NovelToon NovelToon
YANG MULIA, MOHON JANGAN PAKSA AKU !

YANG MULIA, MOHON JANGAN PAKSA AKU !

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Balas Dendam / Reinkarnasi
Popularitas:410
Nilai: 5
Nama Author: Bunga_Persik98

Ye Ning, putri sah Menteri Sayap Kiri, hanya ingin membangun kerajaan bisnis, mengumpulkan kekayaan, dan membawa kemakmuran bagi keluarganya. Namun semua menjadi berantakan ketika Tuan Muda Bai datang dan mengacaukan rencananya. Di saat yang sama, Putra Mahkota Li Yan, pria yang dahulu menolak perjodohan dengannya, tiba-tiba berkata bahwa ia akan menceraikan istrinya.

Di antara ambisi, cinta, dan pengkhianatan, Ye Ning harus memilih: tetap menjadi wanita pebisnis yang bebas atau terjerat dalam permainan politik yang mengancam keselamatan keluarganya.

Mampukah Ye Ning melindungi orang-orang yang dicintainya ketika dua pria paling berpengaruh di kekaisaran mulai menginginkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga_Persik98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 : PEMILIHAN SHIZI FEI

Tujuh hari telah berlalu setelah kejadian menegangkan itu. Ye Ning akhirnya keluar dari kamarnya dan telah berjanji untuk bertemu dengan Lu Wan dan Li Wen di restoran keluarganya, Xiang Man Lou.

Ye Ning menaiki kereta ditemani oleh Chun Tang. Saat tiba di pusat kota, suasananya sangat ramai dan cukup berisik. Chun Tang yang penasaran membuka tirai kereta dan melihat para warga di pasar memandangi papan pengumuman yang ditempel oleh para pengawal kekaisaran. Banyak pengawal turun ke jalan hari itu. Mereka memegang lembaran pengumuman dan menempelkannya di setiap sudut kota.

Semua orang penasaran dan langsung membaca, bahkan sampai membuat heboh dan saling berdiskusi.

"Wah, Kediaman Junwang akan melakukan pemilihan untuk Shizi Fei (istri resmi pewaris Junwang), dan semua gadis yang ada di ibu kota wajib untuk mengikuti seleksi."

Mendengar sayup-sayup suara dari luar, Ye Ning memerintahkan kereta untuk berhenti. Ia pun turun untuk membaca langsung isi pengumuman tersebut.

Ternyata itu adalah Dekrit Kaisar mengenai pemilihan Shizi Fei untuk putra pewaris Junwang, yaitu Li Wen. Semua gadis di ibu kota kekaisaran yang berusia lima belas tahun ke atas wajib mengikuti seluruh rangkaian seleksi. Setiap keluarga diharuskan mengumpulkan Bai Zi (Delapan Karakter Kelahiran) ke Mahkamah Urusan Klan Kekaisaran dalam kurun waktu lima hari.

Ye Ning yang membaca ini tampak kesal. Meninggalkan tempat itu dan langsung menaiki kereta untuk menuju ke tempat pertemuan.

Apa maksudnya ini? Kenapa sebelumnya Li Wen tidak mengatakan apa pun?

Sesampainya di restoran dan turun dari kereta dengan gusar, ia langsung menuju kamar yang sudah dipesan khusus. Ye Ning mendobrak pintu dan melihat Li Wen sendirian sambil menikmati tehnya dengan santai.

"Kenapa kau mendobrak pintu?" tanya Li Wen.

Ye Ning yang mendengar itu langsung menghampirinya dan menyerahkan lembar pengumuman tersebut.

"Apa maksudnya ini? Kenapa kau tidak mengatakan apapun sebelumnya??" cerca Ye Ning.

Chun Tang yang takut kalau Ye Ning memarahi Li Wen memintanya untuk tenang dan duduk. Ia memberikan secangkir teh hangat. Ye Ning menerimanya dan meminumnya dalam sekali teguk sambil menatap Li Wen, menuntut jawaban.

Li Wen menelan ludah dan duduk dengan sedikit gugup.

"Bukankah itu bagus?" kata Li Wen dengan nada tidak yakin.

"Apanya yang bagus? Kau memang ingin mempermainkanku, ya?"

Li Wen sedikit takut mendengar Ye Ning yang tiba-tiba marah padanya.

"Lu Wan kan harus ikut seleksi juga!" jawabnya sambil memejamkan mata, takut Ye Ning meledak. Mendengar itu, Ye Ning sedikit membeku. Lu Wan? Oh... jadi...

"Ta... tapi seleksi ini kehendak Ayahandaku. Aku tidak ada hak untuk menolak," ujar Li Wen lagi.

Ye Ning mengangkat alis dan berpikir. Junwang? Ia bahkan rela meminta dekrit Kaisar hanya untuk mencarikan istri resmi bagi Li Wen?

Tak lama kemudian Lu Wan datang dengan langkah tergesa-gesa. Ia langsung masuk dan duduk di kursi kosong di antara mereka. Napasnya sedikit terengah. Untuk menenangkan diri, ia langsung menghabiskan secangkir teh yang ada di depannya.

Kebetulan itu adalah teh milik Li Wen, membuat Li Wen terkejut, tetapi tidak bisa mengatakan apa-apa.

"Kalian tahu? Di luar sangat heboh. Ada pemilihan Shizi Fei. Wah... ini acara besar yang akan menjadi perhatian orang begitu lama," seru Lu Wan.

Ye Ning dan Li Wen memandang Lu Wan tidak percaya dengan ucapan barusan.

"Lu Wan, kau tidak tahu siapa yang mencari istri resmi?" tanya Ye Ning.

"Tahu. Tadi orang-orang di sana menyebutkan pangeran muda. Tapi aku tidak tahu pangeran yang ke berapa," ujar Lu Wan, tidak begitu antusias dengan pangeran tersebut.

"Tapi kan, kau harus ikut seleksi juga," kata Li Wen.

Lu Wan memandang Li Wen dengan aneh, lalu menjawab,

"Ya, tinggal menukar Bai Zi—"

Sebelum Lu Wan menuntaskan kalimatnya, Ye Ning sudah menutup mulutnya. Lu Wan kaget dan meronta-ronta ingin dilepaskan.

Melihat itu, Li Wen sedikit sedih dan akhirnya mengatakan bahwa ia lupa masih ada sedikit urusan, lalu pamit pergi. Lu Wan ingin memanggilnya kembali, namun ditahan oleh Ye Ning. Lu Wan yang tidak mengerti menjadi sedikit bingung dengan semua kejadian aneh itu.

Lalu Ye Ning menyuruhnya duduk dan berbicara empat mata dengannya. Namun sebelum itu, mereka ingin makan terlebih dahulu karena sengaja tidak mengisi perut dan ingin makan di restoran saja. Selesai makan dan minum teh, keduanya duduk santai di balkon lantai dua restoran.

Ye Ning memandang Lu Wan dengan sedikit iba, membuat Lu Wan menengok dirinya sendiri. Apakah hari ini dia memakai pakaian yang salah? Atau ada sesuatu di wajahnya?

Ye Ning memandangnya, kemudian menggelengkan kepala dan berdecak. Akhirnya, karena tidak sabar lagi, Lu Wan bertanya kepada Ye Ning. "Hei, kau ini kenapa? Li Wen juga kenapa?"

"Kau benar-benar tidak tahu pangeran mana yang akan mencari istri?" tanya Ye Ning untuk memastikan.

"Tidak. Lagipula itu bukan urusanku," jawab Lu Wan sambil meminum teh.

"Itu putra pewaris Junwang." Ye Ning berkata dengan hati-hati.

"Oh, iya. Memangnya kena—pffft!" Lu Wan menyemburkan teh yang baru saja diminumnya.

"Jun... Junwang? Itu... itu..."

Ye Ning mengangguk sebagai jawaban. Lu Wan termenung sambil membersihkan teh dari sudut bibirnya dan merasa bersalah. Pantas Li Wen sedikit kesal tadi. Ia sendiri yang mengatakan ingin menukar Bai Zi agar tidak lolos seleksi.

Mengingat itu, Lu Wan menyandarkan kepalanya di atas meja sambil mengembuskan napas berat. Ye Ning sedikit merasa lucu melihat tingkah teman baiknya itu. Ye Ning akhirnya menanyakan sejak kapan mereka saling mengenal dan terlihat akrab. Tanpa berusaha menutupi, Lu Wan menceritakan semuanya.

Awalnya ia tidak begitu menyukai Li Wen karena terkenal playboy dan suka berbuat onar. Namun tanpa sengaja mereka bertemu dan akhirnya menjadi teman saat Ye Ning sibuk dengan bisnisnya. Li Wen juga sering mengajaknya keluar untuk mencoba hal-hal baru, seperti makanan, pakaian, perhiasan, restoran, dan lain-lain.

Mendengar itu membuat Ye Ning tersenyum dan langsung bertanya,

"Apakah kau menyukainya?"

Lu Wan terkesiap dan menggelengkan kepala namun juga gugup. Lalu Ye Ning bertanya lagi apakah niat Lu Wan untuk menukar Bai Zi itu tetap akan dilaksanakan. Jika ketahuan, risikonya juga besar.

Lu Wan menunduk lesu. "Jika aku sengaja tidak lolos seleksi, bukankah dia akan mengira aku membencinya?"

Lu Wan memandang keluar, melihat hamparan manusia yang berlalu-lalang. Ye Ning juga memandang ke arah yang sama, Ada hal lain yang sedang ia pikirkan.

1
Marini Dewi
menarik
BUNGA PERSIK: Terima kasih atas supportnya ya 😍.. Aku senang sekali
total 1 replies
BUNGA PERSIK
Ini karya baru, mohon dukungannya. Maaf kalau masih agak berantakan, beneran masih newbie. 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!