NovelToon NovelToon
Senyum Berbalut Luka

Senyum Berbalut Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Persahabatan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: RahmaYesi.614

Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.

Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.

Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayi tanpa identitas

PERINGATAN!!! 🔥

Cerita ini hanya FIKSI semata. Nama toko, tempat dan kejadian, semua berasal dari IMAJINASI penulis.

Terimakasih dan selamat membaca.🙏😊

...🌹🌹🌹 Senyum berbalut Luka 🌹🌹🌹...

[BANDUNG, 2005]

"Buat apa kamu pungut bayi ini, mas! Kita orang susah, menghidupi Nina sama Nino saja susahnya minta ampun. Sekarang malah membawa bayi ke rumah ini... gila kamu mas!"

Terlihat gila memang. Arman sudah memiliki dua anak kembar yang baru berusia 3 tahun, tapi ia nekad membawa bayi tanpa identitas untuk ia rawat. Padahal pekerjaannya hanya seorang ojek pengkolan dan Astrid, istrinya tidak bekerja.

Arman sangat paham dengan kemarahan istrinya, tapi ia tidak tega jika harus membiarkan bayi malang itu begitu saja.

"Astrid, aku janji akan kerja lebih giat lagi. Aku janji dengan kita merawat bayi malang ini, akan aku pastikan kalian tidak akan kekurangan apapun. Aku akan usahakan hidup kita tetap sama bahkan jika perlu hidup lebih baik dari sebelum bayi ini datang." Arman mencoba membujuk Astrid.

"Aku gak peduli. Buang bayi ini atau mas yang keluar dari rumah ini!" Teriak Astrid tegas.

Arman terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ia memberikan amplop putih yang dia temukan bersama bayi ini kepada Astrid. "Ini coba kamu buka."

Astrid mendelik malas, meski begitu tangannya tetap meraih amplop putih dari tangan suaminya. Begitu amplop terbuka, mata Astrid terbuka lebar membaca secarik kertas bertuliskan surat dari ibu si bayi.

[Siapapun yang menemukan anakku, tolong jaga dan rawat anak ini. Gunakan uang tabungan ini untuk keperluannya. Maafkan Mama nak, mama terpaksa melakukan semua ini. Semoga kamu ditemukan orang baik.]

Tidak hanya surat saja, di dalam amplop putih itu juga ada buku tabungan yang berisi sekitar lima jutaan lebih. Ada kode pin juga di dalam amplop itu.

Melihat buku tabungan itu tentu saja membuat Astrid sedikit melunak. "Ya sudah, mas boleh merawat anak ini. Tapi jangan harap aku mau bantu. Aku izinkan bayi ini tinggal sama kita, tapi kalau sampai kita kesusahan, aku akan menjual bayi ini." Ancamnya yang disetujui saja oleh Arman.

Arman tersenyum lega, matanya berbinar-binar menatap mata mungil kecoklatan itu. "Mulai hari ini, kamu tinggal disini bersama Ayah, ibu, kak Nina dan kak Nino, ya nak." bisiknya sambil mengelus pipi mungil dalam gendongannya.

Astrid mendelik kesal melihat Arman begitu peduli pada bayi itu. "Anak ini bukan anak haram kamu kan mas?!" selidiknya curiga.

"Demi Allah, bukan. Aku tidak pernah berbuat curang dibelakang kamu, Astrid."

"Ya, aku percaya. Tapi, kalau sampai kamu bohongi aku, suatu saat pasti akan ketahuan, mas!"

"Aku siap menanggung semua resikonya kalau aku berbohong sama kamu."

"Bagus deh."

Sesaat kemudian, bayi itu menangis kejar seperti ada sesuatu yang menggigit. Arman panik, dengan cekatan dia melepas kain bedong lusuh yang membalut tubuh si kecil. Benar saja rupanya ada beberapa semut di punggung si kecil.

"Ya ampun, nak. Kasihan sekali kamu. Maaf ya, ayah tidak teliti." menyingkirkan bedong lusuh itu bersama semut-semut tanpa membunuhnya.

"Astrid, tolong ambilkan minyak telon. Kasihan ini punggungnya merah..."

"Aku udah bilang kan tadi, aku gak akan mau merawat bayi ini, mas. Jadi ambil saja sendiri." sungutnya berlalu begitu saja meninggalkan Arman yang dengan lembut mengusap punggung si kecil tepat di bekas gigitan semut.

"Perih ya nak? Bentar Ayah cari minyak telon dulu."

Arman meraih handuk untuk menyelimuti si kecil yang ia baringkan diatas sofa ruang tamu. Kemudian Arman mencari minyak telon. Sementara si kecil masih terus menangis histeris.

"Aduh, duh, kasihannya anak ayah. sakit ya nak. Bentar ayah oles minyak telon dulu ya." Perlahan dan lembut, Arman mengoleskan minyak telon di punggung bayi malang yang ia temukan dalam tong pembuangan sampah di depan gang rumahnya.

"Mas, bayinya bisa di bungkam aja gak sih mulutnya. Berisik! Ganggu tidur anak-anak saja!" teriaknya dari kamar anak kembar mereka.

Arman tidak menanggapi Astrid, dia masih terus mencoba menenangkan tangis si kecil yang kini sudah digendongnya lagi.

"Masih perih ya nak? Maafkan ayah ya." mengayun lembut tubuh mungil itu dalam gendongannya.

Bayi itu masih terus menangis. "Kamu haus ya nak?"

Arman segera meletakkan kembali bayi itu keatas sofa, lalu ia ke dapur membuatkan susu yang untungnya masih ada sedikit sisa susu milik Nina dan Nino.

"Sayang, sayang... Mimik dulu ya. Ini mimiknya." memberikan susu dengan botol dot bekas Nina waktu masih bayi.

Arman memberinya susu sambil menggendongnya, berjalan kesana kemari di dalam rumah.

Setelah susunya habis, bayi malang itu pun tertidur lelap dalam gendongan Arman. Perlahan Arman duduk di sofa tanpa melepas bayi itu. Matanya menatap lembut penuh kasih wajah mungil yang kini sudah lelap itu.

Perlahan tangannya menyentuh wajah mungil itu. "Anak ayah kuat, anak ayah hebat. Mulai sekarang, ayah akan panggil kamu Nadia. Ya, nama kamu Nadia, nak."

...>~<...

Delapan tahun berlalu, dengan asuhan Arman yang penuh kasih sayang, Nadia kini tumbuh menjadi anak yang sehat, pintar, sangat sopan dan juga penurut.

Nadia tidak tau kalau dia anak pungut, tapi perlakuan ibu dan kedua kakaknya membuatnya merasa kemungkinan ia hanya anak pungut benar adanya.

"Ayah, boleh nanya gak?"

"Tanya apa sayang?" sahut Arman yang sedang mengelap motornya sebelum berangkat ngojek.

"Apa aku bukan anak kandung ayah sama ibu?" tanya Nadia ragu dengan suara gemetar.

Tangan Arman yang tadi mengelap bagian depan motor, seketika membeku. "Kenapa Nadia nanya gitu, nak?"

Nadia menggeleng sebelum menundukkan kepalanya.

Arman menghentikan pekerjaannya untuk menghampiri Nadia.

"Ada apa nak?" Mengelus kepala Nadia. "Coba cerita sama ayah."

Awalnya Nadia ragu untuk cerita. "Ibu, kak Nina sama kak Nino sepertinya gak suka sama aku. Padahal aku gak buat salah apa apa."

Sebentar Arman menghela napas, dirangkulnya bahu Nadia untuk membuat Nadia berbaring nyaman di pundaknya. "Nadia anak Ayah sama ibu. Ya, kalau ibu marah-marah sama kamu, mungkin karena ibu capek banget."

"Tapi Yah?"

"Tidak usah banyak pikiran. Kamu anak ayah selamanya." Arman memeluk Nadia dengan penuh kasih.

Nadia selalu mengalah dalam hal apapun demi kedua kakaknya. Sama halnya dengan malam ini, saat keluarga itu bermain ke pasar malam untuk bersenang senang.

"Ayah, aku mau naik biang Lala, naik komedi putar, roller coaster juga!" rengek Nina. "Terus aku nanti mau beli boneka beruang yang besar itu loh yah. Semua temanku punya boneka beruang besar, cuma aku yang gak punya. Boleh ya, yah..." merengek sambil menarik narik lengan ayahnya.

"Aku mau masuk rumah hantu juga yah. Pertunjukan motor juga seru, aku mau lihat!" Nino juga ikut merengek.

Arman hanya bisa menelan ludah kasar, rupanya uangnya tidak cukup banyak untuk menyenangkan ketiga anaknya.

"Mas, biarkan anak anak bermain sepuasnya kali ini." ucap Astrid tanpa peduli keadaan suaminya yang mulai khawatir uangnya tidak cukup.

"Uang kita gak cukup, sayang." Bisik Arman yang membuat raut wajah Astrid merah padam.

"Selalu saja bilang gak cukup. Giliran untuk Nadia aja, uangnya ada aja terus." sungutnya kesal.

Nadia cukup peka dengan situasi itu. Ia pun menghampiri Arman, meraih jari kelingking ayahnya itu. "Ada apa, Nadia?" Arman sedikit mencondongkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan Nadia. "Apa Nadia mau mencoba wahana lain?" tanya Arman lembut.

Nadia menggeleng. "Ayah, aku tidak mau main apapun. Aku mau berkeliling melihat lihat saja. Aku takut main wahana wahana itu." ucap gadis berusia 8 tahun itu sambil tersenyum.

"Nadia yakin gak mau main wahana apapun?"

"Iya ayah. Nadia tunggu di sini saja."

Astrid mendengus malas. "Bagus deh, jadi gak perlu ngabisin banyak uang."

Arman hanya bisa diam tanpa berani mencegah Astrid berkata seperti itu. Bukan tidak mau membela Nadia, tapi saat Arman mulai membuka mulut untuk membela Nadia, Astrid mengancam akan memberitahu semua rahasia identitas Nadia yang sebenarnya.

"Ya sudah, ini ada uang 50 ribu. Nadia bisa jajan sambil melihat lihat. Tapi, jangan terlalu lama. Cepat kembali ke sini lagi ya."

"Iya ayah."

Setelah memastikan Nadia baik baik saja, Arman menggandeng Astrid mendekat ke komedi putar. Nina dan Nino mengekor dibelakang kedua orangtuanya. Tapi, sebelum benar benar pergi, Nina berbalik mendekati Nadia untuk merebut uang 50 ribu itu dari tangan Nadia.

"Kak!" seru Nadia kaget, tapi dengan cepat ia menahan suaranya agar tidak terdengar oleh ayahnya.

"Uang ini punya aku. Udah sana kamu lihat lihat aja sepuasnya." Nina mendorong bahu Nadia yang membuat Nadia hampir jatuh tersungkur ke tanah.

"Cuma ayah yang sayang sama aku. Apa benar aku anak pungut..." lirihnya sambil menyeka air matanya.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!