NovelToon NovelToon
War Of The Gods

War Of The Gods

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Ahli Bela Diri Kuno / Budidaya dan Peningkatan / Tamat
Popularitas:98.7k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Di langit berbintang, seorang pria misterius bertopeng perunggu duduk di atas perahu kecil, membawa rahasia yang mampu mengguncang alam semesta. Ia telah kehilangan segalanya. ayah, ibu, sahabat, dan Yin’er, wanita yang tak tergantikan di hatinya. Demi memenuhi janji pada Yin’er, ia mengorbankan setengah sumber kehidupannya untuk menciptakan sebuah Klon Dao, wujud sempurna dari gabungan hidup mereka.
Namun, keputusannya menimbulkan kemarahan Zingtian, pria berjubah merah yang memanggilnya bajingan dan memperingatkan bahaya besar yang mengintai. Terlepas dari peringatan itu, proses penyatuan berlangsung selama sebulan, melahirkan jiwa janin istimewa yang bahkan disentuh oleh Kitab Takdir.
Kini, jiwa itu akan dikirim ke dunia kecil ChangYuan, disegel kekuatannya, agar tumbuh merasakan pahitnya dunia kultivator. Di balik keputusan itu tersembunyi rencana besar, rahasia para dewa, dan masa depan yang akan mengubah seluruh tatanan langi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog!!

...Kuharap kalian tidak membaca novel ini. Karena sangat buruk sekali. Aku benar-benar gak bohong, ini novel tersampah yang pernah ada, jadi jangan di baca pleaseee!!...

Di langit malam yang tak bertepi, bintang-bintang berkelap-kelip bagai taburan intan di atas permadani kegelapan abadi. Di tengah kehampaan kosmos itu, sebuah perahu kayu sederhana melayang tenang, tak tersentuh waktu. Di atasnya, duduk seorang pria berjubah hitam legam, serupa noda tinta di atas kertas perak. Di pangkuannya, terbaring sebuah buku bersampul kulit hitam, kuno, dan memancarkan aura kesedihan yang mendalam. Wajahnya tersembunyi di balik topeng perunggu yang dingin, tanpa celah, hanya menyisakan sepasang mata yang memandang jauh ke dalam pusaran bintang, seakan menyimpan galaksi dan duka yang tak terukur.

Tiba-tiba, kerut halus muncul di dahinya yang tertutup topeng. Tubuhnya yang semula lunglai, sedikit menegang. Suara parau, berat oleh beban waktu yang tak terhitung, pecah menyobek kesunyian.

“Aku telah kehilangan banyak hal berharga dalam hidupku. Ayah, Ibu, sahabat-sahabat seperjuangan… lalu…”

Dia tercekat. Nama itu bagai pisau yang mengoyak jiwa yang sudah lama membatu.

“… Yin’er.”

Saat melafalkan dua suku kata itu, seluruh bahunya seperti runtuh. Suaranya bergetar, dipenuhi kepedihan, kepasrahan, dan penyesalan yang menggerogoti tulang. Topeng perunggu itu tak bisa menyembunyikan gelombang emosi hebat yang memancar darinya, sebuah ketidakberdayaan yang menghunjam, kesedihan yang membeku, dan penyesalan yang abadi.

Dia menarik napas dalam, seakan mengumpulkan sisa-sisa keberanian dari lorong waktu paling kelam. Matanya yang memandang bintang tadi kini tertuju pada telapak tangannya sendiri. Cahaya samar mulai berdenyut dari dalam jubahnya.

“Yin’er… seperti yang kau minta kala itu… aku akan menciptakan sebuah ‘Klon Dao’, dari sumber kehidupan kita berdua.”

Sebuah bola cahaya keemasan, murni dan hangat, perlahan mengambang keluar dari cengkeraman jubah hitamnya. Cahayanya menyala lembut, memancarkan denyut kehidupan dan kenangan manis yang sudah menjadi debu.

“JANGAN BERTINDAK CEROBOH!!!”

Suara menggelegar, penuh kengerian dan kemarahan, mengguncang ruang hampa. Sebelum gema suara itu menghilang, seorang pria lain telah berdiri tegak di hadapan perahu. Jubahnya merah menyala, bagai darah yang mengkristal di kegelapan. Di wajahnya, terpasang topeng perunggu yang serupa persis dengan milik pria berjubah hitam, hanya warnanya yang berbeda, merah tua bagai besi yang baru ditempa. Dia muncul begitu saja, seakan merobek lapisan realitas dengan kekuatan mutlak.

Pria berjubah merah itu melangkah perlahan. Setiap langkahnya menggetarkan ruang. Dia berhenti tepat dua meter dari bibir perahu, tatapannya menembus topeng, menusuk langsung ke arah pria berjubah hitam.

“Zingtian… apa maksudmu?” tanya pria berjubah hitam, suaranya rendah namun terdengar gemuruh, memuat bara kemarahan yang mulai menyala.

Pria berjubah merah, Zingtian, menjawab dengan suara parau penuh cercaan.

“Kau… bajingan!”

Kata-kata itu meluncur deras, “Apa yang akan kau lakukan dengan menciptakan Klon Dao itu? Dengan mengambil sumber kehidupan sendiri, fondasi Dao-mu akan retak! Kekuatanmu akan merosot! Lalu, apa kau akan membiarkan para dewa itu terus melompat-lompat seperti monyet di atas kuburan kita?!” Saat menyebut kata ‘dewa’, suara Zingtian mendesis, penuh kebencian dan amarah yang mendidih, seakan api neraka menyala di balik topeng merahnya.

Pria berjubah hitam hanya mendesah pelan. Desahannya penuh kelelahan yang melampaui zaman. “Apa kau sudah selesai bicara?”

Zingtian menggigit bibirnya, lalu terdiam. Tubuhnya masih bergetar oleh emosi.

“Baiklah,” lanjut pria berjubah hitam, suaranya kembali tenang dan berwibawa. “Untuk apa Klon Dao ini… biarlah waktu yang menjawab. Tugasmu hanya satu: jaga dia. Jaga sampai dia kuat.” Matanya, yang memandang bola cahaya keemasan itu, tiba-tiba terlihat sangat jauh dan dalam, seperti menatap masa depan yang tak bisa dipahami siapa pun.

“Jangan banyak bertanya. Kau akan mengerti saat waktunya tiba.”

Zingtian membuka mulut, ingin memprotes, namun akhirnya menahan diri. Dia mengangguk berat, sebuah anggukan yang penuh dengan rasa tidak puas, khawatir, namun juga kepatuhan yang tak terbantah.

“Bagus.” Pria berjubah hitam mengangguk balik.

Kemudian, tanpa ragu lagi, kedua tangannya membentuk serangkaian segel dengan kecepatan yang membingungkan. Setiap gerakan jarinya meninggalkan jejak cahaya Dao yang rumit dan purba. Dari dalam dadanya, cahaya berwarna-warni mulai merembes keluar, hijau kehidupan, biru jiwa, merah hasrat, putih kemurnian, semua berkumpul, berputar, dan akhirnya membentuk sebuah bola cahaya multidimensi yang memancarkan getaran alam semesta.

Saat bola cahaya itu terbentuk sempurna, pria berjubah hitam terduduk lunglai. Sebuah semburan darah segar menyembur dari balik topengnya, mengotori jubah hitamnya yang legam. Wajahnya, yang tak terlihat, pasti telah kehilangan semua warnanya. Aura yang semula menggemparkan langit bintang tiba-tiba redup drastis.

“Kau!” Zingtian melompat mendekat, tangannya terulur. “Apa kau baik-baik saja?!”

“Jangan khawatir,” jawab pria berjubah hitam sambil membersihkan darah di sudut mulutnya. Suaranya lemah, namun tegas. “Ini hanya setengah dari sumber kehidupanku. Itu tidak akan membunuhku.” Di telapak tangannya sekarang, dua bola cahaya berputar pelan: satu keemasan milik Yin’er, dan satu lagi pelangi miliknya.

Dia mengambang di tempat, duduk bersila. “Jika kau khawatir, bantu aku menyatukan mereka.”

Zingtian menggumam pelan, lalu mengambil posisi berseberangan. Tanpa kata lebih lanjut, keduanya mengerahkan Qi mereka. Gelombang energi yang keluar begitu dahsyat, membuat bintang-bintang di sekelilingnya seakan bergetar. Dua bola cahaya itu mulai berputar semakin kencang, ditarik dan didorong oleh dua kekuatan legendaris, mulai menyatu dalam tarian cahaya yang memukau.

Proses ini tak sebentar. Mereka bertahan di titik itu selama satu bulan penuh, mengabaikan waktu, hanya berfokus pada penyatuan dua esensi kehidupan itu. Akhirnya, dengan gemuruh yang senyap, kedua cahaya itu melebur sempurna.

Yang tersisa adalah sebuah bola cahaya biru safir, bersinar dengan kelembutan yang menyilaukan. Di dalamnya, samar-samar terlihat bentuk janin jiwa yang kecil, sedang tidur nyenyak.

Zingtian menghela napas lega, rasa penasarannya kembali menggelegak. “Berhasil. Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?”

“Ini belum selesai,” jawab pria berjubah hitam datar.

“Apa?” Zingtian nyaris tercekik. Proses penyatuan tadi sudah menguras hampir 80% kekuatannya. Dia merasa kosong.

“Tenang. Aku hanya akan memberi dia segel dan… beberapa ‘hadiah’ perlindungan. Untuk berjaga-jaga jika suatu hari kau lengah.” Kali ini, nada sarkasme jelas terdengar dalam suara pria berjubah hitam.

Zingtian cemberut. “Kau berniat menitipkannya di Alam Dewa?”

“Tidak,” jawabnya singkat. “Aku akan mengirimnya ke Domain Changyuan. Meski hanya dunia kecil, Changyuan menyimpan misteri bahkan Alam Dewa belum ungkap sepenuhnya. Biarlah dia yang mencari kesempatan itu sendiri nanti.”

“Dan tentang segel itu?” tanya Zingtian, menahan diri untuk tidak membanjiri dengan pertanyaan.

Pria berjubah hitam memandang janin jiwa itu. “Agar kekuatannya tidak tumbuh terlalu cepat. Biarlah dia merasakan betapa kejam dan pahitnya jalan kultivator dengan usahanya sendiri. Saat waktunya tiba, segel itu akan pecah dengan sendirinya.”

Zingtian terdiam, merenungkan makna di balik kata-kata itu.

Pria berjubah hitam kembali memusatkan pikiran. Pola-pola Dao yang tak terhitung dan tak terpahami mulai muncul dari setiap pori-porinya, berputar-putar seperti rantai takdir yang rumit. Pola-pola itu bersumber dari sebuah kitab samar yang berputar di lautan kesadarannya, Kitab Takdir. Pola-pola misterius itu terbang menghujani bola cahaya biru, menyatu ke dalam inti janin jiwa.

Tujuh hari kemudian, dia membuka mata.

Dan yang dilihatnya membuatnya terdiam sejenak.

Janin jiwa telah berubah total. Bukan lagi bayi dalam bola cahaya, melainkan seorang pemuda yang sedang tertidur. Wajahnya sangat tampan, sempurna bak ukiran dewa, dengan rambut putih seperti salju yang disanggul rapi. Ia mengenakan jubah putih sederhana yang justru memperkuat aura elegan dan transendentalnya. Meski terlelap, wajahnya memancarkan ketenangan dan kenyamanan yang mendalam, bagai putra mahkota surgawi yang turun ke dunia.

“Sia… siapa itu?” gumam Zingtian yang juga baru membuka mata dari meditasinya, terkejut.

Pria berjubah hitam tersenyum tipis. “Ini adalah transformasi terakhirnya. Kitab Takdir… ikut campur tangan. Ia merestrukturisasi wujud jiwa ini sesuai dengan hukum Dao tertinggi.”

Zingtian tertegun, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, suaranya menggema di ruang hampa. “Menarik! Sangat menarik! Sejak kapan benda kesombongan itu menjadi begitu ‘baik hati’?”

Pria berjubah hitam hanya menggeleng, lalu berkata, “Sudah waktunya. Bantu aku mencari seorang ‘pemuda’ di Changyuan. Seseorang yang baru saja… kehilangan nyawanya.”

Zingtian mengangguk. Dengan sebuah cermin kuno di tangannya, dia mengamati dunia kecil di bawah mereka. Tiga jam berlalu dalam kesunyian kosmik.

Akhirnya, pria berjubah hitam yang diam mengawasi pun mengangkat tangan. “Cukup. Aku telah menemukannya.”

Di sebuah kamar megah nan indah, penuh dengan bunga dan barang antik, seorang pemuda tampan terbaring tak bernyawa di lantai. Sebuah belati masih menancap di dadanya, tepat di jantung. Darah telah membasahi lantai marmer.

Tanpa basa-basi, pria berjubah hitam mengeluarkan jiwa pemuda berambut putih itu dari dalam batu giok berukir naga. Dia memandanginya sebentar, lalu berbisik pelan, “Pergilah… dan hiduplah dengan baik.”

Satu jentikan jari. Jiwa pemuda putih itu menghilang, muncul tepat di atas tubuh pemuda malang di kamar megah. Jentikan jari kedua. Jiwa itu menyatu dengan tubuh barunya.

Keajaiban terjadi. Asap putih tipis menyelubungi tubuh itu. Belati yang menancap berubah menjadi abu dan menghilang. Luka di dada menutup sempurna tanpa bekas. Bahkan noda darah di pakaian pun lenyap. Yang tersisa hanyalah pemuda itu, terlihat seperti tertidur pulas, dengan wajah yang kini memancarkan ketenangan surgawi.

Pria berjubah hitam memalingkan wajahnya. Sebuah kendi anggur muncul di tangannya, dan dia meminumnya dalam sekali teguk, melepaskan beban berat yang telah dipikulnya selama ini.

Ketika dia menoleh ke Zingtian, yang dilihatnya membuat alisnya di balik topeng, berkerut marah.

Zingtian masih berdiri di kehampaan, cermin masih di tangannya. Namun, tubuhnya agak membungkuk, nafasnya terengah-engah tidak teratur. Pipinya memerah. Sesekali dia menelan ludah, matanya berkedip-kedip cepat, terpaku pada sesuatu di dalam cermin.

“BAJINGAN!”

Teriakan marah pria berjubah hitam mengguncang Zingtian. Dia menoleh dengan kaget, wajahnya bersemu malu.

“Fondasi Dao-mu ternyata tidak sekokoh yang kukira! Hanya melihat adegan kultivator ganda biasa di dunia kecil sudah bisa membuatmu goyah seperti ini?” Suara pria berjubah hitam penuh ejekan dan kekecewaan.

Zingtian hanya bisa terbatuk-batuk, menahan rasa malunya yang membara.

“Pergilah!” perintah pria berjubah hitam, suaranya kembali dingin dan berwibawa. “Jaga dia. Ingat, dia adalah kau, dan kau adalah aku. Aku adalah dia, dan dia adalah aku. Jangan jaga dia setiap saat. Cukup selamatkan nyawanya saat benar-benar terancam. Itu saja.”

Zingtian mengangguk cepat, lalu berbalik dan melesat menuju dunia Changyuan seperti peluru, tanpa berani menoleh lagi. Rasa malunya terlalu besar.

Setelah Zingtian hilang dari pandangan, pria berjubah hitam itu berdiri sendirian di atas perahunya, memandang bola dunia Changyuan yang berputar perlahan. Anggur di kendinya telah habis.

“Yin’er… satu janji telah kutepati,” bisiknya pada bintang-bintang. “Sisanya… terserah takdir.”

Dia berbalik. Perahu kayu, pria berjubah hitam, dan semua aura keperkasaannya menghilang begitu saja dari langit berbintang, seakan tidak pernah ada. Hanya kesunyian abadi dan gemerlap bintang yang menjadi saksi bisu dari sebuah permulaan baru, yang ditanam dengan darah, air mata, dan segel rahasia di dunia yang jauh.

Note: Novel ini banyak kekurangan, dari tulisan hingga alur cerita. Ini novel hancur dan jelek banget pokoknya, jadi percayalah pada ku. Sangat jelek karena ini novel pertama buatan author. kalau kalian tetap mau baca ya silahkan, tapi kalau ngerasa gak nyaman jangan salahin saya. semoga enjoy.

1
Xuan Yan
truslah berkarya 💪
Xuan Yan
😎🤩
Xuan Yan
🤩😎
Xuan Yan
😎🤩
Xuan Yan
🤩😎
Xuan Yan
😎🤩
Xuan Yan
🤩😎
Xuan Yan
😎🤩
Xuan Yan
🤩😎
Xuan Yan
😎🤩
Xuan Yan
🤩😎
Xuan Yan
😎🤩
Xuan Yan
🤩😎
Xuan Yan
😎🤩
Xuan Yan
🤩😎
Xuan Yan
😎🤩
Xuan Yan
🤩😎
Xuan Yan
😎🤩
Xuan Yan
🤩😎
Xuan Yan
😎🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!