Di dunia modern di mana kultivasi berjalan beriringan dengan teknologi, Chen Mo adalah siswa jenius dengan nilai teori sempurna yang bermimpi menjadi kultivator hebat.
Namun, kenyataan pahit menghantam di hari kelulusan saat Upacara Kebangkitan menunjukkan bahwa dia hanya memiliki Bakat Rank F—level terendah yang dicap sebagai "sampah".
Kekecewaannya bertambah ketika teman masa kecilnya, Su Mengqi, yang membangkitkan Bakat Rank S, langsung memutuskannya demi mengejar masa depan bersama para elit.
Meskipun diremehkan oleh semua orang dan masuk ke Akademi Naga Bintang yang bergengsi hanya karena jalur akademis, Chen Mo tidak putus asa, terutama setelah dia secara tak terduga membangkitkan "Sistem Check-in".
Melalui sistem ini, dia mendapatkan hadiah tak terbatas mulai dari pil langka, teknik kuno, hingga uang tunai hanya dengan melakukan check-in di berbagai lokasi akademi.
Diam-diam, di balik tembok akademi yang penuh cemoohan, Chen Mo mulai menumpuk kekuatan dan kekayaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Chen Mo berjalan santai menaiki tangga panggung.
Banyak pasang mata menatapnya dengan pandangan meremehkan.
"Itu si juara satu teori itu, kan?"
"Halah, teori saja tidak cukup. Kita lihat saja apa bakatnya."
"Melihatnya sok tenang begitu membuatku muak. Dia pikir dia siapa?"
Bahkan Su Mengqi yang berada di kejauhan kini melipat tangannya di dada, menatap Chen Mo dengan ekspresi datar.
Chen Mo mengabaikan semua omongan sampah itu.
Dia berdiri di depan Batu Kebangkitan dan meletakkan kedua tangannya di sana.
Permukaan batu itu terasa dingin meresap ke telapak tangannya.
Chen Mo menunggu, dan semua orang di aula juga ikut menahan napas menunggu.
Satu detik berlalu, dua detik berlalu, tiga detik berlalu.
Tidak ada cahaya yang menyilaukan.
Tidak ada ledakan energi yang menggetarkan ruangan.
Hanya ada pendaran cahaya abu-abu kusam yang sangat lemah, seakan-akan lampu yang hampir mati.
Bzzzt...
Layar holografik berkedip lemah dan memunculkan satu huruf yang menyedihkan.
[Bakat Terdeteksi: Peningkatan Fisik Dasar - Rank F]
Aula itu kembali hening, namun kali ini bukan karena takjub.
Satu detik kemudian, suara tawa yang meledak-ledak menggema di seluruh ruangan.
"Pffft! Hahahahaha!"
"Rank F?! Serius?! Itu kan bakat paling sampah yang pernah ada!"
"Cuma peningkatan fisik dasar? Kuli panggul di pelabuhan juga punya bakat seperti itu!"
"Astaga, juara satu kita ternyata hanya seorang sampah! Hahahaha!"
Hinaan dan ejekan mengalir deras seperti air bah dari segala penjuru aula.
Bahkan para guru hanya bisa menggelengkan kepala mereka dengan ekspresi kecewa.
Kepala Sekolah Lin membuang muka, tidak tertarik lagi untuk melihat ke arah panggung.
Di sudut ruangan, Lin Feng tertawa mengejek dan menoleh pada Su Mengqi.
"Lihat itu, Mengqi. Untung saja kau sadar lebih awal."
"Kalian berdua sekarang hidup di dua dunia yang benar-benar berbeda," ucap Lin Feng puas.
Su Mengqi hanya menghela napas panjang.
"Ya. Untung saja," balas Su Mengqi pelan, matanya menatap Chen Mo dengan rasa iba yang bercampur dengan rasa jijik.
Di atas panggung, Chen Mo hanya menarik napas pelan.
Dia menatap huruf F di layar itu sejenak.
"Rank F, ya? Pantas saja tubuhku tidak merasakan perubahan energi apa pun," batinnya santai.
Dia menarik tangannya, merapikan kerah seragamnya, dan berbalik.
Wajahnya masih sedatar tembok, ketenangannya sama sekali tidak goyah oleh ribuan tawa yang mengelilinginya.
Chen Mo menuruni panggung dengan langkah kaki yang teratur.
Dia berjalan melewati kerumunan siswa yang secara otomatis membuka jalan untuknya, seolah menghindar dari penyakit menular.
Chen Mo terus berjalan hingga dia melewati Su Mengqi.
Gadis itu sedikit memalingkan wajahnya, enggan bertatap mata.
Chen Mo tidak berhenti, dia juga tidak menoleh ke arah gadis itu.
Dia berjalan lurus keluar dari pintu aula, meninggalkan segala keributan dan kepalsuan di belakangnya.
Matahari mulai terbenam saat Chen Mo berjalan menyusuri trotoar menuju rumahnya.
Angin sore berhembus menerpa wajahnya yang tenang.
Sesampainya di rumah, dia membuka pintu dan melihat ayah serta ibunya sedang duduk di ruang tamu.
Wajah mereka tampak suram, jelas mereka sudah melihat pengumuman hasil kebangkitan dari grup wali murid.
"Mo-er..." Ibunya berdiri dengan mata berkaca-kaca.
Ayahnya hanya menghela napas panjang dan menepuk sofa di sebelahnya.
"Duduklah, Nak. Tidak apa-apa," ucap ayahnya dengan suara serak.
"Rank F bukanlah akhir dari dunia, kau masih bisa menjadi pegawai kantoran biasa dengan otak pintarmu itu."
Ibunya tidak tahan lagi dan mulai menangis pelan.
Chen Mo tersenyum tipis dan berjalan menghampiri mereka.
"Ayah, Ibu, jangan berlebihan begitu."
"Aku tidak apa-apa, sungguh. Cuma Rank F, bukan berarti aku akan mati kelaparan besok," ucap Chen Mo santai.
Dia menepuk bahu ayahnya dengan lembut.
"Aku agak lelah, aku mau langsung ke kamar dan istirahat."
Melihat ketenangan putranya, kedua orang tuanya hanya bisa mengangguk pasrah.
Chen Mo masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.
Dia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur yang empuk.
Dia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih.
"Hidup memang kadang selucu ini," batinnya perlahan.
Matanya perlahan terasa berat dan dia bersiap untuk tidur.
Namun, tepat pada saat itu, sebuah suara mekanis yang sangat jernih dan dingin bergema langsung di dalam tengkoraknya.
Ting!
[Mendeteksi fluktuasi mental yang stabil dalam menghadapi krisis.]
[Persyaratan terpenuhi.]
Chen Mo tersentak kaget dan langsung duduk dari kasurnya.
Sebuah layar holografik transparan berwarna biru tiba-tiba muncul tepat di depan wajahnya.
[Sistem Check-i berhasil diikat pada Host: Chen Mo.]
Chen Mo menatap layar itu tanpa berkedip.
'Sistem? Aku pernah membaca ini di novel-novel terkenal."
Ujung bibirnya perlahan melengkung ke atas, membentuk senyuman misterius untuk pertama kalinya hari ini.
[Apakah Anda ingin melakukan Check-in?]
"Ya. Lakukan Check-in."