Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Cahaya matahari pagi menyusup masuk melalui celah gorden kamar mewah.
Sony membuka matanya perlahan dan bangkit dari ranjang berukuran besar tersebut.
Dia meregangkan otot lehernya sejenak hingga terdengar bunyi tulang yang bergemeletuk.
Krek. Krek.
Semalam dia tidur dengan sangat nyenyak tanpa bermimpi buruk sedikitpun.
Tok. Tok. Tok.
Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar kamarnya.
"Tuan Sony, apakah Anda sudah bangun?" Suara Leo terdengar sangat sopan dari balik pintu.
"Masuk saja, pintunya tidak dikunci," jawab Sony sambil berjalan menuju sofa.
Cklek.
Pintu terbuka dan Leo masuk membawa sebuah kotak hitam elegan berukuran besar.
"Selamat pagi Tuan, ini adalah setelan jas khusus yang Anda minta semalam," kata Leo.
Leo meletakkan kotak itu di atas meja kaca di hadapan Sony.
"Bagus, apa semuanya sudah disiapkan untuk acara nanti malam?" tanya Sony datar.
"Semua persiapan sudah seratus persen selesai tanpa ada hambatan sama sekali," jawab Leo yakin.
"Termasuk undangan VIP untuk masuk ke acara lelang amal itu?"
"Tentu saja Tuan, saya sudah membeli seluruh saham hotel bintang lima tempat acara itu diadakan."
Sony tersenyum tipis mendengar betapa efisien bawahannya ini bekerja.
"Kerja bagus Leo, jadi sekarang kita adalah pemilik sah dari tempat acara si Dimas itu?"
"Tepat sekali Tuan, Anda adalah bos besar pemilik hotel tersebut mulai pagi ini."
Waktu berlalu dengan cepat hingga malam hari akhirnya tiba.
Suasana di depan Hotel Bintang Lima Grand Surya sangat ramai dan penuh sesak.
Mobil-mobil mewah dari berbagai merek terkenal berbaris rapi menurunkan para tamu undangan.
Lampu kilat dari kamera para wartawan terus menyala terang tanpa henti.
Jepret! Jepret!
Mereka meliput acara lelang amal terbesar tahun ini yang diselenggarakan oleh Grup Dimas.
Sebuah mobil sedan hitam legam tanpa merek berhenti tepat di depan karpet merah.
Tidak ada yang memperhatikan mobil itu karena bentuknya terlihat sangat sederhana dan tidak mencolok.
Padahal mobil itu dilapisi baja anti peluru dengan mesin paling bagus di dunia.
Pintu mobil terbuka dan Sony melangkah keluar dengan tenang.
Dia mengenakan setelan jas hitam elegan yang membuat postur tubuhnya terlihat sangat sempurna.
Sorot matanya tetap dingin dan tajam seperti mata pisau yang siap memotong.
Leo berjalan tepat setengah langkah di belakang punggung Sony seperti bayangan setia.
"Tuan, para penjilat Dimas sudah banyak yang berkumpul di dalam lobi," bisik Leo pelan.
"Biarkan saja, semakin banyak penonton maka pertunjukannya akan semakin menarik," balas Sony tersenyum tipis.
Mereka berdua berjalan santai menyusuri karpet merah menuju pintu masuk utama hotel.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan keras dari arah belakang mereka.
"Minggir kalian berdua! Jangan menghalangi jalan Tuan Muda dari Keluarga Wijaya!" bentak seorang pengawal berbadan besar.
Sony menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya perlahan.
Seorang pemuda arogan dengan jas berwarna putih mencolok berjalan ke arah mereka dengan dagu terangkat.
Pemuda itu adalah Tuan Muda Wijaya, salah satu sekutu bisnis paling kuat milik Dimas.
"Kalian berdua punya telinga atau tidak? Cepat minggir dari jalanku!" teriak pemuda itu dengan nada merendahkan.
Sony menatap pemuda itu dari atas sampai bawah dengan pandangan sangat datar.
"Jalan ini sangat lebar, kenapa kau tidak lewat dari sisi yang lain saja?" tanya Sony tenang.
Wajah Tuan Muda Wijaya langsung memerah karena merasa sangat tersinggung.
"Berani sekali kau menjawab kata-kataku seperti itu!" teriaknya penuh amarah.
"Kau tidak tahu siapa aku hah? Aku adalah tamu kehormatan istimewa Tuan Dimas malam ini!"
Para tamu undangan lain yang berada di sekitar lobi langsung berhenti dan menonton keributan itu.
Mereka mulai berbisik-bisik dan menunjuk ke arah Sony dengan pandangan meremehkan.
"Siapa pemuda berjas hitam itu? Berani sekali dia menyinggung Tuan Muda Wijaya."
"Mungkin dia hanya orang miskin yang numpang lewat dan tidak tahu aturan di dunia kelas atas."
"Sebentar lagi dia pasti akan dihabisi oleh para pengawal Keluarga Wijaya itu."
Suara bisik-bisik dari para penonton terdengar sangat jelas di telinga Sony.
Namun Sony sama sekali tidak peduli dan hanya diam mematung.
"Hei anak miskin, cepat berlutut dan bersihkan sepatuku sekarang juga!" perintah Tuan Muda Wijaya angkuh.
"Jika sepatuku sudah bersih, mungkin aku akan bermurah hati membiarkanmu pergi dengan selamat."
Sony hanya tertawa pelan mendengar ancaman murahan dari pemuda sombong itu.
"Berlutut? Bahkan dewa di langit pun tidak berhak menyuruhku berlutut," jawab Sony sinis.
"Sialan! Pengawal, cepat patahkan kedua kaki anak sombong ini sekarang juga!" perintah Tuan Muda Wijaya.
Dua orang pengawal berbadan kekar langsung berlari maju ke arah Sony.
Wush!
Mereka mengayunkan tinju besar mereka secara bersamaan mengincar wajah Sony.
Sony tidak bergerak sedikitpun dari posisinya dan hanya menatap tinju itu dengan bosan.
Brak! Brak!
Sebelum tinju itu sempat menyentuh wajah Sony, Leo sudah bergerak maju dengan kecepatan kilat.
Leo menendang perut kedua pengawal itu dengan tenaga yang luar biasa keras.
"Argh!"
Kedua pengawal kekar itu langsung terpental jauh ke belakang sejauh lima meter.
Tubuh mereka menghantam lantai marmer lobi hotel dengan sangat keras hingga retak.
Bruk!
Mereka langsung muntah darah dan pingsan seketika di tempat kejadian.
Seluruh tamu undangan di lobi langsung terdiam membeku seperti patung es.
Suasana menjadi sangat sunyi senyap seakan-akan waktu baru saja dihentikan.
Mata Tuan Muda Wijaya melotot lebar melihat kedua pengawal terbaiknya dikalahkan hanya dalam satu detik.
"K-kau... apa yang baru saja bawahanmu lakukan?" tanya pemuda itu dengan suara bergetar ketakutan.
Sony berjalan mendekati Tuan Muda Wijaya dengan langkah yang sangat pelan.
Tap. Tap. Tap.
Setiap langkah kaki Sony membuat nyali pemuda arogan itu semakin menciut drastis.
"Aku hanya membereskan sampah yang menghalangi jalanku, apa ada masalah?" tanya Sony dingin.
Tuan Muda Wijaya melangkah mundur dengan panik hingga punggungnya menabrak pilar hotel.
"J-jangan berani macam-macam padaku! Kalau Dimas tahu, dia pasti akan membunuhmu!" ancamnya putus asa.
"Dimas ya? Kebetulan sekali aku datang ke sini malam ini memang khusus untuk mencarinya," ucap Sony.
Plak!
Sony menampar wajah Tuan Muda Wijaya dengan sangat keras menggunakan tangan kanannya.
Tamparan itu tidak menggunakan tenaga penuh, tapi cukup untuk membuat beberapa gigi pemuda itu rontok.
"Aaaaargh!" Tuan Muda Wijaya menjerit kesakitan sambil memegangi pipinya yang membengkak parah.
Darah segar mengalir deras dari sudut bibirnya menetes membasahi jas putihnya.
"Itu adalah hukuman ringan karena kau terlalu berisik di depanku," bisik Sony tepat di telinga pemuda itu.
Tiba-tiba sekelompok petugas keamanan hotel berlarian mendekati sumber keributan.
"Berhenti di sana! Apa yang terjadi di sini?" teriak kepala petugas keamanan dengan tegas.
Kepala petugas itu melihat Tuan Muda Wijaya yang sudah babak belur di lantai.
Wajahnya langsung menjadi sangat pucat pasi karena panik melihat tamu VIP terluka.
"Tangkap pria berjas hitam itu! Dia baru saja menyerang tamu penting kita!" perintah kepala keamanan.
Sepuluh orang petugas keamanan langsung mengepung Sony dan Leo dengan tongkat listrik di tangan.
"Tuan Sony, apakah saya harus menghabisi mereka semua sekarang?" tanya Leo dengan sangat tenang.
"Tidak usah, kita sedang berada di tempat kita sendiri, jangan merusak perabotan berharga," jawab Sony santai.
Kepala keamanan itu mengerutkan keningnya karena tidak mengerti maksud ucapan Sony.
"Apa maksudmu tempatmu sendiri? Ini adalah hotel milik bos besar kami!" bentak kepala keamanan itu.
Leo berjalan maju satu langkah dan merogoh bagian dalam jasnya perlahan.
Dia mengeluarkan sebuah kartu logam berwarna emas murni yang sangat berkilau.
"Buka matamu lebar-lebar dan lihat baik-baik kartu apa ini," ucap Leo menunjukkan kartu itu.
Mata kepala keamanan itu langsung membesar saat melihat ukiran logo di atas kartu emas tersebut.
Itu adalah kartu kepemilikan resmi yang hanya dipegang oleh pemilik tertinggi jaringan hotel internasional.
Hanya ada lima kartu seperti itu yang tersebar di seluruh dunia.
"K-kartu Emas Pemilik Utama? Bagaimana benda suci ini bisa ada pada Anda?" tanya kepala keamanan itu berkeringat dingin.
"Mulai pagi tadi, seluruh saham hotel ini telah dibeli tunai oleh tuanku," jelas Leo dengan suara lantang.
Seluruh tamu undangan yang menonton langsung menahan nafas mereka karena terkejut.
Mereka sangat tahu berapa triliun harga hotel bintang lima termewah di kota ini.
Membelinya secara tunai dalam waktu semalam adalah sesuatu yang sangat tidak masuk akal.
Kepala keamanan itu langsung membuang tongkat listriknya dan bersujud di depan Sony.
"Maafkan saya Bos Besar! Saya benar-benar buta tidak mengenali Anda!" teriak kepala keamanan itu memohon ampun.
Para petugas keamanan yang lain juga langsung ikut menjatuhkan senjata mereka dan menunduk hormat.
"Berdiri, aku tidak suka melihat orang-orangku bersujud seperti pengecut," perintah Sony dingin.
Kepala keamanan itu langsung berdiri tegap seperti tentara dengan tubuh yang masih sedikit gemetar.
"Seret sampah berjas putih ini keluar dari hotelku dan masukkan dia ke daftar hitam selamanya," perintah Sony menunjuk Tuan Muda Wijaya.
"Baik Bos Besar! Laksanakan segera!" jawab kepala keamanan itu dengan sangat sigap.
Dua orang petugas langsung menyeret tubuh Tuan Muda Wijaya yang masih mengerang kesakitan keluar dari lobi.
"Tunggu! Kalian tidak bisa melakukan ini padaku! Aku adalah tamu Dimas!" teriak pemuda itu sambil diseret menjauh.
Sony sama sekali tidak mempedulikan teriakan putus asa tersebut dan merapikan lengan jasnya.
"Ayo Leo, kita sudah membuang terlalu banyak waktu berharga di lobi ini," ajak Sony.
"Baik Tuan, ruang lelang amal ada di lantai paling atas gedung ini," jawab Leo mengikuti dari belakang.
Para tamu undangan langsung membuka jalan dengan sendirinya saat Sony melangkah maju.
Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menatap langsung ke arah mata Sony.
Mereka semua menundukkan kepala dengan perasaan takut campur segan yang luar biasa.
Sony berjalan melewati kerumunan itu dengan langkah yang sangat gagah dan penuh wibawa.
Ting!
Pintu lift khusus VIP terbuka menyambut kedatangan Sony dan Leo.
[Sistem Peringatan: Dua target utama terdeteksi di ruang lelang lantai atas]
Layar hologram biru transparan tiba-tiba muncul sekilas di sudut pandang mata Sony.
Sony menyeringai tipis melihat peringatan sistem tersebut.
"Dua target utama, itu pasti Dimas dan Rina," batin Sony sambil melangkah masuk ke dalam lift.
Pintu lift menutup perlahan membawa Sony naik menuju arena pertempuran pertamanya.
Malam balas dendam yang sesungguhnya baru saja akan dimulai.