NovelToon NovelToon
He Is My Imam, Not My Oppa

He Is My Imam, Not My Oppa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ROK MINI DI GERBANG LANGIT

Dunia Mentari adalah simfoni dari dentuman bass yang menggetarkan dada, aroma parfum mahal yang bercampur dengan asap vapor, dan kilauan lampu neon yang memantul di gelas kristal. Malam itu, di sebuah kelab malam paling eksklusif di Jakarta, Mentari adalah ratunya. Dengan dress merah ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang sempurna, ia berdiri di atas sofa VIP, tertawa keras sambil menuangkan minuman ke gelas teman-temannya.

"Mentari! Pelan-pelan, besok lo ada janji sama nyokap lo, kan?" teriak salah satu temannya di tengah kebisingan.

Mentari mengibaskan rambut pirang aslinya yang tergerai indah. "Janji bisa dibeli, kebebasan nggak! Cheers, Guys!"

Ia tidak tahu bahwa malam itu adalah pesta perpisahan bagi kehidupan "bar-bar"-nya.

Pukul 05.30 WIB. Mentari pulang dengan langkah limbung. Maskaranya sedikit luntur, dan sepatu *high heels -nya ia jinjing di tangan kiri. Saat pintu rumah besar itu terbuka, ia tidak disambut oleh keheningan seperti biasanya.

Papa dan Mamanya duduk di ruang tamu. Wajah mereka tidak lagi menunjukkan kemarahan. Hanya ada kelelahan yang luar biasa dalam tatapan mereka. Di samping Papa, sudah ada tiga koper besar milik Mentari.

"Papa... Mama... Tumben bangun pagi?" racau Mentari sambil mencoba tersenyum manis, senyum andalannya untuk meluluhkan hati orang tuanya.

"Masuk ke mobil, Mentari. Sekarang," suara Papa rendah, dingin, dan tidak bisa dibantah.

"Hah? Mau ke mana? Kita mau liburan ke Paris? Tapi Tari belum *packing*, Pa!"

Mama berdiri, matanya berkaca-kaca. "Kami sudah menyerah, Tari. Uang tidak bisa mendidikmu, kemewahan justru merusakmu. Kamu akan pergi ke Jawa Timur. Ke tempat sahabat lama Papa."

"Jawa Timur? Ngapain? *Surfing* di Banyuwangi?"

"Pesantren Al-Hidayah," ucap Papa singkat.

Seketika, rasa mabuk Mentari hilang total. Jantungnya seolah berhenti berdetak. "Pesantren? Tempat orang-orang pakai sarung dan baca kitab itu? Pa! Are you kidding me?! Tari nggak mau! Tari nggak bisa hidup tanpa AC, tanpa skincare, tanpa... Paaa!"

Mentari berteriak, menangis, dan mencoba lari, namun supir pribadi keluarganya sudah sigap mencekal lengannya. Hari itu, Mentari diculik oleh orang tuanya sendiri menuju sebuah tempat yang ia anggap sebagai "neraka dunia".

Sepuluh jam perjalanan darat terasa seperti eksekusi mati. Mobil mewah itu akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang kayu raksasa bertuliskan aksara Arab dan Latin: PONDOK PESANTREN AL-HIDAYAH.

Mentari turun dengan sisa-sisa keberaniannya. Ia masih memakai pakaian semalam rok mini denim dan kaos ketat tanpa lengan yang hanya ditutupi jaket kulit. Kacamata hitam menutupi matanya yang sembab.

"Gila... ini tempat apa? Kok banyak pohon bambu? Mana mal?" keluhnya sambil menghentakkan kaki.

Saat koper-kopernya diturunkan, perhatian seluruh santriwati yang sedang menyapu halaman langsung tertuju padanya. Mereka berbisik-bisik, menatap ngeri pada paha mulus Mentari yang terpampang nyata.

"Lihat apa lo semua?! Belum pernah liat orang cantik?!" teriak Mentari galak. Ia memang cantik, manis, tapi mulutnya sama sekali tidak manis.

Tiba-tiba, suasana menjadi hening. Kerumunan santriwati itu membelah, memberi jalan bagi seseorang yang baru saja keluar dari area masjid.

Pria itu tinggi. Kulitnya bersih, wajahnya memiliki fitur tegas namun sangat manis dipandang. Ia mengenakan baju koko putih yang sangat rapi dan peci hitam yang duduk sempurna di kepalanya. Di dadanya, ia mendekap sebuah Al-Qur'an besar dengan tangan kanannya.

Mentari terpaku. *Gila, ini cowok atau malaikat? Ganteng banget!* batinnya.

Pria itu berhenti sekitar tiga meter di depan Mentari. Ia sama sekali tidak melihat wajah Mentari. Matanya tertuju pada aspal di bawah kaki mereka.

"Astaghfirullahaladzim," ucap pria itu lirih namun jelas. Suaranya rendah dan dalam, seperti getaran bass yang pernah Mentari dengar di kelab, tapi kali ini getarannya merambat hingga ke ulu hati.

"Eh, Mas! Lo siapa? Gue lagi nanya nih, kantor kepala sekolahnya di mana?" Mentari maju satu langkah, mencoba memancing perhatian pria itu.

Pria itu tetap menunduk. "Ini Pesantren, bukan sekolah umum. Dan di sini, kami menghargai aurat. Tolong, pakailah kain apa pun untuk menutupi tubuhmu, Ukhti."

"Ukhti? Nama gue Mentari! Dan ini namanya fashion, tahu nggak?!" Mentari berkacak pinggang.

Pria itu tidak membalas. Ia justru berbalik arah, berjalan menjauh dengan langkah yang tenang dan berwibawa tanpa sekalipun melirik Mentari.

"Heh! Gue lagi ngomong! Jangan sombong ya lo!" teriak Mentari kesal.

Seorang santriwati mendekat dengan takut-takut sambil menyodorkan sebuah sarung. "Mbak... maaf, itu tadi Gus Zikri. Putra Kyai di sini. Beliau memang tidak bicara dengan wanita yang bukan mahramnya jika tidak darurat."

"Gus Zikri? Gus Kulkas kali! Sombong banget jadi orang!" Mentari merenggut sarung itu dengan kasar.

Mentari diantar ke sebuah kamar luas yang berisi empat tempat tidur tingkat. Di sana, sudah ada tiga gadis yang menunggunya.

"Wah... ada bidadari nyasar," ucap seorang gadis dengan wajah ceria namun matanya tampak liar meneliti pakaian Mentari. "Gue Bondan. Eh, itu tas lo LV asli? Sumpah, cantik banget! Gue boleh coba nggak?"

Gadis kedua hanya diam, menatap Mentari dengan mulut sedikit terbuka. "Eh... anu... kamu... tadi itu... siapa ya?" tanya gadis itu telat.

"Ini Fahma," Bondan menyahut sambil memutar bola mata. "Dia emang lemot, baru nyambung kalau udah besok. Terus yang lagi baca kitab di pojok itu Hafizah."

Hafizah menutup kitabnya, menatap Mentari dengan pandangan meneduhkan tapi tegas. "Assalamualaikum, Mentari. Selamat datang di Al-Hidayah. Alangkah baiknya jika sebelum masuk kamar, kamu membersihkan diri dan menutup auratmu. Karena dalam hadist dikatakan bahwa..."

"Stop! Gue ke sini mau tidur, bukan mau dengerin ceramah!" potong Mentari sambil membanting tubuhnya ke kasur yang keras. "Kasur apaan nih? Kayak batu!"

Fahma baru bereaksi, "Oh... Mentari ya namanya? Salam kenal..."

Mentari menutup wajahnya dengan bantal. Di kepalanya hanya ada satu hal: Gus Zikri. Pria itu sudah mengabaikan harga dirinya sebagai primadona Jakarta.

"Lihat aja, Gus Kulkas. Dalam seminggu, lo bakal sujud-sujud minta nomor HP gue," gumam Mentari penuh dendam, tanpa tahu bahwa di pesantren ini, pesonanya sama sekali tidak berlaku.

Perang antara si gadis bar-bar dan sang penjaga pandangan baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!