Riyanti Aryani adalah seorang gadis dari keluarga berada. Ia terpaksa jauh dari keluarganya lantaran ingin memenuhi cita-citanya. Sebelum tinggal di Surabaya, Riyanti atau lebih akrab dipanggil Riri itu sebelumnya kuliah di salah satu universitas di Malang. Setelah lulus, Riri diterima kerja di Surabaya. Ia ngekos di salah satu tempat kos yang cukup elit. Sebenarnya orang tuanya bisa saja membeliksnnya rumah di Surabaya, namun mereka khawatir Riri akan semakin betah di sana dan akan lupa pulang ke Lombok. Namun siapa sangka Riri bertemu dengan jodohnya di sana.
Sultan Ahmed Alfahrezi, anak sulung dari pasangan Windi dan Javier. Kegabutannya menjadi seorang driver ojek membuat dirinya akhirnya bertemu dengan jodohnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desakan
"Akhirnya selesai juga." Ujar Riri sambil menutup laptopnya. Ia menyandarkan diri di kursi kerjanya. Sudah satu tahun lebih Riri menjalankan profesinya sebagai seorang marketing di salah satu perusahaan di Surabaya. Sebenarnya ia bisa saja bekerja di kotanya. Orang tuanya juga bukan orang sembarangan. Mereka memeliki usaha di bidang perhotelan. Namun Riri tidak ingin dianggap aji mumpung. Apa lagi ia sudah terlanjur nyaman tinggal di kota Pahlawan.
Tok tok tok
"Masuk!"
"Bu, ini berkas yang ibu minta."
"Okey Za, Terima kasih."
"Sama-sama, bu."
Faza pun keluar dari ruangan Riri.
Riri memeriksa berkas yang baru diantarkan oleh Faza. Berkas tersebut berisi daftar barang baru yang harus ia pasarkan.
Tiba-tiba handphone Riri berdering.
"Hem... mama. Pasti yang dibahas itu lagi." Gerutunya.
Riri pun terpaksa mengangkat telpon dari sang Mama.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Mama ganggu, Ri?"
"Hem... nggak kok. Ini baru mau istirahat."
"Jangan lupa shalat!"
"Lagi haid, ma."
"Oh.... iya, jangan lupa makan siang!"
"Iya, ini juga mau ke kantin kok."
Riri mengerti mamanya pasti sedang basa-basi.
"Ri... "
"Iya ma, kenapa?"
"Itu si Arga ke sini lagi lho sama orang tuanya."
"Tuh kan, apa kubilang." Batin Riri.
"Terus?"
"Ya, dia mau melamar kamu. Umur kamu sudah mau 24 tahun, lho. Sampai kapan kamu kerja? Kerja kan bisa di sini di hotel kita."
"Ma... bukannya Riri sudah bahas ini dari awal ya. Target kumpulkan masih dua tahun lagi. Lagian Riri nggak suka sama Arga. Kalau mau mama saja."
"Astaghfirullah... Riri!"
Tidak ingin berdebat lagi dangan sang Mama. Riri pun pamit baik-baik. Ia beralasan mau makan karena sudah lapar.
Setelah menutup telponnya, Riri hanya bisa menghela nafas panjang.
"Ampuni hamba ya Allah."
Riri pun keluar dari ruangannya. Ia mengajak salah satu temannya di bagian HRD untuk makan di kantin bersamanya.
"Mau pesan apa, Ri?"
"Pingin seblak sih sebenarnya."
"Dih, mana ada di sini."
"Aku pesan pecel lele saja."
"Bu, pecel lele dua, es teh dua."
"Siap, mbak."
Sambil menunggu pesanannya datang, teman Riri membalas chat dari kekasihnya. Riri hanya bisa menopang dagunya dengan tangannya melihat temannya senyum-senyum sendiri.
"Ya elah... Lama-lama ikutan gila aku nih lihat kamu Fir!"
"Hem... makanya cari pacar. "
"Males!"
Riri memang terlalu cuek dengan urusan asmaranya. Itu bkan berarti ia tidak menyukai laki-laki. Hanya saja ia malas berusaha dengan sakit hati. Dulu saat SMA ia pernah berpacaran. Namun ternyata pacarnya selingkuh dengan temannya sendiri. Sejak itu, Riri tidak ingin lagi berpacaran. Saat kuliah pun, Riri selalu cuek dengan pria yang mendekatinya.
Pesanan mereka pun akhirnya datang. Mereka makan dengan santai.
10 menit kemudian, mereka selesai makan. Jam masuk tinggal 10 menit lagi. Mereka memutuskan untuk kembali ke ruangannya masing-masing.
Riri kembali berkutat dengan laptopnya. Ia mempersiapkan proposal yang akan dia ajukan kepada investor nantinya.
Sekedar informasi tentang Riri. Ia adalah anak sulung dari dua bersaudara. Pantas saja orang tuanya ingin ia segera menikah, karena adik Riri saat ini sudah bertunangan. Mereka tidak ingin Riri dilangkahi oleh adiknya. Berbeda halnya dengan Riri, adiknya tidak melanjutkan kuliah. Ia langsung bekerja di hotel milik keluarga mereka. Sisi enggan menikah jika kakaknya belum bertunangan. Padahal Riri sudah pernah bilang agar adiknya itu segera menikah saja. Kasihan tunangannya yang sudah menunggu selama 3 tahun.
"Repot banget jadi aku ya? Kenapa mereka nggak ngerti sih? Lagian laki-laki mana yang bisa dipercaya di jaman sekarang?" Gumamnya.
*
Sementara itu, di suatu rumah yang sangat megah di Surabaya bagian barat, seorang pria yang berstatus sebagai anak sulung dalam keluarganya saat ini sedang merenungi perdebatannya dengan orang tuanya tadi pagi.
"Usiamu sudah 27 tahun. Adik-adikmu Hana dan Hani sudah menikah dan memiliki anak. Apa kamu akan begini terus? Kamu adalah harapan dalam keluarga ini, bang. Kamu penerus abi mu."
"Abang sudah melakukan yang abi mau, ummi. Abang kan, sudah membantu abi di perusahaan meskipun nggak setiap hari. Masalah pasangan nanti kalau sudah waktunya akan ketemu. Abang ini laki-laki, ummi. Umur tidak menjadi penghalang untuk menikah."
"Begitu terus jawabanmu!" Sahut abi.
"Ummi tahu, sekarang kamu malah asik menjadi ojek online. Sebenarnya apa yang kamu cari, bang?"
"Tenanglah, ummi. Yang penting abang tidak neko-neko. Ummi tenang saja, abang masih memegang teguh ajaran agama. Abang shalat, tidak minum alkohol atau semacamnya, tidak mencuri, tidak balap liar, tidak.... "
"Ah sudah-sudah, cukup! Lama-lama abi struk dengar pembelaan mu! Ayo mi, balik ke kamar. Biarkan anakmu itu bertingkah sesuka hatinya!"
Begitu kira-kira perdebatan mereka.
"Apa ummi dan abi marah ya? Ini buktinya saat makan siang, mereka nggak panggil aku. Biasanya ummi akan menjemputku ke kamar. Huh....." Gumamnya.
Tok tok tok
"Nah itu pasti ummi."
Saat membuka pintu kamarnya, ternyata adiknya yang paling kecil yang datang membawakan makanan.
"Dek, kamu?"
"Abang ini gimana sih? Mau makan saja repot. Nih makanannya! Yang lain sudah pada makan."
"Hem... makasih ya."
"Sama-sama."
Hafiza pun meninggalkan kamar abangnya.
Di rumah itu, kini tinggal mereka berempat saja dan beberapa asisten rumah tangga serta sopir dan security. Sedangkan kedua adiknya yang lain sudah tinggal bersama suami mereka di rumah yang dibangun tidak jauh dari rumah itu. Abi dan ummi tidak angin anak-anaknya jauh dari mereka. Hafiza pun sudah disiapkan rumah untuk masa depannya nanti. Rumah tersebut berada di belakang rumah utama. Sedangkan abang, kebagian rumah utama.
Setelah menghabiskan makanannya, ia pergi ke dapur untuk meletakkan piring kotor.
"Den, sini biar bibi yang cuci piringnya."
"Eh iya, bi. Terima kasih ya."
"Iya, sama-sama."
Ia melangkah keluar dari dapur. Saat itu ia melihat kedua orang tuanya keluar dari rumah. Ia tidak sempat untuk bertanya karena mereka sudah sampai di depan.
"Mereka mau ke mana ya?" Gumamnya.
Saat akan naik ke kamarnya, ia berapasan dengan Hafiza.
"Eh dek, ummi sama abi mau ke mana?"
"Mau ke dokter katanya."
"Siapa yang sakit?"
"Abi mau periksa katanya."
"Oh... "
"Bang, coba deh abang dengerin kata abi dan ummi. Kasihan mereka sudah tua."
Ia tidak menyangka jika adiknya yang masih berusia 16 tahun itu bisa menasehatinya. Namun ia tidak membalasnya. Hafiza lahir dengan jarak yang cukup jauh dengan kakak kembarnya. Mereka terpaut usia 9 tahun.
"Eh... abang ih, dibilangin malah pergi gitu aja!"
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
udah pada GK sabar