Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perban Putih dan Kecurigaan yang Tumbuh
Aroma antiseptik yang bercampur dengan wangi kopi hitam instan menguar di sudut selasar laboratorium komputer lantai dua. Pagi itu, kampus swasta mewah di Surabaya Timur kembali riuh oleh deru langkah kaki mahasiswa yang berkejaran dengan jam masuk kelas. Namun, di dalam studio utama tim DKV, suasananya terasa begitu sunyi dan menekan.
Anya duduk membelakangi jendela besar, fokus menatap layar monitor komputer jinjingnya. Guratan pen digital di atas tablet grafisnya bergerak lambat, memoles detail warna sekunder dari logo baru Baskoro Logistic. Wajah cantiknya tampak begitu tenang, sedatar permukaan air di dalam gelas kaca. Seolah-olah insiden mengerikan di pelabuhan Tanjung Perak kemarin sore—di mana nyawanya hampir terancam jika tidak diselamatkan oleh Edgard—tidak pernah membekas sedikit pun di dalam benaknya.
Klek.
Pintu kaca studio bergeser terbuka. Ririn melangkah masuk dengan napas memburu, menaruh tas kanvasnya di atas meja hias dekat pintu dengan sentakan kasar. Wajah sahabatnya itu dipenuhi raut cemas sekaligus rasa penasaran yang sudah dia tahan sejak mereka pulang dari pelabuhan kemarin.
"Nya, kamu sudah lihat ke arah koridor rektorat lama pagi ini?" bisik Ririn, langsung menarik kursi kosong dan duduk tepat di samping meja kerja Anya.
Anya tidak mengalihkan pandangannya dari layar. "Belum. Kenapa memangnya? Ada masalah dengan izin cetak maket kita?"
"Bukan soal maket, Anya," Ririn mendesah frustrasi, gemas melihat sikap cuek sahabatnya. "Pak Edgard... beliau sudah datang sejak jam tujuh pagi tadi. Dan tebak apa? Lengan kiri bawahnya dibalut perban putih tebal sampai ke sikut. Kain kemejanya sampai sengaja dilepas kancing lengannya supaya perbannya muat."
Gerakan pena digital di tangan Anya terhenti selama satu detik penuh sebelum kembali bergerak. "Lalu? Beliau kan memang terluka kemarin karena menolongku dari pengait rantai besi. Wajar kalau diperban."
Ririn menyipitkan mata indahnya, menatap Anya dengan pandangan menyelidik yang teramat tajam. "Wajar kalau dia langsung pulang ke hotel atau istirahat di Jakarta, Anya! Tapi ini tidak. Beliau menolak membatalkan rapat koordinasi dengan para dekan hari ini. Padahal wajahnya pucat sekali sewaktu turun dari mobil sedan mewahnya tadi."
Ririn mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak di antara mereka. "Nya, aku tidak buta. Kemarin di pelabuhan, saat Pak Edgard menerjangmu dan mendekapmu di atas aspal... cara beliau menatapmu, kepanikan di suaranya, dan bagaimana dia gemetar hebat memegangi bahumu... itu bukan tatapan seorang klien besar kepada mahasiswa penerima proyek, Anya."
Anya menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan melalui mulut. Dia meletakkan pena digitalnya di atas meja kayu, lalu memutar kursi kerjanya menghadapi Ririn seutuhnya. Sepasang mata indah Anya menatap sahabatnya dengan ketenangan yang dingin.
"Rin, Pak Edgard adalah mitra bisnis penting Papaku di Jakarta. Hubungan keluarga kami memang sudah terjalin lama sejak aku masih SMA," jelas Anya dengan nada suara yang teratur, berbohong demi melindungi rahasia masa lalunya yang kelam. "Jadi, wajar kalau beliau merasa bertanggung jawab penuh atas keselamatanku di lapangan. Kalau terjadi apa-apa denganku di bawah pengawasan anak perusahaannya, nama baik bisnis kedua keluarga bisa terancam. Hanya sebatas itu."
Ririn terdiam sejenak, mencerna penjelasan Anya. Logika itu masuk akal, namun insting wanitanya tetap berbisik ada sesuatu yang jauh lebih dalam tersembunyi di balik dinding es pertahanan Anya. "Hanya karena urusan bisnis? Tapi kenapa kamu selalu bersikap seolah-olah dia adalah monster yang sangat ingin kamu hindari, Nya? Kamu bahkan menolak naik mobilnya, menolak kue stroberi darinya, dan memanggilnya dengan sebutan 'Pak' yang sangat sarkas."
"Karena aku ingin menjaga batas profesionalitas, Rin," potong Anya cepat, suaranya mengeras sedikit, mempertegas batas ego yang tidak boleh dilewati siapa pun. "Aku di sini untuk membuktikan kemampuanku sendiri, bukan karena belas kasihan atau koneksi nama besar keluarga Bramantyo. Dan aku harap, kamu tidak membahas masalah ini lagi di depan anggota tim yang lain."
Melihat ketegasan di mata Anya, Ririn akhirnya mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Baik, baik. Maaf kalau aku terlalu mencampuri urusanmu. Aku cuma khawatir saja melihat tensi ketegangan di antara kalian berdua."
Pukul sebelas siang, rapat koordinasi antara pihak rektorat dan perwakilan Baskoro Logistic di lantai dua gedung rektorat lama akhirnya selesai. Pintu ruang rapat terbuka, menampilkan jajaran dosen senior yang keluar sambil berbincang ramah dengan asisten Edgard.
Di dalam ruangan yang ber-AC dingin itu, Edgard Baskoro masih duduk sendirian di kepala meja marmer panjang. Struktur wajahnya yang tampan dengan garis rahang tegas khas keturunan oriental-barat mirip Daniel Henney tampak sedikit kuyu. Kulit wajahnya yang putih bersih terlihat lebih pucat dari biasanya di bawah bias lampu ruangan. Lengan kirinya yang dibalut perban putih tebal bersandar kaku di atas meja. Setiap kali dia mencoba menggerakkan jemarinya, rasa perih akibat goresan aspal yang dalam dan memar otot kembali menusuk sistem sarafnya.
"Pak Edgard, ini berkas revisi tata letak baliho dari tim mahasiswa. Nona Anya menitipkannya melalui saya karena beliau harus menghadiri kelas teori jam sekarang," Siska, sekretaris pribadinya, masuk ke ruangan dan menyerahkan sebuah map kulit hitam.
Edgard mendongak. Sepasang mata elangnya yang biasanya tajam dan sedingin es, kini memancarkan ruang hampa yang teramat luas. Dia menerima map itu dengan tangan kanannya yang sehat. "Anya sendiri yang mengantarkannya ke depan ruangan?"
Siska menggeleng pelan dengan wajah canggung. "Tidak, Pak. Nona Anya hanya menitipkannya di meja resepsionis depan selasar sebelum beliau masuk kelas."
Edgard menghela napas pendek, sebuah helaan napas yang sarat akan rasa sunyi dan penyesalan yang membakar dadanya. Dia membuka map tersebut, menatap lembaran kertas desain yang dikerjakan dengan sangat rapi dan presisi oleh Anya. Tidak ada satu pun coretan tangan atau catatan kecil yang bersifat personal di sana. Semuanya murni pekerjaan bisnis yang kaku.
Pria yang biasanya selalu dipuja dan dihormati di dunia sosial kelas atas Jakarta itu kini harus menerima kenyataan pahit: di kota Surabaya ini, bahkan luka darah yang dia dapatkan demi menyelamatkan nyawa Anya tidak mampu mencairkan dinding es di hati wanita tersebut. Anya benar-benar telah mempraktikkan pelajaran kejam yang dulu pernah dia ajarkan dengan sangat sempurna.
"Siska," panggilan Edgard memecah keheningan ruangan yang kedap suara.
"Iya, Pak?"
"Kirimkan buket bunga lili putih terbaik ke studio DKV sore nanti atas nama perusahaan, sebagai bentuk apresiasi atas kerja cepat tim mereka minggu ini," titah Edgard dengan suara baritonnya yang berat namun terdengar sangat lirih.
"Baik, Pak. Apakah ada pesan khusus yang ingin ditulis di kartunya?" tanya Siska profesional.
Edgard terdiam cukup lama. Dia menatap perban putih di lengan kirinya, lalu bayangan wajah dewasa Anya yang seksi namun menatapnya penuh kebencian di koridor restoran malam itu kembali melintas di benaknya.
"Tidak perlu," jawab Edgard akhirnya, menggelengkan kepala perlahan. "Jangan tulis apa pun. Cukup kirimkan saja."
Dia tahu, tulisan tangan atau kalimat manis apa pun darinya saat ini hanya akan dianggap sebagai lelucon egois yang mengganggu oleh Anya. Edgard meremas pinggiran meja marmer dengan tangan kanannya, menguatkan ketetapan hatinya. Jika Anya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa menghapus dendam di hatinya, maka Edgard bersumpah akan tetap berada di kota ini, menurunkan egonya sedalam mungkin, hingga hari di mana perisai di dada wanita itu melunak dengan sendirinya. Perjalanan panjang penyesalannya di Surabaya baru saja dimulai, dan dia menolak untuk kalah oleh rasa sakit fisik maupun penolakan dingin dari sang mantan pengagum rahasia.
semangat nulisnya 💪