NovelToon NovelToon
Tawanan Hati Sang Don Mafia

Tawanan Hati Sang Don Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.

Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.

Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.

Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.

Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20 : Di dalam Gereja

Leonardo melangkah lebih dulu memasuki halaman gereja tua itu. Jalannya pelan, seolah setiap sudut tempat tersebut menyimpan kenangan yang tak pernah ia lupakan.

Aurora mengikuti di sampingnya. Sesekali ia menoleh ke kanan dan kiri, memperhatikan hamparan bunga lily putih yang tumbuh rapi di sepanjang jalan setapak.

"Tempat ini..." gumamnya lirih. "Rasanya sangat damai."

Leonardo tersenyum. "Karena memang dibangun sebagai tempat untuk menenangkan hati."

Di belakang mereka, Adrian berjalan beberapa langkah sambil tetap memperhatikan keadaan sekitar. Johan dan para pengawal menyebar menjaga seluruh area tanpa terlalu mencolok agar Aurora tidak merasa diawasi.

Tak jauh dari gereja, terdapat sebuah taman kecil dengan bangku kayu tua di bawah pohon maple yang rindang.

Leonardo berhenti. "Aku ingin menemui Pastor Markus sebentar."

Aurora mengangguk. "Baik, Tuan."

Leonardo menoleh kepada Adrian. "Temani Aurora sebentar."

Adrian hanya menganggukkan kepala.

Leonardo kemudian berjalan memasuki gereja bersama Johan, sementara beberapa pengawal mengikuti dari kejauhan.

Kini... hanya tersisa Adrian dan Aurora di taman kecil itu. Suasana menjadi sedikit canggung.

Aurora memainkan ujung mantelnya. "Kita... akhirnya benar-benar ditinggal berdua."

Adrian berdiri di samping bangku kayu dengan kedua tangan dimasukkan ke saku jasnya. "Hanya beberapa menit."

Aurora tersenyum geli. "Jawabanmu selalu singkat."

Adrian tidak membalas.

Aurora akhirnya duduk di bangku kayu. Angin musim semi bertiup pelan, membuat beberapa helai rambutnya menutupi wajah. Tanpa sadar ia berusaha merapikannya, tetapi kembali berantakan tertiup angin.

Adrian memperhatikan sebentar. Kemudian ia mengeluarkan sebuah penjepit rambut kecil yang sejak tadi tersangkut di syal Aurora.

"Ini milikmu."

Aurora terkejut. "Eh?" Ia baru sadar penjepit rambutnya terlepas. "Kapan lepasnya?"

"Tadi di mobil."

Aurora tersenyum malu. "Terima kasih."

Saat Aurora hendak memasangnya, rambut panjangnya kembali diterpa angin.

Adrian menghela napas pelan. "Kau diam."

Aurora mengedip bingung. "Hah?"

"Boleh?"

Aurora semakin bingung, tetapi tetap mengangguk. "I-iya."

Dengan gerakan hati-hati, Adrian mengumpulkan sebagian rambut Aurora yang tertiup angin, lalu memasangkan penjepit itu di belakang kepalanya. Gerakannya sangat pelan, seolah takut membuat Aurora tidak nyaman.

Aurora bahkan bisa merasakan aroma parfum lembut dari jas pria itu. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat, beberapa detik kemudian Adrian mundur selangkah.

"Selesai."

Aurora tanpa sadar menyentuh rambutnya. "Terima kasih..."

Adrian hanya mengangguk. "Kau tidak suka rambut menutupi wajahmu."

Aurora membelalakkan mata. "Kenapa kau bisa tahu?"

"Kau sudah melakukannya lima kali sejak turun dari mobil."

Aurora langsung tertunduk malu. "Astaga..." Ia menutupi wajahnya sendiri. "Memalukan."

Sudut bibir Adrian terangkat sangat tipis. Hampir tidak terlihat, namun cukup bagi Aurora untuk menyadarinya.

"Kau..." Aurora menunjuk wajah Adrian. "Barusan kau tersenyum, kan?"

"Tidak."

"Jelas-jelas tersenyum."

"Tidak."

Aurora tertawa kecil. "Dasar keras kepala."

Adrian memalingkan wajahnya ke arah taman. "Aku hanya mengatakan fakta."

Aurora tersenyum semakin lebar. "Kalau begitu... terima kasih sudah memperhatikan hal-hal kecil tentangku."

Ucapan itu membuat Adrian terdiam, kali ini ia tidak langsung menjawab. Beberapa saat kemudian, Adrian berkata pelan tanpa menatap Aurora.

"Itu tugasku."

Aurora menggeleng sambil tersenyum. "Bukan."

Adrian menoleh. "Maksudmu?"

"Kalau hanya karena tugas, kau tidak mungkin mengingat kebiasaanku sekecil itu."

Tatapan mereka bertemu, selama beberapa detik tidak ada yang berbicara. Angin kembali berembus pelan, menggugurkan beberapa daun maple yang berputar di antara mereka.

Aurora tersenyum hangat. "Terima kasih sudah selalu menjagaku, Adrian."

Sorot mata Adrian perlahan melembut. "Aku sudah berjanji."

"Berjanji pada siapa?" tanya Aurora sambil menatap wajah Adrian.

"Kepada diriku sendiri."

Aurora belum sempat bertanya lebih jauh ketika dari arah gereja terdengar suara Leonardo.

"Aurora."

Keduanya menoleh bersamaan, Leonardo berjalan mendekati mereka bersama seorang pastor tua berambut putih yang tersenyum ramah.

Pastor itu memandang Aurora cukup lama hingga matanya berkaca-kaca. "Jadi..." gumamnya lirih. "Kau benar-benar sudah sebesar ini."

Aurora mengernyit bingung. "Tuan Pastor... apakah kita pernah bertemu?"

Pastor Markus tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap kalung bunga lily yang tergantung di leher Aurora, lalu mengembuskan napas panjang.

"Hari ini..." ucapnya pelan. Akhirnya tiba juga saatnya kau mengetahui sebagian dari masa lalumu."

Pastor Markus memandang Aurora cukup lama. Sorot matanya dipenuhi rasa haru, seolah sedang melihat seseorang yang telah lama hilang.

Aurora menjadi semakin bingung. "Tuan Pastor... apakah kita benar-benar pernah bertemu?"

Pastor Markus tersenyum tipis. "Pernah. Hanya saja... saat itu usiamu masih terlalu kecil untuk mengingatnya."

Aurora menoleh kepada Leonardo, seakan meminta penjelasan.

Leonardo mengangguk pelan. "Apa yang akan kau dengar hari ini mungkin akan membuatmu terkejut. Tetapi percayalah... ini hanyalah awal dari jawaban yang selama ini kau cari."

Pastor Markus memberi isyarat agar mereka masuk ke dalam gereja. "Ayo."

Bagian dalam gereja begitu tenang. Cahaya matahari menembus jendela kaca patri berwarna-warni, menciptakan semburat cahaya yang indah di lantai batu.

Aurora berjalan perlahan sambil memperhatikan setiap sudut ruangan. Entah mengapa, jantungnya berdetak semakin cepat. Pastor Markus membawa mereka menuju sebuah ruangan kecil di belakang altar.

Di sana terdapat lemari kayu tua yang tampak sangat kokoh. Pastor mengambil sebuah kunci kuningan dari saku jubahnya.

Pintu lemari terbuka.

Di dalamnya terdapat beberapa kotak kayu tua yang disusun dengan rapi. Pastor Markus mengambil salah satunya. Kotak itu tidak besar, hanya seukuran kotak sepatu, tetapi terlihat sangat terawat.

Ia meletakkannya di atas meja. "Selama lebih dari dua puluh tahun..." ucap Pastor Markus perlahan, "aku menjaga benda ini."

Aurora menatap kotak itu tanpa berkedip. "Itu untuk siapa?"

Pastor Markus menatapnya lembut. "Untukmu."

Napas Aurora seolah tertahan. "Untuk... aku?"

Pastor mengangguk. "Maria Laurent menitipkannya kepadaku."

Mata Aurora langsung membesar. "Ibu Maria?"

"Ia datang ke sini pada suatu malam bersama seorang bayi perempuan."

Aurora menggenggam kedua tangannya erat. "Bayi itu..."

"Kau."

Ruangan mendadak sunyi.

Aurora merasakan tenggorokannya tercekat. "Tapi... bukankah Ibu Maria menemukanku di depan panti?"

Pastor Markus menggeleng pelan. "Itulah cerita yang ia buat agar kau bisa tumbuh tanpa dibayangi ketakutan."

Aurora perlahan mundur setengah langkah. "Jadi... selama ini..."

"Ia melindungimu."

Air mata mulai memenuhi pelupuk mata Aurora.

Leonardo berdiri di sampingnya tanpa berkata apa-apa. Pastor Markus membuka perlahan kotak kayu itu. Di dalamnya terdapat beberapa benda.

Sebuah selimut bayi berwarna putih yang sudah mulai kusam. Sepasang sepatu bayi kecil. Sebuah surat yang masih tersegel. Dan... sebuah liontin perak berbentuk bunga lily.

Aurora langsung menutup mulutnya. "Itu..."

Bentuknya benar-benar sama dengan liontin yang ia lihat di foto lama panti asuhan.

Pastor Markus mengangkat liontin itu. "Maria berkata... suatu hari nanti akan ada seseorang yang datang membawa liontin yang sama."

Aurora teringat wanita bermantel yang terekam CCTV. Dan anak perempuan lain dalam foto panti.

Jantungnya berdetak semakin kencang. "Berarti..."

Pastor Markus mengangguk pelan. "Ya."

"Masih ada seseorang yang memiliki liontin pasangan milikmu."

Aurora tidak mampu berkata apa-apa. Di sampingnya, Adrian memperhatikan seluruh percakapan dengan tenang.

Namun pikirannya bekerja cepat. Dua liontin, dua anak perempuan. Seseorang sengaja menyembunyikan identitas Aurora dan sekarang ada organisasi yang memburunya. Semua potongan teka-teki itu mulai saling terhubung.

Pastor Markus kemudian mengambil surat yang masih tersegel. "Aku tidak pernah membukanya." Ia menyerahkannya kepada Aurora. "Karena Maria memintaku melakukan satu hal."

Aurora menerima surat itu dengan tangan gemetar.

"Menunggu sampai kau cukup kuat untuk menerima kebenaran."

Tatapan Aurora tertuju pada amplop tua itu. Di bagian depannya hanya tertulis beberapa kata dengan tulisan tangan yang mulai memudar.

"Untuk Aurora... bukalah saat kau tidak lagi sendirian."

Melihat tulisan itu, Aurora perlahan menoleh ke arah Leonardo, lalu kepada Adrian yang berdiri tidak jauh darinya.

Tanpa sadar, senyum kecil muncul di wajahnya meski matanya masih dipenuhi air mata. "Aku..." Suaranya bergetar. "Aku memang tidak sendirian lagi."

Tatapan Adrian bertemu dengan tatapannya. Tanpa banyak kata, Adrian melangkah mendekat. Ia tidak mengambil surat itu, tidak pula mendesaknya untuk segera membuka.

Sebaliknya, ia berkata dengan suara tenang yang hanya bisa didengar Aurora. "Tidak perlu terburu-buru."

Aurora menatapnya.

"Kalau kau belum siap..." Adrian berhenti sejenak. "Aku akan menunggu."

Kalimat sederhana itu justru membuat hati Aurora terasa hangat. Ia mengangguk pelan sambil menggenggam surat itu lebih erat.

"Terima kasih."

Adrian tidak menjawab. Namun ketika Aurora tanpa sadar mengusap air matanya, Adrian mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya dan menyodorkannya.

"Kau akan membuat surat itu basah."

Aurora tertawa kecil di sela tangisnya. "Padahal aku kira kau akan mengatakan, 'jangan menangis'."

"Aku tahu itu tidak akan berhasil."

Aurora kembali tertawa. "Setidaknya... sekarang candaanmu mulai membaik."

Sudut bibir Adrian kembali terangkat tipis.

Melihat interaksi keduanya, Leonardo dan Pastor Markus saling berpandangan sambil tersenyum kecil. Untuk sesaat, mereka membiarkan Aurora menikmati ketenangan itu.

Karena mereka tahu, begitu surat tersebut dibuka, kehidupan Aurora tidak akan pernah sama lagi.

1
It's me Sky
terimakasih kakak🙏
Arditya
Mafia lali ini seru thoor, kagak kalah seru sama buku sebelumnya👍
Arditya
sukses terus thor, bukunya selalu menceritakan yang tidak membosankan/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!