NovelToon NovelToon
VENA - AIR YANG MATI

VENA - AIR YANG MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Fantasi
Popularitas:147
Nilai: 5
Nama Author: Catnonimous

Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 : Aris dan besi bawah kota

Aris membetulkan kerah jaketnya yang sudah mulai tipis. Udara kota pagi ini terasa berat, campuran antara debu jalanan dan bau bensin dari kendaraan yang lalu lalang tak henti. Meskipun gedung-gedung tinggi berdiri di kejauhan, pemandangan di sekitar Aris justru sebaliknya: deretan ruko kusam, kabel listrik yang menjuntai semrawut seperti benang kusut, dan genangan air di pinggir jalan yang tak pernah kering.

Aris berjalan kaki, bukan karena ingin sehat, tapi karena ongkos angkutan umum sudah setara dengan makan siangnya. Di kantongnya hanya ada beberapa lembar brosur lowongan kerja yang sudah lusuh. Semuanya nihil. Ada yang meminta ijazah tinggi, ada yang meminta pengalaman bertahun-tahun, dan yang paling sulit hampir semua meminta referensi keluarga.

"Keluarga, ya?" gumam Aris sinis.

Baginya, konsep keluarga adalah sebuah lubang hitam. Ia tidak tahu siapa orang tuanya atau di mana ia dilahirkan. Namanya pun mungkin hanya pemberian acak dari panti asuhan tempat ia pernah bernaung sebelum akhirnya memutuskan untuk kabur dan hidup di jalanan. Aris hanya punya dirinya sendiri dan sebuah kamar sewa yang lebih mirip kotak sepatu di pinggiran kota.

Langkah kakinya berhenti di depan sebuah toko besi yang tampak tua. Nama tokonya "Sumber Makmur", tapi cat papan namanya sudah mengelupas hingga hanya menyisakan tulisan "Sum... Mur". Di depannya, tumpukan pipa paralon, kunci-kunci pipa, dan baut-baut berkarat tertata sedikit berantakan.

Seorang pria tua dengan kacamata tebal yang melorot ke ujung hidung sedang menggerutu sambil mencoba mengangkat sebuah gulungan selang besar.

"Aduh... pinggang tua," keluh pria itu.

Aris ragu sejenak, lalu mendekat. "Perlu bantuan, Pak?"

Pria tua itu menoleh, menyipitkan mata menatap Aris dari atas ke bawah. "Kau siapa? Mau maling baut?"

Aris terkekeh pelan. "Bukan, Pak. Saya lagi cari kerja."

Pria itu meletakkan selangnya dan berkacak pinggang. "Cari kerja?"

"Kau tahu cara pakai kunci inggris? Atau tahu bedanya pipa PVC sama pipa besi?"

"Saya bisa belajar cepat, Pak. Saya biasa bongkar-pasang barang di bengkel dulu," jawab Aris jujur.

Pria tua itu terdiam sebentar, lalu mengulurkan tangan yang kasar. "Panggil saya Pak Jaya. Aku sudah tidak sanggup kalau harus merayap ke bawah saluran air sendirian. Encokku bisa kambuh seminggu kalau masuk ke lubang pembuangan."

Aris menjabat tangan itu. "Saya Aris, Pak."

"Aris. Baiklah, Aris. Kebetulan sekali. Hari ini ada panggilan dari rumah Bu Salma di gang sebelah. Pipanya mampet total dan rembes ke dinding. Kalau kau bisa bantu aku selesaikan itu tanpa membuat rumahnya banjir, kau boleh kerja di sini. Upahnya tidak besar, tapi cukup buat beli nasi bungkus dan rokok. Bagaimana?"

"Saya mau, Pak," jawab Aris tanpa pikir panjang.

Pak Jaya mengambil tas peralatan yang cukup berat dan memberikannya kepada Aris. "Bawa ini. Kita jalan kaki saja, dekat. Tapi ingat, instalasi di bawah kota ini sangat berantakan. Jangan sampai kepalamu terbentur pipa beton yang dipasang asal-asalan."

Aris mengangguk dan mengikuti langkah Pak Jaya yang agak pincang. Sambil berjalan, ia menatap barisan toko dan rumah-rumah kumuh yang mereka lewati. Ia tidak tahu bahwa pekerjaan pertamanya ini akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pipa yang mampet.

"Nah, itu rumahnya. Siapkan peralatannya. Saluran air di sini lebih gelap dari masa depan kita," canda Pak Jaya sambil terkekeh.

Aris hanya tersenyum tipis, mulai membuka tas peralatan dan bersiap menghadapi bau got yang sudah menyambut mereka dari kejauhan.

Aris mengikuti Pak Jaya masuk ke gang sempit di samping rumah Bu Salma. Baunya khas: campuran deterjen murah dan aroma tanah basah yang pengap. Pekerjaan pertamanya ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Aris harus membongkar sambungan pipa di bawah bak cuci piring yang ruangnya sangat terbatas, sementara Pak Jaya hanya berdiri di luar sambil sesekali memberi instruksi dan mengeluhkan sendi lututnya.

"Putar ke kiri, Ris! Pelan-pelan, jangan sampai jebol, itu pipa model lama, susah cari gantinya!" seru Pak Jaya dari balik pintu dapur.

"Sip, Pak!" Aris menyahut, wajahnya memerah karena menahan napas sambil memutar kunci inggris.

Beberapa saat kemudian, aliran air sisa cucian yang mampet menyembur keluar ke dalam ember yang sudah disiapkan. Aris berhasil membersihkan sumbatan lemak yang mengeras seperti batu di dalam pipa tersebut. Setelah memastikan tidak ada kebocoran lagi, Aris merapikan kembali alat-alatnya.

Bu Salma, pemilik rumah, memberikan dua lembar uang kusam dan segelas air putih hangat. "Terima kasih ya. Beruntung Pak Jaya punya asisten sekarang."

"Sama-sama," jawab Pak Jaya dan Aris menyeka keringat dengan punggung tangannya.

...****************...

Kembali ke toko "Sumber Makmur", matahari sudah mulai turun. Pak Jaya duduk di kursi plastik depan tokonya yang menghadap ke jalanan yang masih bising oleh deru motor. Di atas meja kayu kecil, sudah ada dua gelas kopi hitam yang masih mengepul.

"Nih, bagianmu," ucap Pak Jaya sambil menyodorkan selembar uang hasil kerja tadi. Nilainya memang tidak seberapa, tapi bagi Aris, ini adalah uang pertama yang ia dapatkan setelah berminggu-minggu luntang-lantung.

"Terima kasih, Pak," ucap Aris tulus. Ia menyeruput kopinya yang pahit dan panas. "Kota ini... pipanya benar-benar berantakan ya, Pak? Tadi saya lihat di bawah saluran pembuangan di pinggir jalan, ada pipa kabel yang masuk ke jalur air."

Pak Jaya menghela napas panjang, asap rokoknya mengepul lambat. "Kau benar. Kau mungkin tidak percaya, tapi dua puluh tahun lalu, kota ini tidak seperti ini. Dulu airnya bening, jalannya bersih, dan manajemen kotanya salah satu yang terbaik."

Aris menaikkan sebelah alisnya. "Serius? Melihat kondisi gang tadi, rasanya sulit dipercaya."

"Itu sebelum 'orang-orang besar' di balai kota mulai berebut kekuasaan," lanjut Pak Jaya dengan nada kecewa. "Anggaran perbaikan infrastruktur dimakan untuk kepentingan sendiri. Perizinan pembangunan keluar asal-asalan demi uang pelicin. Sekarang, lihatlah. Pipa air bersih berhimpitan dengan selokan, kabel listrik tumpang tindih dengan pipa gas.

Kota ini seperti bom waktu yang tinggal menunggu waktu untuk meledak, Ris."

Aris menatap ke arah kerumunan kendaraan di jalanan yang macet. "Kenapa tidak ada yang protes, Pak?"

"Siapa yang mau dengar suara orang kecil seperti kita? Asal air masih mengalir sedikit dan lampu masih menyala, orang-orang memilih diam," Pak Jaya menyeruput kopinya sampai habis. "Tapi ya sudahlah, yang penting hari ini kita bisa makan.

Pulanglah, Ris. Istirahatkan badanmu. Besok mungkin akan lebih banyak panggilan, soalnya pompa di blok sebelah kabarnya mulai bermasalah lagi."

Aris mengangguk. Ia menghabiskan kopinya, berpamitan pada Pak Jaya, dan berjalan pulang menuju kamar sewanya. Di kepalanya masih terngiang ucapan Pak Jaya tentang kota yang "carut-marut". Aris tidak sadar, bahwa carut-marutnya infrastruktur kota yang ia lihat hari ini akan menjadi pintu masuk bagi bencana yang tidak pernah dibayangkan oleh Pak Jaya sekalipun.

1
Anak_misterius😑
bagus novel nya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!