NovelToon NovelToon
Pergi Dari Rumah Mengungkap Segalanya

Pergi Dari Rumah Mengungkap Segalanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: fianaqila

Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1 kenapa aku selalu di perlakuan berbeda?

Hujan turun sejak sore. Rintiknya mengenai jendela-jendela rumah yang mewah dan megah milik keluarga Wiratmaja dengan suara pelan, namun cukup untuk membuat suasana terasa dingin.

Di dapur, seorang gadis berusia delapan belas tahun sedang mencuci piring dengan tangan gemetar. Jemarinya merah karena sejak tadi dirinya mencuci piring seorang diri. Rambut panjangnya diikat asal, sementara wajah cantiknya tampak pucat kelelahan. Di rumah itu tidak ada pembantu sama sekali, hanya ada satpam dan tukang kebun.

Namanya Alkina atau biasa di panggil Alin. Putri kandung keluarga Wiratmaja. Namun di rumah itu, status “anak kandung” tidak pernah berarti apa-apa malah anak angkat yang menikmati kemewahan dan dimanja layaknya tuan putri.

“Alin!” Bentakan keras membuat tubuh gadis itu tersentak.

Wanita paruh baya berjalan memasuki dapur dengan wajah penuh kekesalan. Ranti ibu kandung Alkina menatap tumpukan piring dengan jijik.

“Kamu nyuci piring lama sekali! Memangnya mau tidur di dapur hah?”

“Ma... maaf, Bu… tadi piringnya banyak.” Ranti melarang Alkina memanggil dirinya mama.

Hari ini teman arisan dan juga teman sosialita Ranti datang ke rumah.

“Alasan!”

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipi Alkina hingga tubuhnya hampir jatuh. Gadis itu spontan memegang pipinya yang panas. Matanya memerah, tetapi ia tidak menangis sama sekali. Hal itu sudah biasa ia terima jika tidak sesuai dengan yang diinginkan Ranti.

Ranti menunjuk ruang tamu.

“Lihat itu! Adikmu harus repot menyuapi buah-buah ke mulutnya. Cepat buatkan jus untuk Sisil!” Alkina menunduk pelan.

“Baik, bu.”

Di ruang tamu, seorang gadis seumuran Alkina sedang duduk santai sambil bermain ponsel terbaru. Pakaiannya mahal, kukunya rapi, dan rambutnya diwarnai coklat terang. Dia adalah anak angkat.

Sisil adalah anak temannya Ranti, ia menitipkan anaknya kepada keluarga Wiratmaja. Namun perlakuannya jauh berbeda. Ranti selalu menyebut Sisil sebagai “anak kebanggaan,” sementara Alkina lebih sering dipanggil pembawa sial. Padahal Alkina adalah darah dagingnya sendiri.

“mama,” rengek Sisil manja saat melihat Ranti datang, “aku capek banget habis latihan dance. Kak Alkina lama banget sih bikin jusnya.”

Ranti langsung tersenyum lembut.

“Iya sayang, nanti mama marahin dia ya.”

Kata “Mama” itu terasa seperti pisau bagi Alkina.

Sudah bertahun-tahun Ranti lebih nyaman dipanggil Mama oleh anak angkatnya dibanding anak kandungnya sendiri.

Alkina datang membawa segelas jus alpukat. Baru saja ia hendak menyerahkan, Sisil mengerutkan wajah.

“Ih, dinginnya kurang.”

“A, aku tambahkan es lagi…”

Brak!

Sisil sengaja menyenggol gelas itu hingga jatuh pecah di lantai. Cairan alpukat tercecer ke mana-mana.

“Astaga!” Ranti membentak. “Kamu memang ceroboh, dasar anak tidak berguna!”

“Tapi tadi Sisil ...”

“Diam!” Ranti menarik rambut Alkina kasar.

“Kamu sekarang makin suka melawan ya! Semakin kurang ajar kamu.”

Alkina meringis kesakitan. Sementara Sisil hanya tersenyum tipis penuh kemenangan.

“Mama jangan marah,” katanya pura-pura baik. “Nanti Alkina sedih. Lagi pula aku yang salah, tidak hati-hati.”

“Dia pantas mendapatkan itu.”

Kalimat itu membuat dada Alkina sesak. Ia menatap mamanya sendiri, berharap sekali saja perempuan itu melihat luka di matanya. Namun tidak pernah ada kasih sayang di sana yang ada hanya kebencian.

Malam hari, Alkina baru selesai mengepel lantai ketika ayahnya pulang.

Pria itu bernama Setiawan. Satu-satunya orang yang kadang masih bertanya apakah Alkina sudah makan atau belum, namun itu pun hanya diam-diam.

“Ayah pulang,” ucap Setiawan lelah.

Sisil langsung berlari memeluk pria itu manja.

“Daddy!”

Wajah Setiawan langsung melembut.

“Anak Daddy belum tidur?”

“Belum, nunggu Daddy.”

Ranti ikut tersenyum hangat.

Suasana keluarga bahagia itu terasa lengkap jika saja Alkina tidak berdiri seperti pembantu di sudut ruangan.

Setiawan melirik putri kandungnya sekilas.

“Kamu sudah makan?”

Belum sempat Alkina menjawab, Ranti mendengus.

“Ngapain dipikirin? Dia tadi bikin masalah lagi.”

Alkina menunduk, Setiawan menghela napas panjang. Seperti biasa, ia memilih diam agar tidak ada keributan. Ia sudah lelah bekerja di luar, setidaknya dia pulang ke rumah bisa tenang dan nyaman. Bisa melepas lelah tanpa adanya ia mendengar keributan di rumah.

Dan sekali lagi Alkina kalah.

Malam semakin larut.

Setelah semua pekerjaan selesai, Alkina masuk ke kamar kecil di belakang rumah. Bukan kamar utama seperti milik Sisil.

Kamarnya sempit, lembap dan lampunya redup. Ia duduk di lantai sambil memeluk lutut, pelan-pelan air matanya jatuh.

“Aku salah apa…” bisiknya lirih.

Dulu waktu kecil, Alkina pernah berpikir mungkin jika ia menjadi anak baik, ibunya akan menyayanginya.

Maka ia belajar rajin, tidak membantah, selalu mengalah, selalu menuruti semua perintah. Tapi hasilnya tetap sama Ia tetap dibenci.

Bahkan ketika ulang tahunnya sendiri, tidak ada yang ingat kecuali ayahnya. ayahnya selalu diam-diam memberikan dirinya hadiah. Sebaliknya, ulang tahun Sisil dirayakan besar-besaran setiap tahun.

Kadang Alkina bertanya dalam hati apa benar dia anak kandung? Atau sebenarnya ia hanya orang asing yang numpang hidup di rumah itu?

Tok.

Tok.

Tok.

Pintu kamar diketuk pelan.

Alkina buru-buru menghapus air matanya.

“Tunggu sebentar?”

Pintu terbuka perlahan. Setiawan masuk diam-diam sambil membawa sepiring nasi dan ayam goreng.

“Kamu belum makan kan?”

Mata Alkina langsung berkaca-kaca.

“Terima kasih, pah…”

Setiawan duduk di samping putrinya. Wajah pria itu tampak jauh lebih tua malam ini. Pria terlihat seperti memikul beban yang berat.

“Papa minta maaf.”

Kalimat itu membuat hati Alkina semakin sakit. Karena permintaan maaf tanpa perubahan hanyalah luka yang diulang.

“Papa capek…” suara Setiawan lirih. “Rumah ini selalu ribut.”

Alkina tersenyum pahit.

“Papa tahu aku tidak salah kan?”

Pria itu diam, diam terlalu lama dan itu sudah cukup menjadi jawaban. Air mata Alkina jatuh lagi.

Setiawan memalingkan wajah, tidak sanggup melihat putrinya menangis.

“papah akan usahakan semuanya membaik.”

Namun Alkina sudah terlalu sering mendengar janji itu. Berkali-kali sampai ia tidak percaya lagi.

"Sampai kapan aku harus menunggu?" ucap Alkina terdengar lelah

"Sebentar lagi, kamu sabar ya nak."

"Sabar, aku sudah lama bersabar, tapi sampai kapan pah. Aku juga capek, aku juga lelah pah." ucap Alkina

“Setelah makan, istirahatlah.” Selalu begitu, Setiawan tidak pernah bisa memberikan kepastian.

“Ini untuk kamu.” Setiawan memberikan sebuah amplop coklat yang cukup tebal dan Alkina sudah tahu apa isi amplop itu. itu adalah uang jajan Alkina selama satu bulan.

Alkina menghebuskan nafas lelahnya, apakah ia harus selalu berharap.

Keesokan paginya, rumah kembali ramai, Ranti dan Sisil sibuk memilih gaun untuk menghadiri pesta ulang tahun teman sosialita mereka.

Sementara Alkina diminta membersihkan gudang belakang. Ruangan itu penuh debu, saat sedang memindahkan kardus lama, sebuah kotak kecil jatuh dari rak paling atas.

Alkina membukanya perlahan.

Di dalamnya ada album foto lama. Ia membuka halaman pertama dan napasnya langsung tercekat. Foto seorang bayi perempuan dalam gendongan Setiawan Di belakang foto tertulis:

“Alkina Wiratmaja, putri kecil Papa dan Mama.”

Mama.

Dulu Ranti pernah menulis kata itu. Tangan Alkina gemetar membalik halaman berikutnya. Ada banyak foto masa kecilnya. Saat ulang tahun pertama. Saat belajar berjalan. Saat tidur di dada ibunya. Ranti terlihat begitu bahagia di setiap foto.

Lalu… Kenapa semuanya berubah? Air mata menetes di atas album itu.

Alkina sadar Ia tidak lahir tanpa dicintai. Dulu ia sangat di nantikan dan di sayang namun sejak kapan semua ini berubah?

Seseorang pernah sangat menyayanginya sampai akhirnya sesuatu berubah dan Alkina ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi?

1
Adinda
kenapa gk lapor polisi
Adinda
balikkin aja anak angkat kamu udah sifatnya kurang ajar sok berkuasa juga
Ds Phone
kau yang tak nak jumpa dia pergi lah
Ds Phone
yang keras hati tu kenapa
Ds Phone
dia tahu itu anak nya
Ds Phone
meraka dah siap sedia
Ds Phone
kau sebok nak hancur kan orang siapa suruh
Ds Phone
abang nya pantau dia
Ds Phone
itu nenek nya juga patut lah begitu sayang
Ds Phone
mintak mintak dia aman
Ds Phone
ya kak kamu tengah beruasa
Ds Phone
semua orang lindung dia
Ds Phone
dia dah mula tenang sikat
Ds Phone
nak bunuh anak orang kah tu
Ds Phone
nak hidup senang aja tahu dia
Ds Phone
tak sedar diri nak harta orang tapi bunuh anak orang
Ds Phone
dia nak balas cara perlahan lahan
Ds Phone
baru kau tahu langit tinggi rendah nya
Ds Phone
mesti budak tak guna tu punya kerja
Ds Phone
kenapa di tutup mesti budak tak guna tu sorok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!