"Kecantikan tak bisa memakan racun kiamat, dan jabatan tak bisa membendung gigitan mayat."
Bereinkarnasi satu tahun sebelum bencana wabah The Them pecah, Thomas—seorang pria asal Indonesia—memilih jalan kelam demi bertahan hidup. Bergabung dengan sindikat perdagangan manusia, ia membiarkan tangannya berlumuran darah, memburu wanita-wanita Jepang untuk dijual kepada para pejabat demi satu tujuan: mengumpulkan modal tanpa batas.
Seluruh uang haram itu ia sulap menjadi sebuah Fortress Mansion bernilai miliaran yen di puncak pegunungan dekat SMA Fujimi—benteng pertahanan baja mandiri yang dilengkapi teknologi tinggi, stok logistik melimpah, dan persenjataan lengkap yang dapat dioperasikan seorang diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamang to get her...., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 Penyatuan Sel Abadi
CRAAAK!
Bilah machete hitam Thomas menghantam bagian tengah tubuh Bintang Laut Abadi itu, membelah jaringan daging tebal berserat merah yang bergetar. Namun, detik berikutnya, cairan bening kental menyembur dari luka tersebut dan serat-serat sel monster itu langsung merapat kembali, menjepit kedua parang Thomas dengan cengkeraman tak tergoyahkan!
"Kecepatan pemulihan jaringan yang luar biasa," analisis Thomas tanpa sedikit pun rasa panik.
Monster itu meraung melalu frekuensi getaran air, mengayunkan empat lengan berduri tajamnya untuk membungkus dan meremukkan tubuh Thomas. Duri-duri keras meneteskan racun syaraf berkapasitas tinggi meluncur lurus mengincar celah zirah kompositnya.
Thomas tidak berusaha menarik kedua parangnya. Ia justru melepaskan genggaman tangannya dari gagang machete, lalu menghentakkan kedua telapak tangannya lurus ke dalam luka terbuka sang monster.
BUM!
Menggunakan seluruh lonjakan tenaga Evolusi Tier 2, Thomas memaksa jari-jarinya menembus kedalaman rongga tubuh sang Bintang Laut Abadi, melompati sistem pertahanan racun dan membendung aliran regenerasinya secara langsung dari pusat organ.
Jari-jari Thomas menyentuh sebuah benda padat yang sangat dingin di bagian inti monster tersebut.
CRAAK-CRUNCH!
Dengan satu sentakan brutal, Thomas merenggut benda itu keluar dari dalam tubuh Bintang Laut Abadi!
Monster raksasa itu bergetar hebat. Proses regenerasi instannya terhenti seketika. Lengan-lengan berduri yang tadinya meluncur mematikan mendadak terkulai lemas, kehilangan tumpuan energi, lalu runtuh menjadi tumpukan daging tak bernyawa yang meleleh di atas air laut.
Di telapak tangan Thomas, tergeletak sebuah Kristal Zombie Tier 2 Khusus berbentuk bagaikan bintang lima sudut. Kristal itu memancarkan pendaran cahaya Merah Delima yang pekat dan berdenyut sangat kuat, selaras dengan aliran darah di tubuh Thomas.
Tanpa membuang waktu untuk kembali ke benteng pegunungan, Thomas melangkah ke dalam ruang kontrol steril milik pengelola akuarium yang masih utuh dan terkunci dari dalam. Ia duduk bersila di atas meja baja, menatap Kristal Merah Delima di tangannya.
"Ini adalah fondasi sejati dari keabadianku," bisik Thomas.
Ia menekan kristal itu tepat di tengah dadanya.
BZZZZZZZZT!
Seketika, gelombang panas luar biasa meledak dari pusat dadanya! Berbeda dari penyerap kristal biasa yang merombak ukuran otot, energi Kristal Bintang Laut ini langsung menyusup ke dalam kode genetik dan sumsum tulang Thomas.
DUM! DUM! DUM!
Jantungnya berdetak dengan frekuensi ekstrem. Thomas merasakan sensasi gatal dan terbakar yang hebat di seluruh permukaan kulitnya. Sel-sel tubuhnya bermutasi pada tingkat mikroskopis—membentuk pembelahan sel yang tak terbatas, fleksibilitas jaringan tingkat tinggi, serta kapasitas pemulihan biologis yang melampaui logika manusia.
Untuk menguji efeknya, Thomas mengambil pisau komando kecil dari pinggangnya, lalu menyayat telapak tangan kirinya cukup dalam hingga darah mengalir.
SZZZT...
Hanya dalam kurun waktu tiga detik, darah kental itu berhenti mengalir. Serat-serat daging dan jaringan kulit di telapak tangannya merapat kembali, bertunas dengan cepat, dan menutup luka tersebut hingga mulus sempurna tanpa meninggalkan bekas parut sedikit pun!
Thomas mengepalkan tangan kirinya yang kini telah pulih total. Senyum dingin terukir di bibirnya.
Dengan kemampuan regenerasi ekstrem ini, ia tak lagi sekadar seorang penyintas yang mengandalkan armor tebal atau parang baja. Tubuhnya telah menjadi fondasi kekuatan yang tak dapat dihancurkan. Di masa depan, bahkan jika senjatanya patah atau zirah kompositnya hancur, ia sanggup bertarung menggunakan tangan kosong dan menjadi bencana berjalan bagi siapa pun yang menghalangi jalannya.
"Satu langkah lagi menuju puncak hirarki baru," gumam Thomas pelan sembari berdiri. Pendaran cahaya merah tipis berkilat di matanya sebelum perlahan menghilang.