Hidup Anaya tidak pernah beruntung, sejak kecil ia selalu di jauhi teman-temannya, dirundung, di abaikan keluarganya. kekacauan hidup itu malah disempurnakan saat dia di jual kepada seorang CEO dingin dan dinyatakan hamil setelah melakukan malam panas bersama sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal
Tuan Andrew memanggil beberapa pelayan. "Segera siapkan dia. Sebentar lagi tuan Jackson datang."
Langkah kaki Farah terhenti saat beberapa pelayan itu datang padanya. Ia menatap bingung. "Ada apa ini?" tanya Farah.
Bukan pelayan itu yang menjawab melainkan Andrew, papanya.
"Jangan banyak tanya. Segera ganti bajumu itu." Ucapnya dengan nada datar.
"Tapi... Untuk apa?"
Plak!
Bukan jawaban yang Farah dapat melainkan tamparan. Farah menyentuh pipinya yang terasa panas.
"Apa kau tuli, Ha! bukankah sudah jelas kukatakan jangan banyak tanya?!" bentak Andrew.
Farah terkejut bahkan tubuhnya sampai bergetar sangking takutnya.
"Bawa dia!" Pelayan itu segera membawa Farah pergi dari sana menuju kamar.
Farah hanya bisa mengikuti langkah mereka tanpa bisa melawan.
Setelah beberapa saat para pelayan itu membawa Farah yang sudah berganti baju dan sedikit riasan diwajahnya.
Farah sangat tidak nyaman dengan pakaian nya yang terlalu terbuka untuknya.
"1 Milyar... Jika anda sanggup membayarnya dengan harga yang saya sebutkan maka saya akan memberikan putri saya kepada tuan."
Deg!
Dunia seolah berhenti berputar. "Apa maksud papa?" tanya Alya dengan jantung berdebar.
Andrew menoleh dan segera memutuskan panggilan itu. "Sejak kapan kau berani menyela pembicaraan ku?"
Kali ini Farah mengabaikan rasa takutnya, "Apa maksud pembicaraan papa di telpon tadi? Apa maksud dari harga 1M, pa?"
Farah berharap apa yang sepakati papah nya di telepon itu tidak seperti apa yang di pikirkan.
Namun lagi-lagi Farah tidak mendapatkan jawabannya.
"Bawa dia masuk ke mobil."
Farah berontak, ia menatap papa nya dengan mata berkaca-kaca. "Jawab dulu pertanyaan Farah maksud dari 1M, pa?"
Andrew mengabaikan nya, ia sibuk Dengan ponselnya.
"Ngak... Tolong lepaskan aku."
~
Kini mereka sudah berada di salah satu gedung mewah.
Dua lelaki berjas hitam menyambut kedatangan mereka. "Mari, tuan sudah menunggu didalam."
Mereka mengikuti langkah dua lelaki itu. Farah menatap sekeliling, sunyi dan menakutkan.
Tibalah mereka di salah satu ruangan bernuansa hitam.
Disana seorang lelaki dengan postur tubuh tinggi tegap membelakangi mereka.
"Tuan farhan, mereka sudah tiba." ucap salah satu lelaki berjas hitam itu.
"Hm... Pergilah," usirnya.
pria itu membalikkan tubuhnya, Andrew tersenyum padanya.
"Tuan, ini putri saya." Andrew membawa Farah agar mendekat dengannya.
Farah bingung, entah dimana ini dan siapa pria itu? Kenapa papa membawanya kesini. Berbagai pertanyaan bergelut di kepalanya.
Ia tidak diberikan kesempatan untuk bertanya.
pria itu menatap Farah dari hujung kaki hingga ujung rambut. Lalu mengambil beberapa koper kecil dan membukanya. Disana terdapat sejumlah uang.
Melihat itu, mata Andrew terbelalak. Senyuman merekah di bibirnya.
"Kau bisa membawa pulang semua uang ini, asal gadis itu sesuai permintaan bos. Jika kau berani berbohong maka nyawamu tidak akan selamat." ucapnya dengan tegas.
Pria itu adalah asisten Jackson. karna tidak banyak yang tahu seperti apa sosok Jackson itu. Mereka hanya tahu sifat nya yang dingin dan kejam namun tidak banyak yang tau wajahnya.
Andrew melirik Farah, "Ternyata tidak sia-sia membesarkan anak tidak berguna ini." Gumamnya dalam hati sambil melirik Farah.
"Tentu saja. Saya jamin seratus persen kalau putri saya masih perawan." jawabnya dengan mantap.
Air mata Farah jatuh mendengar itu, "P-papa menjual ku?" tanya Farah dengan suara bergetar. "Kenapa papa tega melakukan itu pa? Apa salah Farah?"
Andrew menoleh menatapnya. "Salahmu karna kau telah lahir kedunia ini dan membuat istriku mati." Ucapnya penuh kebencian.
"Aku butuh uang dan sudah sewajarnya kau membalas budi." ucapnya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
Farah bersujud di bawah kaki papanya. "Ngak pa, Farah mohon jangan lakukan itu... Farah ngak mau, Farah masih mau sekolah."
"Farah janji Farah akan bekerja lebih giat lagi. Tapi tolong jangan lakukan itu. Farah mohon, pa."
Andrew tidak menggubris permohonannya, ia pura-pura tidak dengar lalu menghempaskan tubuh mungil Farah hingga jatuh terjerembab.
"Aku tidak meminta persetujuan mu. Ingat! jangan berani-berani kabur kalau tidak mau ku hukum!" ancamnya.
"Senang bekerja sama dengan, tuan. Bawa saja anak sialan ini. terserah anda mau berbuat apa dengannya."
Farah menggelengkan kepalanya melihat kepergian papa nya. ia mencoba mengejar namun anak buah pria itu menahannya.
"Tidak pa, jangan tinggalkan Farah,"
Namun tidak seorangpun yang mendengar permohonannya itu.
Disalah satu ruangan, seorang pria Blasteran Indonesia-Belanda. Dengan tinggi badan 190cm, kulit putih, bola mata berwarna biru duduk di kursi kerjanya. Wajahnya tampak dingin dan datar.
"Tuan, semuanya sudah beres. Mau di bawa kemana gadis itu?" tanya Delon. Pria yang mengurus pembayaran gadis itu.
Jackson menghembuskan asap rokoknya di udara. "Bawa dia ke kamarku." Titahnya tanpa menoleh.
"Dan ingat! Malam ini adalah rahasia Pastikan tidak ada yang mengetahui hal ini apa lagi sampai terendus media. Kau mengerti?"
"Mengerti tuan," lalu Delon pergi dari sana.
Disinilah Farah sekarang, di salah satu kamar bernuansa hitam dipadukan dengan warna abu-abu yang semakin menambah kesan kelam didalamnya. Ia duduk di lantai, memeluk tubuhnya sendiri. Air mata mengalir deras. Matanya menatap kamar yang kini nampak menakutkan.
Walaupun mewah dan besar tapi suasana remang-remang membuat kesan kamar itu terasa menakutkan.
Alya semakin erat memeluk kakinya. "Ya tuhan, dimana aku saat ini?" ucapnya dengan suara bergetar.
Namum, belum sempat ia bernafas lega. Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka. Farah yang tadi nya duduk sontak berdiri dan menjauh.
Seorang lelaki tampan masuk, Farah menatap lelaki itu, "Si-siapa kamu?" tanya Farah melangkah mundur.
"Kau tak perlu tahu siapa aku, yang jelas aku sudah membeli mu."
Farah semakin memundurkan langkahnya kala Jackson mendekat ke arahnya.
"Tolong lepaskan aku. Aku mohon Tuan," Pinta Farah.
"Melepaskan mu? hm..." Jackson berjalan sambil melepas dasinya.
Seraya melepas kancing bajunya ia berkata. "Aku membeli mu mahal-mahal dan kau ingin aku melepaskan mu? Hm..."
Farah semakin ketakutan, tangannya gemetar jantungnya berdetak kencang.
"Saya berjanji akan mengembalikan uang itu, saya akan bekerja untuk melunasinya. Tolong lepaskan saya,"
Namun pria itu malah Tertawa, "Mengembalikan? Melunasi? Hmm.. Kau terlalu naif." ucap Jackson remeh.
"Aku membeli mu seharga 1Milyar... kau sanggup membayarnya kembali?"
Farah terdiam, lebih tepatnya terkejut mendengar nominal yang ia sebutkan. Tentu saja Farah tidak mampu mengembalikan uang sebanyak itu. dia hanya pekerja paruh waktu di salah satu cafe dengan bayaran sehari 30 ribu. Bagaimana bisa ia mengembalikan uang senilai 1Milyar itu?
Jackson tersenyum miring, "Kenapa diam? Hm..." kini Jackson sudah berada tepat di depannya.
Farah terkejut, entah kapan pria itu sudah berada di hadapannya.
Saat Farah hendak bicara lagi, jari Jackson yang menempel di bibirnya membuat ia terdiam.
"Suttt... Jangan banyak bicara lagi. Aku tahu kau tidak mempunyai uang sebanyak itu. Jadi patuh lah gadis kecilku,"
Tubuh Farah menegang saat tangan Jackson menyentuh wajahnya.
"Saya mohon biarkan saya pergi..."
Farah sudah menangis. Ia benar-benar takut saat ini.
"Diamlah kelinci kecil. Aku akan melakukannya dengan pelan." Jackson menciumi lehernya.
Farah berusaha menyingkirkan Jackson darinya namun sialnya tangannya di tahan olehnya membuat Farah tidak bisa melawan.
Tubuh Farah yang mungil itu tentu kalah dengan tubuh Jackson yang gagah. Perbedaan tenaga tentu saja menjadi kekalahan Farah.
Farah benar-benar takut jika pria dihadapannya ini menyentuh nya dan mengambil kehormatan nya.
Farah memalingkan wajahnya saat Jackson hendak mencium bibir nya. "Tidak tuan, tolong jangan lakukan itu. Aku mohon..." pinta Farah.
Tangan Jackson menyentuh wajah farah, terlihat wajah pria itu sudah diselimuti kabut gairah.
"Patuh lah jika kau tidak ingin aku berlaku kasar padamu."
"Lakukan tugasmu Dengan benar."