"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.
Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.
Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.
Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12 — Permen Impor
Lelaki mabuk itu melihat Surya mendekat dan langsung mengangkat pecahan botol.
"Jangan ikut campur!"
Surya berhenti dua meter darinya. "Lengan Bapak robek. Kalau dibiarkan, perdarahannya mungkin berhenti, tapi saraf atau tendonnya bisa ikut rusak. Saya dokter."
"Dokter apaan keluyuran malam-malam?"
"Dokter yang sedang sial. Boleh saya lihat lukanya?"
Setelah bujukan, sebotol air minum, dan foto kartu identitas, lelaki itu akhirnya duduk di trotoar. Lukanya cukup dalam untuk membutuhkan jahitan, tetapi tidak mengenai tendon. Surya membersihkan luka, memberi anestesi lokal, lalu memasang enam jahitan rapi di bawah lampu warung.
"Besok kontrol ke puskesmas atau rumah sakit," katanya. "Kalau jari kebas, luka merah, demam, atau nyeri bertambah, jangan tunggu."
Lelaki itu menarik lengannya dan pergi tanpa mengucapkan terima kasih.
『Misi Pemicu selesai. Poin Atribut +2.』
『Nilai Pahala dari target: 0.』
Surya menatap angka 20 persen yang tidak berubah. Sistem benar-benar dapat membedakan tugas selesai dan rasa terima kasih tulus. Dia memperoleh hadiah misi, tetapi tidak satu persen pun pahala dari lelaki yang ditolongnya.
"Setidaknya konsisten," gumamnya.
Beberapa minggu berikutnya tidak memberinya waktu memikirkan sistem terlalu lama.
Pak Dian, ayah Dian Safitri, meminta bertemu di sebuah restoran. Berkas di tangannya sudah menentukan arah pembicaraan.
"Kalau hubungan kalian menuju pernikahan, Surya harus keluar dari RSUD Dr. Soetomo dan bekerja di jaringan usaha keluarga," katanya. "Penghasilan dan tempat tinggal kami atur. Semua aset utama tetap atas nama Dian. Kegiatan berisiko seperti operasi darurat di luar rumah sakit harus dihentikan."
Surya membaca syarat tersebut, lalu menutup map.
"Bapak mencari menantu atau pegawai?"
"Saya melindungi anak saya."
"Dengan memilih seluruh hidup suaminya?"
Dian duduk kaku di antara mereka. "Ayah cuma takut."
"Saya paham," kata Surya. "Tapi saya tidak akan meninggalkan pasien, Bapak, dan hidup yang saya bangun agar dianggap layak."
Pak Dian mengangkat dagu. "Kalau begitu hubungan ini tidak cocok."
Surya menatap Dian. Dia berharap perempuan itu menyatakan keputusan sendiri. Dian menggenggam ujung jilbabnya, lalu berkata pelan, "Saya belum bisa melawan Ayah."
Itu sudah menjadi jawaban.
"Kita tidak salah," kata Surya. "Kita hanya tidak cocok untuk melanjutkan dengan syarat seperti ini."
Mata Dian memerah, tetapi dia mengangguk. Mereka berpisah tanpa saling menghina. Batas yang dijaga Dian tetap dihormati; harga diri dan panggilan hidup Surya juga tidak dijual.
Rasa sakitnya baru sempat datang malam itu, ketika IGD menerima pasien bernama Cahaya. Lelaki tersebut lumpuh akibat tumor besar pada tulang belakang dan panggul. Sebagian massa menempel pada pembuluh iliaka, menggembung seperti balon yang penuh darah.
"Kalau seluruh tumor diambil, dia mungkin tetap lumpuh dan bisa meninggal karena perdarahan," kata Anindya dalam rapat. "Kalau sebagian dibiarkan untuk melindungi saraf, risiko kanker tetap ada."
Cahaya menatap istrinya, Sari. "Saya ingin berdiri sekali lagi. Bahkan kalau risikonya besar."
Sari menangis, tetapi akhirnya menandatangani keputusan setelah konseling berulang dan pendapat kedua.
Operasi dimulai sore hari. Surya mengendalikan bagian pembuluh, sementara tim tulang belakang memisahkan massa dari saraf yang masih mungkin diselamatkan.
Tumor pecah.
Darah menyembur dan memenuhi lapangan operasi.
"Iliaka robek!" seru dokter asisten.
Tekanan darah Cahaya jatuh. Dokter anestesi memulai protokol transfusi masif. Surya menjepit pembuluh proksimal dan distal, membersihkan bidang, lalu mengambil benang vaskular.
"Waktu," katanya.
Jarum bergerak.
Tangan Emas 100 persen menempatkan jahitan pada jarak identik. Tidak terlalu dangkal, tidak merobek dinding, dan tidak menyempitkan lumen. Semua orang di ruang observasi menahan napas.
"Tiga menit dua puluh detik," kata perawat ketika Surya mengikat simpul akhir.
Klem dibuka.
Tak ada kebocoran.
Tekanan darah naik kembali.
Rekaman operasi itu menyebar di jaringan pendidikan dokter bahkan sebelum Cahaya dipindahkan ke ICU. Namun dr. Gunawan dan Reza melihat kesempatan lain untuk menyerang.
Seorang perempuan yang pernah diperiksa Surya mengaku dipaksa menjalani tes kanker kulit hanya karena satu bercak. Keluarganya membuat video marah dan menuduh Surya menakut-nakuti pasien demi uang.
Reza mengatur pemeriksaan ulang dalam siaran langsung. Rencananya sederhana: jika hasilnya negatif, Surya dipermalukan di depan publik.
"Kami akan membuktikan apakah diagnosis Dokter Surya memiliki dasar," kata Reza di depan kamera.
Surya tiba ketika live streaming sudah ditonton puluhan ribu orang. "Kalian bahkan menyiarkan data pasien sebelum hasil keluar?"
"Pasien setuju," jawab dr. Gunawan. "Takut?"
"Saya takut rumah sakit terlihat bodoh karena dokter lebih tertarik pada kamera daripada laporan patologi."
Petugas laboratorium masuk membawa amplop.
Hasil biopsi menunjukkan keganasan kulit tahap awal.
Siaran langsung menjadi sunyi.
Reza meraih ponsel, tetapi jumlah penonton terus naik. Rekaman sudah disimpan dan dibagikan. Mereka tidak bisa menghapus kenyataan bahwa serangan itu justru membuktikan diagnosis Surya.
"Terima kasih sudah membiayai publikasi kebenaran," kata Surya. "Sekarang matikan kamera dan mulai bicara tentang terapi pasien."
dr. Gunawan pergi lebih dulu. Reza tinggal dengan wajah kaku.
Video operasi Cahaya, rasa terima kasih keluarganya, dan siaran yang membuktikan diagnosis kanker membuat Nilai Pahala naik bertahap hingga 79 persen. Sistem tidak memberi angka karena ketenaran semata; nilai hanya masuk ketika penonton benar-benar memahami manfaat medis atau pasien merasa tertolong.
Namun pukulan terberat bagi Reza datang dua hari kemudian.
Dia mengambil alih pasien bedah darurat untuk membuktikan kemampuannya. Operasi selesai, tetapi seorang ibu berusia tiga puluh tiga tahun tidak sadar setelah anestesi seharusnya hilang. Monitor menunjukkan fungsi dasar, tetapi respons tubuh terus melemah. Keluarga memukul pintu OK dan menuntut penjelasan.
Pak Bambang menghentikan sementara Reza dari tindakan dan memanggil Surya.
"Selamatkan pasiennya," katanya. "Masalah tanggung jawab dibahas setelah dia hidup."
Surya masuk bersama Anindya. Mereka memeriksa obat anestesi, fungsi hati, refleks, suhu, gas darah, dan pola aktivitas saraf. Reza berdiri di sudut, seluruh kesombongannya runtuh.
"Saya tidak tahu apa yang terlewat," katanya.
Anindya memperhatikan respons otot dan riwayat keluarga. "Pasien belum mati otak. Tubuhnya mengalami gangguan pemecahan obat pelumpuh otot. Beri dukungan ventilasi, uji enzim, dan jangan paksa ekstubasi."
Penanganan disesuaikan. Beberapa jam kemudian, jari pasien bergerak. Kelopak matanya membuka.
Rasa lega keluarga dan tim mendorong Nilai Pahala hingga 99 persen—tinggal satu langkah sebelum undian berikutnya.
Reza berjalan ke arah Surya di depan seluruh tim.
Lalu berlutut.
"Gue kalah," katanya. "Bukan cuma soal kecepatan. Saat pasien gue hampir mati, lo tetap masuk dan menyelamatkannya."
Surya menarik lengannya agar berdiri. "Kalau benar mengakui kesalahan, jangan berlutut pada saya. Jelaskan kepada keluarga dan perbaiki cara kerja lo."
Reza menatap Anindya. "Terima kasih sudah menemukan penyebabnya."
"Saya membantu pasien," jawab Anindya dingin.
Ketika Surya menawarinya kopi beberapa menit kemudian, nada Anindya berubah lembut. "Boleh. Tapi kamu belum makan, kan? Kita makan sekalian."
Reza mendengar perbedaan itu. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Tak lama kemudian, dia mengajukan pengunduran diri dari RSUD Dr. Soetomo. Persaingan mereka berakhir dengan pengakuan pahit: kemampuan Surya telah mencapai tingkat yang belum sanggup dia kejar.
Malam setelah jaga, Anindya datang kembali ke rumah sakit meski tidak dijadwalkan. Dia membantu Surya menyelesaikan laporan pasien sampai lewat tengah malam.
"Kenapa balik?" tanya Surya.
"Saya tidak bisa tidur."
"Atau khawatir saya sendirian?"
Anindya berdiri dari kursinya. "Percaya diri sekali."
Dia berjalan mendekat sampai punggung Surya menyentuh dinding koridor yang sepi. Satu tangan Anindya bertumpu di samping bahunya. Aroma mint dari lolipop memenuhi jarak di antara mereka.
"Banyak orang menyukai saya," katanya.
Surya pura-pura melihat ke kanan dan kiri. "Di mana?"
Cahaya di mata Anindya meredup sesaat. Surya segera berhenti bercanda.
"Saya cuma belum yakin apakah saya boleh mengharapkan sesuatu dari kamu," katanya.
Anindya menarik lolipop dari mulut. "Kalau saya menciummu sekarang, kamu keberatan?"
Jantung Surya berdetak lebih cepat daripada saat menjahit arteri iliaka.
"Tidak."
Anindya mencium bibirnya singkat, lembut, tetapi cukup untuk membuat semua kalimat di kepala Surya hilang. Ketika mundur, dia mengangkat lolipop impor di antara dua jari.
"Bagaimana rasa permen impor ini?"
Surya masih terpaku pada dinding.
Anindya tersenyum tipis, lalu berjalan pergi sebelum dia menemukan jawaban.
Di ujung koridor, langkahnya sempat goyah. Tangannya menekan pergelangan sendiri, seolah menyembunyikan nyeri yang datang tiba-tiba.
Surya tidak melihatnya.