana keadaan Aruna?”

Areksa membuka mulutnya, tetapi suaranya seolah tertahan di tenggorokan.

Ia menundukkan kepala.

“Aruna...” Suaranya bergetar hebat.

Soraya semakin cemas. “Aruna kenapa, Nak?”

“Aruna meninggal, Ma.”

Hening.

Kalimat itu terasa seperti petir yang menyambar.

Soraya membeku. “Apa?”

“Aruna meninggal, Ma.” Suara Areksa pecah.

“Ya Allah...”

Soraya langsung menutup mulutnya, menahan isak yang seketika pecah. Tubuhnya melemas sebelum akhirnya ia menghampiri putranya dan memeluknya erat.

“Reksa...”

Areksa tidak mampu lagi menahan tangisnya. Ia membenamkan wajah di bahu sang ibu.

“Ma... Aruna pergi.”

Soraya mengusap kepala putranya sambil menangis. “Reksa... Yang tabah, nak."

“Kenapa, Ma?” Areksa terisak. “Kenapa harus Aruna? Kami baru satu tahun menikah.”

Bayu berdiri di samping mereka dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia menepuk bahu putranya.

“Reksa...”

Namun Areksa justru semakin menangis.

“Aku baru mau memperkenalkan anak kami kepadanya, Pa.”

Soraya memeluk putranya semakin erat. “Menangislah, Nak. Jangan kamu tahan.”

Untuk beberapa saat, lorong rumah sakit itu dipenuhi isak tangis sebuah keluarga yang baru saja kehilangan seseorang yang begitu mereka cintai.

Di tengah kesedihan tersebut, Areksa tahu satu hal. Aruna memang telah pergi. Namun, ia meninggalkan seorang bayi perempuan yang menjadi bagian terakhir dari cinta mereka.

Aretha Maharani Dirgantara.

Dan mulai hari itu, Aretha adalah satu-satunya alasan bagi Areksa untuk tetap berdiri.

1
sunaryati jarum
Emak beri dr Kenzo Adira itu istri majikannya
🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Beneran jatuh cinta Tuan Reksa
cutegirl
nah kan begtu enak Diomongin
sunaryati jarum
Jadi ternyata Little girl kamu itu Adira bukan Aruna, jangan buru-buru buru Nak Reksa juga jangan memaksa ,beri perhatian nanti trauma dengan pernikahan dulu akan hilang hatinya jadi luluh
sunaryati jarum
Jalani saja Adira ikuti kehendak Authoor , yang penting upnya lancar pembaca senang,tegang , geram dan senyum juga gemas /Drool//Drool//Drool/


🥰🥰🥰🥰🥰🥰
sunaryati jarum
Emak berharap kalian menerima dan menjalankan pernikahan ini dengan penuh tanggung jawab bersama
sunaryati jarum
Berarti malai itu kamu sadar , karena masih terbayang kemolekan tubuh Adira.Semoga Adira memang jodohmu yang akan mendampingi sama kamu menua Nak Reksa
sunaryati jarum
Jalani saja Adira.Mungkin Areksa pernah bertemu Adira,atau cinta pertama saat kecil,jadi sekarang rasanya sangat familiar
sunaryati jarum
Ayah yang bijaksana sana,kirain. terjebak Felicia ternyata dengan Adira,itu kemauan Aruna,Niki Reksa harus menikah ya dengan Adira
Syti Sarah
kyak nya udh bucin tuh areksa sama Adira 🤭🤭
Syti Sarah: tinggal mnunggu Adira mnerima nya aja lgi kak 🤭
total 2 replies
NN
lanjut
Syti Sarah
smoga suatu hari nanti mreka bisa mnjdi sbuah kluarg yg bnar2 bhgia dan bisa mnrima stu sama lain 😊
kembangperawan
kapan terungakp siapa gadis kecik areksa?
Syti Sarah
areksa juga mnyukai Adira
just a grandma
blang aja kmu mencintai adira kan Reksa🥲
Syti Sarah
apakah nanti Adira akan mambenci areksa ya 🤔
Syti Sarah: psti nya itu Thor .bikin areksa pusing 7 kliling dulu Thor demi untuk mndpatkn Adira 🤣🤣🤣
total 2 replies
sunaryati jarum
Berarti kalian.pernah ketemu saat kecil
Syti Sarah
psti di kasi obat perangsang deh oleh felicia.itu psti rncan nya dgn mama nya 😏
Syti Sarah: iya btul bnget kak
total 2 replies
Lisa
ya benar Kak..Areksa menyukai Adira 😊
Syti Sarah
bilang aja klau kamu menyukai Adira 🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!