Oliver Robert dosen tampan bersatatus duda dan dia mempunyai anak kembar, suatu hari anak kembarnya Oliver bertemu dengan salah satu mahasisa Piskolognya yang bernama Zafana
Oliver dan kedua anaknya yang sellu menutup diri dari orang lain.
Pertemuan yang tidak sengaja itu membuat Oliver sadar jika Zafana berbeda dari wanita yang lain yang pernah ia temui dari wanita lain termasuk mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BJP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
"Kenalan aja" Aqila memutar bola matanya malas lalu bangkit untuk berdiri disamping Zafana.
Ia tersenyum hingga membuat Zafana salah fokus pada lesung pipinya.
"Duduk kak, jangan berdiri terus pegel"ucap Aqila sambil menarik lengan Zafana lembut dan mereka terduduk disofa.
"Makasih"ucap Zafana. Aqila mengangguk.
"nama kakak siapa?" "Nama aku Zafana,
nama kamu siapa?"Tanya Zafana. "Nama aku Clara tapi kaka bisa panggil aku Qila jawab Aqila dan Zafana mengangguk paham. Ia mengulang nama Aqila dalam hati untuk mengingatnya.
"Omong-omong kakak udah lama kenal sama abang?"tanya Aqila,
Zafana menoleh kearah Oliver lalu menatapnya sekilas kemudian menatap Aqila kembali dan menggelengkan kepalanya.
"Pak Oliver itu dosen aku dikampus"jawab Zafana, Oliver memalingkan wajahnya mendengarkan obrolan dua gadis itu dengan mata tertutup. "
Terus sekarang kakak sama abang pacaran?"tanya Aqila lagi. Zafa menggelengkan kepalanya,
enggak kok, aku gak pacaran sama pak Oliver" jawabnya sontak membuat Aqila langsung menatap Oliver.
"Kakak orang yang waktu itu ditaman bukan sih? Yang gak sengaja dipeluk sama Enzi?"tanya Aqila
Zafana mengingat-ingat kembali lalu mengangguk. "Ah.. iya aku baru ingat, kamu adiknya pak Oliver?"tanya balik Zafana "
Aku adik iparnya"jawab Aqila dan Zafana mengangguk.
Sebenarnya ia terkejut karena Oliver masih berhubungan baik dengan keluarga dari mantan istrinya.
"Berarti kamu adik istrinya pak Oliver?"tanya Zafana yang diangguki oleh Aqila.
"Iya, tapi kakak ku udah meninggal dan abang masih mau jadiin adik iparnya"jawab Aqila,
Rheyna mengangguk lalu menatap ponselnya yang baru saja bergetar memperlihatkan nama Kakaknya Alaska.
Kak'Alaska
Dek' Kakak lembur kmungkinan besok baru pulang,
Loe Ke Rumah Temanmu dulu ya.
Zafana
Ka' tapi gue Ke Rumah siapa? Alaska read.
Zafana menghela setelah membaca pesan dari Alaska lalu menyimpan ponselnya kembali didalam tas. Aqila tersenyum menatap Zafana, begitupun dengan Zafana yang baru saja mendongak menatap Aqila.
"Kakak cantik banget"ucap Aqila. Zafana terkekeh.
"Kamu juga cantik, manis pula"jawabnya.
"Pantesan aja abang suka"celetuk Aqila sambil mendelik kearah Oliver.
Lelaki yang masih menguping sambil menutup matanya hanya dapat menghela sedikit kasar membuat Aqila terkekeh dibuatnya. Sedangkan Zafana hanya bisa terdiam mematung mendengar penuturan Aqila barusan.
"Bang, jalan-jalan yuk sama kak Zafa "ajak Aqila. Oliver menyerah dengan akting pura-pura tidurnya karena Aqila tau dirinya tidak benar-benar tertidur.
"Kak Zafa nya harus pulang, gak bisa lama-lama"jawab Oliver . Aqila menghela lalu menatap kearah Zafana,
"kok cepet banget sih kak? Kita baru aja kenalan"
"Lain kali kita main deh ya"ucap Zafana sambil tersenyum. Aqila mengerucutkan bibirnya sebal, "abang mau nganterin kak Zafa sekarang apa nunggu mereka bangun dulu?"
"Kamu mau pulang sekarang atau mau nunggu anak-anak saya bangun dulu? Mereka tadi ngerengek minta kamu datang kesini"tanya Oliver pada Zafana
"Eumm----"
"Udah lah kak Zafa disini aja dulu, kita ngobrol-ngobrol dulu..nanti sore aja pulangnya" potong Aqila cepat.
Zafana akhirnya mengangguk, "yaudah deh"
Aqila tersenyum senang lalu menarik Zafana agar mengobrol diruang tamu. Mereka bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing hingga kehidupan Oliver yang membuat Zafana mulai mengetahui bagaimana sifat asli dari dosen dinginnya itu.
3 jam sudah Zafana berada dirumah Oliver dan bermain dengan kedua anaknya ketika mereka sudah terbangun. Enzi dan Aileen terlihat sangat antusias saat melihat keberadaan Zafana disana.
Bahkan momen langka terjadi dimana Enzi dan Aileen yang biasa sangat takut dengan orang baru sekarang malah sangat akrab dengan Zafana.
"Ai, Enzi udah ya main sama kak Zafa nya, ini udah sore kak Zafa nya mau pulang dulu"ucap Oliver sembari berjongkok dihadapan kedua anaknya dan juga Zafana.
"Aaa papa gak mau! Kakak mama gak boleh pulang!"jawab Aileen.
"Ai sayang, panggil kak Zafa bukan kakak mama"ucap Alvano.
"Kakak mama"ucap Aileen dengan wajah yang menantang.
"Aileen..."panggil Oliver lembut.
"Mama..."ucap Aileen.
Oliver menghela lalu bangkit dengan kedua tangan yang terlipat didepan dada. Zafana yang melihat interaksi menggemaskan antara Oliver dan Aileen itu hanya bisa terkekeh.
"Aileen sayang, kakak pulang dulu ya..lain kali kakak main lagi sama Aileen"ucap Zafana lembut.
Aileen mendengus lalu berbalik membelakangi Zafana dengan bibir yang mengerucut dan kedua tangan yang terlipat didepan dada.
"Enzi, kakak pulang dulu ya, lain kali kita main lagi"ucap Zafana pada Enzi.
Enzi menggelengkan kepalanya, "Enzi masih pengen main"
"Iya, tapi kakak harus pulang..kalau enggak pulang nanti mama sama papa kakak nyariin"jawab Zafana memberi paham pada Enzi dan Aileen yang masih merajuk padanya.
"Kapan kakak main lagi kesini?"tanya Enzi.
Zafa mendongak menatap Oliver. Sedangkan yang ditatap malah mengalihkan pandangannya kearah lain membuat Zafana mendengus dan kembali menatap Enzi dengan senyuman manisnya.
"Nanti kakak kasih tau papa ya kalau kakak bisa main lagi kesini"jawab Zafana.
"Besok!"ucap Aileen tanpa sedikitpun membalikan badannya dan merubah posisinya.
Zafana menggigit bibir bawahnya lalu menghela, "iya...besok kita main jalan-jalan ditaman"
Aileen sontak berbinar lalu membalikan tubuhnya, "janji?"
Zafana tersenyum, "janji"
Enzi mengangkat kelingking mungilnya membuat Zafana dan Aileen langsung menautkan jari kelingking mereka dengan milik Enzi.
Setelah acara pembujukan yang penuh perjuangan itu akhirnya Zafana bisa pulang dengan selamat.
Tapi saat ini ia bingung harus pulang kemana karena jika malam tiba ia takut sendirian dirumah.
"P-pak"
"Zafa"
Keduanya menoleh lalu terkekeh. Mereka merasa konyol karena tiba-tiba memanggil satu sama lain secara bersamaan.
"Kamu duluan"ucap Oliver
"Kalau boleh saya minta tolong antar saya ke rumah Roos aja pak"jawab Zafana.
"Lho, kenapa?"tanya Oliver.
"Hmm...kakak saya lembur dan baru pulang besok pagi katanya"jawab Zafana.
Oliver mengangguk paham, "kalau gitu alamatnya dimana?"
"Ini pak" Oliver memperlihatkan tulisan alamat milik Roos yang selalu ia gunakan jika pergi ke rumah sahabatnya menggunakan ojek online.
Oliver melihat sekilas lalu kembali fokus menyetir dan kembali terdiam. Sebenarnya ia tidak yakin akan bisa menginap dirumah Roos atau tidak, karena sejak tadi nomor Roos sedang tidak bisa dihubungi.
Sampainya didepan pagar rumah Roos, Zafana dan Oliver turun dan keduanya terdiam saat melihat lampu dirumah itu yang tampak mati.
"Kamu yakin teman mu ada dirumah?"tanya Oliver.
"Gak tau sih pak, dari tadi juga saya hubungi Roosnya tapi gak diangkat, saya chat juga gak dibalas"jawab Zafana
"Ya sudah kalau gitu saya antar kamu pulang ke rumah kamu"ucap Oliver.
"T-tapi saya gak berani pak tinggal sendiri dirumah"jawab Zafana ragu.
Oliver menghela, "kalau gitu nginap dirumah saya"
Mendengar itu Zafana sontak membulatkan matanya,
"t-tapi saya---"
"Oke, kita ambil baju ganti kamu dirumah lalu kembali ke rumah saya" potong Oliver cepat lalu berbalik berjalan ke pintu kemudi.
Rheyna menghela lalu ikut masuk kedalam mobil. Awalnya Zafana pikir dia yang akan direpotkan oleh Oliver, tapi kenyataannya malah Zafana yang merepotkan Oliver.
"Maaf ya pak saya malah jadi ngerepotin bapak"ucap Zafana.
"Gak papa, selagi kamu bisa temani anak-anak saya, saya gak masalah' jawab Oliver.
Zafana menghela, ada satu pertanyaan yang ingin dia sampaikan Tapi entah kenapa dia merasa sangat ragu untuk menanyakan hal tersebut.