NovelToon NovelToon
Terpikat Mas Preman

Terpikat Mas Preman

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: Akira Fan

Kamila Larasati, seorang gadis cantik yang pintar, kritis, keras kepala dan punya pendirian kuat persis seperti ayahnya yang seorang Jendral TNI. Kamila menentang perjodohan yang dilakukan ayahnya dengan bawahannya. Dia tidak ingin mengikuti jejak kakaknya yang kehidupan pernikahannya terlalu banyak aturan.

Kamila masih sangatlah muda. Dia masih ingin bebas menikmati masa mudanya dengan berbagai pengalaman yang bermakna.

Sampai pada suatu hari, dia bertemu dengan Mahardika Pratama yang seorang preman kampung. Kejadian yang tak terduga menjadi awal pertemuan mereka hingga seiring berjalannya waktu tumbuhlah rasa cinta diantara mereka. Tapi ada sebuah rahasia yang sempat menggoyahkan perasaan Kamila. Apakah akhirnya cinta mereka akan bersatu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akira Fan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Hari Kelulusan

Setelah perjuangan selama empat tahun menempuh pendidikan di sebuah Universitas nomer satu di kota Surabaya. Akhirnya hari kelulusan yang ditunggu Kamila telah tiba. Gadis cantik, pintar dan kritis yang selalu terlihat ceria itu merayakan kelulusannya bersama teman seangkatannya.

Bukan berfoya-foya tapi hanya makan bersama dicafe tempat biasa mereka nongkrong. Walau Kamila termasuk anak orang terpandang tapi dia tetap rendah hati dan berteman dengan siapa saja.

"Alhamdulillah, akhirnya kita lulus teman-teman," ucap Veni salah satu sahabat Kamila.

"Empat tahun ternyata nggak kerasa ya kalau sudah dilewati?," timpal Kamila dengan senyum riangnya merasa tidak percaya mereka sudah lulus.

"Rasanya baru kemaren kita kenalan, eh sebentar lagi kita akan berpisah teman-teman," Renata menambahi dengan raut muka sedih.

"Jangan gitu dong, walau setelah ini kita berpisah tapi jangan sampai komunikasi kita terputus ya?," sambung Kamila menghibur teman-temannya yang sudah seperti saudaranya itu.

"Iya dong, janji ya?," mereka berpelukan dan tangan mereka saling berpegangan untuk mengikat janji.

Sepulang dari kampus, Kamila mampir sebentar disebuah Yayasan Yatim Piatu yang tidak jauh dari komplek perumahannya. Sudah menjadi rutinitasnya setiap minggu untuk menyapa anak-anak panti. Rasa sosialnya yang tinggi selalu menuntunnya untuk perduli dengan sesama yang membutuhkan.

Hatinya selalu tenang setiap pergi ke tempat itu. Panti juga menjadi salah satu tempat kenangannya bersama mamanya. Saat mamanya masih hidup, Kamila pasti ikut jika mamanya melakukan kegiatan amal dipanti.

"Hai kak Kamila," sapa seorang gadis kecil membuyarkan lamunan Kamila akan kenangan masa lalunya.

"Eh hai Cinta, maaf kakak melamun sampai nggak tahu ada kamu disini," Kamila mengusap pipinya yang sempat basah dengan air mata.

"Kakak menangis?," tanya Cinta lagi dengan wajah polosnya.

"Nggak, kakak cuma terharu sayang. Kakak kangen sama ibu kakak," Kamila duduk untuk mensejajarkan posisinya dengan anak itu.

"Jangan sedih kak, aku dan teman-teman panti akan selalu ada untuk kakak. Kita kan teman," Ucapan gadis kecil yang masih polos itu memberi kehangatan pada hati Kamila.

Dengan perasaan bangga Kamila memeluk gadis itu. Dia tidak boleh bersedih, dia merasa malu dengan gadis itu. Gadis yang sudah tidak punya orang tua itu terlihat tegar dan bisa berfikir dewasa dari pada dirinya.

"Oh iya, ini kakak bawa sesuatu untuk kamu dan teman-teman. Hari ini kakak sedang bahagia sekali, akhirnya kakak lulus kuliahnya," Kamila menyerahkan berbagai macam lauk dan snack untuk para penghuni panti.

"Terima kasih ya kak, Selamat atas kelulusan kakak," Ucap Cinta tulus disertai senyum manisnya.

"Sini teman-teman kak Kamila sudah lulus kuliahnya, dan ini kak Kamila juga membawa banyak makanan untuk kita," imbuhnya lagi.

Anak-anak dan ibu panti terlihat antusias, mereka makan bersama dengan bahagia ikut merayakan kebahagiaan Kamila yang telah lulus Kuliah.

"Kakak pamit dulu ya, kalau kakak nggak sibuk kakak kesini lagi," pamit Kamila dengan senyum tulusnya.

"Iya kak, hati-hati ya," mereka semua kompak mengantar kepergian Kamila dengan lambaian tangan.

Kamila tersentuh dengan sikap manis anak-anak itu. Tak henti-hentinya dia mengucap syukur atas kebahagiaannya yang tak terkira.

***

Disebuah rumah mewah yang merupakan kediaman pribadi keluarga Kamila, pembantu telihat sibuk mempersiapkan jamuan makan malam yang tidak seperti biasanya. Tapi ini bukan sesuatu yang mengherankan bagi Kamila karena hal itu tidak hanya terjadi kali ini saja.

"Papa mau pulang kak?," Tanya Kamila menghampiri kakaknya Karina yang sedang memasak didapur dibantu bi Lastri pembantu mereka.

"Iya, kamu cepet ganti baju sana terus bantuin kakak biar cepet selesai," perintah kakaknya sambil memukul kecil tangan Kamila yang sedang mencoba mencomot ayam goreng bikinan Karina yang terlihat menggoda.

Kamila mengerucutkan bibirnya karena gagal mencomot ayam goreng kesukaannya. Dia kemudian berlalu pergi kekamarnya untuk bersih-bersih lalu membantu kakaknya. Sedangkan Karina hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah adiknya itu.

Karina memang pandai memasak, dia selalu menghandle sendiri jika ada perjamuan makan dirumah mereka. Selain menjadi kakak, Karina juga serasa menjadi ibu bagi Kamila menggantikan mamanya yang sudah meninggal sejak mereka kecil.

Ayahnya, Herman Sanjaya yang seorang Jendral TNI memilih mengurus mereka sendirian. Dia memutuskan untuk tidak menikah lagi karena kesetiaannya pada istrinya. Dia memilih merawat anak-anaknya seorang diri ditengah kesibukannya.

Suara mobil menderu memasuki halaman rumah mewah itu. Pertanda bahwa ayah mereka telah pulang dari tugas dinasnya.

"Papa pulang kak?," seru Kamila pada kakaknya dengan penuh semangat.

"Iya, kakak mau memanggil Vano dulu supaya bersiap menyambut kedatangan kakeknya," Kamila hanya mengangguk saja.

Kamila, Karina dan Devano putra Karina menyambut kedatangan Pak Herman dengan senyum bahagia diwajah mereka.

"Kakek," Devano berlari dan menghambur ke pelukan kakeknya yang sudah satu bulan ini tidak bertemu.

"Wao, cucu kakek yang ganteng kangen kakek ya?," Pak Herman tersenyum bahagia melihat cucunya, kemudian menggendongnya untuk masuk.

"Papa?," Ucap Karina dan Kamila menyambut papanya kemudian bergantian untuk salim.

"Papa kangen sekali suasana rumah, ayo masuk!," Ajak Pak Herman kepada anak cucunya.

Mereka berempat masuk beriringan dengan perasaan bahagia dengan Devano yang masih berada digendongan Pak Herman. Walau sudah sedikit berumur tapi tubuh Pak Herman masih bugar layaknya kaum muda.

"Hmmm, makanan hari ini kelihatan lezat sekali. Papa nggak sabar untuk makan bersama," Pak Herman melihat berbagai masakan rumahan sudah terhidang dimeja makan yang terlihat menggoda.

"Iya dong pa, tapi papa bersih-bersih dulu terus kita bersama. Ayo Kamila bantu bawakan barang-barang papa ke kamar," Kamila menggandeng tangan papanya untuk kekamar terlebih dahulu untuk mengganti baju dinasnya dengan baju santai.

"Siap anak gadis papa yang cantik," Pak Herman mencubit hidung mancung Kamila karena gemas.

Kamila hanya nyengir manja. Papanya memang selalu bersikap hangat kalau saat dirumah. Sangat berbeda jauh kalau sedang ditempat kerja.

Saat dimeja makan mereka makan bersama sambil mengobrol ringan. Suasana seperti inilah yang menjadi kan keluarga mereka bertambah harmonis. Keterbukaan apapun yang terjadi dalam kehidupan mereka pasti dibicarakan bersama.

"Emm, Mila hari ini pengumuman kelulusan kamu sudah keluar kan?," Tanya Pak Herman menghentikan sementara aktivitas makan Kamila.

"Iya pa, dan minggu depan Kamila wisuda," Jawab Kamila antusias.

"Papa bangga sama kamu nak, inilah salah satu tujuan papa pulang. Ingin menemani acara wisuda anak papa ini," Ucap Pak Herman lagi tersenyum bangga pada Kamila.

"Ya harus dong, masa anaknya wisuda papa nggak datang?," goda Kamila pada papanya.

"Aku juga ikut ya tante? Vano pengen lihat tante pakai baju wisuda," Devano ikut-ikutan nimbrung.

"Tentu sayang, kita semua akan hadir di acara wisuda tante Mila nanti," Karina mengusap lembut kepala putranya itu.

"Yei, asyik," Devano berteriak girang karena akan melihat tantenya pakai baju Toga.

1
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Akira Fan: Siap kak, terima kasih supportnya 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!