Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 — JANGAN SAMPAI KETAHUAN!
Kejadian semalam—saat mereka terpaksa berpelukan di balik selimut demi mengelabui Tante Elena—meninggalkan kecanggungan luar biasa parah di pagi hari Senin ini.
Sejak bel masuk berbunyi lima belas menit yang lalu, Naya tidak bisa berkonsentrasi mendengarkan penjelasan Bu Rini di depan kelas 12 IPS 2. Pandangannya terus tertuju pada jendela kelas yang mengarah langsung ke koridor utama. Pikiran Naya masih melayang pada aroma sabun kayu Arka dan detak jantung cowok itu yang semalam terasa begitu dekat di dadanya.
Argh! Sinting! Kenapa gue malah mikirin tuh robot sih?! maki Naya dalam hati, menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan agak keras.
"Nay, lo kenapa sih? Dari tadi pagi aneh banget," bulir rasa penasaran Saskia akhirnya meledak juga. Cewek berambut sebahu itu berbisik pelan seraya memiringkan tubuhnya ke arah meja Naya. "Muka lo merah, terus daritadi nepuk-nepuk paha sama pipi. Lo kesurupan setan lapangan sekolah?"
"Ngg—nggak! Siapa yang kesurupan?!" sahut Naya cepat, gelagapan. "Gue cuma... cuma kepanasan aja! Iya, AC kelas kita kan dari kemarin kurang berasa!"
Saskia mengerutkan keningnya, menatap pendingin udara di sudut ruangan yang justru sedang berembun karena terlalu dingin. "Kepanasan apaan? Ini dingin banget sampai kaki gue mati rasa, Naya!"
Naya meringis kaku, membetulkan letak kerah seragam putihnya. "Maksud gue... suhu tubuh gue yang lagi agak hangat. Mau flu kayaknya."
Saskia menggeleng-gelengkan kepala ragu, namun matanya tiba-tiba berbinar saat menangkap sesuatu di atas meja Naya. Jemari Saskia dengan cepat menyambar sebuah pulpen berdesain elegan berwarna hitam dengan ukiran garis perak di klipnya—pulpen yang tergeletak santai di dekat buku catatan Naya.
"Wah, pulpen baru nih?" tanya Saskia sambil memutar-mutar pulpen itu di udara. "Bagus banget. Merek Parker asli kan ini? Mahal anjir, dapet darimana lo? Biasanya kan pulpen lo yang harga tiga ribuan yang suka hilang tutupnya."
Seketika itu juga, seluruh darah di tubuh Naya rasanya berhenti mengalir.
Naya membelalakkan matanya lebar-lebar. Gila! Itu kan pulpennya Arka!
Naya baru teringat, tadi pagi saat mereka terburu-buru siap-siap dan berlomba menggunakan meja belajar, Naya tanpa sengaja menyambar pulpen Arka yang tergeletak di samping tas cowok itu karena pulpen lamanya kehabisan tinta.
"S—Saskia! Balikin nggak!" jerit Naya tertahan, mencoba merebut pulpen itu dari tangan sahabatnya.
"Bentar dong! Gue liat dulu!" Saskia menahan tangan Naya, membalikkan tubuh pulpen tersebut untuk melihat ukiran kecil yang tertera di dekat penutupnya. "Eh... kok ada ukiran inisialnya? A.P.?"
Jantung Naya berdegup kencang bagaikan meriam perang. "A.P."! Arka Pradipta!
"A.P.?" Saskia menyipitkan matanya, keningnya berkerut dalam. "A.P. itu siapa, Nay? Aurel Putri? Tapi kan nama tengah lo Aurelia, bukan Putri. Atau... Anak Papi? Masa merk mahal diukir 'Anak Papi'?"
Naya menelan ludah kasar. Otaknya berputar sangat keras mencari alasan paling masuk akal sebelum Saskia menghubungkan inisial itu dengan sang Ketua OSIS.
"I—itu... Angkatan Pertama!" sahut Naya asal-asalan, suaranya sedikit meninggi hingga beberapa teman sekelasnya menoleh. Naya meringis pelan, lalu berbisik tajam pada Saskia, "Itu pulpen kenang-kenangan dari sepupu gue! Angkatan Pertama ikatan alumni SMP-nya dulu! Udah ah, balikin! Lo suka banget sih pegang-pegang barang orang!"
Naya merampas pulpen itu dengan kasar, lalu buru-buru memasukkannya ke dasar kotak pensil dan menguncinya rapat-rapat. Dahinya bertumpuk keringat dingin. Hampir saja! Kalau sampai Saskia tahu ini pulpen Arka, mampus gue!
Sementara itu, di ruang OSIS yang berada di lantai dasar, ketegangan yang sama persis sedang dialami oleh Arka Pradipta.
Arka duduk di kursi kebesarannya di ujung meja rapat panjang, dikelilingi oleh belasan anggota inti OSIS yang sedang membahas persiapan acara Classmeeting bulan depan. Di samping kanannya duduk Melisa—sang sekretaris OSIS yang tampil cantik dengan rambut dikuncir kuda rapi dan senyum manis yang tak pernah luntur. Sementara di sebelah kirinya ada Dito, sang wakil ketua OSIS yang duduk santai sambil memutar-mutar gantungan kuncinya.
"Jadi untuk anggaran lomba futsal antarkelas, kita pakai sponsor dari alumni tahun lalu," terang Melisa dengan suara lembut penuh percaya diri. Ia membuka binder catatannya, lalu menatap Arka. "Arka, tolong tanda tangan berkas pengajuannya sekarang ya, supaya bisa aku serahkan ke Pak Danu sebelum istirahat."
"Iya, sini," sahut Arka datar.
Arka meraba saku dalam jas OSIS-nya untuk mengambil pulpen hitam favoritnya yang biasa terselip di sana. Namun, sakunya kosong. Ia beralih meraba saku celananya, lalu membuka tas punggungnya. Tidak ada.
"Kenapa, Ka?" tanya Melisa perhatian. "Pulpen kamu hilang?"
"Ah... sepertinya ketinggalan di..." Arka menghentikan kalimatnya tepat di udara. Wajahnya yang biasa tenang mendadak menegang tipis.
Ia baru teringat. Tadi pagi, saat Naya panik mencari pulpen untuk mencatat jadwal pelajaran, cewek itu menyambar pulpen Parker perak milik Arka dari atas meja belajar mereka—meja belajar di kamar tidur mereka yang kini penuh dengan barang-barang Naya.
"Ketinggalan di mana?" tanya Dito yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik sahabatnya. Dito menyipitkan mata, mengamati ekspresi langka Arka yang tampak gusar. "Tumben banget ketua OSIS se-disiplin Arka Pradipta bisa ketinggalan pulpen? Biasanya kan perlengkapan lo lengkap banget kayak mau buka toko kelontong."
"Ketinggalan di rumah," jawab Arka singkat, berusaha menjaga raut wajahnya tetap sedatar mungkin. "Saya pakai pulpen lain saja."
Arka meraih pulpen plastik biasa yang ada di atas meja rapat, lalu membubuhkan tanda tangannya di atas berkas Melisa.
Namun Dito bukanlah orang bodoh. Laki-laki santai itu menyandarkan punggungnya di kursi, mengamati Arka dari atas sampai bawah. "Lho... Ka, kancing kemeja seragam lo yang bagian paling bawah kok agak kendor? Beda warna benangnya lagi. Kayak habis dijahit ulang pakai benang putih biasa."
Arka refleks memegang bagian bawah kemejanya.
Dito benar. Tadi pagi, kancing kemejanya sempat lepas saat ia terburu-buru memakai baju karena Naya menguasai cermin kamar mandi terlalu lama. Tante Elena yang melihatnya langsung menjahitkan kancing itu kembali dengan benang putih secara tergesa-gesa.
"Iya, terlepas tadi pagi," jawab Arka pendek.
"Disiapin sama siapa tuh? Tante Elena?" goda Dito sambil terkekeh pelan. "Perasaan Tante Elena kalau jahit baju kan rapi banget. Kok ini jahitan kancing lo agak berantakan? Kayak jahitan anak SMA yang baru belajar ketrampilan tangan."
Mata Arka melirik Dito tajam. "Dito. Fokus ke agenda rapat."
Dito tertawa kecil, mengangkat kedua tangannya menyerah. "Oke, oke, Pak Ketua! Sensi amat hari ini. Kayak orang kurang tidur aja lo."
Melisa menatap Arka dengan pandangan cemas sekaligus heran. Sebagai orang yang sudah menyukai Arka sejak kelas sepuluh, Melisa sangat hafal setiap detail kebiasaan cowok itu. Arka adalah tipikal orang yang selalu sempurna dalam penampilan, tidak pernah lupa membawa barang pribadi, dan sangat menjaga kerapian. Tapi hari ini, Arka terlihat sedikit... kacau. Dan ada aura berbeda yang melingkupi laki-laki itu.
"Arka, kamu baik-baik aja kan?" tanya Melisa lembut, menyentuh lengan seragam Arka pelan. "Kalau kamu capek, bagian revisi laporan ini biar aku yang selesaikan."
Arka secara halus menarik lengannya dari sentuhan Melisa, berpura-pura mengambil dokumen lain. "Saya baik-baik saja, Melisa. Terima kasih. Kita lanjut ke poin pembahasan anggaran dekorasi."
Melisa menahan napasnya sejenak, matanya menatap jemari Arka. Tatapan Melisa tiba-tiba terhenti pada bekas goresan tipis berwarna merah di punggung tangan kanan Arka—bekas cakaran kecil yang ditinggalkan oleh kuku Naya saat mereka berebut guling semalam.
Melisa mengerutkan keningnya. Tangan Arka kenapa? Dia kena apa? batin Melisa bertanya-tanya dengan rasa curiga yang mulai tumbuh perlahan.
Saat bel istirahat berbunyi, Naya buru-buru berjalan menuju toilet belakang sekolah untuk menghindari Saskia yang masih terus menanyakan soal pulpen mahal berinisial "A.P." tersebut.
Namun baru saja Naya berbelok di koridor sepi dekat perpustakaan, sebuah tangan berotot tiba-tiba menarik lengan jaketnya secara halus dan membawanya masuk ke dalam celah di antara dinding perpustakaan dan ruang penyimpanan olahraga.
"Eh! Siapa nih—" jerit Naya kaget.
"Ini saya. Diam," bisik suara Arka tepat di atas kepalanya.
Naya mendongak, mendapati Arka sedang berdiri sangat dekat dengannya di lorong sempit itu. Arka celingukan ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada siswa lain yang melintas di koridor sepi tersebut.
"Lo ngapain sih narik-narik gue?! Kalo ada yang lihat gimana?!" sembur Naya dengan suara tertahan, berusaha menepis tangan Arka dari jaketnya.
"Ssshh! Pelankan suara kamu!" tegur Arka tajam. Ia merogoh saku celananya, lalu menatap Naya galak. "Pulpen Parker saya mana?"
Naya membeku, lalu menyeringai mengejek. "Ooh... jadi ketua OSIS yang terhormat rela mampir ke lorong sepi cuma demi nagih pulpen?"
"Pulpen itu ada ukiran inisial nama saya, Naya!" bisik Arka penuh penekanan, wajahnya tampak sangat tertekan. "Tadi pagi kamu asal ambil dari meja belajar. Kamu tahu nggak kalau sampai ada anak OSIS atau teman sekelas kamu yang lihat pulpen itu dan sadar itu punya saya, rahasia kita bisa terbongkar saat ini juga?!"
Naya menelan ludah. Ia teringat kejadian dengan Saskia beberapa menit yang lalu. Ternyata kekhawatiran Arka sangat beralasan.
"I—iya, iya! Nanti gue balikin di rumah!" sahut Naya cepat, kini ikut panik. "Lagian tadi pagi gue kepepet tahu nggak! Lo kan yang nguasai meja belajar lama banget!"
"Kenapa nggak sekarang?"
"Pulpennya ada di dalam kotak pensil di kelas! Masa gue ambil sekarang?! Nanti Saskia makin curiga!" omel Naya. "Udah ah, lo balik sana ke ruang OSIS! Nanti kalau Melisa atau Dito nyariin lo gimana?!"
Arka menatap Naya dalam-dalam selama beberapa detik. Ada raut lelah dan tegang di wajah tampannya, namun juga ada dorongan protektif yang tak disadari oleh Arka sendiri.
"Ingat janji kamu," kata Arka pelan, suaranya kembali datar namun menusuk. "Jangan sampai ada barang pribadi saya yang tercecer lagi di tempat kamu. Satu kecerobohan kecil dari kamu bisa ngerusak semuanya."
"Iya, bawel! Gue tahu!" bentak Naya pelan, menghentakkan kakinya.
Arka menghembuskan napas panjang, memutar tubuhnya dan keluar dari lorong sempit itu lebih dulu setelah memastikan keadaan aman. Naya menyandarkan punggungnya di dinding semen, mengelus dadanya yang berdegup kencang.
"Gila..." bisik Naya pada dirinya sendiri, jemarinya gemetar tipis. "Baru hari Senin aja rasanya mau senut-senut gini kepala gue. Gimana caranya bertahan sampai lulus sekolah coba?!"
Rahasia itu masih tersimpan rapat hari ini. Namun, baik Naya maupun Arka sama sekali tidak menyadari bahwa benih-benih kecurigaan sudah mulai tertanam di pikiran orang-orang di sekitar mereka. Dan satu langkah salah saja... seluruh benteng rahasia mereka akan runtuh tanpa sisa.