NovelToon NovelToon
PENYIHIR TANPA SIHIR

PENYIHIR TANPA SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Pesta Perpisahan dan Petunjuk Menuju Kegelapan

Malam itu, kedai utama Guild Wild Boar berubah menjadi lautan kegembiraan. Gelak tawa kasar khas para petualang membumbung tinggi, berbaur dengan kepulan asap dari daging rusa panggang yang gurih dan aroma tajam dari madu fermentasi yang dituangkan ke dalam cangkir-cangkir kayu besar. Dentangan cangkir yang saling berbenturan menjadi musik latar yang merayakan keberhasilan mereka kembali dari gerbang maut.

"Untuk Askara! Sang penyelamat Wild Boar!" teriak Jaka sembari mengangkat cangkirnya tinggi-tinggi, wajahnya sudah memerah akibat pengaruh minuman.

"Untuk Askara!" sahut seluruh anggota tim serentak, membuat suasana kedai semakin riuh.

Askara yang duduk di sudut meja panjang hanya tersenyum tipis, sesekali menyesap minuman non-alkohol miliknya. Di tengah keriangan itu, ia menggeser posisi duduknya mendekati Guntur yang sedang menikmati pipa tembakaunya dengan tenang.

"Ketua Guntur," panggil Askara setengah berbisik, memutus lamunan pria paruh baya itu. "Ada satu hal penting yang ingin kusampaikan. Besok pagi-pagi sekali, aku akan meninggalkan Kota Gada untuk melanjutkan perjalananku."

Guntur menurunkan pipa tembakau dari mulutnya, tidak tampak terkejut. Ia menatap Askara dengan pandangan seorang ayah yang melepas putranya. "Aku sudah menduganya, Askara. Wadah besar sepertimu tidak akan pernah betah berlama-lama di kota kecil seperti ini. Jadi, ke mana langkah kakimu akan membawamu setelah ini?"

"Hutan Sihir Kegelapan," jawab Askara mantap. Mata hitamnya menatap lurus ke arah Guntur. "Itu adalah tujuan utamaku sejak meninggalkan desa. Sebelum aku pergi, aku ingin tahu apa saja yang Ketua ketahui tentang tempat itu."

Mendengar nama tempat itu disebut, raut wajah Guntur seketika berubah serius. Ia mengembuskan asap tembakau secara perlahan, menciptakan tabir tipis di antara mereka. Beberapa petualang di dekat mereka yang sempat mendengar nama itu mendadak menghentikan tawa mereka, membuat sudut meja itu menjadi sunyi secara intimidatif.

"Kau benar-benar memilih tempat yang tidak main-main, Bocah," ucap Guntur dengan suara berat yang sarat akan peringatan. "Hutan Sihir Kegelapan bukan sekadar hutan belantara yang dihuni binatang buas. Tempat itu adalah wilayah terkutuk yang tidak tersentuh oleh hukum kerajaan mana pun. Energi sihir di sana begitu pekat dan beracun, hingga manusia biasa tanpa pelindung sihir tingkat tinggi bisa gila hanya dalam hitungan jam karena menghirup udaranya."

Guntur menjeda kalimatnya, menatap lekat-lekat ekspresi Askara untuk mencari keraguan, namun yang ia temukan hanyalah ketenangan yang kokoh.

Pria paruh baya itu melanjutkan, "Dan monster di sana... mereka berada di rantai makanan yang sangat berbeda.

Menurut cerita dari para petualang tingkat tinggi yang beruntung bisa kembali hidup-hidup, monster yang paling lemah di pinggiran Hutan Sihir Kegelapan memiliki level kekuatan yang setara, atau bahkan lebih kuat, daripada monster penjaga inti pusat dungeon yang kita kalahkan kemarin. Di sana, kegelapan adalah penguasa, dan kau akan menjadi mangsa sejak langkah pertama."

Mendengar penjabaran yang mengerikan itu, nyali Askara sama sekali tidak menciut. Sebaliknya, seulas senyuman penuh gairah bertarung justru terukir di sudut bibirnya. Jantungnya berdegup kencang karena kegembiraan yang tertahan.

Monster yang setara dengan penjaga dungeon di setiap sudut tempat? Baginya, itu bukan sekadar ancaman maut, melainkan sebuah ladang tak terbatas untuk menyerap berbagai jenis sihir baru dan melatih staminanya hingga menembus batas tertinggi.

"Terima kasih atas informasinya, Ketua," ucap Askara tulus, matanya berkilat penuh tekad. "Tempat itu terdengar sangat sempurna untukku."

Guntur hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sembari terkekeh pelan melihat kegilaan pemuda di depannya. "Kau benar-benar monster yang sesungguhnya, Askara. Jaga dirimu baik-baik di sana."

Keesokan paginya, sebelum matahari benar-benar naik di ufuk timur, Kota Gada masih diselimuti kabut tipis. Askara berjalan menyusuri jalanan pasar yang baru mulai menggeliat sepi. Dengan kantung emas yang kini penuh di pinggangnya, ia memutuskan untuk mampir ke salah satu toko perlengkapan pengelana terbaik di sudut kota.

"Selamat pagi, Pengelana Muda. Ada yang bisa kubantu?" tanya seorang pemilik toko paruh baya dengan ramah.

Askara mengedarkan pandangannya ke deretan pakaian yang digantung. Matanya langsung tertuju pada satu setel pakaian di sudut ruangan. "Aku mencari setelan jubah yang kuat untuk perjalanan jauh."

Pilihan Askara jatuh pada sebuah jubah hitam pekat berkerudung besar yang terbuat dari serat kain magis tahan cuaca, dipadukan dengan kemeja kain gelap yang fleksibel dan celana pengelana berlapis kulit pelindung ringan di bagian lututnya. Ketika Askara mengenakan setelan tersebut di depan cermin besar toko, penampilannya seketika berubah drastis.

Jubah hitam itu menjuntai indah hingga ke batas betisnya, menyembunyikan siluet tubuh tegapnya dengan sempurna. Saat tudung jubahnya ditarik ke depan, bayangan kain menutupi sebagian besar wajah remaja tujuh belas tahunnya, hanya menyisakan sorot matanya yang tajam dan dingin. Ia tidak lagi terlihat seperti seorang pemuda desa yang rapuh atau seorang Nirmala yang terbuang. Penampilan barunya ini membuatnya tampak sangat misterius, layaknya seorang penyihir pengembara tingkat tinggi yang menyimpan sejuta rahasia mematikan di balik jubah kegelapannya.

Askara meletakkan beberapa keping koin emas di atas meja toko, lalu membetulkan posisi tas kainnya di balik jubah. "Ini sudah lebih dari cukup," gumamnya pada diri sendiri.

Dengan langkah kaki yang mantap dan jubah hitam yang berkibar pelan ditiup angin pagi, Askara melangkah melewati gerbang batu Kota Gada. Di depannya, jalanan panjang menuju utara membentang luas, menuntunya langsung menuju jantung Hutan Sihir Kegelapan tempat takdir barunya telah menanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!